
"Oh iya iya, tapi jika aku tidak ikut mencarinya bersamamu aku akan merasa cemas terlebih dia itu punya tempramen yang buruk semakin banyak yang mencarinya akan semakin cepat menemukannya" tambah Reksa berusaha keras beralasan agar dia bisa membantu Dika mencari Ciko,
"Lalu bagaimana dengan dia, apa kau sudah lupa ha?" Kata Dika sambil merotasikan matanya,
"Aahh begini saja bagaimana jika aku telpon Devinka dia akan segera datang kemari dan menjagamu, aku harus pergi ini sangat penting bagi kami, jaga dirimu baik baik terlebih mulutmu itu ketika bicara dengan dia nanti" ujar Reksa sudah seperti ibu yang memberikan petuah pada putranya.
Aku tidak bisa menerima ucapan Reksa bagaimana dia bisa meninggalkanku setelah baru saja meminta maaf kepadaku sebelumnya, dan lebih parahnya bagaimana dia bisa mengijinkan Devinka yang menjagaku, daripada harus di jaga dengan dia lebih baik aku di tinggalkan sendiri saja oleh mereka maka itu akan jauh lebih baik untukku.
"Aishh Reksa kau ini, sudahlah untuk apa memintanya menemuiku aku tidak butuh itu. Kalau kau ingin pergi ya pergi saja" ujarku padanya dengan kesal.
Saat Reksa hendak menghampiriku tiba tiba saja lengannya di tarik oleh Dika dengan cepat.
"Eh..eh Dika lepaskan aku apa yang kau lakukan heyy lepaskan" teriak Reksa sambil menghempaskan lengannya yang di tarik oleh Dika.
Dika dengan sengaja menarik Reksa keluar dari ruanganku karena dia ingin berbicara dengan Reksa tanpa menggangguku lagi, sebab dia sudah tahu bahwa aku tidak senang atas keputusan Reksa.
"Heh, apa kau ini pria atau bukan" kata Dika pada Reksa,
"Apa maksudmu?, dan kenapa kau malah menarikku tiba tiba" ujar Reksa sambil memegangi pergelangan tangannya,
"Lebih baik kau tunggu di sini temani Elisa bukankah hanya kau yang lebih dekat dengannya dia akan lebih nyaman jika kau yang menemaninya bukan Devinka" kata Dika menjelaskan maksudnya,
"Tidak bisa, aku harus mengejar Ciko dia hanya akan mendengarkan ku, apa kau lupa itu, sudahlah aku sudah mengirimkan pesan pada Devinka dia pasti akan segera kemari dan menjaga Elisa" ujar Reksa yang masih bersih keras dengan keinginannya.
Dika tidak bisa berbuat banyak dan dia hanya bisa menuruti keinginan Reksa merekapun pergi untuk menyusul Ciko dan membawanya kembali dengan keadaan yang lebih tenang.
Sedangkan di sisi lain Devinka yang mendapatkan pesan dari Reksa saat itu dia tengah menikmati makanan di depan tv dan duduk bersantai seorang diri.
"Siapa yang mengirimiku pesan?" Gerutu Devinka saat mendengar bunyi ponselnya.
__ADS_1
Dia pun segera mengambil ponselnya tersebut dan membaca pesan dari Reksa.
"Devinka ada sedikit masalah di rumah sakit aku dan Dika harus menyusul Ciko dan kau sebaiknya pergi ke rumah sakit untuk merawat Elisa dia masih lemas dan belum pulih sepenuhnya aku takut dia kenapa napa, jaga dia dengan baik" isi pesan dari Reksa.
Devinka kesal setelah membaca pesan itu dan dia langsung melempar ponselnya begitu saja, dia tidak perduli dengan Elisa sekalipun dia tidak bisa bergerak selamanya.
"Huh, dasar Reksa kurang ajar bisa bisanya dia menyuruhku merawat musuhku sendiri, aku lebih senang kalau di menderita terus apa hubungannya denganku" gerutu Devinka sama sekali tak perduli.
Sampai beberapa saat Devinka mulai terganggu karena Reksa terus menelponnya beberapa kali, akhirnya Devinka memutuskan untuk mengecilkan volume ponselnya agar dia tidak bisa mendengar dering ponselnya lagi yang hanya akan membuat kepalanya pusing.
Namun saat tengah memegang ponsel sebuah pesan dari Reksa muncul lagi dan karena penasaran Devinka membukanya.
"Devinka, jika kau tidak menemuinya mungkin Elisa tidak akan bisa makan atau minum aku lupa tak membelikannya makanan sebelum pergi dia pasti akan kelaparan atau mungkin dia akan jatuh dan memecahkan gelas saat berusaha mengambilnya, dia akan terluka kasihan sekali Elisa, dia gadis yang malang" isi pesan dari Reksa yang sengaja menakut nakuti Devinka.
