Aku Kamu Dan Dia

Aku Kamu Dan Dia
71. S2: Romantika Alam dan Gita


__ADS_3

Gita terbangun melihat di mobil cuma dirinya dan pak sopir. Matanya mencari Alam sudah tidak ada di dekatnya.


"Pak, lihat..."


"Mbak nanyain mas Alam kan, dia baru aja turun."


Aduh kenapa nggak bangunin aku,sih. awas aja nanti.


Gita turun dari mobil melihat ternyata bukan di bandara. Matanya celingak-celinguk mencari Alam. Dia menemukan alam membawa beberapa belanjaan.


"Shopping kok nggak ngajak aku sih?" omelnya.


"Ntar kamu banyak maunya. Ini untuk jenny dan Bella, sayang. Mumpung ibu dan Edwar masih di Jakarta."


"Yang punya anak siapa? tapi yang heboh siapa? Yang aku mana?" tagih Gita.


"Hmmmm... beli sendiri..." Alam menjulurkan lidahnya.


"Iiih, awas ya." Gita menghentakkan kakinya seperti anak yang sedang ngambek.


Alam tersenyum melihat tingkah Gita. Tak lama dirinya menyusul Gita, yang masih ngambek. Alam mengalungkan sesuatu di lehernya. Sebuah cincin bertengger di tengah kalung. Cincin yang pernah dia buang saat malam ulang tahunnya. Gita menatap Alam seolah meminta penjelasan tentang cincin itu. Seakan mengerti tatapan Gita, Alam menjelaskan yang di buang Gita adalah nama gadis itu, sedang yang kalung ini adalah nama Ronal.


"Cincin ini aku buat sebelum kasus pengeroyokan. Sebelum bertemu dengan bibi." jelas Alam.


"Cincin ini bukti keseriusan aku sama kamu. Saat aku jemput kamu di puskesmas Sukasari, cincin ini yang mau ku beri, tapi kamu keburu pulang dengan keluargamu. Aku kehilangan kontakmu, dan aku hampir menyerah karena kamu tidak memberi kabar waktu itu. Edwar pernah bilang kamu tinggal di Sarolangun. Hp Edwar rusak dan alamatmu yang di hp nya juga lenyap. Di saat itu aku merasa kamu sudah tidak butuh aku lagi, dan saat itu juga..."


" Stop!!!! tidak usah di bahas lagi." Gita menutup tangannya di bibir Alam. Gita sudah sesak mendengarnya.


"Lalu kenapa kamu tidak jujur dari awal kalau kamu itu Alam. Lalu kenapa kamu diam saja, saat aku di keroyok warga. Kenapa! jawab Alam!" Isak Gita.


"Aku sudah mencoba mengatakan padamu, Gita. tapi rasa takut kalau kamu membenciku selalu menghantuiku. Siti selalu bilang kalau kamu menganggap aku pengecut. Tapi semua sudah terkuak, yang bikin kamu tersesat adalah pak Irwan, pak Irwan bilang yang jelek-jelek tentang aku di depan papamu, sampai papamu marah padaku dan melarang aku menemuimu. Kalau Siti tidak mengabari tentang kamu koma, mungkin aku tidak tahu keadaan kamu yang sebenarnya. Aku datang buat kamu, Gita, walaupun aku harus menerima makian dari mamamu."


"Tapi kenapa kamu tidak menanyakan pada Siti tentang alamatku. Siti pernah tinggal di tempatku Sarolangun."


"Tidak terpikirkan soalnya. Siti pernah bilang dia tidak tahu alamat kamu."


"Cukup! Aku tidak mau dengar lagi! Cukup!" Gita menutup kedua telinganya. Tangisnya tak bisa di tahan lagi. Alam memeluk Gita dengan erat. Mata mereka saling bertatapan, Alam menghapus air mata di wajah Gita.


