Aku Kamu Dan Dia

Aku Kamu Dan Dia
153. S2: Masih di rumah sakit


__ADS_3

"Sayang bertahanlah! Aku akan selalu di sampingmu. Demi cinta kita dan demi anak kita aku mohon, berjuanglah!" Ucap alam lirih. Alam mencium kening Gita, wajah Gita terlihat masih pucat.


Alam melangkah gontai, netranya menatap plang penunjuk arah. Yang dia cari adalah musholla. Ia butuh bicara kepada Sang Pencipta, meminta agar Gita baik-baik saja. Tidak dapat ia bayangkan jika wanita itu harus pergi. Hatinya tidak sanggup.


Kondisi sang istri dan buah cinta mereka sedang tidak baik-baik saja, dan doa adalah salah satu cara untuk mengubah takdir itu.


Sepanjang kaki menapak mencari tempat yang dituju, air mata terus menguntai di pipinya. Tak sedikitpun ia berniat untuk mengeringkan. Isak yang menjadi pusat perhatian orang sekitar, ia biarkan begitu adanya.


Alam membasuh wajah, juga organ tubuh yang lain. Sedikit sejuk dan tentram ia dapatkan.


Setelahnya, ia khusyuk dalam sujud panjang. Menyampaikan hajat pada Sang Pemilik jiwa.


Ya Allah, begitu banyak hal yang kami lalui bersama. Suka, duka, tangis, tawa,emosi dan kebahagiaan.


Tapi kenapa selalu ada tangis dalam hidupnya. Aku ingin membahagiakannya ya Allah. Sekali ini saja, biarkan kami merasakan kebahagiaan.


Aku tahu selama ini banyak menyakitinya, aku tahu kelemahanku adalah sifat posesif ini. Tapi, itu karena aku terlalu mencintai Gita.


Ya Allah, tolong selamatkan istriku. Sumber kebahagiaan keluarga kecil kami.


Selesai sholat isya, Alam berjalan menuju ruang rawat Gita. Pikirannya sedikit tenang setelah mengadukan diri ke yang maha kuasa.


"Kak!" Suara Ilham memanggil dirinya.


Alam menoleh menatap lelaki yang ada di depannya. Lelaki yang dianggapnya sebagai rival. Meskipun sebenarnya dia tahu kalau Ilham sudah move on. Tapi enak kenapa dia masih kurang begitu suka kalau Ilham masih perhatian pada Gita.


"Iya."


Ilham berdiri mensejajari lelaki yang ternyata kakak kandungnya.


"Aku mau bicara soal kondisi Gita. Bisa kita ke ruanganku sebentar." ajak Ilham.


"bisa." Alam dan Ilham berjalan menuju ruang praktek Ilham.


Sepanjang perjalanan mereka cuma terdiam. Karena tidak tahu harus memulai dari mana.


"Silahkan duduk, kak." Ilham mempersilahkan Alam duduk.


"Terimakasih. langsung to the poin aja, ham. Aku tidak bisa meninggalkan Gita lama-lama."


"Kakak sayang banget sama Gita?" pertanyaan Ilham membuat Alam sedikit kesal.


"Bukankah kamu sudah tahu itu. kenapa menanyakannya lagi. Dari dulu aku sangat mencintainya. Bahkan saat yang terjadi diantara kalian, saat tragedi reuni, tidak melunturkan rasa cintaku padanya. Tidak membuatku mundur walaupun dia terpuruk karena perbuatanmu, ham."

__ADS_1


"Ma.. maafkan, aku, kak."


"Sudahlah, itu sudah berlalu, sekarang jelaskan padaku, bagaimana kondisi Gita saat ini." Alam mengalihkan pembicaraan. Baginya sekarang adalah pengobatan Gita, bukan membicarakan masa lalu.


"Ehmmm... maaf kak. dalam saraf kepala Gita ada ganjalan besar, ada tumor yang sudah lama tidak diangkat. tumor sebesar empat inci tersebut termasuk jenis asanaplastic astrocytoma. Ini adalah jenis kanker yang sulit dioperasi."


Alam menggebrak meja kerja Ilham.


"Kamu bilang tidak bisa dioperasi. Kamu itu dokter, ham. Kami sekeluarga mempercayakan semua padamu. Sekarang kamu nyerah untuk pengobatan Gita selanjutnya. Ham, tolong selamatkan Gita!" Alam mengcekeram jas dokter Ilham. Perasaannya kecewa mendengar keputusan Ilham.


