Aku Kamu Dan Dia

Aku Kamu Dan Dia
154. S2: Masih di rumah sakit (2)


__ADS_3

Sepinya hari yang kulewati


Tanpa ada dirimu menemani


Sunyi kurasa dalam hidupku


Tak mampu aku 'tuk melangkah


Masih kuingat indah senyummu


Yang selalu membuatku mengenangmu


Terbawa aku dalam sedihku


Tak sadar kini kau tak di sini


Engkau masih yang terindah


Indah di dalam hatiku


Mengapa kisah kita berakhir


Yang seperti ini


Masih kuingat indah senyummu


Yang selalu membuatku mengenangmu


Terbawa aku dalam sedihku


Tak sadar kini kau tak di sini


Engkau masih yang terindah


Indah di dalam hatiku


Mengapa kisah kita berakhir


Yang seperti ini


Yang seperti ini


Engkau masih yang terindah


Indah di dalam hatiku


Mengapa kisah kita berakhir


Yang seperti ini

__ADS_1


Hampa kini yang kurasa


Menangis pun 'ku tak mampu


Hanya sisa kenangan terindah


Dan kesedihanku


(Sammy Simorangkir, kesedihanku)


Pagi ini Alam baru keluar dari mushola di rumah sakit. Tubuhnya sangat ingin beristirahat. Beberapa hari ini dadanya kembali sesak. Alam yakin infeksi paru-parunya mulai aktif lagi.


Alam didiagnosa, ada infeksi pada paru-parunya sejak kecelakaan di Malaka dulu.


Kakinya melangkah ke ruangan istrinya. Dimana sudah ada dua Minggu Gita belum sadar setelah operasi pengangkatan kanker di otaknya.


Bagaimana dengan rahimnya? untuk saat ini para dokter belum bisa memutuskan. Karena selama koma aktivitas janinnya masih bisa berjalan normal. Semua keluarga berharap ada setitik harapan untuk Gita.


"Pak Ronal, bisa bicara sebentar?" dokter Juna menemui Alam saat sedang diruang rawat Gita.


"Bisa, dok. Apa dokter sudah menemukan pendonor paru-paru saya?"


"Itu saya yang mau bahas, pak. Mari ke ruangan saya." Ajak dokter Juna.


Alam dan dokter Juna berjalan menuju ruang praktek. Pikirannya berkecamuk antara tidak ingin meninggalkan Gita, tapi dia juga ingin mengetahui perkembangan paru-parunya.


Mereka duduk berhadapan, alam berkeringat dingin saat dokter menyerahkan hasil rontsen paru-paru.


Dokter Juna cuma bisa menghela nafas kasar. Infeksi yang diderita Alam sudah sangat parah. Bahkan dirinya beberapakali mengingatkan pasiennya agar rajin kontrol. Sekarang saat sudah tahap serius, lelaki didepannya minta solusi.


Sebenarnya solusinya satu, yaitu transpalansi paru-parunya. Tapi kalau pasiennya tahu siapa yang mau mendonorkan parunya, apa lelaki itu bisa menerima.


"Pak, Sebenarnya saya sudah ada pendonor paru-paru Anda. Tapi masalahnya dia juga sedang sakit. jadi saya belum berani bertindak."


Alam menaikan alisnya. Tubuhnya langsung maju mendekat ke meja. Dia penasaran siapa yang baik hati mendonorkan paru-parunya.


"Siapa?" tanya Alam mendekatkan diri kepada dokter Juna.


"Maaf, pak saya belum bisa memberitahukan sekarang. Pasien sudah lama mendaftarkan menjadi donor paru-paru Anda. Cuma saat ini belum ada konfirmasi lagi."


Alam berjalan langkah gontai.


Ya Allah, jika aku yang lebih dulu pergi. bagaimana nasib Gita dan anakku. Tapi jika Gita yang pergi, aku tetap harus hidup demi putri kecil kami.


Ya Allah, berilah petunjuk atas semua yang kami alami. Maaf jika aku banyak meminta.


Mama Yulia berlari mencari Alam.


"Lam, Tolong panggil Ilham! Gita kejang-kejang!"

__ADS_1


"APAAAA!!!" alam berlari ke arah kamar Gita.


Tubuh Gita terus berguncang, matanya terbuka seolah menatap ke atas.


"Sayang! Sayang! Suster! dokter! tolong istri saya!" alam terus berteriak tanpa melepas tangannya kearah Gita.


