
Ketika sampai di rumah Spencer, keluarga Spencer sedang berkumpul karena Ronal sudah bebas. Bermacam makanan di hidangkan di meja makan.
Beta dan Gita di persilahkan untuk ikut makan bersama. Tak ada sikap kebencian dalam diri Ronal, beda dengan waktu di kantor polisi tadi. Gita menggendong bayi Rere yang cantik.
"Ilham mana, Gita?" tanya Rere
"Ilham ..." belum selesai Gita ngomong sudah di potong Beta.
"Tadi mereka berantem di mobil, terus Gita turun dari mobil tapi nggak di kejar sama Ilham. Ngeselin banget, kan? tuh, liat wajah Gita aja pucat?" adu Beta.
Rere memegang dahi Gita. Agak panas. Rere minta Gita istirahat dulu, Rere meminta Ronal untuk meminjam kamarnya dulu. Gita di papah Beta masuk ke kamar Ronal. Beta menemani Gita di kamar Ronal. Mata Gita tertuju pada sebuah photo.
Gita teringat saat dia baru putus dari Roki, semua sahabatnya Ine, Beta dan Siti mengajak jalan-jalan ke Dufan. Mereka menaiki wahana di sana.
Tidak di sangka Ronal pun menyusul kesana. mereka photo bersama, sampai saat Gita minta photo sendiri, Ronal pun datang memeluk dari belakang. Gita kaget dan saling bertatapan.
"Photo ini aku memotretnya, Gita." ucap Beta yang mengetahui perasaan hati Gita.
Gita pamit ke WC di kamar Ronal. Dia mencoba menahan air matanya. lalu menghidupkan mesin air WC seolah dia sedang buang air.
"Beta, yuk kita pulang." ajak Gita menahan air matanya.
"Kok pulang?" Beta kaget melihat Gita kembali mengambil tas nya.
"Aku mau istirahat di rumah saja." alasan Gita.
"Gita, istirahat dulu. Kamu masih belum fit." Beta kewalahan dengan gerakan Gita yang cepat.
"Mau kemana?" Ronal menghadang depan pintu kamarnya.
"Pulang." jawab Gita singkat
"Pulang kemana?" tanyanya
"Kerumahlah." jawab Gita melengos dari hadangan Ronal.
"Kamu itu keras kepala banget. Istirahat dulu." omel Ronal.
"Aku mau pulang. Titik!" suara serak Gita meninggi.
Ronal tidak mencegah Gita. Dia membiarkan Gita tetap pulang. Dalam taksi Gita tidak bisa lagi menahan air matanya.
"Gita, kamu masih ...."
"Aku nggak papa, Beta. Cuma kesal aja sama Ilham." elak Gita.
__ADS_1
Tak lama saat Gita dan Beta sudah di dalam taksi, Ronal muncul menarik Gita keluar dari taksi. Dengan sigap menggendong tubuh Gita, lalu masuk ke mobilnya.
Saat berjalan menuju ke mobil. Gita seperti merasa flashback, dimana saat Ronal menggendongnya ketika selepas bermain di Empang Siti. Di tatapnya lekat lelaki itu, Gita merasa jantungnya berdetak kencang.
Merasa di tatap, Ronal membalas ke arah Gita. Dengan cepat Gita memalingkan wajahnya.
Sampai di rumah ada Ilham yang sedang main catur bareng Papa Dul. Kata papa Dul, Ilham sudah daritadi menunggu Gita pulang.
Ilham memegang kedua tangan Gita.
"Yang, maafin aku tadi,ya? Aku nggak ada maksud ninggalin kamu di jalan."
"Nggak papa sayang, aku maafin kok. Aku nya yang tadi egois yang main turun sendiri." ucap Gita.
Ilham memeluk Gita seperti biasa. Pikiran Gita menerawang ke photo photo yang ada di kamar Ronal tadi. Semua kenangan mereka terpajang di kamar itu.
Maafkan aku Ilham! maafkan aku!
...----------------...
"Apa? Kanker mata?" Gita kaget mendengar vonis dokter saat memeriksa dirinya di rumah sakit tempat Ilham bekerja.
"Iya, mbak Gita. Baru stadium 2. Kalo mbak Gita mau saya bicarakan pada dokter ilham untuk penanganan kemoterapi."