"Kamu ingat aku pernah berjanji kalau aku akan menemui kedua orang tuamu dan juga opa untuk melamarmu. Sekarang aku sudah menepati janji itu, Aku bertanya sekali lagi. Will you marry me? Maukah kamu menerima Alam yang berasal dari desa, bukan anak orang kaya seperti Roki ataupun Ilham. Maukah kamu tinggal bersamaku di Sukasari Menjadi istri dan ibu untuk anak-anakku nanti... maukah...?"


Gita terdiam. Dia takut salah langkah lagi. Gita mencoba mencari jawaban untuk dirinya sendiri, tapi dia tidak bisa berpikir jernih. Kepalanya menunduk, lalu menatap laki-laki yang ada di depannya. Gita mengangguk lalu di sambut pelukan hangat dari Alam.


"Aku mau dengar langsung, Gita."


"I-iya. Aku ... mau." jawab Gita terbata-bata.


"Sekali lagi!" mohon Alam


"Iyaaaaa! Aku mau jadi istrimu! Puas!" Gita berjalan menuju mobil.


"Jawabannya kurang romantis." keluh Alam.


Alam menggendong Gita ala bridal style. Mereka kembali ke mobil, sampai pak sopir ikut menangis melihat adegan mereka.


"Kenapa, pak?" tanya Alam.


"Melihat kalian aku jadi rindu istri di Sumedang." mereka tersenyum melihat pak sopir.


"Hmmm ... mungkin aku juga seperti itu kalau pulang ke Jakarta nanti." Alam melirik Gita. Yang dilirik tersenyum simpul. Gita menyender manja.


"Pak carikan hotel sekitar menara kembar." ucap Alam.


Gita menoleh "Emang nggak jadi pulang?"


"Aku mau wujudkan dinner yang gagal tadi malam."


"Tapi aku nggak bawa gaun ataupun baju ganti."

__ADS_1


"Kan bisa kita beli di mall menara kembar."


"Kamu ini, ya. Hemat, dong." omel Gita sambil mencubit perut Alam.


"Awwwww, sakit sayang! Untuk sekarang belum. Mungkin nanti setelah kita menikah aku akan belajar hemat." Alam menatap Gita dengan lembut.


"Aku harus menelpon mama dulu, soalnya besok pagi aku harus bertemu dokter vino. Lusa kemoterapi sudah dimulai."


"Aku dengar nama dokter vino rasanya nggak jadi pulang ke Jakarta. Takut dia nempel mulu sama kamu."


"Lah kan dia dokter aku, gimana sih?"


"Sama kayak kamu sama Ilham. Modusnya ampun dah. Gaya nya mau bantu kamu sembuh padahal..."


"Kenapa jadi bahas Ilham sih ...." Gita kesal.


"Faktanya memang begitu, pas waktu Ine meninggal dia ngancam aku buat jauhin kamu."


"Lalu apa bedanya dengan kamu dan kak keisya. Nempel mulu kemana-mana."


"Kok jadi bahas keisya. Aku dekat dengan Keisya itu juga atas desakan ibu. Bukan kemauan aku!"


"Alah ...!" Gita memalingkan wajahnya ke arah kaca mobil.


Pak sopir yang menonton pertengkaran mereka di mobil geleng-geleng kepala.


"Baru aja mesra mesra-an, eh sekarang malah berantem. Dasar anak zaman sekarang."


Mereka saling maling muka. Pak sopir mengingatkan apakah jadi mencari hotel di dekat menara kembar.


"Jadi ... pak!" jawab Alam


"Nggak usah pak! aku mau pulang aja!" Gita nggak mau kalah


"udah pak jalan aja kita tetap ke hotel."


"hotel!"


"Pokoknya pulang!"


"Ke hotel pak, nanti saya aduin dengan papa Bobby."


"Pak! saya lapar, saya kalo lagi kesel bawaan pengen makan orang!" ucap Gita sambil melotot di depan Alam.


Pak sopir kembali geleng-geleng kepala.


Mereka sampai di hotel yang dimaksud. Alam sengaja ngambil kamar paling atas supaya bisa lihat pemandangan. Alam memesan kamar two bed yang kasurnya dua.



