Aku Kamu Dan Dia

Aku Kamu Dan Dia
26. Dinda ( curahan hati cinta yang tak pernah padam)


__ADS_3

Aku tak tahu apa yang aku rasakan saat ini. Sakit!kecewa!marah!semua jadi satu. Kenapa aku harus meratapi sesuatu yang dari awal bukan untukku. Kenapa aku harus sedih buat orang yang tidak mengakui perasaannya.


Namaku Dinda. usiaku saat ini menginjak 26 tahun. Aku terlahir sebagai anak sulung dari 3 bersaudara. Adikku, Ramlan meninggal saat masih bayi Karena demam. Sekarang ada adikku, Sita. Sejak kecil kami mendapat kasih sayang yang berlimpah serta kehidupan yang berlimpah meskipun bukan orang kaya.


Kalau kata Sita, aku anak kesayangan ayah dan ibu. Tapi bagiku, kami semua sama.


Dari kecil kami tumbuh bersama. Bersama Siti, Edwar dan Alam kami menjalin persahabatan dengan erat. Bukan sahabat lagi, tapi lebih ke persaudaraan.


Alam memang menarik perhatianku ketimbang Edwar. Siapa yang tidak kenal Alam, cowok slengean, suka bolos, jago motor. Bahkan saat di sekolah, para murid mendirikan fans club. Mau marah sama mereka, tapi tidak bisa!itu hak mereka!tapi aku tidak suka kalo mereka mulai agresif.


Saat dia memproklamasikan perasaannya di upacara penutupan MOS SMA. Itu momen yang tidak bisa aku lupakan. Meskipun aku tahu, pasti akan di tentang ayah.


Tapi aku akan terus meyakinkan ayah kalau Alam tidak akan macam-macam denganku. Susah memang, tapi namanya juga usaha. Walaupun begitu, Alam tidak pernah takut mampir ke rumah. Itu yang buat aku makin cinta padanya.


Suatu ketika aku mendengar berita saat Gita jatuh ke sawah dan jatuh menindih Alam. Rasa cemburuku mulai timbul. Padahal aku sering melihat para gadis mendekati Alam, anehnya tak ada cemburu pada *mereka. Tapi dengan Gita, ada rasa takut kalah saing, karena rupanya lebih cantik dariku.


"Bagiku, cuma kamu yang cantik." Ucap Alam saat ini.


Ya, dia bisa bilang begitu karena tidak di posisiku. Ya, dia bisa bilang begitu karena dia tak punya rasa pada Gita.


Walaupun seribu kata yang dia ucapkan padaku. Tapi kecemburuanku pada Gita tetap besar. Saat itu, banyak yang bilang mereka serasi. Ku dengar Edwar juga mendukung mereka.


*Pertemuan terakhir saat dia ikut membantu mencari Gita. Aku berusaha mencegah Alam, tapi terlambat. Walaupun dia menyogok aku dengan sesuatu yang manis, yang membuat aku merasa terikat padanya. Tapi tetap tak mengubah keputusannya untuk ikut mencari Gita.


Dari sinilah bencana itu datang. Saat mereka mengabarkan Alam dan Gita pingsan di hutan. Banyak yang mengatakan Alam dan Gita mesum di hutan.


Bukan!Alamku bukan seperti itu! aku tidak percaya dengan semua omongan mereka. Walaupun begitu, aku tetap akan setia padanya. Itu janjiku!


Hingga kudengar Alam koma dan akhirnya meninggal dunia. Itu seperti kehancuran buatku.


Dinda mengingat rentetan kenangan bersama Alam. Rindu dan kebahagiaannya di dekat Alam. Saat mendengar Alam masih hidup, Dinda mencoba untuk menepis perasaannya. Tapi ternyata dia tidak bisa melupakan laki-laki itu. Pesona Alam lebih kuat. Mengalahkan perasaannya yang dia bina bersama Edwar.


Denting jam menunjukkan pukul 04:50, Dinda bangkit menyiapkan bahan-bahan untuk dia masak di rumah Alam. Gila memang! Tapi begitulah cinta. Gadis itu menyelinap ke rumah belakang. Dengan mengandalkan kunci serep yang dia punya, Dinda bisa leluasa masuk ke rumah Alam.


...----------------...


Alam di kejutkan dengan kedatangan Irwan, ayah Dinda. Irwan menatap Alam dari atas sampai ke bawah. Dia yakin anak muda yang ada di depannya itu adalah penyebab anaknya batal menikah.


"Siapa kamu sebenarnya?" Tanya Irwan


"Saya Ronal, pak." jawab Alam mantap.

__ADS_1


"Apa tujuan kamu ke desa ini?"


