
POV Rere
Saya terima nikahnya Regina Renata Irawan dengan mas kawin tersebut tunai."
Air mataku yang sedari tadi tak mau berhenti menetes. Ingin rasanya aku bilang sama semua orang kalau sekarang aku merasa bahagia.
"Sah...sah." kudengar orang orang berteriak.
"Alhamdulillah."
Aku terdiam. Sekarang statusku sudah beda. Bukan Rere si anak manja lagi, aku sudah punya tanggung jawab sendiri.
Rasanya tak percaya, aku mengintip dari balik bulu mataku. Ada seorang laki-laki gagah di sampingku. Dengan atasan putih Saren mirip Koko dan peci putih di kepalanya. Dia menatapku, sepertinya dia paham kalau aku terpesona padanya. Aku menunduk malu, lalu dia membalas dengan senyuman andalannya.
Saat ganti baju kami di ruangan yang sama. Bersama laki laki yang resmi menjadi suamiku. Namanya Roki Moldian Spencer dan sekarang tidak ada embel-embel kak, mungkin aku akan memanggilnya mas atau sayang atau apalah.
"Nggak usah malu-malu. Kan kita sudah sah." Godanya
"Mbak make up nya jangan menor,ya. Dia tanpa make up aja masih cantik. Ntar kalo menor nggak cantik lagi." Protesnya.
Iya, kak. Nanti aku bilang sama mbak periasnya."
"Kak? Jangan panggil kak lagi. Panggil aku mas."
Oh jadi dia mau di panggil mas. Oke, aku akan turuti.
"Rereeeeee!" suara rame seketika.
Dua sahabatku Beta dan Ine langsung nimbrung ke ruang pengantin. Aku mengusap wajahku, kaget bercampur haru. Aku tidak menyangka kalau mereka mau datang. Secara mereka memusuhiku sejak aku kembali dekat dengan Roki.
" Selamat ya, sayang." Ine cupika cupiki padaku.
"Jadi sudah akur nih." Goda Roki.
"Lah, emang kita sahabatan dari dulu." celetuk Beta.
"Gita mana?" tanyaku pada Ine dan Beta.
"Gita lagi honeymoon sama kak Ronal." Semua yang dikamar kaget.
"Kok nggak ngabari kami, sih." celetuk Beta.
Ine tertawa. Dia meralat ucapannya. "Nggak kok, Gita lagi mudik ke kampung kakeknya. Kebetulan dia ketemu Ronal disana."
"Kalo jodoh nggak akan kemana-mana." Roki ikut nimbrung.
Semua mata melihat Roki. Yang dilihat jadi salah tingkah. Ine mengatakan kalau Roki berjiwa besar.
"Lah kenapa dia yang berjiwa besar, Kan dia sudah punya yang sah." Beta merangkulku.
__ADS_1
matanya mengerling kearahku.
Beta yang sedari awal memusuhiku, kini seperti Beta yang dulu jauh sebelah ada Roki diantara kami (aku dan Gita). Dia berbisik padaku.
"Gita yang membuat kami sadar, kalau persahabatan lebih penting dari apapun." bisik Beta padaku.
Aku menunduk malu. Walaupun aku pernah menyakiti perasaannya, tapi Gita tetap mendukungku. Ya, Allah aku ingin bertemu Gita.
Ine memberikan tiket liburan ke Bali padaku.
"Kebetulan hotel papa lagi ada promo liburan selama 1 Minggu. Teringat kamu, re. Cocok untuk honeymoon kalian." Mataku mulai sembab saat menerima hadiah dari Ine.
"Mbak jangan nangis ntar make up nya luntur." kata mbak periasnya.
Tak lama mbak Nia datang membawa baju yang akan aku pakai di resepsi pernikahan. Kebetulan resepsi yang akan diadakan outdoor dekat pantai Ancol.
"Wah, modelnya keren banget." Kudengar Ine heboh melihat model gaun pengantin punyaku.
"Iya mbak. Soalnya resepsi outdoor sesuai permintaan mbak rere. jadi konsep gaunnya seperti ini." jelas mbak Nia.
"Mbak ini bukannya desain Gita kemarin,ya." tanya Roki saat melihat model gaunnya.
"Gita? jadi ini desain Gita! ya Allah sahabatku bisa bikin gaun sekeren ini."
Suara Ine yang cempreng membuat para tamu melihat kearah ruang make up pengantin.
"Diam ah, berisik!" omel Beta pada Ine.
"Mbak sudah siap belum. Mobil pengantin sudah datang." panggil staf WO
Aku langsung berganti baju, begitu juga mas Roki. Mas Roki membisikkan sesuatu pada salah satu temannya. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi tatapan mas Roki tak luput dari Mbak Nia.
...--------...