"Tidak usah, pak. Jangan beritahu Ilham." tolak Gita.
inikah akhir hidupnya. Apakah dia akan meninggal dengan keadaan seperti ini? semua pertanyaan itu berputar di kepalanya. Sama seperti saat dokter menyatakan dirinya akan lama di kursi roda dulu. Dulu, dia takut Ronal akan meninggalkannya kalau kekasihnya tahu keadaannya. Tapi sekarang, Gita justru tidak takut kalau Ilham akan meninggalkannya. Karena dia pasti akan meninggalkan Ilham terlebih dahulu.
Gita mengambil hp untuk menghubungi orangtuanya. Gita pamit untuk tidak pulang hari ini.
"Nginap dimana, nak?" tanya mama yang merasa cemas ketika Gita bilang tidak pulang malam ini.
"Di rumah teman Gita, ma?" jawab Gita sambil menahan rasa sesak di dadanya.
"Teman yang mana? Beta?" tanya mama
"Teman satu kampus dulu,ma. Udah dulu, ma. bis Gita sudah sampai." Gita tak mau melanjutkan obrolan dengan Mamanya.
"Tunggu Gita, nanti malam keluarga Ilham...." Gita langsung memutuskan telpon.
Mama panik melihat Gita tidak mengaktifkan hp nya. Sebuah kebiasaan Gita kalau ada masalah pasti dipendam sendiri.
"Apa dia ribut dengan Ilham?" tanya mama dalam hati.
Mama mencoba mengabari Ilham kalau Gita tidak pulang malam ini. Tak lama Ilham membalas SMS mama Yulia akan memberitahukan pada keluarganya. Ilham menanyakan kemana gita? Mama mengatakan Gita sedang ada urusan penting.
__ADS_1
Gita datang ke pantai Ancol, dan duduk di tengah pasir pantai. Matanya kosong menatap ke arah laut lepas. Tak ada keinginan dirinya untuk beranjak dari tempat duduknya. Tetap bertahan meski tubuhnya ikut basah karena ombak kecil mengenai tubuhnya. Hari sudah mulai gelap. Gita tetap duduk di tengah pasir pantai. Tubuhnya yang mungil mulai merasa kedinginan. Apalagi dia cuma memakai baju tipis.
Malam ini Gita memesan kamar di hotel keluarga Ine. Sengaja dia mencari lokasi kamar yang di menghadap laut. Baginya kapan lagi dia bisa melihat pemandangan ini. karena kalau nanti matanya benar-benar buta, dia tidak akan merasakannya lagi.
Hp nya sengaja di matikan. Tak ingin terganggu dengan dunia luar. Mata Gita terlihat masih sembab. Mungkin karena akhir-akhir ini banyak hal yang membuatnya berurai air mata. Gita kembali merasakan matanya mulai buram, dipaksakan memejamkan matanya, tetap saja tidak bisa tidur. Gita mengambil obat tidurnya,ada sebuah tangan yang menghalang.
"Ine?" Gita kaget sahabatnya datang ke kamarnya
"Kamu ada masalah, Gita." tanya Ine saat melihat sahabatnya menyendiri.
"Tidak ada. Aku cuma pengen sendiri."
"Mau aku temani." ucap Ine mengelus rambut Gita.
"Kan aku bilang mau sendiri dulu." protes Gita.
"Mas?" Ine menatap suaminya agar mengizinkan dirinya menemani Gita. Suami Ine mengangguk menandakan izin untuk istrinya.
"Gita, kalau dia bandel jewer aja." kata suami Ine.
"ih, Mas emang aku anak kecil pake di jewer segala." Ine kesal dengan ucapan suaminya. Suami Ine pamit lalu mengecup perut Ine yang sudah membesar.
"Masa anaknya aja, mas. mamanya nggak?" protes Ine
"Maaf sayang aku lupa." suami Ine kembali mengecup kening istrinya.
"Kalian so sweet banget." puji Gita.
"Makanya cepat suruh Ilham nikahin kamu, Gita."
"Insyaallah, kalau jodoh nggak akan kemana-mana."
"jawaban kamu kayak orang nggak yakin gitu."
"Masa? Yuk tidur. bumil itu nggak boleh kebanyakan begadang."
"Iyaaaaa, Bu nyonya dokter." Gita tertawa melihat ambekan Ine. Gita melihat Ine mencoba menghubungi seseorang.
"Nelpon siapa?" tanya Gita
"Nelpon suamiku. Ngecek jangan lupa makan, tidur jangan kelamaan."
"Loh, barusan ketemu. Kok nggak ngomong langsung."
"Nggak enak sama kamu, ntar kamu nya baper."
__ADS_1
Gita menimpuk Ine dengan bantal. Ine mengeluh sakit karena timpukan Gita.