
Gita merasa rambutnya sedikit gatal. Rasanya kalau keramas rambutnya agak enteng. Tapi saat membasuh rambutnya, Gita terpaku melihat begitu banyak rambut bertebaran. lama dia terdiam meratapi yang terjadi pada dirinya.
Sesaat tangisnya pecah. Matanya menatap kaca, rambutnya semakin menipis. Semakin diyakininya kalau waktunya tak lama lagi. Gita terduduk lemas, lama dia termenung memikirkan semua ini.
Tok tok tok
"Yang, kamu nggak papa kan?"
Suara Alam membuatnya tersentak. Buru-buru dia membersihkan rambutnya yang berserakan. Lalu membuangnya di closet.
Gita menutup rambutnya dengan handuk. Dengan menggunakan kimono mandi Gita keluar dari kamar mandi. Wajahnya yang terlihat sumringah di depan suaminya.
"Maaf ya aku lama mandinya. Kamu sudah siap ke kantor, ya sayang." Gita melihat suaminya sudah rapi.
"Aku mau menyelesaikan urusan kantor. Lusa aku mau ke Sukasari, katanya bibi sakit. Maaf ya aku nggak bisa ajak kamu. Jadi sekitar seminggu ini kamu tinggal sama mama Yulia, ya." ucap Alam merapikan bajunya sendiri.
"Ikut." tiba-tiba Gita merengek ingin ikut dengan suaminya.
"Jangan sayang. Kamu lagi hamil, perjalanan jauh Lo. Nanti ada apa-apa sama anak kita."
"Kamu kan suamiku. Tugas kamu melindungi aku dan anak kita. Ya masa aku harus jauh dari suamiku lagi. Kamu mah enak jalan-jalan, lah aku harus terkurung di rumah lagi."
"Tapi, sayang..."
"Pokoknya aku ikut! titik!" Gita bangkit mengambil bajunya dilemari, lalu menggantinya di kamar mandi.
"Aku kangen sama ibu, yang. kan Siti sekarang dah pulang kesana." tambah Gita.
Saat hendak kekamar mandi, tubuh tertahan. Sebuah tangan melingkar di pinggang Gita. Hembusan nafas di telinganya, membuat Gita terdiam. Hembusan yang mungkin tidak akan dia rasakan jika dia pergi nanti.
"Kok ganti di kamar mandi, sih. Ganti disini aja sayang." bisik Alam.
Melihat istrinya diam saja "Iya, kamu ikut. Aku akan ajak kamu pulang ke Sukasari. Tempat kenangan kita."
Gita yang tadinya cemberut berbalik menghadap suaminya. Wajahnya kembali berseri " bener!" Alam mengangguk.
"Aaaaaaa makasih sayang" Gita memeluk suaminya dengan riang. Tanpa disadari tali kimono melonggar dan terlepas. Alam yang sedari tadi sudah tidak fokus dengan tubuh istrinya.
"Yang, please ini masih pagi. Tadi kan kamu yang buru-buru." Gita kaget otak mesum suaminya kumat. Kakinya berjalan mundur lalu terjatuh di tempat tidur.
"Eittsss, nggak kena!" Gita mencoba mengelak dari kejaran suaminya. Gita langsung masuk kamar mandi dan mengganti pakaian.
__ADS_1
"Hayo tanggungjawab nih! Aku berangkat ya sayang. Aku tagih janjinya pulang kantor nanti." panggil Alam dari luar kamar mandi.
Lah siapa yang bikin janji, sih. Nih orang lama-lama aneh juga. Haduh, coba tadi pas mandi langsung bawa ganti. Biar otak mesum nggak kumat.
Gita keluar dari kamar mandi mendapati suaminya sudah berangkat. Setelah selesai berdandan Gita bersiap-siap kontrol ke rumah sakit. Bukan kontrol kehamilan, melainkan kontrol kanker otaknya.
"Gimana, Gita kamu sudah bilang belum ke Alam tentang kemoterapi ini?" tanya Ilham sebagai dokter yang menangani Gita.
"Sudah." jawab Gita berbohong.
"Yakin!" Ilham masih tidak percaya dengan jawaban Gita.
Pasalnya beberapa hari yang lalu Alam mengeluh Gita terus menolak berobat lagi. Bahkan saat Alam menemukan surat hasil lab milik Gita, tetap saja Gita menolak berobat.
