Aku Kamu Dan Dia

Aku Kamu Dan Dia
43. Membangkitkan ingatan


__ADS_3

"Ke bandung? ngapain?" telpon dari Ilham.


"Liburan sayang. aku lihat akhir-akhir ini kamu gampang drop. Siapa tahu kamu butuh refreshing?"


"Siapa saja yang pergi? kita berdua?"


"kak keisya dan kak Ronal ikut juga. Mereka mencari lokasi buat prewed."


"Aku malas kalau mereka juga ikut."


"Kan yang mengajak kak keisya, sayang."


"Aku tidak mau ikut. Seharusnya kamu punya inisiatif lain dong, jangan jadi ekor kakakmu terus." aku menutup telponnya.


Sejak pertemuan malam itu, Ilham selalu mengajak kakaknya kemanapun kami dating. Yang anehnya pacar kak keisya selalu ikut. Nggak punya modal tuh cowok. Bukan aku nggak suka sama mereka, tapi hubungan kami juga punya privasi. Jujur aku mulai risih dengan pacar kak keisya yang sok genit.


"Gita! tolong ambil karpet di gudang, sayang?"


"Iya, ma."


Aku pergi ke gudang mengambil karpet yang di minta mama. Sebuah box yang menyita perhatianku, aku belum pernah melihatnya. Ini box isinya apa, ya.


"Gita ... mana karpetnya?" suara mama kembali memanggil.


Aku menarik karpet, berat sekali. Lagian mama tumben mau gelar karpet, buat apa sih? Aku menyeret karpet sendirian. Kulihat ada Ilham sedang ngobrol sama papa. Ilham sepertinya tidak melihatku.


"Buat apa sih?" tanyaku heran


"Buat pengajian di rumah kita. Kan bentar kamu mau nikah."


"Ma, aku nikah kan habis lebaran. ini aja masih bulan Desember."


"Nggak kok pernikahan kalian bulan depan. Itu juga sudah di rundingkan sama keluarga Ilham."


"Mama kok nggak ngomong sih? Aku dan Ilham yang bakal nikah. Ilham sendiri bilang pernikahan kami di serempakan sama kak keisya. Sekarang mama seenaknya mengganti jadwal. Mau mama apa sih?"


Aku lemas setelah memarahi mama. maafin aku, ma, aku capek di rongrong terus. Mama nggak usah takut kalau aku jadi perawan tua, aku pasti nikah. Aku turun ke bawah, ada Ilham yang mengikutiku. Aku masuk ke mobil Ilham buat numpang nangis. Aku merasa bersalah sudah marah sama mama.


"Kamu nangis sayang?" Ilham tiba-tiba masuk ke mobil.


"Aku pengen jalan, boleh?" pintaku pada ilham.


Mobil melaju dengan kencang. Kami pun tiba di taman yang tak jauh dari rumah Ilham.


"Sekarang luapkan semua perasaanmu!"


huuuuaaaaaaah


Aku langsung mengeluarkan air mata yang sedari tadi kutahan. Aku menggunakan tisu di mobil Ilham, sampai satu bungkus habis kupakai membersihkan hidungku yang ikutan meler.


"Lega?" Ilham dengan santai menungguku sampai selesai menangis.


"Lapar." aku mengelus perut


"Hahahaha ... jadi kamu nangis daritadi karena lapar." Ilham tak bisa menahan tawanya.


"Bukan! aku kesal sama mama. Seenaknya aja merubah jadwal pernikahan kita. Aku kan juga butuh waktu untuk mempersiapkan pernikahan ini." curhatku pada Ilham.


"dan sekarang aku sangat lapar."


Ilham merubah posisi duduknya, lalu tangannya membelaiku.


"Kamu mau kan nikah sama aku, Git?"


"Tentu."


"Lalu kalau dipercepat emangnya kenapa? Apa kamu meragukan aku?"


"Bu.. bukan itu? Aku... aku ... aku ingin sembuh?"


"Sembuh? sembuh yang mana dulu? kamu kan sudah bisa melihat. Kamu juga sudah bisa berjalan. Lalu apa yang harus di sembuhkan?"

