Aku Kamu Dan Dia

Aku Kamu Dan Dia
145. S2: Mama sayang kalian


__ADS_3

Di suatu malam kediaman Gunawan


"Assalamualaikum" Gita dan alam memanggil di depan pintu rumah orangtuanya.


"Waalaikumsalam, Gita! anak Mama." Mama Yulia langsung memeluk putri semata wayangnya. Ada kerinduan yang mendalam, karena sejak kejadian malam itu, Gita belum ada pulang ke rumah.


"Mama, apa kabar? Gita kangen sama mama." ucap Gita masih dalam dekapan mama Yulia.


"Mama juga kangen sama kamu, nak. Kamu sehat kan, nak. Kandungan kamu bagaimana? nggak ada masalah, kan? Aduh cucu Oma bentar datang. Sudah mau lima bulan kan."


Mama Yulia bertubi-tubi melayangkan pertanyaan pada Gita.


"Ma, Gita baru sampai. Ya di suruh duduk dulu, kasihan bawa beban berat. Eh, perut kamu gede, nak. apa ini kembar?" Papa ikut kepo.


"Tadi papa suruh Gita duduk. Sekarang malah ikut kepo juga." Ucap Mama mengajak Gita duduk ke sofa ruang tengah.


Suasana rumah begitu ramai. Begitulah orangtua kita, sebenci bencinya, semarahnya kepada anaknya. Tetap saja dia memberikan doa yang tulus pada anaknya.


Alam kembali ruangan setelah mengambil barang-barang mereka di mobil. Mungkin mereka akan nginap. lama dia memandang istri dan kedua mertuanya. Ada rasa haru menyelinap di hatinya. Ah, dia merasa rindu momen ini.


"Sayang..." panggil Gita.


Gita melambaikan tangannya memanggil suaminya. Alam segera mendekati istrinya sambil membawa barang mereka. Mama Yulia menatap menantunya dengan lembut. Tak ada pancaran kemarahan di wajah wanita itu.


"Ah, mantu mama. Sini duduk dulu." ajak mama Yulia.


Alam tadinya menunduk, tiba-tiba mengangkat kepalanya kembali. Ketakutan yang dari tadi melandanya hilang seketika. Sedikit senyum ditunggitkan dari wajah lelaki itu. Ada secercah harapan yang menyapanya.


"Iiya, ma." Alam memeluk Mama Yulia dengan erat.


Mama, papa dan Alam membimbing Gita masuk ke kamar Opa. Betapa terkejutnya Gita saat melihat isi kamar tersebut.



"Ma, ini..." Gita masuk ke kamar Opa dengan perasaan takjub.


"Iya, ini kado dari mama dan papa buat cucu mama." Ucap Mama Yulia sambil merangkul Gita.


"Yang ..." Gita menatap suaminya.


Alam hanya mengangguk, dia senang mertuanya memberikan perhatian pada calon anak mereka.


"Kalian tidur disini, ya. Kamu kan sudah hamil besar jangan naik turun tangga lagi." Ucap Mama Yulia.

__ADS_1


Alam menatap kamar opa yang disulap mama Yulia menjadi kamar bayi. Di tatapnya Gita yang masih sibuk melihat aksesoris bayi. Tangannya melingkar di pinggang Gita.


"Kira-kira anak kita ini laki-laki apa perempuan ya."


"Ya kalau laki-laki jangan sampai kayak Papanya, teledor. Suka PHP wanita." ledek Gita pada suaminya.


"Walaupun begitu ada juga yang setia sama aku." Alam melirik Gita.


"Siapa? Kak Dinda, ya?" tebak Gita.


"Bukan. Ada seorang wanita yang membuat mataku terbuka bahwa cintanya sangat tulus. Ada seorang wanita yang membuat aku bisa bertahan sampai sekarang. Ada seorang wanita yang selalu menuntunku kearahnya. Ada seorang wanita yang dulu di mataku nyebelin ternyata ngangenin."


" Dan wanita itu pasti beruntung memilikimu. Wanita itu merasa dicintai, wanita itu merasa disanjung, wanita itu merasa sangat disayang, wanita itu pasti aku kan." Gita menatap mata Alam.


"Aku janji tidak akan meninggalkan kamu lagi, sayang. Karena kamu wanita yang patut di perjuangkan. Karena kamu semangat hidupku. kamu tahu saat di Malaka dulu. Aku hampir di nyatakan meninggal, karena paru-paru ku bermasalah akibat kecelakaan itu, tapi aku teringat kamu, aku ingin bertemu denganmu. Dan itu yang membuat aku semangat untuk sembuh. Ya, walaupun terkadang masih sering kumat."


