Aku Kamu Dan Dia

Aku Kamu Dan Dia
Rhns 19


__ADS_3

Sehun berjalan ke sebuah kamar, dia pun dengan ragu mengetuk pintunya.


Tok tok tok!!


Tidak lama setelahnya Pak Husein pun membuka pintu, dia dapat melihat Sehun yang terlihat tidak berselera dengan bingung.


“Ada apa?”


“Apa Ibu sudah tidur?” tanya Sehun, Pak Husein pun mengangguk.


“Kamu diceritain sama Bibi ya, soal Ibu saat ditinggalin kamu pergi?” tanya Pak Husein, Sehun pun mengangguk. “Jangan dipikirin! Kamu juga jangan bahas itu sama Ibu! Ibu akan menjadi sedih kembali. Kamu anggap saja kamu tidak tau.” jelas Pak Husein.


Sehun tidak setuju, tapi dia tetap menurutinya. “Baiklah, Yah.” turut Sehun. “Aku akan kembali ke kamarku.”


“Han, tunggu!!”


“Kenapa?”


“Ayah udah daftarin kamu kuliah. Besok kita akan ke sana bersam. Kamu siap-siap barang-barang yang sudah ku persiapkan di kamarmu itu.”


“Ah, iya, Yah.” ucap Sehun sedikit melamun.


“Semoga kamu menyukainya, itu kuliah favorite Ayah dan keluarga Ayah. Ayah juga berharap kamu betah dan lulus dari sana dengan prestasi yang baik.” jelas Pak Husein, Sehun pun mengangguk. “Aku memilihkanmu jurusan yang berhubungan dengan mesin.”


“Mesin??”


“Ayah berharap kamu dapat memproduksi mobil yang lebih berkualitas dari pada Ayah.” jelas Pak Husein. “Tapi jika nggan, Ayah akan mencarikan kamu jurusan yang kamu inginkan.” ucapnya lagi sedikit cemas.


“Aku tidak masalah tentang itu, lagi pula aku belum memikirkan akan jadi apa aku di masa depan dan itu kedengarannya menarik.” jelas Sehun tersenyum, Pak Husein pun menenang.


“Kembalilah ke kamarmu! Tidur yang nyenyak! Hari yang baru akan menjemputmu esok hari.”


“Hmm. Good night Ayah.”


“Good night.”


Sehun meninggalkan kamar Pak Husein dan Bu Fatimah dengan hati yang sedikit tenang, namun sedikit mengurangi kecemasannya.


****


Pak Husein mengantarkan Sehun ke depan sebuah gerbang Universitas dengan sebuah mobil. Sehun menuruni mobil, kemudian berjalan ke tempat Pak Husein berkendara. Sehun menyalami tangan Pak Husein lembut, Pak Husein pun menepuk bahu Sehun pelan. Sehun masih terlihat begitu gugup.


"Ayah aku gugup."


"Tenanglah! Ayah yakin kamu bisa."

__ADS_1


"Huh!?" Sehun menarik nafasnya yang sedikit sesak.


"Pergilah! Telepon aku jika kamu sudah pulang! Aku akan jemput."


"Tidak usah, Yah. Aku akan naik grab, taxi atau akutan lainnya."


"Gak bisa, nanti Ibumu akan marah kalo kamu gak pulang sama Ayah." tolak Pak Husein, Sehun kembali terdiam.


"Aku akan menelepon Ibu, aku akan membuatnya mengerti bahwa anaknya ini sudah dewasa." jelas Sehun, Pak Husein pun tersenyum.


"Semangat."


"Iya."


"Ayah duluan."


"Iya, Yah."


Pak Husein kembali mengendarai mobilnya menjauhi Universitas, Sehun pun memasuki tempat kuliahannya.


****


Sehun memasuki kelasnya, dia dapat melihat beberapa orang pria melihatinya sinis dan beberapa gadis yang melihatinya penuh cinta. Hal-hal tersebut membuat Sehun lebih gugup, pasalnya kali ini Sehun seorang diri dan harus beradaptasi dengan suasana yang begitu asing baginya.


Sehun duduk di sebuah bangku, yang di sebelahnya dia dapati seorang pria, namun pria itu begitu dingin. Tidak lama setelahnya, pria dingin itu menyikut Sehun pelan, Sehun pun menoleh penuh pertanyaan.


"Kenapa?"


"Ada beberapa orang di dalam kelas yang tidak menyukai plastik, bisa saja mereka membullymu Kak."


"Plastik? Apa hubungannya denganku?"


"Nanti Kakak juga akan mengerti. Aku hanya memeringatimu saja kok Kak, biar hati-hati." ucapnya lagi, tanpa kejelasan.


Sehun terpengaruh, namun dia masih belum mengerti akan semua yang dikatakan pria dingin tersebut.


****


Sekarang adalah waktu untuk istirahat, dan saat Sehun akan kemuar dari bangkunya, tibalah beberapa gadis yang memang sejak tadi melihati Sehun. Mereka bergerumun di sekitar Sehun, mereka memberikan banyak pertanyaan macam -macam pada Sehun.


