Aku Kamu Dan Dia

Aku Kamu Dan Dia
RhnS 5


__ADS_3

Sehun terus menatap seorang gadis SMA yang sedang membelakanginya dan saat gadis itu berbalik, Sehun memalingkan pandangannya.


Gadis itu terlihat kebingungan harus bersikap bagaimana.


“Permisi.” ucap gadis itu dengan kebingungan, namun tiba-tiba Sehun menarik tangan gadis itu dan sontak membuatnya replek menghempas tangan Sehun.


Sehun sedikit terbawa emosi saat tangannya dihempaskan.


“M-maaf.” ucap gadis itu merasa bersalah. Sehun menarik nafasnya panjang.


“Kamu laki-laki?” tanya Sehun masih menahan kesalnya.


“Tidak.”


“Kamu anti padaku?”


“Tidak.”


“Lalu mengapa kamu menghempaskan tanganku?” tanya Sehun lagi, gadis itu pun terdiam merenung.


“Aku memang tidak ingin bersentuhan, disentuh atau pun menyentuh laki-laki jika tidak mendesak. Dan sebenarnya agamaku melarangnya, tapi jika bukan mukhrimnya.”


“Mukhrim? Mukhrim itu apa?”


“Boleh menikah.”


“Berarti aku boleh menikah denganmu?” ucap Sehun asal.


“Hah!?”


“Lupakan!” ucap Sehun kelu. “30 menit lagi perlombaanya akan dimulai dan kita akan masuk bersama, aku juga ada keperluan di dalam.” jelasnya, gadis itu pun mengangguk. “Keluarkan nametagmu!”


“Nametag??” ucap gadis SMA itu kebingungan.


Gadis itu pun mulai meraba-raba bagian tubuhnya yang terdapat saku di depan Sehun, Sehun pun menjadi bingung.


“Ada apa?”


“Nametagnya...” ucap gadis SMA itu terlihat sangat khawatir, pikirannya mulai kacau, matanya juga mulai berkaca-kaca.


“Hei!! Ja-jangan memasang wajah seperti itu.” ucap Sehun yang ikut khawatir. “Kan ada aku yang akan membantumu masuk.”


Mendengar ucapan Sehun, gadis itu sedikit menenang, dia menarik nafasnya panjang.


Gadis itu pun terduduk dan memeluk kakinya dengan lemas dan bersyukur.


“Alhamdulillah.” rintih gadis itu yang sudah menangis dengan menenggelamkan kepalanya dengan pahanya, Sehun pun ikut terduduk dan melihat gadis itu.


“Ayo! Jangan buang-buang waktu! Kamu sudah menangis selama 10 menit di sini.” jelas Sehun, gadis itu pun terkekeh, dia menghapus air matanya dan bangkit dari duduknya, Sehun pun menyusulnya.


“Terima kasih Oppa.” ucap gadis SMA itu tersenyum dengan hijabnya yang mulai berantakan serta wajahnya yang memerah.


Melihat itu, Sehun pun terkekeh sendiri.


“Lihatlah Nona! Penutup rambutmu mulai berantakan.”


“Nanti akan aku rapihkan.”


“Kenapa tidak sekarang?”

__ADS_1


“Karena ada Anda.”


“Ah, aku mengerti.” ucap Sehun percaya diri. “Ayo kita masuk!” ajak Sehun mendahului gadis, gadis itu pun mengikutinya dengan tersenyum.


****


Chanyeol duduk di sebuah bangku yang dekat dengan pantai, dia terlihat sedang merenungkan takdirnya.


“Ya Allah, aku harus bagaimana? Apa yang harus aku katakan pada keluargaku dan yang lainnya?” ucap Chanyeol dalam hari putus asa. “Aku begitu bingung. Ya Allah berikan petunjukmu padaku.”


Saat-saat Chanyeol bersedih, pikiran yang lain pun datang padanya, dia mengingat perjumpaannya dengan gadis SMA itu, Chanyeol pun tersenyum.


“Ya Allah aku juga berterima kasih. Kau mempertemukan aku dengannya lagi.” ucap Chanyeol dengan tersenyum.


Dia mengingat bagaimana gadis itu meng ucapkan terima kasih dengan sebuah senyuman, hingga senyumannya terhenti saat mengingat mereka tidak hanya berdua, di sana ada Sehun.


“Aku berharap meski pun mereka berdua bertemu, semoga tidak ada perasaan apa pun.” rintih Chanyeol.


Chanyeol pun menunundukan tubuhnya untuk merenungkan dirinya.


****


Sehun mengantar gadis itu sampai ke Aula dan dia bisa melihat Yuda, Aryo dan Pak Mukhlas berlari ke arah gadis itu dengan cemas.


“Kau kemana saja?” tanya mereka bertiga khawatir.


“Maaf, aku teledor.” ucap gadis itu malu.


“Kau ke sini sendirian?” tanya Pak Mukhlas, mendengar pertanyaan itu, gadis itu pun mengingat Sehun, namun saat dia berbalik Sehun sudah tidak ada.


“Hei! Kamu lihat apa?” tanya Aryo membuyarkan gadis itu, gadis itu pun menggeleng.


