Aku Kamu Dan Dia

Aku Kamu Dan Dia
82. S2: Sedikit cerita tentang boy


__ADS_3

"Apaaaa! boy sekarang di Jakarta!" teriak Marni saat menerima telepon dari kerabat Spencer di Malaysia.


"Iya, makcik. Dia ngakunya ada tour di Singapore! Tapi temannya bilang dia nekat ke Jakarta."


"Maaaaaas! Mas Bobby! gawat gawat mas!" teriak Marni ketakutan.


"Kenapa, ma?" tanya Roki melihat mamanya panik.


"Nggak, papa, Ki. Ada masalah di perusahaan cabang." jawab Marni mengelak.


Bobby mendengar istrinya panik segera menghampiri. Marni menceritakan kalau boy ada di Jakarta "Kamu itu kayak nggak tahu anakmu aja. Dari dulu kan emang orangnya tebal muka." omel Bobby.


"Terus kita harus gimana,mas? aku yakin dia pasti mau ketemu Gita. Aku lakuin ini juga supaya dia jauh dari Gita." Marni terus menangis.


"Aku nggak mau tau! urus sama kamu sendiri! ini ide kamu! rancangan kamu! dan kamu yang harus menyelesaikannya! lagian kalau mereka saling cinta kenapa harus dipisahkan!" ucap Bobby lantang.


"Gita itu pembawa sial! Dulu Alam celaka gara-gara siapa? gara-gara Gita! Alam gagal nikah gara-gara siapa! gara-gara Gita! dan sekarang Alam kecelakaan gara-gara siapa, mas! coba mas pikir!" kenang Marni dalam keadaan panik.


Bobby meninggalkan istrinya yang pusing di kamar. Pria itu menghela nafas "sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga."


Roki penasaran dengan yang sebenarnya terjadi. Dia akan mencari tahu. Siapa itu boy? yang sedang bikin mamanya pusing. Roki menghela nafas. Dia dan keluarga kecilnya butuh tempat untuk bernafas.


...----------------...


Gita menelpon Siti untuk mengabarkan boy di tangkap polisi. Maksud Gita mengabari Siti supaya gadis itu menjenguk boy.


"Kantor polisi mana, Gita?" jawab Siti


"Kantor polisi Ciracas, ti." jawab Gita.


"Kamu temenin aku, ya." ajak Siti.


"Nggak ah. Malas aku jadi nyamuk. Dah dulu, ya aku di jemput Ilham." elak Gita.


" Huh! Masa aku pergi sendiri? Nggak asik, ah." gerutu Siti.


Siti mau nggak mau datang menjenguk boy ke penjara. Saat sampai di sana Siti terkejut mendengar penjelasan boy pada petugas polisi.


"Saya cuma menyelamatkan seorang wanita yang hampir di perkosa sama sopir Angkot."


" Sekarang mana gadis itu?" tanya petugas


"Sudah kuantar pulang, pak." jawabnya singkat.


Siti menebak kalau gadis itu Gita. Siti merasa di tikung oleh Gita. Kenapa semua lelaki yang dia sukai lebih berpihak ke Gita. Siti menemui boy yang masih diinterogasi.

__ADS_1


"Perempuan itu Gita, kan. Apa sih yang kalian lihat dari Gita. Gita itu murahan. Lo pikir aja, pacaran sama kak Alam terus sama Ilham, putus sama Ilham balik lagi sama kak alam. Kak alam meninggal dekat sama Jonathan, sekarang balik lagi sama ilham. Dan sekarang kamu yang mencoba mendekati Gita. Percuma!!!!" ucap Siti emosi


"Kamu kok ngomong gitu sih, Gita itu sahabat kamu Lo, dia sayang sama kamu."


"Bullshit, Topeng dia aja itu! pake penyakit buat alat biar di kasihani oleh para cowok!" Siti pergi dari kantor polisi. Siti menangis karena merasa selalu di tikung Gita.


"Gue capek ngalah terus!!!" pekik Siti.


Tak lama Siti melihat boy sudah keluar dari penjara. Mungkin karena terbukti tidak bersalah makanya di bebaskan. Tapi ternyata Siti salah. Masih ada campur tangan Gita yang membantu pembebasan boy.