Ilham menelan salivanya. Bukan dirinya saja yang sudah angkat tangan dengan keadaan Gita. Tapi dokter Sasono pun sebelumnya sudah mengatakannya terlebih dahulu. Menurut dokter Sasono, mogoknya Gita untuk pengobatan mempengaruhi kondisinya saat ini.


Ilham tidak bisa memberikan keputusan operasi Gita sebelum ada penindakan dari pihak senior.


"kak! Maaf untuk saat ini kita menunggu penindak lanjut dari dokter Sasono. Aku tidak bisa mengambil keputusan sepihak. Kak Ronal yang sabar, ya." Ilham menyabarkan lelaki yang pernah menjadi rivalnya.


Alam ambruk, Syok itu pasti. Tapi dia bisa apa? dia hanya berharap ada keajaiban untuk Gita. Alam yakin Gita masih bisa sembuh.


Ilham memeluk Alam menyabarkan lelaki itu. Memotivasi alam agar tidak putus asa.


"Ham!"


"iiiiya, kak."


"Sangat kak! karena kepalanya sering pusing dan mual bukan karena kondisi kehamilannya melainkan berasal dari efek kankernya. Makanya aku selalu mewanti-wanti kakak jangan buat dia banyak pikiran. Tapi kenapa kakak tidak pernah mendengarkan aku. Buang ego kakak!"


Iya semua yang terjadi pada Gita adalah salahku. Aku yang temperamental, aku yang cemburuan, aku yang membuatnya terseret masalah keluargaku.


iya ini semua berawal dari aku. Ya Allah, apakah


ini teguran buatku? Beri kesembuhan istriku ya Allah.


Jika memang aku sumber masalah dalam hidup Gita aku rela mundur. Tapi sekarang aku tak mungkin melakukannya, Gita butuh aku disampingnya, kami akan punya anak.


klik


Mama Yulia duduk di depan tempat tidur Gita. Menatap putri semata wayangnya yang terbaring, Sesekali membelai lembut rambut Gita.


Netranya memperlihatkan kesedihan yang mendalam. Putri semata wayangnya sedang melawan maut antara dirinya dan juga bayinya.


Mama mengecup kening Gita, dengan lembut. Tanda kasih sayang seorang ibu takkan pernah pudar.


Bangun, nak. Mama rindu padamu, mama ingin mendengar aduanmu tentang kebandelan suamimu.

__ADS_1


Bangun, nak. kamu harus berjuang demi anakmu. Kamu harus berjuang melawan keganasan dunia.


Ya Allah tolong selamatkan putriku. Berikan kesempatan hidup untuk bahagia bersama anak dan suaminya.


"Ma." papa masuk mendekati Mama yang masih menangis.


Papa menepuk pundak mama "Ma, jangan seperti ini. Gita saja kuat, masa mamanya nggak kuat. kita doakan semoga Gita bisa cepat sadar. Yuk kita sholat isya." Ajak Papa membimbing istrinya keluar dari ruangan Gita.


"Mama disini saja. Mama tidak mau meninggalkan Gita." rengek Mama Yulia tidak mau beranjak dari samping Gita. Mama takut saat pergi, terjadi sesuatu pada Gita.


"Alam mana?" Papa mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.


"Tadi dia keluar, pa. Seperti alam menenangkan diri dulu." jawab mama.


Saat hendak keluar dari ruangan Gita, Alam kembali dan berpapasan dengan mertuanya.


Alam ingin menceritakan apa yang dia dengar dari Ilham tadi. Tapi di urungkannya, karena mencari waktu yang tepat.


"Kami sholat dulu, nak. setelah itu papa mau bicara sama kamu."


"Iya, pa. Alam disini menemani Gita." Alam duduk di samping istrinya. Tangannya menggenggam erat, tangannya satu lagi membelai rambut Gita.


Sayang apa kabar? Aku kangen sama kamu. Kangen dengan manjamu, kangen dengan pelukan hangatmu.


Bangun sayang, kalau kamu bangun aku janji akan menuruti semua keinginanmu. Aku janji nggak akan cemburuan lagi sama Ilham.


Please, Gita jangan seperti ini. Jangan menyiksaku seperti ini.


Aku mohon bangun.


Aku yakin keajaiban itu pasti akan datang.


Percayalah


bersambung


...#####...


Jangan lupa ya like dan rate cerita ini. Komentar yang positif dan masih berhubungan dengan cerita ini.


Eh, lupa saya juga minta tolong vote nya untuk aku, kamu dan dia.


happy reading

__ADS_1


__ADS_2