“Dengan salah satu staff.” Jelas gadis SMA itu, mereka pun berhenti cemas.


“Ah, syukurlah.”


“Ayo Syah!” aja Pak Mukhlas, mereka bertiga pun pergi bersama mengikuti Pak Mukhlas.


****


Sehun memperhatikan kepergian gadis itu dari jauh dan tidak lama kemudian Taeyong datang dan berdiri di samping Sehun.


“Bagaimana kencannya?” tanya Taeyong.


“Menyenangkan.” jawab Sehun senang. “Kau sendiri?” tanyanya melihat pada Taeyong.


“Karena aku normal, aku jawab tidak, itu sangat melelahkan.” keluh Taeyong. “Kenapa Hyung ingin sekali memanggil tugas bodyguard ini dengan kencan? Ah, ini melelahkan.”


“Menurutku ini kencan, karena klienku dia.” ucap Sehun asal.


“Hyung kan aku bilang jangan menyukai gadis itu! Perbedaan kalian itu sangat jauh.” keluh Taeyong lagi.


“Aku tidak menyukainya, aku hanya kagum saja padanya.”


Mendengar ucapan Sehun, Taeyong hanya bisa menggidik tidak habis pikir dengan Sehun yang masih tersenyum.


****


Semua peserta terlihat cemas saat perlombaan dimulai, pertanyaan demi pertanyaan menggugurkan para peserta, hingga menyisakan 10 besar.

__ADS_1


Sementara mereka berlomba, para pendamping di tempatkan dalam sebuah tempat, yang dimana mereka tidak mengetahui dan mendengar apa yang sedang terjadi di ruang lomba. Semua peserta lomba terlihat gugup dan cemas, termasuk gadis SMA itu.


Para pembimbing memang tidak mengetahui apa pun, namun beberapa bodyguard rahasia mereka tentu saja mengetahuinya, ini di karenakan, agar para peserta mengetahui berapa nilai para peserta yang akan diserahkan pada panitia.


Salah satu bodyguard adalah Sehun, sebenarnya Taeyong bisa saja ikut, tapi kali ini Taeyong menolaknya, jadi biarlah Sehun sendiri kali ini.


Sementara suasanya yang sangat menegangkan di ruangan tersebut.


Di suatu pantai, Chanyeol masih termenung, padahal hari sudah sangat larut.


“Ah, apa yang harus aku lakukan Ya Allah? Aku hanya bisa berdoa dan shalat, seseungguhnya ilmuku masih sangatlah lemah.” rintih Chanyeol.


Dia memukul-mukul kepalanya frustasi, terkadang dia pun menangis akannya.


Tidak lama setelahnya, salju pertama pun turun ke puncak rambut Chanyeol.


Chanyeol yang dapat merasakannya pun langsung menarap langit, dia mengedepankan tanganya, beberapa salju pun terwadahi oleh tangannya.


Chanyeol tersenyum. “Aku sampai lupa malam ini adalah salju pertama akan turun.”


****


Gadis SMA itu, bersama Yuda, Aryo dan Pak Mukhlas sedang menunggu keputusan dengan gugup.


Tubuh gadis itu mulai menggigil dengan pakaiannya kurang tebal, hingga Yuda datang menghampiri gadis tersebut.


“Ini pakailah!” ucap Yuda memberikan sebuah sweater, gadis itu pun menerima dan kemudian memakainya. “Aku punya firasat, pasti kamu tidak akan membawanya.”


“Terima kasih Kak.” ucap gadis itu tersenyum menahan tubuhnya yang masih kedinginan.


“Maaf ya, aku Cuma bawa dua, satu untukku dan satunya untukmu, namun itu belum cukup buat kamu hangat.” ucap Yuda merasa bersalah, gadis itu pun menggidik.


“Gak kok Kak, ini aja udah agak mendingan kok.”


“Ini.”


Yuda tiba-tiba saja memberikan sebuah kunci pada gadis itu.


“Untuk apa?”


“Kembali ke ruangan! Setidaknya di sana agak hangat. Dan mengenai hasilnya, kami yanga akan menunggunya.”


“Gak apa-apa Kak, aku akan menunggu hasilnya di sini bersama kalian.”


“Gak Syah, besok adek-adek kelas pengen banget kamu hadir nonton lomba mereka kalo kamunya sakitkan batal.” mendengar penjelasan Yuda, gadis itu pun terkekeh. “Ada apa?”


“Bagaimana Kakak tau?”


“Hei!! Aku seniormu lho.”


“Siap Kak.”


“Sudah sana!” keluh Yuda, gadis itu pun mengagguk. “Ambil kuncinya!”


“Makaasih.”


Gadis itu pun pergi membawa kunci yang diberikan Yuda.


“Kunci pintunya! Jika ada yang mengetuk kamu buka saja.” Teriak Yuda pada gadis SMA yang sudah menjauh itu.

__ADS_1


Gadis SMA itu pun berhenti dan berbalik, dia tersenyum dengan memberikan jempol dan membuat Yuda tersenyum lega.


__ADS_2