Mama menatap Gita dan Alam dari balik pintu kamar Opa. Mama terharu dengan sikap Alam yang sangat menyayangi putrinya. Selama ini mama selalu diliputi rasa benci dengan lelaki itu.


"Nak, maafin mama ya. Selama ini mama berusaha memisahkan kalian. Semua itu mama lakukan karena mama terlalu sayang sama kamu, Gita. Mama cuma ingin suamimu belajar menghargai pasangannya. Mama cuma ingin memberi pelajaran buat suamimu.


Mama tahu sebesar apa memisahkan kalian. Tapi tetap saja cinta kalian menyatu. Mama harap, Alam menyadari kesalahannya yang dahulu dan memperbaikinya. Tapi kalau mama lihat dia mengecewakan kamu lagi. Mama tidak akan tinggal diam. Paham!"


Alam langsung memeluk Mama Yulia. Tangisnya langsung pecah bersamaan dengan tangisan mama Yulia.


"Alam janji, ma. Alam akan menjaga Gita dengan sepenuh jiwa dan raga. maafkan Alam yang sudah banyak mengecewakan kalian. Alam hanya manusia biasa yang tidak luput dari khilaf dan kesalahan. Aku harap kita semua akan terus bahagia. Aku, kamu ( menunjuk Gita) dan dia ( Calon anak mereka)."


Alam, Gita sini dekat sama mama."


Alam dan Gita membaur dekat mama Yulia. Di kecupnya kedua anaknya.


"Mama sayang sama kalian. Kalian anak-anak mama. Sebentar lagi cucu mama mau datang."


Tak lama saat mama sudah kembali ke kamar.


Alam mengecup kening Gita dengan lembut. Mereka saling menatap satu sama lain. Alam mencium bibir Gita dengan lembut, dibalas dengan Gita memberikan ruang lebih dalam.


Saat mencium Gita, Alam merasakan sesuatu yang keluar dari hidung Gita. Sesuatu yang amis berwarna merah, dengan cepat alam menyedot hidung Gita. Bibir mereka di penuhi dengan darah.


"Yang ..." Gita mencubit perut suaminya.


Saat Alam menyedot hidungnya, Gita merasa sesak nafas.


"Maaf sayang ..." Alam tertawa dengan gigi yang masih keliatan darahnya.

__ADS_1


"Kamu kayak drakula kalo kayak gitu!" ledek Gita.


"Iya, drakula yang menghisap darah wanita hamil." lagi-lagi alam tertawa.


Gita menghapus bibir suaminya yang penuh dengan darah. Setelah itu dia juga menghapus bibirnya, dibantu dengan Alam "Biar aku yang menghapusnya."


Alam kembali memeluk Gita. Terlihat kecemasan yang mendalam.


Ya Allah, jangan kau ambil istriku


Masih banyak yang ingin aku lakukan untuknya


Masih banyak yang ingin kami cita-citakan bersama


Aku mohon ya Allah


izinkan aku membahagiakannya


Izinkan aku bersamanya sampai kami menua


Izinkan dia melihat anak kami tumbuh


"Sayang .." Ucap Alam tiba-tiba.


"Hmmm... Coba tadi darahnya jangan kamu hapus!" Tambah Alam.


"Maksudnya???" Gita masih belum paham.


"Edwar! dia kan penakut,!" senyum smirk nya keluar


"Sudah, ya! ntar kalo dia jantungan gimana? kamu mau tanggungjawab. Atau jangan-jangan kamu sengaja biar kamu bisa dekat lagi dengan kak Dinda, ya kan!"


"Hmmm .. Kumat lagi cemburuannya." alam menjentik hidung Gita.


Gita mendadak manyun. Duduk di kursi samping ranjang bayi sambil mengambek


"Benar, kan!"


Entah kenapa tubuhnya tiba-tiba lemas. Alam membopong Gita ke tempat tidur.


"yang. ... aku mohon kamu mulai kemo lagi,ya. Please ini permintaan aku yang terakhir. Aku mohon kamu kembali kemo, ya." Bisik alam pada Gita.


Tak lama Gita tertidur. Alam menatap istrinya sambil menyusun beberapa barang milik Gita.

__ADS_1


Alam menemukan sebuah surat. Matanya berlinang saat membaca surat itu.


Surat apakah itu!


__ADS_2