
Mama masih menangisi hilangnya Gita. Papa kewalahan melihat mama seharian menangis. Mau nggak mau Papa cuma bisa
menyabarkan. Jujur, papa tidak menyalahkan Ronal atas hilangnya Gita. Bisa jadi ada orang lain yang punya masalah sama Gita atau mungkin ada sindikat perdagangan manusia.
Mama tetap ngotot mau tuntut Ronal. Papa menyerah untuk meyakinkan Mama.
"Tante." Siti datang menemui Mama Yulia
"Iya, nak." Mama sembari menyeka air matanya.
"Siti mau ngomong sesuatu?"
"Soal apa?"
"Soal Gita. Beberapa hari yang lalu kak Ronal minta Siti untuk selalu di dekat Gita. Ada wanita yang ingin menyingkirkan Gita. Maafkan Siti, Tante. Siti teledor, baru di tinggal sebentar Gitanya sudah hilang."
"Siapa wanita itu?"
"Kakaknya Ilham Tante. Tapi Siti tidak tahu hilangnya Gita ada kaitannya dengan kak keisya apa tidak."
"Kakak Ilham? Kenapa dia ingin menyingkirkan Gita?"
"Karena .. karena kak Ronal menolak perjodohan itu."
"Nah, kan, pa? Aku bilang. Ronal itu cuma bawa sial untuk Gita."
"Mama kok ngomong gitu?" Tanya papa heran.
"Papa lihat sendiri. Gita dikeroyok warga, sampai Gita lumpuh, terus buta dan sampai koma itu gara-gara siapa?"
"Tante. itu bukan salah kak Ronal. Warga sudah terprovokasi oleh pak Irwan. Karena anaknya naksir kak Ronal. Bahkan yang buat Gita tersesat di hutan dulu juga pak Irwan." Siti mulai menceritakan masalah sebenarnya.
"Gita kalo sama Ronal selalu ada kita, ada ibu juga. Nggak pernah jauh dari keramaian. Mereka masih menjaga norma Tante."
"Terus kalo dia cinta sama Gita. Kenapa dia memilih mantan pacarnya?"
"Itu... itu ... Desakan keadaan." jawab Siti.
"Sudahlah Siti, Tante sudah hilang simpati pada Ronal. Biarkan dia membusuk di penjara."
"Ma. Selama ini papa lihat Ronal sudah mencoba menjalin silaturahmi pada kita, jauh sebelum Gita pulang ke Indonesia."
"Silaturahmi?"
"Mama lupa? Sebelum Gita pulang dia sudah beberapa kali menemui kita. Tapi mama menganggapinya judes. Mungkin dia juga ingin tahu kabar Gita."
"Apapun itu mama tetap mau nuntut dia."
"Apa yang mau di tuntut, ma. Dia sudah di penjara."
"Pa?"
"Lalu pernikahan Gita gimana?"
"Ma, itu nanti kita pikirkan. Pikirkan dimana Gita sekarang."
Sementara belum ada keterangan dimana keberadaan Gita. Siti datang ke rumah sakit menemui Ilham. Awalnya Ilham menolak bertemu Siti, Ilham kecewa ternyata Gita dan Ronal ada hubungan di belakangnya.
"Hubungan?" Siti kaget mendengar cerita Ilham.
"Iya, kamu tahu kan mereka selingkuh dariku?" Ilham masih emosi
__ADS_1
Sejenak Siti tertawa. "Selingkuh? kamu lah selingkuhan Gita, Ilham. Jauh sebelum kalian bertemu Gita dan Ronal sudah pacaran. Hanya ada sebuah permasalahan yang membuat mereka terpisah."
"Aku belum lihat kamu berusaha mencari Gita. Kalau Ronal tahu Gita hilang, dia akan mencari Gita walaupun nyawa taruhannya." jelas Siti.
"Terlalu kekanak-kanakan kalau hal ini kau jadikan alasan pak dokter. Ingat Gita sangat percaya padamu, jangan sampai rasa percayanya hilang saat melihat sikapmu yang seperti ini. Bukankah kau sudah melamar Gita? buktikan tanggung jawabmu sebagai calon suami." Siti berlalu dari hadapan Ilham.
Ilham menahan tangan Siti. "Aku butuh banyak informasi tentang mereka."
Siti menghempas tangan Ilham "Tadinya aku mau menjelaskan semuanya pada anda pak dokter. Tapi melihat sikap anda tadi, aku mulai berpikir apakah anda pantas menjadi pendamping Gita. Permisi." Siti berlalu pergi dari hadapan Ilham.
Gita kamu dimana? Kenapa sampai hari ini belum ada kabar tentang kamu? pulang, Gita. Pulang! Jangan sampai kejadian dulu terulang lagi. Kami semua khawatir padamu, Gita.
...----------------...
Disebuah kamar, dimana tempat Gita berada. Gita belum sadarkan diri. Kamar yang penuh kemewahan dengan nuansa putih. Ada sofa cantik di depan Gita.
Gita terbangun, kepalanya terasa berat, matanya melihat di sekelilingnya. Terasa asing dengan suasananya.
"Dimana aku?" Gita mencoba mencari tahu dengan melihat jendela kamar.
Hujan lebat menambah suasana dingin di ruangan ini. Ditatapnya jendela. Tidak ada rumah kanan kiri. Cuma ada pepohonan mengelilingi rumah itu.
