Aku Kamu Dan Dia

Aku Kamu Dan Dia
79. S2: Di pantai Ancol


__ADS_3

Masih di pantai


Gita melepaskan kalung pemberian Alam. Lalu akan membuangnya ke laut. Baginya, sudah saatnya dia menghapus semua tentang Alam, membuka lembaran baru bersama Ilham. Saat Gita akan membuangnya sebuah tangan menahannya.


"Siapa kamu?" Seorang laki-laki yang tak dia kenal menahan tangannya.


"Bukan siapa-siapa. Cuma sayang aja kalau di buang." jawab laki-laki itu.


"Kenapa harus sayang? Kalung ini sudah jadi masa lalu. Aku tidak ingin hubunganku hancur lagi hanya karena masa lalu." jawab Gita.


"Anggap saja ini sebagai kenangan." jawab laki-laki itu.


"Bukan urusan kamu! Mau aku buang kek! mau aku telan kek! itu bukan urusan anda!" jawab Gita kesal.


"Sayang!" suara Ilham mengagetkan mereka. Gita cuma menjatuhkan kalung itu di dasar batu.


Laki-laki itu mengambil kalung itu "Buktinya kamu masih menyimpannya." laki-laki itu pergi meninggalkan pasangan yang sedang kasmaran itu.


Boy masuk ke hotel dekat Ancol. Hotel yang dulu memiliki kenangan bersama Gita. Saat duduk di cafe hotel mata boy tertuju pada sebuah panggung.


"Mas, bolehkah saya menyumbangkan lagu?" tanya boy pada seorang pegawai hotel.


"Oh, boleh mas. silahkan!" Pegawai itu mempersilahkan boy duduk di atas panggung cafe.


"Lagu ini adalah lagu kenangan saya bersama seseorang." boy membuka suara.


Tangannya mulai memainkan gitar. Dan mulai bernyanyi lagu last child feat Giselle berjudul seluruh nafas ini.


Gita mendengar lagu itu bergema saat dirinya mampir ke resortnya Ine. Gita mencoba menampik pikirannya, baginya siapapun bisa menyanyikan lagu ini. Tapi entah kenapa malah Siti yang lebih mengenali cara bernyanyi si pria ini.


"Bukannya itu boy Aziz." celetuk Jonathan saat melihat penampilan boy di cafe resort Ine.


"Om kenal?" tanya Siti.


"Tau lah, boy Aziz itu salah satu personel band Indie di Malaysia. Fans nya banyak kalo disana."


"Oooo... tapi penonton disini biasa aja."


"Ya, iyalah. Dia cuma tenar sekitar Johor dan Kuala lumpur doang." balas Jo


"Hmmm... aku punya ide. Bagaimana kalau dia jadi wedding singer di nikahan Gita dan Ilham." tambah Jo


"Bilang sama yang punya acara dong. Jangan sama aku." jawab Siti kesal.

__ADS_1


"Ya kamu kan dekat sama mereka." delik Jo sambil menyunggingkan senyum pada Siti.


"Napa senyum-senyum gitu?" Siti heran dengan sikap Jo yang rada slengean.


"Anak kecil mau tahu aja!" Jo berlalu dari hadapan Siti.


Gita duduk di salah satu sudut cafe. Teringat saat Roki memutuskannya di cafe ini. Tapi sekarang dia cukup bahagia ada Ilham di sampingnya. Ilham memegang erat tangan Gita. Tak henti-hentinya dia mencium kening Gita. Ada rasa syukur yang dirasakan Ilham bisa bersatu dengan wanita yang sangat dicintainya, walaupun dia juga tahu perlu waktu Gita untuk melupakan seorang Ronal.


"Yang, aku ingat dulu pernah hampir pingsan disana?" cerita Gita menunjuk lokasi saat dinner bareng Roki.


"Kenapa?"


"Aku diputuskan pacarku terus aku kabur pengen nenangin diri. Eh, kehujanan nggak bisa pulang. Untung ada Ine sama...."


"Sama siapa?"


"Sama stafnya yang nyelamatin aku." Gita langsung buru buru menjelaskan pada Ilham, untung dia tidak kelepasan soal Ronal.


"Oh, ya waktu aku nginap di hotel Ine, siapa yang bawa aku pulang?" tanya Gita.


