
Mendapatkan tatapan setajam itu dari seorang kak Kris sungguh membuatku bergidik ngerti dan aku seketika langsung tertunduk menghindari pan kontak mata darinya, aku menunduk dan berusaha berpura-pura untuk tidak melihat maupun mendengar pembicaraan diantara mereka namun rupanya kak Anne yang masih belum peka terhadap situasi saat itu dia justru malah langsung menghampiriku dan menanyakan hal tadi secara terang terangan begitu saja.
"Ekhmm...Elisa ada apa ini sebenarnya?, Apa kau bertengkar lagi dengan Kris?" Tanya kak Anne sambil berdiri dengan kedua tangan yang bersandar pada meja kerjaku.
Aku sungguh tidak bisa menghindar dari pertanyaannya namun aku juga bingung bagaimana aku harus menjawabnya pasalnya semua orang tengah berada di sana dan jika aku salah berbicara sedikit saja maka itu akan berakibat fatal pada karirku di masa depan terutama untuk menjadi karyawan teladan di perusahaan tersebut.
Aku sungguh gugup dan berusaha menenangkan diriku sendiri dengan menarik nafas dan mengaturnya berkali kali sampai akhirnya kak Anne kembali mendesakku untuk segera menjawab.
"Elisa kau ini kenapa sih aneh begini?, Cepat beri tahu aku apa yang sebenarnya terjadi diantara kalian?" Ucap kak Anne mendesak,
"Eu...eu...itu kak, sebenarnya ini semua kesalahanku tadi aku tidak ..." Ucapku terpotong karena kak Eril tiba tiba saja bangkit dari kursi kerjanya dan dia menarik lenganku sampai membawaku keluar dari ruangan itu.
"Cukup, Elisa ayo ikut denganku untuk mencari bahan pemberitaan" ucap kak Eril tiba tiba dan langsung membawaku keluar.
Aku tidak sempat berkata kata dan hanya membelalakkan mataku karena merasa kaget sekaligus heran, bagaimana aku tidak kebingungan dengan mata yang terbuka lebar kak Eril menggenggam lenganku dan dia tidak melepaskannya sampai kami masuk ke dalam mobil pribadi miliknya dia juga bahkan masih bersikap tenang dan biasa saja ketika mulai menyetir dan entah akan membawaku kemana saat ini.
Hingga beberapa menit berlalu aku mulai penasaran juga sangat tidak nyaman berada di mobil yang sama dengan kak Eril tanpa mengeluarkan pembicaraan sama sekali, maka dari itu aku berniat membuka sedikit obrolan dengannya yang diawali dengan pertanyaan mengenai tujuan kami sebenarnya.
"Eumm...kak sebenarnya sekarang kita mau kemana?" Tanyaku secara gamblang,
"Tidak kemana mana hanya jalan jalan saja untuk mendinginkan pikiranku" balas kak Eril dengan santainya.
__ADS_1
Aku kembali dibuat sangat kaget dengan jawaban yang baru saja dia berikan kepadaku, aku rasanya ingin menggerutu sangat keras dan merutuki dia di hadapan wajahnya hingga aku puas, namun sialnya aku mana mungkin bisa melakukan hal semacam itu kepada kedua tim departemen tempatku bekerja, mungkin aku benar benar cari mati jika melakukannya.
Aku pun masih berusaha berpikir positif dan mengira jawabannya itu hanyalah candaan darinya sehingga aku berusaha menanggapinya dengan tawa ringan terlebih dahulu.
"Ahaha...kak leluconnya cukup lucu, bagaimana mungkin kita hanya berjalan jalan kau kan sudah bilang sendiri sebelumnya jika kita akan mencari bahan pemberitaan ke suatu tempat, iya kan lalu ke mana sebenarnya tempat itu?" Balasku sambil tersenyum dan menanyakannya secara baik baik terhadap dia.
Namun kak Eril rupanya memang tidak sedang bercanda kali ini, entah mungkin memang aku saja yang terlalu bodoh karena bisa bisanya mengira orang sedatar kak Eril bisa membuat candaan seperti itu kepadaku yang jelas tidak dekat dengannya, karena kak Eril tidak merespon balasku aku menjadi merasa sangat malu dan terasa begitu diabaikan oleh nya.
Sampai dia mulai mengeluarkan suara dan membalas ucapanku.
