
"Mama jahat! Sheila tidak mau menikah dengan orang itu! Sheila mau kuliah, aku mau jadi dokter seperti kak Raisa."
Gadis kecil berlari masuk ke kamar. Lalu menutup pintu kamar dengan keras. Jonathan yang melihat adiknya menangis mencoba menenangkan. Dia juga tidak setuju dengan keputusan orang tuanya. Bagaimanapun Sheila masih berusia belasan, masa depannya masih panjang.
"Ma, jangan paksa Sheila terus. Biarkan dia nikmati masa mudanya dulu. Dia masih kecil, masih panjang perjalanan." protes Jonathan.
"Kenapa! Kamu takut di langkah!" balas mama
"Bukan begitu, ma."
"Lalu kapan kamu dan vika akan menikah!"
"Loh, kok bawa hubungan aku dengan vika sih,ma. ini tentang Sheila Lo."
"Mama juga pengen kamu dan vika cepat menikah. Jangan di gantung lagi. ntar dia disambet orang lain lagi." ledek mama melihat putra sulungnya mulai kesal.
Jonathan paling malas kalau sudah bahas nikah. Sementara dirinya saja belum ada pekerjaan tetap, masih jadi potografer keliling.
Pada akhirnya dia menelpon Vika untuk mengajak wanita itu jalan-jalan.
Sementara Siti dan keluarganya, sudah sampai di Jakarta sejak tiga hari yang lalu, mereka mau melihat sidang kasus yang dialami Alam. Tentu saja sudah di biayai keluarga Spencer. Hanya Siti dan ibu yang berangkat sementara Edwar tidak bisa meninggalkan istrinya yang mulai hamil kedua.
Siti menghubungi Gita tapi diangkat sama papa Dul. Dari papa Dul Siti mengetahui kalau Gita keguguran dan belum sadarkan diri. Karena sidangnya masih tiga hari lagi, Siti dan ibu pergi menjenguk Gita.
"Ya, Allah, nak. Kenapa yang dulu terulang lagi."
ibu ingat Gita koma, tapi Alam malah memilih lamaran Dinda. Sekarang saat Gita keguguran suaminya masih di penjara. Ibu mengelus rambut Gita.
Siti duduk di luar, netranya tak bisa menahan air matanya untuk keluar. Bayangan kenangan bersama Gita terus menari-nari di pikirannya.
Sebuah sapu tangan muncul di depan mata. Siti menoleh melihat siapa pemberinya. Senyum seorang pria yang dia kenal, lalu duduk disampingnya.
"Boleh duduk?" tanyanya
"Silahkan, ham." Siti mempersilahkan Ilham duduk disebelahnya.
"Gita sudah beberapa hari tidak pulang. Semalam dia di temukan tenggelam di laut oleh nelayan. Setelah di periksa banyak bekas kekerasan di tubuhnya, kandungannya tidak selamat." cerita ilham tanpa menatap ke gadis di sampingnya.
Suara sesenggukan terdengar dari gadis itu. Ilham menghapus air mata Siti dengan kedua tangannya. Lama saling bertatapan, lalu berbalik sendiri, malu-malu.
Sore itu, Jonathan juga menjenguk Gita ke rumah sakit. Bersama dengan Vika mereka memasuki area rumah sakit. Tangan mereka saling menggenggam, tapi entah kenapa dia melepaskan secara perlahan genggaman itu.
__ADS_1
Vika tahu arah tatapan Jonathan.
"Jadi itu ceweknya?" goda Vika.
"Apaan sih, vik?" jawab Jo agak kesal.
"Dulu kamu saingan sama adik iparmu, sekarang dia jadi saingan kamu lagi. Wah, pesona dia lebih kuat dari kamu Nathan." ledek Vika.
Jonathan melewati Siti dan Ilham, langsung masuk ke dalam kamar Gita. Sambil menyalami ibu dan papa Dul, mata Jonathan masih fokus dengan adegan Siti dan Ilham di depan kamar Inap Gita. Papa menggoda Jonathan salah memegang tangan.
"Jo, kok salam pake tangan kiri, nak." ledek Papa Dul sambil tertawa.
"oh, maaf om." Jonathan langsung membetulkan salamnya.
"Mereka cocok, ya" lagi-lagi papa menggoda Jonathan.