Gita memandang pemandangan menara kembar dari kaca kamar. Menurutnya akan keren kalau dilihat malam hari.


"Ya, udah liatnya nanti malam aja." Ucap Alam memeluk Gita dari belakang.


"Yuk!" tarik alam keluar kamar.


"Mau kemana?" Gita bingung alam mengajaknya keluar.


"Tadi katanya lapar."


"eh, iya. .. pagi tadi belum makan." Gita memegang perutnya yang sudah berbunyi.


Mereka tiba di sebuah resto dekat jembatan menara kembar. Mata Gita terus melihat jembatan.


"Jangan katrok, sayang. Kayak baru pertama lihat aja." Alam kesal liat Gita yang penasaran sama jembatan Petronas.


"Ya, aku baru pertama kesini." jawab Gita malu-malu.

__ADS_1


Mereka menikmati hidangan yang di sediakan restoran. Gita mengeluh restorannya ngasih porsi yang kurang kenyang.


"Bayar mahal porsinya segini. Mending beli sama abang-abang deh, murah tapi porsinya mantap."


Alam melirik Gita "liat aku aja biar kenyang."


Gita membalas dengan cibiran "Tambah lapar kalau liat kamu."


"Cepat di habisin. Kita mau cari baju." alam beranjak dari tempat duduknya. Menerima telepon dari Mama Marni.


Wajah alam mengkerut sehabis menerima telepon dari Mama Marni. Gita yang melihat wajah tunangannya tidak seceria tadi menanyakan "Kenapa?"


"Papa Bobby masuk rumah sakit. Aku di suruh pulang cepat."


"Ya, udah. Kamu pulang aja. Soal dinner bisa kapan kapan. Orangtua lebih penting."


"Kamu nggak papa."


"Aku nggak papa, kok." Gita menenangkan Alam.


"Sudah kita langsung ke bandara aja." Gita mengajak alam keluar dari restoran.


"Senang banget kayaknya pas dengar aku mau pulang." gerutu Alam.


"Apaan sih? Suudzon Mulu." Mereka memasuki mobil.


"Kemana pak?" Tanya pak sopir.


"Ke bandara." jawab Alam.


"Nggak jadi ke hotel?" tanya pak sopir


"Nggak jadi pak. Om Bobby masuk rumah sakit jadi harus pulang sekarang." jelas Gita.


Mobil melaju ke Bandara Kuala lumpur. Mereka masih terdiam. Alam terus melihat Gita yang menatap kaca mobil. Tangannya memegang erat. Tapi tetap saja Gita tak membalas pandangannya.


Aku tahu kamu belum siap menerimaku. Tapi aku akan berusaha membuat kamu kembali menjadi Gita yang aku kenal dulu.


Sampai di bandara, alam memegang kedua tangan Gita dan mengecup kening Gita sangat lama. Gita masih menunduk, Alam menaikan wajah Gita dan menciumnya sangat lembut dan lama. Gita memegang pinggang alam dan mengeratkan ke tubuhnya.


"Aku berangkat, ya. Jaga diri kamu. jangan dekat-dekat dengan dokter vino. Jangan stres. Bulan depan ke Jakarta ya, untuk prewedding kita."


Gita menggangguk." hati-hati, ya."


Alam melambaikan tangannya dan masuk ke dalam. Gita tetap berdiri sampai sosok alam hilang dari pandangan.


Bruuuukkk!!!!


Seseorang menabrak tubuh Gita sampai terjatuh " Kamu nggak papa?" ucap laki-laki itu.



Setelah menabrak Gita, laki-laki itu mengulurkan tangannya untuk berkenalan.


" Jo."


"Gita."


"Orang Indonesia ya dek." tanya Jo.


"Iya, Om." jawab Gita.


"Oh, jangan panggil saya om. Saya masih bujangan. Mau berangkat juga?"


"Nggak, om. saya ngantar teman."


"Saya duluan, ya. see you. next time."

__ADS_1


Jo menatap Gita dari jauh hingga Gita hilang dari pandangan. "Imut." batinnya.


__ADS_2