Aku Kamu Dan Dia

Aku Kamu Dan Dia
61. Kedatangan Raisa


__ADS_3

Mama Yulia menemui ilham meminta penjelasan tentang kesehatan Gita. Mama membawa obat dan surat keterangan dokter yang dia temukan di kamar Gita. Awalnya Ilham menolak menjelaskan, karena dulu Gita meminta merahasiakannya. Tapi berkat bujukan mama Yulia akhirnya Ilham cerita yang sebenarnya.


"Tante kenapa tidak tanya langsung pada Gita?"


"Kamu kan tahu Gita bukan orang yang terbuka. Kalian putus aja, dia nggak cerita. Apalagi masalah seperti ini."


Ilham terdiam sejenak. Matanya mengalihkan ke arah jendela ruangan kerjanya.


"Gita awalnya ada tumor di mata. Tapi naik status menjadi kanker."


"Tante nggak mau tau! Tante maunya kamu yang menangani Gita. Apa ini ada pengaruh dengan pengobatan di Singapura?"


Ilham mengangguk "Tante tenang saja. Aku akan lakukan apapun untuk kesembuhan Gita." Ilham memegang tangan mama Yulia untuk menenangkan.


"Kenapa kalian putus?" Tanya mama Yulia


"Gita yang mau, Tante. Dia yang mutusin saya." Ilham menunduk.


"Lalu kamu menyerah begitu saja?"


Raisa masuk ke ruangan Ilham. Ilham memperkenalkan Raisa sebagai calon istrinya.


"Cepat, ya?" Mama menatap sinis ke arah Ilham dan Raisa.


Mama Yulia langsung berlalu dari hadapan Ilham. Dia sudah terlanjur kesal dengan pengakuan Ilham. Tapi mama tidak bisa menyalahkan Ilham karena yang punya masalah adalah putrinya sendiri. Mama menelpon Gita untuk bertemu di luar.


Gita menemui Mama di kantin dekat kantor Beta.


"Kenapa kamu tidak cerita soal penyakitmu, Gita?" Mama mulai terisak.


Gita diam dan hanya menunduk. Dia tidak berniat merahasiakan dari mamanya. Dia hanya tidak ingin memberatkan kedua orangtuanya. Sudah cukup masalah yang dia berikan pada orangtuanya, jangan sampai penyakitnya menambah beban mereka.


"Maaf, ma." Gita hanya bisa menunduk.


"Sekarang apa rencanamu? Jangan bilang kamu pasrah menunggu ajal Mama nggak suka dengarnya. Harus punya semangat. Kamu mama, papa , opa dan Il ..."


"Ma, please jangan bahas dia lagi. Dia sudah punya pasangan. Dia sudah mau menikah."


"Tapi kalian bakal sering bertemu."


"Aku akan bicara dengan dokter Sasono untuk mengganti dokter. Sekarang kita pulang dulu."


"Kenapa kamu ingin mengganti dokter?" Suara Ilham mengagetkan Gita.

__ADS_1


Gita tak mengindahkan suara Ilham. Dia tetap mengajak mamanya pulang. Mama terus menanyakan kenapa Gita menghindar dari Ilham. Gita hanya diam, tak ada yang bisa dia jawab. Matanya menerawang ke jalanan, Gita melihat mobil Ilham mengikutinya.


Gita terbayang dengan omongan Raisa saat membantunya melepas soft lensa.


"Kalau kamu perempuan baik-baik pasti tidak mau kan menjadi perusak hubungan orang. Apalagi untuk yang akan menikah. Kamu pasti nggak mau kan pasanganmu di rebut orang lain."


Ronal membuka akun sosmed miliknya. Videonya bersama Keisya tersebar. Dimana video itu memperlihatkan adegan ciuman di sebuah club.


"Kenapa ada video ini? Aaaarhhg!" Ronal membanting hp nya.


Sejenak dia takut kalau Gita juga melihatnya. Entah kenapa dalam benaknya takut Gita tahu masalah ini. Ronal mengambil kunci motornya menuju ke rumah Gita. Dalam pikirannya apa yang dia jelaskan pada Gita nantinya.


Semoga Gita belum lihat video ini. batinnya


Sampai di rumah Gita, Ronal melihat respon Gita biasa saja. Ada perasaan lega kalau Gita belum melihatnya.


"Jalan yuk!"


"Kemana? Aku capek banget, nih." tolak Gita. Dia merasa badannya seperti remuk dan ingin istirahat.


"Temenin aku, suntuk nih."


"Oke deh. Aku ganti baju."


