Aku Kamu Dan Dia

Aku Kamu Dan Dia
151. S2: Maafkan aku, Gita


__ADS_3

"Sayang, maafkan aku." alam mencium tangan Gita di puskesmas Sukasari.


Kesalahannya yang terbesar karena terus berulang. Yaitu menyinggung perasaan Gita. Alam tahu istrinya terlalu baik dengan orang lain. Itu yang membuatnya makin cinta pada istrinya. Tapi, masalah utamanya adalah baiknya Gita juga tertuju pada Ilham.


Dimana orang-orang tahu, kalau Ilham sangat cinta kepada Gita. Dimana orang-orang tahu, kalau banyak hal yang terjadi antara Ilham dan Gita. Sampai saat ini, Alam belum bisa menerima Ilham dan Brian sebagai keluarga biologisnya. Berat baginya untuk menerima kenyataan ini.


"Maafkan aku, Gita. Aku tidak bermaksud menyakiti perasaanmu. Tapi satu yang aku minta. Jangan lagi kamu berurusan dengan Ilham. Demi rumah tangga kita sayang. Aku mohon."


Gita yang mendengar ucapan suaminya melepaskan tangan dari Alam. Perasaannya masih sakit atas kata-kata suaminya.


"Aku cuma mau bantu Siti, itu saja. tapi kenapa kamu membawa masa laluku. Kamu nyesel nikah sama aku, apa karena aku pernah dilecehkan Ilham, terus kamu dapat cewek bekasan seperti aku. iya, kan. Aku sadar diri, lam. Aku nggak ada bagus-bagusnya, aku kotor. dari dulu aku selalu bilang, jangan berharap padaku, lam... aku..." Gita belum selesai bicara alam langsung membungkam mulut Gita dengan lembut.


"Jangan dibahas lagi, please." ucap alam lalu melanjutkan pagutan mereka.


"ehmmm..." suara mengagetkan mereka.


Alam dan Gita kaget bercampur malu. Ada Edwar yang datang melihat keadaan Gita.


"Ingat, ini puskesmas. Tempat umum, kalau mau mesra jangan disini." Edwar menyikut tangan istrinya.


"Apaan sih, bang? pengen, ya. ntar malam tunggu Bella dan aura tidur." tukas Dinda lalu berjalan mendekati Gita. Alam dan Gita ikut tertawa melihat tingkah suami istri tersebut.


"Gimana keadaan kamu, Gita? Sebenarnya apa yang terjadi? kenapa kamu bisa pingsan di tengah sawangan." cerca Dinda.


Gita terdiam. Dia enggan cerita masalah sebenarnya. Karena kalau dia cerita, itu sama saja membuka aib suaminya. Gita menggeleng


"Aku nggak ingat,kak. Yang aku ingat malam itu aku pengen ke rumah Siti. Entah kenapa pengen kesana, aja. Kak alam sudah melarang, tapi nggak tahu kenapa rasanya kalau belum sampai kesana aku belum tenang."


Dinda tersenyum "Itu bawaan bayi, Gita. Jatuhnya sama aja dengan ngidam. Dan kamu, lam! Harusnya kamu menuruti kemauan istrimu. Di temenin kek. Bukan dilarang, kan bawaan bayi emang kadang-kadang suka aneh. Dulu waktu hamil Bella dan Aura aku juga gitu. Tapi Edwar selalu sabar menuruti semua keinginanku. Walaupun kadang aku kasihan juga sih sama suamiku." Ucap dinda yang di balas Edwar dengan menepuk pundak Alam.


"Ya masalahnya sudah malam. Makanya aku larang. Gara-gara ngidam kamu itu, yang. Untuk kesekian kalinya kamu bikin heboh desa Sukasari. Satu kampung nyariin kamu, yang." omel Alam pada istrinya.


Edwar menyikut Alam "Baru aja dinasehati Dinda, kamu balik lagi ke tabiat lama. Untung cewek itu Gita. Kalau cewek lain, mungkin udah ngambek terus ngadu sama orangtuanya.


By the way, kamu baru akur kan sama mertuamu. Jangan sampai kalau mama Yulia tahu, bisa talak tiga lagi kalian."

__ADS_1


Alam menelan salivanya. Jujur, dia takut kalau mama Yulia tahu masalah ini, bisa berabe jadinya. Alam menatap Gita berharap istrinya tidak mengadu macam-macam pada mama Yulia. Gita tahu kalau Alam takut sama mama Yulia. Tapi Gita juga nggak akan bawa orangtuanya lagi dalam masalah rumah tangganya.


