Aku Kamu Dan Dia

Aku Kamu Dan Dia
125. S2: Bali


__ADS_3

Di sebuah kontrakan sempit


Zahra duduk menikmati makanan yang dia pesan. Akhir-akhir ini dia tidak bisa melacak keberadaan Gita. Dia punya nomor Gita tapi sepertinya nomor itu sudah tidak aktif. Maka sekarang targetnya adalah Alam dan Ilham.


Zahra melihat seorang anak kecil bersama kakaknya sedang jajan dengan abang-abang jualan yang nangkring di depan kontrakannya. Pikirannya melayang saat dulu kakaknya selalu menuruti kemauannya. Bahkan kalau ada yang mengejeknya, kakaknya adalah orang paling depan membelanya.


"Akak ... maafkan Fira. Fira rindu sama akak." Tiba tiba tangisnya meledak.


Sekarang hidupnya Luntang-lantung tidak jelas karena statusnya sebagai buronan. Zafira baru menyadari kalau dia cuma alat bosnya, untuk membalas dendam pada suatu keluarga. Seandainya dia bisa memilih, dia akan kembali ke Malaysia dan memulai hidup tanpa ancaman dari bos nya.


Tak lama tangannya memencet tombol hp. Karena akan menelpon salah satu mata-mata yang masuk di perusahaan Spencer.


"Halo. Bagaimana perkembangan di sana?"


"Aman,kak. Malah bos saya tidak tahu kalau istrinya hamil. Saya tukar hasil testpack dengan punya saya yang negatif."


"Bagus! Pepet terus laki-laki itu. Buat rumah tangganya hancur. Buat mereka hancur karena merasa saling mengkhianati. Aku cara suka kerjamu."


"Tapi, Aku dengar sudah ada yang tertangkap. Nanti kalau dia bilang soal kakak gimana?"


"Itu biar jadi urusan bos besar. Kita tidak usah ikut campur. Toh kamu juga akan keseret. Ingat, ya kamu juga terlibat dalam rencana ini."


"Ka.. kakak .. sa...saya ... tidak mau masuk penjara." Ucap suara itu seperti ketakutan.


Zafira tersenyum. Toh kalau dia tertangkap akan banyak pihak yang akan terseret. Termasuk bos besarnya.


Zafira menyudahi teleponnya. Dia melanjutkan makannya sambil menonton TV. Senyumnya mengembang saat teringat dengan hasil laporan salah satu mata-matanya.


Zreeeeet zreeeeet zreeeeet


Dengan malas zafira mengangkat telepon salah satu anak buahnya.


"Iya, ada perkembangan baru apa?"


"Bos gawat!"

__ADS_1


"Gawat kenapa?"


"Gawat bos! Polisi sudah bisa melacak keberadaan kita, bos!"


Seketika air yang sedang di teguk langsung muncrat.


Zahra langsung mengambil barang-barangnya. dan keluar dari rumah. Tapi di depan pintu di kejutkan dengan polisi yang mengepung rumahnya.


Zahra lari tunggang langgang. Polisi pun mengejar dirinya.


"Hey! jangan lari!"


Dooooor!!!!!


klik


"Hueekk ... hueekk ..." Suara orang muntah terdengar dari wc bandara Ngurah Rai.


Para pengunjung yang antri di depan pintu WC heran. Kenapa di toilet laki-laki ada suara mual-mual seperti wanita hamil. Salah satu pengunjung berteriak " Mas, kalau mabuk jangan naik pesawat!"


Ah, mungkin ini efek asam lambungnya kumat. Apalagi beberapa waktu yang lalu dia sempat drop. Dia harus beradaptasi dengan peralihan kondisi tubuhnya. Tapi jujur bagi Alam ini sudah termasuk menyiksanya. Dia susah menelan apa pun karena akan berakhir dengan muntahan.


Papa Dul sudah menunggunya di ruang kedatangan. Papa Dul sudah dua hari yang lalu sampai di Bali. Alam langsung keluar dari ruang bagasi, karena dia cuma menenteng satu koper kecil.


"Terimakasih kasih kamu mau membantu Papa."


"Sama-sama,pa." jawab Alam lalu naik mobil yang sudah di siapkan Papa.


Matanya menerawang, seandainya ada Gita mungkin ini bukan sekedar perjalanan bisnis saja. Tapi sebagai bulan madu mereka yang beberapa kali tertunda.


Sejak mereka menikah 6 bulan yang lalu, mereka belum benar-benar merasakan yang namanya bulan madu. Karena diawal pernikahan mereka saja sudah banyak masalah yang menerpa.


Coba aja kamu ikut, yang.


Mereka sampai di hotel yang lokasinya di depan pantai Kuta Bali. Tubuhnya ingin tidur karena sangat kelelahan. Kakinya berdiri di sebuah balkon, menatap pantai yang indah. Lagi-lagi dia teringat pantai.

__ADS_1


"Pantai, im coming...." Suara wanita yang berteriak di balkon sebelahnya.


Alam merebahkan tubuhnya di atas kasur. Iseng dia mencoba menghubungi nomor yang dia anggap nomor Gita. Sekedar ingin dengar suaranya, itu sudah cukup. Tapi saat dia sedang mencoba menghubung Gita terdengar suara wanita di samping kamarnya.


"Papa dimana sekarang?" suara wanita itu seperti sedang menelpon.


"Iiih, papa jahat! Ntar kalau ada yang nyulik aku lagi gimana!"


Netra nya yang tadi mengantuk berubah menjadi penasaran. Siapakah wanita yang tinggal di sebelah kamarnya. Kenapa ketika dia mendengar wanita itu ingatannya tertuju pada Gita. Dia berharap istrinya sehat disana.


Matanya mencoba mencari arah suara tersebut. Tapi lagi-lagi sosok itu tidak dia temukan. Sesekali menghela nafas, Lalu duduk di depan balkon, siapa tahu rasa penasarannya terungkap. Tapi tetap saja nihil.


Pada akhirnya dia kembali merebahkan tubuhnya di atas spring bed. Matanya mulai terpejam. Karena esok dia akan menemani papa mertuanya.


klik


Sementara itu Gita terbangun tengah malam. Entah kenapa dia kembali merasakan kepalanya sakit. Sudah lama dia tidak kambuh seperti ini. Gita mendapati rambutnya mulai berguguran lagi.


Lama dia memandangi wajahnya di kaca. Dulu saat di vonis kanker dia selalu bilang sudah siap mati. Tapi sekarang setelah melihat semua ketakutan itu kembali menerpa. Seketika dia menangis.


AKU BELUM MAU MENINGGAL SEKARANG!


AKU BELUM MAU MATI....


Gita turun dari tempat tidur, berjalan menuju kamar mandi.


Bruuuukkk!!!


klik


Paginya Alam diajak sarapan oleh Papa Dul. Sesaat Papa pamit ke toilet sambil menelpon seseorang. Sesekali mengomel karena telponnya tidak diangkat.


Papa langsung meninggalkan Alam. Lalu datang ke kamar yang letaknya disebelah kamar Alam. Papa langsung terkejut melihat tubuh yang tergeletak di depan kamar mandi.


"Naaaaakkkk!!!!"

__ADS_1


__ADS_2