Gita merogoh kantongnya, berniat menghubungi keluarganya. Tapi ternyata hp nya raib. Gita mencoba mengingat apa yang terjadi, tapi tetap tak ingat. Tiba-tiba pintu kamarnya bergerak, ada seorang wanita datang dengan pakaian mirip pembantu di telenovela.
"Nona sudah bangun?" Tanya wanita itu.
"Saya dimana, bu?" tanyanya pada wanita yang ada di depannya.
"Nona berada di vila tuan Bryan. Beberapa hari yang lalu nona di temukan pingsan di tengah hutan. Perkenalkan nama saya Yani." kata wanita itu.
"Hutan?ini masih di Jakarta kan." tebak Gita.
"Whaaat? Sukabumi! Bandung! Jauh sekali!" pekik Gita histeris.
Yang Gita ingat terakhir dia mengantarkan bekal untuk Ilham. Tapi kenapa dia sekarang di daerah yang jauh dari Jakarta. Ilham! ya, Gita akan mencoba mengabari Ilham, tapi wanita itu bilang daerahnya jauh dari sinyal apapun.
"Nona di tunggu tuan Bryan." bibi mengantarkan Gita menemui tuan Bryan. Gita penasaran seperti apa tuan Bryan itu. Apakah sudah tua? atau mungkin dia tampan seperti pacarnya Ilham.
Seorang lelaki tampan duduk di singgasana ruangan kerjanya. Gita seperti melihat wajah seseorang yang mirip dengan pria itu. Sayangnya, Gita cuma menebak saja.
"Sudah, bangun! siapa namamu?" tanyanya Sembari menyeruput kopi.
"Gita, tuan."
"Berapa usiamu?"
"24 tahun."
"Sudah menikah?"
"Belum, tuan."
"owh, begitu,ya. Kebetulan aku lagi cari istri."
Gita kaget. Tak mungkin dia mau menikah dengan laki-laki yang baru dia kenal.
Tuan Bryan tertawa melihat kekagetan itu.
"Jangan takut, aku juga tidak mungkin menikah wanita yang cocok jadi anakku."
__ADS_1
Gita bernafas lega. Dapat dibayangkannya bagaimana hubungannya dengan Ilham kalau dia dinikahi om-om. Gita bertanya apakah tuan Bryan punya ponsel, dia ingin mengabari keluarganya. Gita yakin Mamanya pasti panik. Apalagi Gita tahu Mamanya gampang panik.
"Kalo mau hubungi keluargamu, besok kita ke kota. Saya yang akan antar kamu ke kota."
"Terimakasih tuan."
"Jangan panggil saya tuan. Panggil om Bryan saja."
"iya, Om. Sekali lagi terimakasih."
Gita sudah tidak sabar menunggu besok untuk mengabari Ilham dan orangtuanya.
"Ilham sedang apa, ya?Apa dia mencariku? atau jangan-jangan dia lagi tebar pesona sama perawat disana. Huh! awas saja kalau kedapatan di depanku."
Gita berkeliling sekitar ruangan. Mungkin mencari tahu apa ada photo keluarga atau sesuatu yang bisa dia korek. Tapi ternyata nihil. Gita ke dapur, disana ada Yani yang sedang menyiapkan makanan siang untuk tuannya.
"Ada yang bisa saya bantu, non?" Tanya mbak Yani. Sekarang kita pake embel mbak ya.
"Justru aku yang mau bantu, mbak Yani." Gita langsung memotong beberapa sayur.
"Wah, non Gita. Pintar juga ya ngolah sayurnya." kata mbak Yani
"Kenapa? aku kan perempuan wajar dong harus bisa di dapur."
"Non sepertinya bukan dari kalangan biasa. Makanya saya kaget."
"Masa sih?"
Hidangan sudah siap di meja. Tuan Bryan mencicipi masakan buatan Gita.
"Tumben masakannya enak, Yani."
"Non Gita yang masak tuan."
"Wah, kamu keren, nak. ibumu berhasil mendidik kamu menjadi wanita sejati."
"Om, kapan saya bisa pulang? saya takut orang tua saya cemas."
"Besok saya antarkan kamu pulang. kebetulan saya juga mau pulang ke rumah orang tua saya."
"Terimakasih, om. Om baik sekali padahal kita baru kenal." Gita mencium tangan om Bryan.
"Kamu duduk sini, kita makan bersama."
"Nggak usah, Om. Saya belum lapar."
"Kamu sudah 2 hari tidak bangun, nak Gita. Isilah bensin tubuhmu, dulu."
"Mbak Yani duduk bareng disini." Gita menarik mbak Yani duduk di sebelahnya. Tapi Yani kembali berdiri, dia merasa kurang pantas duduk di dekat majikannya.
"Ya, sudah kalo mbak Yani nggak mau makan, saya juga nggak mau makan. Ini kan masakan mbak Yani juga."
Yani akhirnya nyerah dan duduk di samping Gita.
Tuan Bryan langsung takjub melihat kebaikan Gita. Tidak pandang bulu. Tuan Bryan berandai-andai jika punya anak laki-laki pasti sudah dia jadikan Gita menantu.
...---------------...
Alhamdulillah part hari ini selesai. Sepertinya banyak pendukung dokter ilham disini.
oh ya kalau kalian mau tahu siapa tuan Bryan. Bisa baca kembali part "Masa Lalu Marni"
__ADS_1
...terimakasih...