"Maafkan aku ya,sayang. Aku janji nggak akan kabur lagi dan menuruti suamiku yang otak mesum ini." jawab Gita sambil tersenyum.


"Nah, gitu dong akur, kan enak." Edwar berdiri sambil menyikut istrinya. Dinda tahu maksud Edwar, lalu pamit pada kedua pasangan tersebut.


Saat sedang berdua


Mata Gita kembali melotot " Apa lihat-lihat! Aku tadi ngomong gitu karena tidak enak pada bang Ed dan kak Dinda. Aku masih kecewa sama kamu!" Gita buang muka di depan alam.


"Yang, jangan gitu ah. Please, maafin aku. Aku tahu aku salah. Tapi please, jangan ngadu ke Mama, ya." rengek Alam.


Gita tersenyum. Baru kali ini dia ngeliat suami ketakutan. Karena selama ini yang dia lihat Alam itu sok berani. Ya, walaupun dia tahu ketakutan terbesar suaminya adalah istrinya sendiri. "Aku mau pulang." ucap Gita.


"Tapi kamu belum fit, yang."


"Aku mau pulang! titik!"


"Iya ..iya .. kita pulang." Alam berdiri menemui dokter untuk minta izin pulang.


Alam berjalan menuju ruang dokter. Kakinya terhenti saat merasakan getaran hp nya. Kembali menelan salivanya saat tahu siapa yang menelepon. Dengan berat Alam mengangkat.


"Waalaikumsalam, ma. Mama apa kabar?" tanya Alam mencoba basa basi.


"Mama baik, nak. Mama kangen sama Gita. Gita ada kan sama kamu.Dari kemarin mama hubungi kalian tidak ada yang mengangkat. Kalian nggak ada apa-apa kan?"


Alam cuma terdiam. Dia ragu menceritakan yang sebenarnya terjadi.


"Nggak ada apa-apa, kok. Soalnya kemarin kami sibuk di tempat Siti. Siti mau dilamar, Bu. Makanya Gita dan aku jarang pegang hp."


"Sekarang Gita mana? Mama mau ngomong!"


Alam langsung kembali ke ruangan Gita memberikan hp.


"Ini telpon dari mama. Dia kangen sama kamu."

__ADS_1


Gita tersenyum saat menerima hp dari alam.


"Sayang, tolong tinggalkan aku sendiri. Aku mau ngomong empat mata sama mama." pinta Gita.


Alam membelalakkan matanya.


Ya Allah, jangan sampai Gita cerita sama Mama. soal kemarin, aku nggak mau kehilangan Gita lagi.


"KoK diam sih, sudah keluar dulu! Atau aku cerita sama mama soal semalam!" ancam Gita.


Alam memilih keluar dari ruangan Gita. Pikirannya masih berkecamuk, takut istrinya mengadu pada mertuanya. Sungguh masalah ini sangat membebaninya. Sesekali menguping apa yang dibicarakan ibu dan anaknya tersebut.


Alam terus memantau Gita dari luar.


"Kamu kenapa, lam?" ucap ibunya Siti yang melihat anaknya gelisah.


"Nggak papa bukdang. Bukdang, jangan masuk dulu, Gita lagi telponan sama mama Yulia. Katanya mau bicara penting." Alam menahan bukdang masuk ke ruangan Gita.


"Kamu takut Gita ngadu ke Mama Yulia." Alam mengangguk.


"Lam, kamu beruntung punya mertua seperti mama Yulia. itu artinya dia care sama kalian berdua. Kamu yang harusnya introspeksi diri, kenapa mama Yulia bisa seperti itu. Ibu manapun tidak akan rela melihat anaknya terluka. Kalau saya diposisi mama Yulia, saya pun akan melakukan hal yang sama."


Termasuk melindungi Siti dari laki-laki itu!


bersambung


###


assalamualaikum semua reader


Alhamdulillah Gita kembali aktif lagi ya. Maaf tadinya mau Hiatus dulu. Tapi setelah dipikir pikir, aku akan menyelesaikan cerita Gita walaupun nggak seaktif biasanya.


Semoga tulisan ini bisa menghibur kalian ya, terutama reader kesayangan tulisan ini.


Jangan lupa ya like dan rate cerita ini. Komentar yang positif dan masih berhubungan dengan cerita ini.

__ADS_1


Eh, lupa saya juga minta tolong vote nya untuk aku, kamu dan dia.


happy reading


__ADS_2