Ini adalah hari pertamaku sebagai seorang istri. Istri dari seorang lelaki yang kucintai, walaupun hubungan kami penuh perjuangan. Walaupun aku harus rela di sebut penikung. Penikung? Aku bukan penikung! Justru yang kalian bela adalah penikung sebenarnya.
"Nak, sini bentar?" Itu adalah Tante Marni, ibu tiri suamiku.
"Iya,ma." Jawabku sembari duduk di depan Tante Marni.
"Sini, duduk sebelah Mama. Kamu nggak usah takut. Mama bukan mertua seperti di sinetron." Bujuk Tante Marni.
Aku sedikit kikuk. Sepertinya mama Marni tahu aku masih canggung didekatnya. Tangannya memegang tanganku dengan lembut, aku jadi rindu mamaku.
"Kamu ada kegiatan tidak hari ini?" Tanyanya.
"Tidak,ma."
"Kita jalan, yuk." Ajak Tante Marni.
__ADS_1
Mimpi apa aku semalam. Mertuaku ngajak shopping. Ini adalah hari pertama aku sebagai nyonya Roki, tapi baru kali ini aku dengar mertua ngajak mantunya shopping.
"Tapi, ma. Aku mau masak buat mas Roki dulu."
"Ya, udah masak aja dulu. Kamu antar bekalnya ke kantor, biar Mama temenin. Eh, kamu bisa masak?"
"Bisa, ma. Aku pernah kost di luar negeri."
"Syukurlah, mama pikir kamu sama dengan Gita, Beta dan Ine. Mereka terbiasa serba di layani."
"Setahu aku Gita dan Ine bisa masak, ma. Gita kan pernah tinggal di perkampungan gitu. Ine pernah sekolah masak walaupun cuma beberapa bulan."
"Oh, gitu." Marni sepertinya ingin menyudahi pembicaraan.
Aku mempersiapkan segala kebutuhan untuk masak nasi goreng. Dari bumbu-bumbu dapur, sampai ke topingnya yaitu telur dadar di buat seperti mi.
Setelah selesai masak, aku mendandani makanan ini agar terlihat menarik. Aku tidak tahu apakah Roki suka apa tidak. Yang pasti aku sudah berusaha menyenangkan suamiku.
"Re, sudah selesai." Panggil mama Marni.
"Sudah, ma. Aku siap-siap dulu." Jawabku.
"Iya, Mama tunggu." Jawab Marni.
Aku harus dandan cantik. Ya, sebagai menantu orang terkaya di Jakarta, aku harus menjadi yang serba bisa. Aku tidak mau nantinya ada lagi yang bandingkan aku dengan Gita.
"Re, kamu mau kemana? Kita mau ke mall, nak bukan ke hajatan." Kata mama saat aku sudah siap.
"Jelek, ya ma." Tanyaku malu.
"Nggak kok sayang, tapi menurut Mama kamu jadi diri sendiri aja. Nggak usah gaya menor kayak gini."
Aku berkaca melihat dari atas ke bawah. Menorkah? Huh! Padahal aku mau tampil sempurna di depan Roki. Aku kembali ke kamar untuk mengganti pakaianku dengan yang simpel.
"Nah, kan gitu keren." Puji Mama Marni saat melihat baju gantiku.
Aku menunduk malu. Mama Marni beda dengan mertua kebanyakan. Dulu aku sering dengar cerita miring tentang Mama Marni, apalagi saat Gita menyebutnya mama gundik. Mama Marni adalah wanita baik. Ya, mungkin aku juga terlalu dini menilainya orang baik. Tapi, dari matanya aku bisa melihat sisi keibuan dalam dirinya.
Saat kami sampai di kantor Roki, aku harus menunggu suamiku selesai rapat dulu. Mama Marni mewantiku agar menitipkan bekal di kantor saja. Tapi bagiku menyerahkan langsung adalah suatu kebahagiaan tersendiri. Mama Marni sepertinya kesal karena aku mengulur waktu. Tapi tak lama, karena suamiku sudah selesai rapat langsung menemuiku.
"Wah, sepertinya masakan istriku enak, nih." kulihat mata Roki berbinar melihat nasi goreng buatanku.
"Makasih sayang." Pujinya sembari mengecup keningku.
"ehmm ... Mama jadi nyamuk nih." Roki tertawa melihat mamanya yang kesal.
Aku pamit sama Roki, eh mas Roki untuk menemani mama ke mall. Mas Roki tentu mengizinkan, dia memberikan ATM nya padaku, tapi kutolak, mengingat aku punya ATM sendiri.
"Sayang, ATM ku kan ATM kamu juga. di terima dong." bujuknya.
__ADS_1
"lain kali aku pakai ATM mu mas, kalo sekarang aku pakai yang ini dulu."
"Ya, udahlah kalo itu mau kamu. Hati hati ya sayang." Sekali lagi dia mengecup keningku.