"Saya di minta oleh nyonya Marni untuk membawa kakaknya?"


"Marni?"


"Apa hubunganmu dengan Marni?"


"Saya keponakan suaminya."


"Benarkah itu?"


Alam mengangguk pelan. Dia merasa harus hati-hati menjawab pertanyaan Irwan. Jangan sampai terjebak sampai kebongkar kedoknya.


"Tapi kenapa putri saya setiap subuh masuk ke rumah ini? Ada hubungan apa kamu dengan anak saya?"


"Tidak ada, pak. Saya tidak pernah bertemu putri bapak."


Irwan tidak langsung percaya begitu saja. Beberapa hari yang lalu, Irwan sengaja mengikuti putri sulungnya. Dia melihat Dinda sering masuk ke rumah Toni, padahal yang dia tahu Toni sudah tidak tinggal disana lagi. Irwan melihat Dinda keluar dari rumah itu diantar oleh laki-laki yang ada di hadapannya.


"Siapa dia?"


Tapi semenjak dia pacaran dengan Marni, Irwan tidak pernah bertukar pikiran dengan Toni. Toni malah lebih dekat dengan Dul. Apalagi orangtuanya kurang menyukai Marni.


Irwan pamit pulang. Alam mengantarkan Irwan sampai pintu depan. Irwan meminta agar Alam jangan ganggu Dinda, sebab putrinya sudah punya calon.


"Bukannya sudah putus, om." tebak alam.


"Pokoknya kamu sebagai orang asing tak usah dekati warga sini.!" Irwan langsung pergi dari hadapan Alam.


Alam menghela nafas. Baru beberapa hari dia di Sukasari sudah banyak masalah yang datang. Kalau tidak ingat keinginannya untuk mencari pamannya, mungkin dia sudah pulang ke Jakarta.


Saat mau tutup pintu, Alam di kejutkan dengan Dinda yang berdiri di depannya. Alam


mengomeli Dinda yang datang tidak bersuara. Dinda tersenyum, dia suka melihat Alam marah.


"Tadi ayah kesini,ya."ucap Dinda sambil tersenyum.


"Kamu ngadu apa?" Alam balik nanya.


"Nggak ada. Kan aku belum cerita kalo kamu Alam." balas Dinda langsung duduk di teras

__ADS_1


"Emang ayah ngomong apa?" sambung Dinda


"Ngomong...." ucapan Alam terputus.


"Dinda!" Suara gertakan terdengar dari dekat.


Alam dan Dinda kaget ternyata Irwan masih di sana. Irwan menarik tubuh Dinda dengan kasar. Mata Irwan memperlihatkan kemarahan pada mereka berdua. Dinda ingin melepaskan diri dari tangan ayahnya.


"Ayah! tolong nikahkan kami!"


Mata Irwan dan Alam terbelalak mendengar pernyataan Dinda.


Plaaak


"Ayah tidak pernah mengajarkan kamu menjadi wanita murahan." Irwan mulai habis batas kesabaran.


"Aku tidak murahan ayah. Aku mencintainya dari dulu sampai sekarang." ucap Dinda


"Dulu? Apa maksudmu?" Tanya Irwan bingung dengan pernyataan putrinya.


"Lam, katakan sejujurnya pada ayah." suara Isak tangis Dinda.


"A..pa maksudmu?" Alam mulai takut.


Sikap Dinda yang seperti ini bisa menjadi bom waktu, yang sewaktu-waktu bisa meledak.


"Alam!" jerit Dinda.


"Aku bukan Alam, aku Ronal. Sudah berkali-kali aku jelaskan." bentak Alam.


"Jangan kamu bentak anak saya!" Irwan mencengkeram baju Alam.


Mata Dinda seperti menahan kemarahan. Tubuhnya yang gempal langsung berdiri, lalu menendang bagian sensitif Alam.


Keributan di rumah paman Toni mengundang kerumunan warga. Desas desus tentang hubungan Alam dan Dinda semakin merebak.


Warga menyayangkan sikap Dinda yang terlalu bucin.


Banyak yang mengatakan Dinda sempat stress saat Alam di kabarkan meninggal dunia. Hingga berita itu sampai ke telinga Edwar, Siti dan Gita.


Irwan tak kuasa menahan air matanya saat melihat keadaan putrinya. Dinda seharian mengurung diri di kamar. Sita pun takut, dia ingat saat mendengar Alam meninggal dunia, Dinda beberapa kali mencoba bunuh diri. Entah apa yang dilakukan Alam, sehingga kakaknya menjadi cinta mati pada pria itu.

__ADS_1


__ADS_2