"Gita! ya Allah, nak. Kamu harus kuat! Kamu harus kuat! Alam cepat panggil Ilham!"


Alam terus berlari mencari Ilham. Pikirannya kacau melihat kondisi istrinya. Syok! itu pasti. Seakan waktu memang sengaja menghantam perasaannya bertubi-tubi. Alam cuma bisa lemas terduduk di lorong, menangis seakan tidak kuasa menahan semua ini.Tadinya terbayang dibenaknya, istrinya bangun dan memeluknya.


tiba di ruangan Ilham. Alam tidak menemukan lelaki itu. Menurut suster, Ilham sedang mengoperasi pasien. Tubuhnya lemas, takut terjadi sesuatu dengan istrinya.


"Suster! tolong cari dokter lain! Tolong sus! istri saya, kejang-kejang!" Alam memohon pada suster yang ada didepan. Suster hanya bisa termenung melihat tingkah lelaki didepannya.


"Suster istri saya baru habis di operasi dua Minggu yang lalu. Tapi kenapa sekarang dia tambah parah. Tolong, sus! Tolong selamatkan istriku!" Alam bersujud meminta tolong pada suster.


Suasana ruang tunggu di depan UGD terasa hening. Semua berkumpul menunggu kepastian kondisi Gita. Alam tak henti-hentinya menangis, perasaannya cemas karena sang istri sedang berjuang melawan maut.


"Pa, anak kita, pa. Mama tidak tega melihatnya. kenapa semua ini harus Gita yang menanggungnya. Kenapa bukan mama saja?"


"Hush... mama kok ngomong gitu. kita doakan saja semoga Gita selamat, ma. Nggak usah mikir yang aneh-aneh. Mama lihat semua berkumpul, karena mereka semua mencemaskan Gita. Banyak yang sayang sama Gita, kalau banyak yang sayang pasti banyak yang mendoakan Gita."


Mama masih syok saat melihat Gita kejang-kejang tadi. Seakan tidak percaya kalau putrinya harus melewati semua ini. Tubuhnya lemas, air matanya tak berhenti mengalir.


"Tante Lia" sebuah suara memecahkan keheningan.


Mereka yang disana menoleh kearah suara. Ada kak Grace, Gery dan Gilang datang ke rumah sakit. Kak Grace menghambur ke arah tantenya. Saling berpelukan, menangis melihat kondisi Gita.


"Gita, Grace! Tante nggak kuat melihatnya seperti itu. Barusan dia kejang kejang, sekarang sedang di tangani dokter. Seandainya bisa di tukar, biar aku saja yang ada di sana, Jangan Gita." Ceracau mama Yulia.


"Tante yang sabar ya. Aku yakin Gita bisa melewatinya. Dia anak yang kuat. Kita doakan semoga Gita selamat bersama bayinya." Grace menenangkan tantenya yang masih syok.


"Ya Allah, Gita. Begitu banyak yang kamu lewati selama ini. Dari lumpuh, buta dan koma. Tapi kamu tetap di beri kepercayaan untuk bertahan hidup. Sekarang kamu kembali di uji dengan kondisi kamu, aku nggak menyangka ada kanker yang bersarang di kepalamu. Kamu harus bertahan, ada suamimu, ada orangtuamu ada kami semua yang mendoakanmu." ucap Grace dalam hati.


Papa mendekati Alam yang masih menunduk. menutup kepalanya dengan kedua tangannya. seakan ada beban yang dirasakannya. Papa tahu diantara semua keluarga, Alam lah yang paling terluka.


"Lam."


Alam menegakkan kepalanya melihat ayah mertuanya. Wajahnya yang kusut membuat papa tidak tega membicarakan soal itu. Papa tahu soal siapa yang akan mendonorkan paru-paru buat menantunya. Tapi entah kenapa, papa seakan terkunci untuk mengatakan yang sebenarnya.


"Nak, kamu sholat dulu. minta sama Allah agar Gita bisa melewati masa kritisnya. Minta sama Allah agar Gita bisa selamat.


Karena hanya Allah maha pengasih dan penyayang. Karena doa yang tulus akan cepat di ijabah."


Apa yang sebenarnya ingin dibicarakan papa Dul?


Siapa sebenarnya yang akan mendonorkan paru-paru untuk Alam?


...######...

__ADS_1


bersambung


__ADS_2