"Saya tidak bercanda Elisa, dan seharusnya kamu tahu jika orang seperti saya tidak mungkin bercada seperti itu, aku tadi memang hanya beralasan saja agar kita bisa lolos dari pertanyaan Anne yang mungkin akan membuat kamu tidak nyaman, jadi anggap saja jika saya menolongmu barusan" ungkap kak Eril yang membuatku merasa tersipu dengan kebaikannya.
Dia selama ini terlihat begitu acuh dan cuek terhadapku, dia tidak pernah memberiku sedikitpun senyuman meski aku sudah berusaha bersikap ramah dan baik terhadapnya dan dia juga jarang menatap ke arahku jika tidak ada kepentingan tertentu hingga aku mengira sosok kak Eril adalah manusia kaku dan kejam yang akan menyiksaku di departemen dua apalagi dengan pekerjaan menumpuk yang sering dia limpahkan kepadaku.
"Apakah dia kak Eril yang aku kenal, kenapa rasanya dia seperti memiliki dua kepribadian ganda?" Gumamku memikirkan.
Aku terus menatap memperhatikan wajah kak Eril yang tampan namun aku terus memperhatikan dia bukan karena ketampanannya itu justru aku masih sangat merasa heran dan kebingungan sendiri, aku takut orang yang saat ini bersamaku ternyata bukan kak Eril yang asli seperti siapa tahu dia itu kembarannya atau keluarganya atau bahkan hanya orang asing yang menyamar karena wajah mereka yang mirip.
Semua prespektif muncul di kepalaku begitu saja, dan aku bingung harus bersikap seperti apa saat ini, aku sungguh merasa sangat aneh dengan perubahan sikap kak Eril yang terlalu cepat dan terlihat tidak alami.
Hingga di saat aku tengah fokus menatap wajah kak Eril dengan lekat tiba tiba saja dia menghentikan mobilnya tanpa aba aba sehingga membuat badan dan kepalaku hampir terbanting ke bagian depan mobil namun untungnya dia dengan sigap menahan kepala sehingga aku tidak mengantuk ke bagian depan mobil yang keras.
__ADS_1
"Aaaaahhh....." Teriakku sambil refleks memejamkan mata.
"Elisa....awas!, Fyuhhh hampir saja kepalamu terbentur, apa kamu baik baik saja?" Tanya kak Eril dengan menaikkan alisnya untuk memastikan keadaanmu.
Aku segera mengangguk dan kembali pada posisi awal dudukku lalu berpura pura tidak melakukan apapun dan menatap lurus ke depan sampai aku tidak sadar saat itu kami tengah berada di depan lampu merah sehingga pantas saja kak Eril mengerem mendadak sebelumnya.
Aku juga merasa gugup dan malu karena takut ketahuan oleh kak Eril kalau aku sebenarnya memperhatikan dia secara diam diam selama diperjalanan sebelumnya.
"Aduhh...sial sekali bagaimana jika kak Eril mengetahui kelakuanku sebelumnya?" Gerutuku pelan sambil memegangi kepalaku sendiri.
Diam diam saat itu juga kak Eril memperhatikan Elisa dan dia hanya tersenyum tipis merasa gemas dengan tingkah Elisa tersebut.
"Gadis yang manis dan unik, kenapa aku tidak menyadari keunikan dia sebelumnya?" Gumam kak Eril memikirkan.
Lampu merah di depan telah berubah menjadi hijau dan kak Eril kembali melanjutkan perjalanan mereka dia juga tidak lupa menyuruh Elisa untuk memakai sabuk pengamannya agar kejadian seperti sebelumnya tidak terjadi lagi.
"Elisa pakai sabuk pengamannya, kau akan terluka jika mengabaikan keselamatan diri sendiri seperti itu" ucap kak Eril memberi tahu,
"O..ouhh..ahaha..iya kak aku lupa tadi, terimakasih sudah mengingatkanku" balasku dengan perasaan yang masih gugup tak karuan.
Aku sungguh sudah mempermalukan diriku berkali kali pada kak Eril hari ini, moodku sedang buruk karena kelakuan Devinka semalam dan sekarang harus menghadapi kenyataan memalukan seperti ini berkali kali, sungguh nasibku yang sangat malang, aku merasa kasihan pada diriku sendiri.
__ADS_1
Menyedihkan.