"Ham, aku kesini mau berobat bukan mau debat. Oh, ya gimana kamu dan Siti?" Gita mengalihkan pembicaraan.
"Kita sekarang sedang membahas kesehatan kamu. Bukan membahas masalah pribadiku." elak Ilham. Padahal dia juga ingin mengetahui kabar Siti yang beberapa hari ini menghilang.
"Oke, kapan aku bisa mulai kemo?"
"Sebenarnya kalau kamu mau mulai harus ada persetujuan keluarga. Ada formulir yang harus kamu isi. Karena kamu sudah menikah, berarti kamu harus minta tanda tangan suamimu."
"Astaga ribet banget sih. Perasaan dulu waktu kemo nggak gini amat, ham." protes Gita.
"Iya ... lain deh yang pernah menikah." Gita mengerucut bibirnya.
Gita kalau dulu kita yang menikah aku pastikan kamu akan bahagia.
Gita pamit pulang. Tanpa sepengetahuan Gita sebenarnya Alam sudah mendengar semua pembicaraan mereka. Sebelum Gita datang, Alam sudah menemui Ilham terlebih dahulu. Alam mengkonsultasikan apakah bisa membawa Gita keluar kota. Tapi saat Gita SMS Ilham, mengabari kalau sudah sampai di depan rumah sakit. Alam langsung sembunyi di bawah meja Ilham. Netranya tidak dapat ditahan saat Gita menceritakan soal kemoterapinya. Termasuk membohonginya tentang keadaan yang sebenarnya.
"Kak? Are you okey?" Ilham melihat lelaki didepannya masih syok.
"Kenapa? kenapa dia sembunyikan semua ini?" Alam masih tidak percaya kalau penyakit Gita sudah masuk stadium empat. Pikirannya kacau. Ilham mencoba menenangkan lelaki di depannya.
"Bukannya kakak sejak awal sudah tahu resiko penyakit Gita. Tugas kak Ronal adalah menjaga Gita. Jangan bikin dia banyak pikiran. Kakak tahu semakin banyak masalah diantara kalian, semakin lama potensi dia sembuh."
Alam menunduk. Ada benarnya yang dikatakan Ilham. Selama ini begitu banyak masalah membebani istrinya. Selama menjadi suami, dirinya jauh dari kata membahagiakan istrinya.
klik
"Kita mau kemana nih?" Gita heran matanya di tutup dari rumah sampai sekarang masih tertutup.
__ADS_1
"Rahasia dong." Alam tersenyum melihat kekepoan istrinya. Sejak awal berangkat sampai sekarangpun istrinya tak berhenti bertanya tentang tujuan mereka.
"Oh, udah main rahasia sekarang." bibir Gita mengerucut.
"Kita sudah sampai." Alam melihat Gita sudah tertidur. Senyumnya mengembang, lalu menggendong Gita sampai ke sebuah kamar. Staf hotel sudah mengenal Alam dan Gita mempersilahkan mereka masuk kekamar yang dipesan.
"Yang, kok masih gelap." Gita terbangun. Sepertinya suaminya lupa membuka penutup mata. Gita tidak mendengar suara suaminya. Karena tidak sabaran Gita membuka penutup mata sendiri.
"Yang..." Gita tidak melihat suaminya dimanapun.
Jahat! Masa aku ditinggal lagi. Kalau ada nyulik aku lagi gimana!
Happy birthday to you!
Happy birthday to you!
Happy birthday
Happy birthday
happy birthday to you!!
Semua keluarga berkumpul termasuk mertuanya. Ada Ilham juga. Gita terharu dengan surprise yang diberikan keluarganya.
Beta pun hadir, air matanya menetes.
"Kok nangis, yang." alam duduk disamping istrinya.
"Aku kangen Ine. Dulu dia yang sering kasih surprise buat aku tiap ulang tahun. Sampai waktu saat aku habis dilamar pun dia yang kasih pesta kejutan untukku.Ya kan, ham."
Ilham menunduk. Dia ingat kalau Ine lah yang paling care sama Gita ketimbang Rere dan Beta.
"Iya." jawab Ilham pelan.
"Bahkan waktu Ine meninggal, yang paling down adalah Gita." tambah Ilham.
Dan mungkin sebentar lagi kita akan bertemu, ne.
Gita menatap ke arah kaca. Langit yang mulai gelap menandakan akan datang hujan. Senyumnya mengembang seolah Ine ada didepannya.
Ine aku kangen sama kamu
__ADS_1
####