"Apa yang di kocok, Om?" jawab Jonathan salfok.
"Kamu yang di kocok. Lagian kamu masih fokus sama yang lain, padahal ada yang cantik disini." papa terus mengganggu Jonathan sambil melirik Vika.
Sementara saat berdua dengan Siti, Ilham mendapat telepon dari Mama Mila. Mamanya minta Ilham untuk pulang karena ada ayahnya ingin bertemu.
"ti" tiba-tiba Ilham memanggilnya.
"Iya, kenapa?"
"hmmm .. nggak kok. Kenapa?"
"nggak papa, besok kamu kesini lagi kan, Siti Marlina." Ilham langsung dengan nama panjangnya.
"Lengkap banget manggilnya. Insyaallah" Siti masih aneh dengan sikap Ilham.
"Okelah .. kalo begitu." sejenak Ilham menghilangkan dari pandangan Siti.
...----------------...
"Ayah, kenapa kita kesini?" tanya Ilham saat tiba di kantor polisi.
"Bertemu kakak kandungmu, ham. yuk masuk kedalam." ajak Brian menarik putra bungsunya ke dalam kantor polisi.
"Kamu tunggu di sini, ya."
Brian langsung menemui salah satu sipir lapas, untuk menanyakan keberadaan anaknya. Sipir itu bahwa orang yang di cari sedang menjalani sidang di pengadilan negeri.
__ADS_1
Saat masih menunggu Ilham melihat kedatangan Siti dan ibunya. Rasa penasaran menyelimuti pria itu.
"Siti, ngapain disini?"
"Loh, ham. Kamu juga ngapain disini?"
"Aku nemani ayahku ada urusan disini. Kalian?"
"Jenguk kak Ronal." jawab Siti.
"Dia disini?"
"Iya." jawab Siti.
"Kebetulan, aku mau bicara sama dia tentang keadaan Gita. Masa sampai sekarang dia belum menjenguk istrinya. Selama Gita hamil dan sampai sekarang belum ada keluarga Spencer menengok keadaan Gita." ucap Ilham kesal.
Siti terkejut mendengar cerita Ilham. Sebegitukah perlakuan keluarga Spencer terhadap Gita. Siti mencoba tidak mempercayai cerita Ilham. Dia teringat cerita Mama Yulia yang mengatakan Gita sempat diancam Marni untuk mengambil bayinya. Siti cuma bisa mengelus dada.
Hp nya berdering, ada telepon dari Mama Yulia mengabarkan Gita sudah sadar.
Ilham mendengar berita itu langsung mengajak Siti dan ibu kembali ke rumah sakit. Dia lupa sama ayahnya yang sedang di dalam kantor polisi.
Di rumah sakit
"MAAAAMAAA!!!! Anakku mana, ma!!!! anakku mana!"
"Sayang kamu harus iklas kamu keguguran" ucap Mama Yulia.
"Haaa?Keguguran, ma." Air mata Gita menetes.
Mama langsung memeluk Gita. Tangan mengelus rambut Gita yang tak hentinya menangis.
"Zahraaaa!!! Awaaas kamu!!! Pembunuh!!!" Pekik Gita.
"Sayang, maafin bunda. bunda tidak bisa menjaga amanat ayahmu." Gita masih histeris.
Gita mengamuk saat mengetahui perutnya sudah kempes. Tak ada lagi tendangan kecil yang selalu menemani harinya. Mama dan papa mencoba menenangkan putrinya. Suster dan dokter turun tangan, Gita di beri suntikan agar tenang. Mama menangis melihat kondisi Gita.
Papa menenangkan mama Yulia. Tak lama ilham, Siti dan ibu sampai di rumah sakit. Mama menceritakan kalau Gita mengamuk saat tahu bayinya sudah tidak ada lagi.
"Gita kamu yang kuat, nak." ibu mengelus rambut Gita.
Siti menangis melihat keadaan Gita, tanpa sadar dia memeluk Ilham untuk meminjamkan bahunya. Ilham menyadari Siti didekat dadanya. Jantungnya serasa berdebar kencang. Saat menyadari, Siti minta maaf pada Ilham.
__ADS_1
"Maaf, ham aku tadi reflek."
"Nggak papa, ti. Gratis kok." Jawab Ilham sambil tersenyum.