Aku Kamu Dan Dia

Aku Kamu Dan Dia
59. Setelah putus


__ADS_3

Ilham pulang ke rumah. Sampai di rumah ada keluarga Raisa yang ingin tahu jawaban Ilham untuk anak mereka. Ilham menghela nafas dan menerima Raisa sebagai calon istrinya.


"Nah gitu dong itu baru anak mama." puji Mama Mila.


"Apa langsung kita tetapkan tanggal mereka?" ujar Mama Mila pada keluarga Raisa.


"14 Februari." sahut Ilham.


"Ya, ampun itu tanggal impian aku. Makasih sayang." peluk Raisa.


Senyum bahagia dari keluarga Ilham dan Raisa. Tapi tidak bagi Ilham.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


satu bulan kemudian


Gita hari ini berencana membicarakan tentang kemoterapi yang di sarankan dokter Sasono. Gita mendatangi rumah sakit dimana Ilham juga ada disana. Hanya saja, dia tidak akan memberitahu Ilham tentang kedatangannya. Sejak putus, Gita belum ada bertemu dengan Ilham lagi.


"Mbak Nita dokter Sasono ada?" tanya Gita pada Nita resepsionis rumah sakit. Nita mengenal Gita sebagai mantan Ilham langsung menyapa.


"Ada. mbak Gita sudah lama nggak kesini?" sapa Nita


"iya sudah lama. bisa saya ke ruangan dokter Sasono sekarang." jawab Gita.


"Bisa mbak. Saya antarkan." tawarnya.


"Nggak usah, terimakasih. Saya tahu ruangannya, saya cuma memastikan dokternya ada atau tidak."


"Iya, mbak sama-sama."


Nita melihat Gita dari belakang mempertanyakan kenapa Gita mencari dokter Sasono.


Mbak Gita itu orangnya baik. Dia ramah dengan golongan bawah seperti kami. Tapi kenapa mereka bisa putus ya? Sayang sekali, dokter ilham malah dekat dengan dokter Raisa yang sombong. Tapi kenapa dia ingin bertemu dengan dokter Sasono, ya? Apa dia punya penyakit serius?


"Nita, jangan melamun! kamu mau di pecat!" suara Raisa mengagetkan Nita.


Seperti yang diketahui, orang tua Raisa dan orang tua Ilham menanam saham di rumah sakit tempat mereka bekerja.


"Maaf, mbak." Nita menunduk takut.


"Sayang, hari ini kamu sibuk nggak." Panggil Raisa ketika melihat Ilham melintas di depannya.


"Jangan panggil sayang - sayang!" Ilham melepaskan gandengan manja Raisa.


Ilham malu melihat tingkah Raisa.


Katanya lulusan luar negeri. Tapi kelakuannya nggak punya attitude sama sekali. batin Nita.


Gita menemui dokter Sasono ingin minta persetujuan soal kemoterapi. Tapi dokter Sasono bilang ada dokter lain yang akan menangani penyakit Gita.

__ADS_1


"Siapa?" tanya Gita penasaran.


"Nanti juga kamu tahu? Saya sudah menghubungi dia untuk datang ke ruangan saya." jelas dokter Sasono.


"Dokter saya mau ke toilet dulu." Pamit Gita


Tak lama setelah Gita keluar, Ilham datang ke ruangan dokter Sasono menanyakan pasien yang akan di tangani. Dokter Sasono bilang pasiennya wanita dan sedang ke toilet.


Sebenarnya ini rencana dokter Sasono untuk mendekatkan Ilham dengan Gita lagi. Setelah satu bulan mereka putus, Ilham dekat dengan Raisa. Tapi dokter Sasono tahu kalo Ilham masih ada rasa dengan Gita.


"Nah ini dia." dokter Sasono menunjuk saat Gita memasuki ruangannya.


Pertemuan pertama setelah putus, membuat mereka sedikit canggung. Saat mendengar penjelasan dari dokter Sasono tentang kondisi Gita, Ilham terus mencuri pandang dengan Gita.


Raisa masuk ke ruangan dokter Sasono untuk memberikan berkas yang diminta. Raisa duduk di sebelah Ilham. Tangannya memegang Ilham seolah memamerkan kalau cincin mereka couple. Gita mencoba cuek walaupun sedikit berdesir melihatnya.


"Kamu nggak papa mendengar penjelasan saya tadi?" tanya dokter Sasono.


"Nggak papa, dok. Semenjak vonis itu, saya sudah siap apapun yang terjadi. Yang penting saya sudah berusaha, walaupun akhirnya ajal menjemput."


Dokter Sasono tertawa. "Kamu kanker mata, nggak sampai meninggal. Asal rajin terapi, kamu pasti cepat sembuh."


"Saya pulang dulu, dok." pamit Gita. Di sela menuju lantai bawah, Gita malah bertemu kembali dengan Ilham dan Raisa dalam lift.