"Aku lah." jawab Ilham.


"Ooooh makasih sayang." Gita tersenyum pada Ilham.


Kulihat Jo dan Siti menghampiri kami. Dengan semangat Jo menyampaikan ingin mengajak boy sebagai wedding singer di pernikahan kami. Aku sih tidak masalah dengan hal itu, tapi tidak tahu dengan Ilham. Memang pernikahan kami masih 6 bulan lagi. Mengingat keluarga Ilham masih berkabung atas meninggalnya kak Keisya.


Tapi di belakang Jo aku melihat seorang wanita dengan tatapan amarah. Aku menyenggol Ilham menunjuk ke arah wanita itu.


"Selesaikan masalah kalian." ucapku meninggalkan mereka dan berjalan bersama Siti.


Aku dan Siti duduk di dekat sebuah lambang spot photo. Banyak pasangan muda mudi berphoto ria.


"Lebay! Belum tentu mereka jodoh!Udah kayak dunia milik berdua." omel Siti.


Aku tertawa melihat Omelan Siti. Sahabatku yang satu ini memang belum terlihat menambatkan hati dengan pria manapun.


"Kenapa nggak sama om Jo aja sih?" ucapku sama Siti.


"Ini lagi? Ngapain jodohin aku sama si bujang lapuk."


"Tau darimana kamu kalau dia lapuk?" godaku


"Buktinya sampai sekarang belum nikah. Usianya udah hampir kepala 4 kan." Siti nggak mau kalah

__ADS_1


"Ciyeeeeee, sampai tahu soal usianya." aku kembali menggoda Siti


"Masuk yuk! panas disini! Aku laper jadinya!" ajak Siti menarik tanganku ke dalam cafe.


Aku melihat raut wajah Raisa dan Ilham terlihat serius. Entah apa yang mereka bahas. Sampai Siti menyeletuk "Kalau Raisa ajak Ilham rujuk gimana?"


Aku tidak bisa menjawab. Toh, kalau mereka beneran mau rujuk dan sama sama mau, aku tidak bisa maksa.


"Gita, kamu yakin nggak sih kalau kak Alam sudah meninggal." tiba tiba Siti membahas soal Alam.


"Yakin." jawabku asal.


"Seandainya dia masih hidup?" tebak Siti


"Udah, ti. Nggak usah bahas yang tidak masuk diakal. Sekarang kita ke dalam." ajakku.


Hari sudah menunjukan tanda akan sore. Gita dan Ilham berencana pulang tapi ternyata ban mobil mereka kempes. Ilham mengganti ban mobil, Gita sendiri menunggu di depan lobby. Sedangkan Siti sudah duluan pulang naik motor bareng Jonathan. Sambil menunggu Gita membuka gawainya. Ada salah seorang pegawai restoran memberikan kentang goreng porsi jumbo dengan minuman teh lemon.


"Maaf saya tidak pesan."


"Tadi mas nya yang pesankan." jawab si pelayan.


"oh, makasih mbak. Nanti kasih kan struk pembayarannya."


"Sudah di bayar, mbak." jawab si pelayan.


"Ah, Ilham tau aja kalau aku suka makanan ini. Eh, bentar bukannya Ilham paling cerewet kalau aku makan junk food kayak gini. Ah, bodo amat yang penting gratis." batin Gita.


Saat menikmati kentang goreng Gita merasakan ada yang mengalir di hidungnya dan menetes di makanan itu. Gita kaget melihat darah yang jatuh ke tangannya.


Buru- buru dia pergi ke toilet dan membersihkan hidungnya yang terus mengeluarkan darah. sudah satu rol tisu toilet dia habiskan. Merasa sedikit lebih baik Gita kembali ke tempat duduknya.


"Kamu pucat, yang." jawab Ilham saat selesai membenarkan ban mobilnya.


"Kita pulang, ya." ajak ilham.


"Duduk dulu lah, kamu pasti capek tadi." ucap Gita menarik Ilham ke mejanya.


"Waaw, ngemilnya mantap. Tau aja kalau aku lapar, yang."


"Loh, bukannya kamu yang pesan." tanya Gita.


"Nggak kok. Kan aku dari tadi benerin mobil sayang."

__ADS_1


Siapa ya? Ah, mungkin Om Jo tadi pesan.


__ADS_2