Aku Kamu Dan Dia

Aku Kamu Dan Dia
148. S2: Pulang ke Sukasari


__ADS_3

Sore itu


Bibi duduk di pinggir kamarnya. Menatap photo keluarganya. Air matanya menetes, mengingat suaminya telah tiada. Selama pernikahan belum di karuniai seorang anak. Tapi suaminya tidak pernah meninggalkannyan. Beruntung Marni menitipkan putra semata wayangnya, sehingga bibi dan Paman Toni mencurahkan seluruh kasih sayang pada Alam.


Bang


Sekarang Alam kita sudah dewasa. Sudah menikah dengan gadis yang dia cintai. Sebentar lagi kita akan punya cucu, bang. Andai Abang masih ada, pasti aku tidak akan kesepian. Andai dulu Marni tidak mengambil kembali anaknya. Pasti kamu masih hidup sampai sekarang.


Bang


Sekarang Alam sudah menikah dengan gadis itu. Gadis yang dulu membuat alam koma hampir 6 bulan. Mungkin mereka jodoh ya.


Abang dulu bilang sudah berjanji pada Dul ingin menjodohkan anak kalian. Tapi ternyata Tuhan mendengar doamu, bang.


Bang


aku kangen sama Abang. Semoga Abang tenang di sana.


Abang akan ada selalu dalam doaku


Marni tidak pernah pulang kesini lagi semenjak pernikahan alam dan Dinda gagal.


Bibi mengusap wajahnya dengan kasar. Menahan dadanya yang sesak nafas. Lalu berdiri menuju dapur. Inilah hari tuanya saat ini. Sendiri, tanpa ada yang merawat. Beruntung ibunya Siti masih sering mengunjungi, mengirimkan makanan. Ada Edwar, Dinda dan Siti yang menemani masa tuanya. Tak jarang Edwar mengajak Bella bermain di rumah kecilnya.


Tok tok tok


Dengan tertatih-tatih bibi membuka pintu rumah. Bibi sempat berpikir siapa yang mengetuk pintunya hampir magrib seperti ini.


bibi menatap wanita yang berdiri di depan pintu rumahnya. Berasa seperti mimpi melihat wanita itu datang ke rumahnya.


"Gi... Gita!" bibi langsung memeluk wanita itu dengan rasa haru.


Ada rasa bersalah yang selama ini membelenggu pada Gita. Saat memeluk Gita, bibi melihat seorang lelaki sedang membawa beberapa barang. Lelaki yang tadi sedang dia pikirkan sekarang ada di depan mata.


Air matanya tak bisa terbendung lagi.


Bibi memeluk keduanya. Kedua anaknya yang sangat dia rindukan.


"Bibi kira kalian tidak akan pernah datang kesini lagi. Terimakasih, nak. Kalian tidak melupakan bibi." ujar bibi masih memeluk keduanya.


"Bi, bibi adalah orangtua Alam. Itu berarti orangtuaku juga." jawab Gita memegang tangan bibi.


Bibi menatap perut Gita yang sudah membuncit "Ini cucuku, sudah berapa bulan. Anak kalian yang kemarin mana? kok tidak diajak. sudah lahir, kan?" tanya bibi pada keduanya.

__ADS_1


Gita menunduk lesu. Bulir air matanya menetes, Alam akhirnya angkat bicara "Gita keguguran, bi. Dia sempat di culik sama orang yang ingin menyingkirkan aku. Gara-gara aku, anak kami meninggal dalam kandungan dan Gita sempat koma. Seandainya aku tidak dipenjara mungkin anak kami sudah lahir. Mungkin Gita tidak akan menderita."


"Maafkan bibi, Gita. Seandainya dulu bibi tidak mengancam Alam menerima pinangan Dinda. mungkin kejadiannya akan beda sekarang, maafkan bibi, nak." bibi bersujud di kaki Gita.


Gita mengangkat tubuh bibi untuk berdiri "Bi, justru aku yang minta maaf. Seandainya Alam tidak menyelamatkan aku dulu. Mungkin paman sampai sekarang masih hidup. Bisa melihat kalau Alam sudah sukses sekarang."


"Sudah.. sudah... jangan ada lagi air mata. Sekarang kita sudah berkumpul. Bibi dan Gita istirahat dulu ya. Biarkan aku yang membereskan barang-barang ini." Alam menuntun Gita masuk ke kamarnya.


Gita pertamakali datang kerumah Alam. Karena saat pacaran dulu, dia belum pernah diajak Alam ke rumah ini. Hanya saja saat itu, dia belum tahu kalau alam dan Ronal orang yang sama. Ingat saat beberapa hari baru menginjak lagi desa Sukasari. Siti mengenalkan rumah itu sebagai rumah Alam, bukan rumah Ronal.