Nomor teleponmu apa? Kamu suka makan apa? Udah ada gebetan belum? Kamu suka cewek tipe apa? Kayak aku bukan? Cewek manis kah? Kamu boyband Korea EXO kan?


Pertanyaan mereka semua membuat kepalanya ingin pecah saja. Bagaimana dia dapat menjawab banyak pertanyaan sekaligus? Sehun hanya terdiam, kemudian tersenyum dalam menghadapinya pertanyaan-pertanyaan itu.


Sementara itu terjadi, terdapat sekelompok pria yang terdapat tiga orang anggota, terus melihati Sehun dengan sinis, mereka terlihat jijik sekaligus iri pada Sehun. Sehun tidak menyadari hal itu, perhatiannya teralihkan pada pertanyaan-pertanyaan para gadis.

__ADS_1


“Lihat si plastik! Berani banget godain gebetan gua.” ucap salah satunya geram.


“Emang harus dikasih pelajaran biar kapok. Gagara dia pacar gua juga gak mau diajakin keluar sama gua.” ucap yang lainnya mengepal tangan geramnya.


“Pulang aja diurusnya! Masih rame banget.”


“Kata siapa rame?” tanya orang yang tadi mengepal tangan dengan licik.


“Maksud lu gimana sih, Bryan?” tanya salah satunya lagi.


“Liat aja! Aldi, Boby.” balas Bryan penuh percaya diri dengan penuh kelicikan, mereka berdua pun mengiyakan dengan heran.


****


Setelah beberapa menit dikerumuni, akhirnya Sehun berhasil menghindari para gadis yang menyerangnya dengan banyak pertanyaan. Sehun terhenti di depan sebuah pintu kamar mandi pria, dari kejauhan Sehun dapat mendengar suara sepatu gadis-gadis yang mengerumininya tadi. Tanpa pikir panjang Sehun masuk ke dalam, dan gadis-gadis itu pun melewati kamar mandinya.


Sehun selamat dari kejaran gadis-gadis itu, namun sekarang apa? Tiga orang pria tadi yang terdiri atas Bryan, Aldi dan Boby memasuki kamar mandi yang kala itu sedang sepi. Sehun menatap mereka dengan was-was, apa lagi saat Bryan mengunci pintu dari dalam.


“Kalian mau ngapain?” tanya Sehun yang was-was, bukannya menjawab Sehun, Boby dan Aldi malah meringkus Sehun dengan menempelkannya pada dinding.


Bryan berjalan mendekat ke arah Sehun, terlihat tatapan liciknya, Sehun terkejut dan juga memberontak atas perlakuan padanya. Bryan terus mendekat, kumudian meludahi wajah Sehun, replek Sehun pun berpaling dengan menutupi wajahnya.


“Eh, plastik. Lu gak usah sok polos!” ucapnya kasar. “Muna banget lu brengsek.” Bentaknya, Sehun hanya terdiam.


“Apa kesalahanku?”


“Pertama karena lu plastik.” balas Boby, Boby pun langsung mendapatkan tatapan sinis penuh ancaman dari Bryan dan Aldi, Boby terdiam.


“Plastik apa? Aku bukan plastik.” bantah Sehun.


“Diieeem!” ancam Bryan dengan menarik baju Sehun geram. “Gak usah muna dah lu!” lanjutnya.


“Muna? Ngapain aku harus muna?”


“Denger gak sih gua ngomong apa?” tanyanya dengan membentak serta membenturkan Sehun ke dinding.


“Akh!!” desah Sehun merasakan sakit.


“Yan, udah hajar langsung aja! Ngapain sih ladenin si plastik?” ucap Aldi mempravokasi dan itu berhasil.


“Lu bener. Ngapain gua ladenin dia terus?” balas Bryan yang sudah terpengaruh, sementara Sehun hanya terdiam. “Hajar teman-teman! Bersenang-senanglah!” ucap Bryan yang terdengar penuh kebencian.


Bryan pun memukul Sehun tepat di perutnya dengan beberapa kali pukulan, hingga Sehun dapat memuntahkan darah dari mulutnya karena guncangan yang terjadi di perutnya. Sehun masih terdiam dengan tubuh yang hampir setengah sadar, hingga akhirnya mereka bertiga mengeroyok Sehun bersama. Pukul perut, wajah, tangan, tendang kaki, tendang kepala dan sebagainya.


Setelah membuat Sehun kehilangan banyak darah dan meninggalkan luka berat pada tubuh Sehun, mereka pun berhenti. Keadaan Sehun sudah benar-benar lemah hingga tidak dapat menggerakan tubuhnya dan memikirkan apa pun.

__ADS_1


“Dengerin gua!” ancam Bryan. “Kalo ini sampe bocor, bukan Cuma lu, tapi kelurga lu juga akan bernasib sama kaya gini.” lanjutnya dengan menjepit dagu Sehun yang memang sudah terlumuri darah.


Mereka bertiga pun meninggalkan Sehun yang sudah tidak berdaya, Sehun dapat melihat kepergian mereka dengan remang-remang. Tidak lama setelahnya seorang pria masuk dan mendekati Sehun, sebelum akhirnya Sehun benar-benar tidak sadarkan diri. “Tetaplah sadar!” pinta pria itu terdengar khawatir.


__ADS_2