"Nggak usah. Kayak gitu aja udah cantik."


Ronal menarik tangan Gita keatas motor. Lalu meminta Gita memeluk pinggangnya erat. Sama seperti saat di Sukasari dulu. Mereka melaju kencang, diikuti mobil Ilham dari belakang. Gita tertidur di bahu Ronal. Ronal memegang tangan Gita agar tidak terjatuh.


Ronal menyadari kalau Gita tertidur. Ronal menurunkan kecepatan motor agar Gita tidak jatuh. Entah kenapa dia merindukan suasana ini sejak tragedi satu tahun yang lalu. Ronal kembali menepis perasaannya.


"Tahan, Alam! tahan! Jangan kamu rusak persahabatan ini!" batinnya.


Ronal sampai di sebuah taman. Gita terbangun dan menyadari ternyata cuma ke taman.


"Kita ngapain malam-malam kesini?" Gita heran Ronal malah mengajaknya ke taman.


"Mang, mau kemana?"


"Cari makan kek, apa kek? Lapar nih!" Gita mengelus perutnya.


"Dasar gentong! dari dulu nggak berubah! Makaaaaan aja yang dipikirin. Yang lain kek dipikirin." omel Ronal.


"Hei, pak Alam! Emang mau mikirin siapa? Elo? ngimpi?" Gita menjulurkan lidahnya.

__ADS_1


Ronal menarik tubuh Gita jatuh ke pelukannya. Mata mereka beradu.


"Jantung lu, berdebar kan, Gita." Tebak Ronal.


"Nggak kok, cuma kaget aja." elak Gita. Padahal memang jantungnya terasa kencang, tapi tidak sekencang bersama Ilham.


"Papa dah pulang!" Panggil Gita. Seketika Ronal melepaskan pegangannya. Gita menjulurkan lidahnya tanda sedang ngeprank Ronal. Gita masuk ke rumah sambil tertawa.


"Awas, ya!" Ronal mengacungkan jarinya saat mengetahui dia di kerjain Gita.


Dari jauh Ilham terus memperhatikan mereka berdua.


...----------------...


"non ada yang nyari." suara bi Endah memanggil dari luar kamar.


"Siapa?" tanya Gita penasaran.


"Cewek non. Cakep orangnya kayak model."


Gita keluar menemui tamunya. Sosok wanita anggun yang muncul di depannya. Gita tahu siapa wanita itu.


"Dokter Raisa?" wanita itu tersenyum pada Gita. Tangannya menjulur ke arah Gita.


"Ada yang bisa saya bantu, dok?" Gita mempersilahkan Raisa masuk ke dalam rumah.


"Disini saja. Saya langsung to the point. Tolong ganti dokter kamu! Jangan Ilham! Kamu tahu kan kami akan menikah. Jadi tolong, kamu itu cantik, baik dan perempuan baik-baik tidak akan merebut punya orang kan."


Gita kaget."Merebut! Nggak kebalik mbak!" Gita tidak lagi menggunakan kata sopan seperti memanggilnya sebagai dokter.


"Nggak, kok. Justru kamulah yang merebut Ilham dari saya. jauh dari sebelum kalian pacaran, Ilham itu tunangan saya. Kami hampir menikah, pernah satu apartemen, malah satu ranjang juga pernah."


"Sa-satu ranjang." Darah Gita langsung berdesir. Tubuhnya langsung lemas. Ilham yang selama ini sangat menjaga dirinya ternyata pria seperti itu.


"Jadi, saya tolong banget mbak Gita. Jauhi calon suami saya."


"Ta-tapi bukan saya yang menentukan siapa dokter yang akan menangani saya." jawab Gita terbata-bata.


"Sebenarnya Ilham tahu kok, kalau pasiennya adalah kamu. Makanya dia ngajuin diri untuk menggantikan dokter Sasono. Jadi please, tolong ganti dokter kalau perlu mengundurkan diri dari rumah sakit." Isak tangis Raisa sambil bersujud di kaki Gita.


Gita tidak tega melihat tangisan Raisa. Gita berjanji akan mencari dokter baru untuk menggantikan Ilham. Gita memeluk Raisa dan minta maaf jika kehadirannya telah merusak kebahagiaan mereka. Raisa membalas pelukan Gita. Dari belakang memberikan senyuman penuh arti.


...----------------...

__ADS_1


Alhamdulillah hari ini kelar satu episode. Mungkin dalam seminggu ini belum bisa up dulu.


Soalnya ada kesibukan di dunia nyata.


__ADS_2