__ADS_1


"Ingatanku. Tolong bantu sembuhkan ingatanku, aku capek! capek di teror terus sama semua ini! mungkin di masa lalu ada yang belum aku selesaikan."


Ilham terus menatapku. Entah apa yang dia pikirkan, yang pasti aku berharap dia membantuku. Sebagai seorang dokter seharusnya dia paham kondisiku.


"Oke akan kubantu, tapi harus mulai darimana aku harus mencari tahu. Apa dari mamamu dulu?"


Aku sendiri tidak tahu harus mulai dari mana. Seharusnya dia sebagai dokter punya inisiatif sendiri. Kalau aku bisa, udah sembuh kali dari dulu. "Boleh aku usul? coba dari Beta Ine dan Rere."


"Kenapa nggak dari kamu saja yang nanya ke mereka? secara mereka lebih dekat dengan kamu daripada aku."


Iya juga sih yang dikatakan Ilham. Kenapa tidak aku saja yang mencari tahu dari mereka? Tapi aku senang Ilham mau membantuku.


Ilham keluar mobil, aku pun mengikutinya. Dia melarangku keluar mobil. Alasannya wajahku sembab, takut dikira sedang berantem sama dia. Aku masuk kedalam mobil, ku hidupkan musik radio, ada lagu yang seperti tidak asing kudengar.


Kita telah lewati


Rasa yang pernah mati


Bukan hal baru


Bila kau tinggalkan aku


Tanpa kita mencari


Jalan untuk kembali


Takdir cinta yang menuntunmu kembali padaku


Di saat ku tertatih (saat ku tertatih)


Tanpa kau disini (tanpa kau di sini)


Kau tetap ku nanti


Demi keyakinan ini


Jika memang kau terlahir


Bawalah hatiku dan lekas kembali


Ku nikmati rindu yang datang membunuhku


Untukmu seluruh nafas ini


Gita mengunci pintu mobil. Dia merasa gerah dan akhirnya menghidupkan AC mobil. Rasa kantuk mulai menyerang Gita. Mencoba melawan kantuk karena menunggu Ilham datang, tapi ternyata Gita kalah, dia merebahkan kursi mobil dan tertidur.


Iringan lagu itu masuk ke dalam mimpinya, seorang laki-laki menggunakan gitar dan bernyanyi di teras rumah Siti. Alunan lagu yang sendu membuat yang duduk di sana terbuai.


Sebuah suara hati yang mewakili si pemilik gitar. Diiringi tepuk tangan dari Edwar dan Siti.


"Waaaaah, lagu nya mendalam banget. Yakin nih Gita yang terakhir." goda Edwar


"Insyaallah, kalo jodoh nggak akan kemana-mana." jawab Alam.


"Aaaaaamin." jawab mereka berbarengan.


"Lagunya yang riang dong. Jangan yang mellow. Ngantuk dengarnya." protes Gita.


"Alaaaah, aku liat kamu mandangin dia terus. nggak ada ngantuk sama sekali." goda Siti.


"Apa sih,ti?"


"Makanya cari pacar, ti."


"Emang kak Ronal ada pacar?" tanya Siti.


"Ada."


"Siapa?"


"Dinda." jawab Edwar.

__ADS_1


"Hahaha.. iya kak Dinda. Cocok tau." Siti ikut menggoda


"Nah, tu Gita. Mereka malah nyuruh aku sama Dinda."


"Lah, kalau kakak mau ya Monggo. Masih ada bang Ed. Ya kan bang?"


Wajah Edwar memerah. Ronal menyadari Edwar salting di dekat Gita. Ronal minta ganti posisi duduk dengan Edwar.


"Ntar kamu baperan beneran sama Gita."


"Oh, takut ceritanya."


Seperti biasa Ronal duduk disamping Gita dan menggenggam tangan Gita denga erat. Edwar meledek Ronal tipe bucin pada setiap wanita yang di pacarinya.


Gita terbangun dari tidurnya. Dadanya sesak, dilihatnya Ilham belum juga muncul.