Rumah itu tidak berubah, hanya saja atap kayu sekarang menjadi atap beton.


"Sayang. Kamu kenapa melamun? maaf ya kalau rumahku tidak sebagus rumah kamu. Tidak ada AC, dan hanya ada TV kecil biasa. Tapi kalau kamu nggak nyaman kita pindah ke rumah Siti saja."


"Nggak papa kok. Rumah kakek dulu juga seperti ini. Tapi pake tangga. Dimanapun tempatnya asal sama kamu, aku bahagia kok." jawab Gita.


"Terimakasih sayang." alam mengecup kening Gita.


"Sekarang anak ayah istirahat, ya. Ayah mau siapkan makan malam dulu." Alam mengecup perut Gita.


"Sayang! tidak usah. Kamu buka koper itu. Mama Yulia sudah kasih bekal buat disini. Ya paling tidak, tahan untuk dua hari."


Alam membuka koper yang diminta Gita. Ternyata Mama Yulia membawa beberapa bekal kering, yaitu rendang, abon, sambal tempe jawa dan beberapa makanan. Alam berterimakasih kepada Gita. Lalu mengeluarkan bekal itu dan membawanya ke dapur.


"Biar aku salin ke mangkuk" Gita ikut membantu.


Gita menurut saja saat suaminya membawa dirinya kekamar. Tak berapa lama, makan malam sudah siap. Alam mengajak bibi makan bersama. Saat akan mengajak Gita, ternyata istrinya sudah tertidur.


"Gita mana, lam? apa dia malu makan sama kita?" tanya bibi melihat menantunya tak keluar kamar.


"Sudah tidur, Bi. Sepertinya dia kecapekan." jawab Alam.


"Bangunkan dulu. Dia perlu nutrisi untuk janinnya. Kasih makan yang banyak. Kalau perlu suapi" bibi menyodorkan nasi yang sudah penuh dengan lauk pauk untuk Gita.


"Baik, Bi." Alam menyelesaikan makannya lalu beranjak ke kamar menemui istrinya.


"Sayang, bangun. Makan dulu, ya."


Gita menggeliat melihat suaminya membawa makanan ke kamar. Merasa tidak enak pada bibi, Gita bangkit hendak keluar kamar.


"Makan disini saja." Alam kembali mendudukkan Gita ke tempat tidur.


"Tapi bibi sudah makan belum? aku nggak enak sama bibi."

__ADS_1


"Kami semua sudah makan. Sekarang kamu makan ya. Aku suapin, ya. Bunda dan anak ayah makan yang banyak biar sehat. Nanti kalau sudah lahir main sama ayah, ya." Alam menyodorkan satu suapan berisi daging rendang.


"Maaf, ya sayang. aku jadi ngerepotin kamu. Padahal aku bisa kok makan sendiri." Gita mengambil piring mencoba makan sendiri. Dia merasa masih kuat, tak ingin terlihat manja.


"Sudah, jangan bawel! Biarkan suamimu yang ganteng ini memanjakanmu kali ini." Alam merebut kembali piring yang diambil Gita.


Gita cuma bisa terkekeh saat suaminya memuji dirinya sendiri. Lama Gita menatap suaminya, sampai Alam salting karena ditatap istrinya.


Sayang aku ingin sekali momen ini takkan hilang. Ya mungkin akan jadi kenangan kita saat aku pergi nanti.Terimakasih sayang,


terimakasih atas cinta yang kamu beri selama ini. Ya walaupun kamu lebih banyak nyebelin sih, tapi it's okey lah.


Selesai menyuapi Gita, Alam kembali ke dapur. Entah kenapa dia kembali meneteskan air matanya, mengingat penyakit yang diderita oleh istrinya. Alam terduduk di belakang rumah yang menjadi tempat jemuran.


Ya Allah kenapa aku selemah ini


Aku tidak kuat menatapnya terlalu lama


Aku melihatnya kembali pucat


Semoga kau mendengar doaku agar memanjangkan umurnya


Saat di kamar Gita mencari obatnya yang ternyata lupa dia bawa. Gita menahan sakit kepalanya dengan berpura-pura tidur.


Ilham!


ingin rasanya meminta Ilham datang ke rumah bibi tapi rasanya tidak mungkin.


Ya Allah sakit sekali kepalaku ini.


######


Bersambung


Ah, sudah lama tidak up Gita.


Sekarang lagi rajin up


terimakasih sudah mau mampir


Jangan lupa untuk like


jangan lupa komen sesuai dengan isi cerita

__ADS_1


Jangan lupa vote nya


Happy reading


__ADS_2