" Dengar, Gita kali ini aku akan usaha sendiri. Usaha untuk mendapatkan hati boy!" ucap Siti dengan penuh amarah.


...----------------...


Tuan Bryan berdiri di depan kediaman Pramono. Dengan hati-hati dia mengetuk pintu rumah itu.


"Assalamualaikum, Mila nya ada?" tanya Brian pada Ilham yang membuka pintu.


"Oh, mama ada kok om. Bentar ya saya panggilkan. Silahkan masuk." Ilham mempersilahkan tamunya masuk.


Ilham memanggil mamanya yang sedang di dapur. Mila membersihkan dapur, tapi Ilham bersikeras mau bantu mamanya masak. Mila kaget melihat siapa yang datang.


"bri ... Brian!" pekiknya.


"Hai, mil. apa kabar? Aku kesini mau ketemu anak kita!" sapa Brian


Mila pingsan. Ilham yang mendengar suara gaduh di ruang tamu langsung menuju arah suara. Dia kaget melihat Mamanya pingsan.


Ilham langsung membawa mamanya ke kamar.


Ilham menemani mamanya di kamar. Dia lupa kalo sudah berjanji pada Gita untuk datang ke kantor WO. Baginya sekarang kondisi Mamanya yang lebih penting.


Zreeeeet zreeeeet zreeeeet


"Yang, jadi nggak ke WO?" telpon Gita.


"Ya, ampun aku lupa. Tapi mama lagi sakit nih."


"Aku ke rumah, ya." jawab Gita.


"Boleh, siapa tahu mama sembuh ngeliat mantunya." goda Ilham.


"Gombal!" Gita menutup telponnya.


Gita sampai di rumah Ilham. Mendapati Brian ada di ruang tamu. Mereka tentu saja saling mengenal karena Brian lah yang menyelamatkannya Gita saat di culik dulu.

__ADS_1


"Kalian sudah kenal?" tanya Ilham


"Iya, kenal. Dia yang nyelamatin aku waktu di buang kak keisya dulu." kenang Gita.


"Om ngapain disini?" tanya Gita.


"Saya kerabat jauh mamanya Ilham. Kebetulan ada urusan di Jakarta sekalian saya mampir kesini." ucap tuan Brian.


"Ham..." suara Mama Mila terdengar lirih.


"Iya, ma. Ilham disini." Ilham mendekatkan diri ke tempat tidur mamanya.


"Dia .... dia ... papa kandungmu... Maafin mama ham. Kamu bukan anak papamu yang sekarang."


"Ilham sudah tahu,ma. Tapi apa benar dia papaku?"


Brian memeluk Ilham, tapi di tepis. Baginya butuh waktu untuk menerima lelaki yang di depannya.


...----------------...


Malam ini Roki datang menemui Gita. Roki ingin menyampaikan hasil penyelidikannya tentang Alam pada Gita.


"Ada apa, kak?" tanya Gita heran melihat kedatangan Roki.


"Alam masih hidup, Gita. Dia ada di Jakarta." terang Roki.


"Terus! apa urusannya dengan aku?" jawab Gita ketus.


"Kok kamu, gitu? harusnya..."


"Harus aku senang gitu. Aku capek kak dengan sandiwara dia, sok ngumpet, dulu aja dia pakai nama Ronal. Mendekati aku, apa salahnya dia jujur sejak awal kalau dia Alam. Sekarang drama apalagi yang dia buat? Ganti nama? apa ganti wajah? Aku sudah muak, kak." pekik Gita.


"Maunya dia apa sih kak?"


"Gita..." ucap Roki melihat kekecewaan di wajah gadis itu.


"Kak, tolong pulang saja. Aku capek!" Gita masuk kedalam rumah membanting pintu.


Gita meringkuk di balik pintu.


"Kamu pembunuh! Pembunuh! Pembunuh!"


"Aku bukan pembunuh! aku bukan pembunuh!" Gita menutup telinganya. Kata kata keisya terus terngiang di telinganya.


Gita memilih tidur. Tapi mimpi itu datang lagi. Mimpi seorang lelaki dengan tubuh terbakar memanggil namanya.

__ADS_1


"Tolong jangan ganggu saya! Saya tidak kenal dengan kamu! Tolong jangan ganggu saya!" igau Gita.


__ADS_2