Reksa memang sudah mempersiapkan cara ini sebab dia sudah paham bahwa Devinka tidak akan menurutinya dengan mudah apalagi untuk menemani Elisa, seseorang yang selalu bertengkar dengannya di manapun dan kapan pun.
"Ahhh.... Dia pikir aku akan perduli pada gadis pembawa onar itu hanya karena dia sedang sakit, tentu saja tidak aku sama sekali tak perduli meski dia jatuh pada pecahan kaca" gerutu Devinka mematikan ponselnya.
Dia pun kembali asik menonton tv sambil mengunyah cemilan di mulutnya tapi kali ini dia sudah tidak mendapatkan ketenangan lagi pikirannya terpusat pada Elisa dan membayangkan sesuatu yang buruk terjadi pada Elisa di rumah sakit saat dia tidak ada.
"Aishhh...kenapa aku malah memikirkannya, tapi jika dia benar benar kelaparan karena aku bagaimana?" Gerutu Devinka lagi yang kebingungan,
"Tapi masa harus aku juga yang memberinya makan, sebelumnya aku juga yang memberinya makan apa aku ini penampungan orang" tambah Devinka kesal pada dirinya sendiri.
Meski terus menggerutu dan kesal Devinka akhirnya tetap pergi menemui Elisa bahkan di perjalanan dia sudah membeli seporsi bubur untuk Elisa. Hingga beberapa saat ketika sampai di rumah sakit Devinka langsung pergi menuju ruang rawat Elisa.
"Aishh kenapa aku tetap pergi menemuinya, dan kenapa aku harus membawa bubur ini untuknya" ucap Devinka merasa heran dengan dirinya sendiri.
Meski begitu dia tetap masuk ke dalam dan melihat Elisa yang tengah berusaha menggapai gelas di meja sebelah kanan, saat itu aku memang kesulitan untuk meraih gelas di sana sebab aku tak tahan ingin minum dan tenggorokanku rasanya sudah sangat kering.
__ADS_1
Sehingga aku memutuskan untuk melakukannya sendiri karena aku pikir aku bisa meraihnya namun ternyata aku salah, saat itu aku hampir saja terjatuh ke lantai dari ranjang rumah sakit yang cukup tinggi.
Namun untunglah Devinka datang menyelamatkanku dia menopang tubuhnya dan mengangkatnya kembali ke ranjang aku sempat kaget karena melihat Devinka yang tiba tiba muncul di hadapanku begitu saja.
"Arkhhh" teriakku hendak jatuh.
Aku pikir saat itu aku sudah terjatuh sebab aku menutup mataku secara spontan.
"Eh, kenapa tidak sakit bukankah aku jatuh barusan?" Gerutuku dan langsung membuka mataku lebar,
"Devinka....sedang apa kau di sini, kapan kau menolongku, eh tidak kapan kau masuk?" Tanyaku bertubi tubi.
Devinka tidak menjawab pertanyaanku dan dia malah menatapku dengan tatapan tajam dan serius, aku tidak mengerti kenapa dia menatapku sedalam itu dan seperti orang yang akan memarahiku.
"Aaahh...sudahlah, kau tidak perlu tau kenapa aku ada di sini dan ingat jangan coba coba mengambil air sendiri lagi kau bisa jatuh dan semakin terluka" bentak Devinka masih dengan suara yang keras,
"Ehh...kenapa kau bicara seperti itu padaku, apa kau mencemaskanku?" Tanyaku dengan heran.
Sebelumnya aku tidak pernah melihat dia bereaksi seperti itu ditambah dia memperingatiku sehingga wajar saja kan jika aku berpikir dia tengah mengkhawatirkan aku.
"Hah, aku mencemaskanmu?, jangan harap itu akan terjadi, aku membantumu barusan karena aku merasa kasihan jangan gr" ujar Devinka membuatku menaikkan kedua alisku.
Aku tetap masih percaya bahwa Devinka mencemaskanku karena raut wajahnya mudah sekali untuk di tebak.
"Aku yakin dia pasti tengah berusaha menyembunyikan perasaan cemasnya dariku, hah apa gengsinya sebenar ini dia tidak jauh beda dengan Ciko sialan itu" gumamku dalam hati.
Aku benar benar tidak mengerti mengapa anak anak itu memiliki gengsi yang tinggi, padahal apa salahnya dia mengatakan yang sebenarnya untuk apa menyembunyikan perasaanya sendiri, itu hanya akan membuatnya sulit dan sama saja dengan membohongi diri sendiri.
Jika dia memang mengkhawatirkan ku, aku juga tidak keberatan dengan itu karena bagiku wajar saja itu terjadi karena kami saling mengenal.
__ADS_1