Suasana hening, Raisa pun merasa kesal dengan kehadiran Gita.


"Kamu apa kabar?" Ilham menanyakan kabar Gita.


"Oh, ya Gita bulan depan kami menikah. Kamu datang ya? undangannya menyusul. Kita menikah 14 Februari kan sayang" sahut Raisa sambil melirik Ilham yang datar saja.


"Oh, selamat ya. Semoga langgeng sampai kakek nenek." ucap Gita menyalami Ilham dan Raisa. Sejenak Ilham lama tidak ingin melepaskan tangan Gita.


Gita menelan ludahnya. Dia ingat tanggal 14 Februari adalah permintaan dirinya untuk tanggal pernikahan mereka. Gita berusaha menahan derasnya degupan jantung yang dia rasakan. Ya, terlambat memang. Tapi nasi sudah menjadi bubur.


Pintu lift sudah terbuka. Mereka turun ke arah masing-masing. Mata Ilham melihat Gita dari jauh. Dia kesal Raisa malah mengumumkan tentang pernikahan mereka di depan Gita.


Gita duduk di kantin dekat kantor Beta. Dadanya terasa sesak setelah mendengar pengumuman dari Raisa. Seketika air matanya turun.


"Kamu nggak papa?" suara Ronal mengejutkan Gita.


"Nggak papa, kak." Gita menghapus air matanya.


"Soal Ilham, ya?" tebaknya.


Gita mengangguk. Gita dan Ronal sepakat untuk tetap menjadi sahabat. Karena pesan terakhir Ine agar mereka tidak putus hubungan walaupun tidak saling mencintai lagi. Ronal sadar Gita sudah tidak ada rasa lagi padanya.


"Mau aku temui?"


"Nggak usah kak. Toh hak dia untuk dekat dengan wanita lain. Karena aku yang mutusin dia."

__ADS_1


"Bagaimana pendekatan kakak dengan Siti?"


"Kenapa? cemburu apa kepo? ketularan Ine kayaknya nih?" ucapnya sambil tertawa.


"Ya, paling nggak sahabatku yang satu itu, nggak bernasib sama seperti aku dulu." Gita mengungkit tentang dia dan Ronal di masa lalu.


"Maafkan aku, ya Gita. Kalau aku tahu kamu dulu sakit, aku nggak akan mau menerima lamaran pak Irwan."


"Terus kenapa kalian tidak jadi nikah?" tanya Gita.


"Hmmmm .... Dinda yang batalin." jawabnya.


"Udah, ah. nggak usah ingat yang dulu. Perutku sudah bunyi nih." elak Ronal. Dia takut Gita akan bertambah sedih kalau mengingat masa lalunya.


Gita memesan nasi goreng telur setengah matang kesukaan Ronal. Ronal meledek kalau Gita masih hapal makanan kesukaannya. Gita menyuapi Ronal dengan mesra. Ronal menolak di suapi lagi, takut ada yang cemburu.


Gita pulang ke rumah. Dia memilih untuk tidak di ganggu dulu. Beta menelpon Gita tapi tidak diangkat.


"Gita, temenin aku fitting baju pengantin dong?"


"Kamu kan bisa ajak calonmu?"


"Mas Doni nggak bisa ikut. Dia banyak kerjaan."


"Ya, udah kamu jemput aku, ya?"


"Kamu ke kantor aja. Aku tunggu." Beta mengakhiri pesannya.


"Lah, dia yang ngajak. Tapi kok aku yang jemput dia." omel Gita.


Gita membersihkan wajahnya agar tidak terlihat sembab. Mama mengajak Gita untuk menemaninya belanja bulanan, tapi di tolak Gita karena sudah janji dengan Beta.


Mama menanyakan kenapa Ilham sudah jarang datang lagi.


"Ma, beberapa kali aku jelaskan aku dan Ilham sudah putus. Jadi please jangan di bahas lagi."


"Kenapa nggak balikan sama Ronal? Bukankah dulu saat ada Ilham kamu sibuk memperhatikan laki-laki itu?" tanya Mama.


"Aku dan Ronal sudah tidak ada perasaan lagi, ma. bukannya Mama tidak suka dengan Kak Ronal."


Mama masih berharap Gita segera menikah. Karena usia Gita sudah masuk 25 tahun. Gita menjelaskan kalau 25 tahun bukanlah perawan tua, kalo 35 tahun mamanya baru boleh pusing.


Mama Sekarang tidak akan mengekang Gita dekat dengan Ronal. Ya, walaupun Gita sering menjelaskan kalau Ronal sekarang sedang buka hatinya untuk Siti.


...----------------...


Gimana cerita hari ini?


semoga ada secercah harapan ya buat Gita

__ADS_1


siapapun yang akan menjadi pasangan Gita harus di dukung.


__ADS_2