"Kemana dia?" Tanya Gita dalam hati.


Gita membuka pintu mobil, lalu memuntahkan isi perutnya yang terasa mual. Gita membersihkan pintu mobil Ilham yang kotor terkena muntahannya.


"Ya, Allah sayang kamu nggak papa?" suara Ilham tiba-tiba datang melihat muntahan Gita yang berisi air.


"Lama amat sih, nyari makannya dimana? Bandung!" omel Gita yang kesal pada Ilham.


Ilham sebenarnya pesan makanan melalui online food. Tapi di jalan dia bertemu Ine dan suaminya yang cari sarapan di dekat daerah disana. Ilham berusaha mengorek masa lalu Gita hanya saja Ine sepertinya berusaha menutupinya.


"Kalau kamu sayang sama Gita. Tolong bantu kembalikan ingatannya. Apa kamu tidak kasihan melihat Gita tersiksa seperti ini." ucap Ilham pada Ine saat Ine pamit pulang padanya.


Gita merengek pada Ilham untuk pulang. Rasa laparnya sudah hilang, yang ada dia kesal di kejar-kejar sama mimpi itu. Ilham mau tidak mau mengalah menurut kemauan Gita. Mereka masuk mobil, dan Gita hanya terdiam. Mimpi itu serasa nyata, dan wajah itu semakin nyata.


Sesampai di rumah, suasana sudah mulai rame. Mama menyuruh Gita bersiap-siap karena keluarga Ilham akan datang. Ilham bergegas pulang. Di kamar Gita merenungi mimpinya tadi.


"Assalamualaikum, mau ketemu sama calon manten boleh?"


Gita menoleh mencari arah suara. Wajah yang Gita kenal.


"Siti?"


Kedua sahabat saling memeluk melepas rindu. Siti mengenakan gaun borkat yang disiapkan mama Gita. Siti akan tetap di Jakarta sampai resepsi pernikahan Gita. Siti juga bersama ibunya. Sekarang ibu sedang di bawah bersama orangtua Gita.


"Akhirnya kalian menikah juga." kata Siti takjub melihat Gita yang tampil cantik.


Siti bertanya bagaimana rasanya akan menjadi nyonya Ronal atau Alam. Gita meluruskan kalau calon suaminya bernama Ilham, bukan Ronal atau Alam. Siti mengira Gita bercanda, karena yang dia tahu Gita dan Ronal saling mencintai.


"Cinta?" Gita bingung dengan ucapan Siti.


"Iya kalian itu saling mencintai. Kalian kan lengket banget kayak perangko." celoteh Siti


"Bisa ceritakan seperti apa hubungan kami."


"bisa.."


"Siti ... keluarga calon laki-laki sudah datang. Bawa Gita ke bawah." suara mama memanggil dari bawah.


Siti mendampingi Gita turun tangga. Siti penasaran seperti apa calonnya Gita. Keluarga besar Pramono juga datang, termasuk Ronal. Siti melihat ada Ronal diantara keluarga laki-laki.


Ibu dari belakang seperti mau menangis melihat Gita akan menikah, ibu lebih terkejut karena calonnya bukan Alam. keluarga Ilham duduk bersama mama Yulia dan papa Dul. Ada Ine dan Beta yang juga datang ke acara pengajian di rumah Gita.


Ine dan Beta pun sepertinya tidak kuat melihat Gita bersanding dengan laki-laki lain. Ronal memilih duduk diluar. Siti menemui Ronal.


"Kenapa bisa seperti ini, kak?" tanya Siti bingung.


"Kami nggak jodoh, ti." suara Ronal menjadi lirih.


"Lalu, siapa wanita yang kakak gandeng tadi?"


"Wanita pilihan ibuku."


"Jangan bilang orang tua kalian tidak saling setuju?" Ronal mengangguk.


"Nggak bisa ini! Aku harus jelaskan yang sebenarnya ke mama Yulia."

__ADS_1


Ronal menahan tangan Siti. Dia memohon pada Siti untuk tidak merusak kebahagiaan Gita. "Mereka saling mencintai, biarkan saja."


__ADS_2