Bos Ternyata Musuhku

Bos Ternyata Musuhku
Rafat


__ADS_3

Karena memikirkan Devinka aku bekerja tanpa fokus yang baik sehingga saat itu ketika aku tengah membuat salinan di mesin fotocopy, salinannya itu malah berserakan ke bawah berantakan karena aku tidak sempat menahan dan mengambil semuanya dengan benar, semuanya jatuh berserakan ke bawah dan aku yang saat itu masih melamun masih belum menyadari semua kekacauan tersebut hingga kak Eril datang ke sana untuk mengcopy berkas juga dan dia memberitahu aku segera.


"Ya ampun Elisa, kenapa bisa berantakan seperti ini?" Ucap kak Eril segera memunguti lembaran berkas yang berserakan di lantai.


Aku kaget saat baru sadar dan melihat betapa berantakannya berkas itu, dan segera panik lalu memunguti segera lembaran kertas itu secepat mungkin sambil menyusunnya dengan baik satu per satu.


"Ohh....ma maafkan aku kak aku tadi melamun, aku pikir belum selesai, maafkan aku" ucapku merasa tidak enak.


Untunglah kak Eril tidak memarahiku dia justru membantu aku mengumpulkan kembali semua berkas tersebut dan memintaku untuk segera menyusunnya karena rapat akan segera dimulai, aku segera mengangguk patuh dan aku segera menyusun semua berkasnya dengan secepat yang aku bisa.


Awalnya kak Eril juga mau membantuku namun aku segera menahannya karena terlalu malu sebab dia begitu dalam memperlakukan aku selama bekerja di tim nya bahkan dia juga membantuku mencari berita terkini yang sangat bagus dan berpengaruh dengan nilai pekerjaanku di kantor tersebut.


"Elisa sudah biar aku bantu saja, jika membereskannya bersama itu akan lebih cepat selesai" ucap kak Eril tetap mendesak,


"Tidak papa kak, aku bisa membereskan semuanya sendiri kau lanjutkan saja pekerjaan, jangan khawatirkan aku ini pekerjaan mudah kok" balasku sambil tersenyum meyakinkan dia.


Akhirnya kak Eril pun luluh dan dia membiarkan aku untuk menyusunnya sendiri sedangkan dirinya terus melanjutkan penyalinan dia di depan mesin copy kantor yang ada di ruangan tersebut.


Untungnya berkas-berkas itu mudah sekali untuk disusun karena memiliki nomor dalam tiap halamannya sehingga itu sangat membantuku dalam menyusunnya lebih cepat, aku pun bisa menyelesaikannya dalam beberapa saat, lalu segera menyerahkan berkas itu paka kak Kris untuk merisetnya dan berkas itu akan segera dipakai untuk rapat departemen dua hari ini.


Aku merasa lega disaat kak Kris sudah memeriksanya dan tidak ada kesalahan lain yang aku tinggalkan sehingga kami segera bersiap-siap untuk pergi ke ruang rafat, rafat kali ini bukan hanya dihadiri oleh departemen dua saja melainkan oleh departemen satu juga, sebab kami akan menyiapkan sebuah acara yang luar biasa dalam kasus terjadinya bencana alam di beberapa wilayah.


Ini adalah kali pertama aku menghadiri rafat besar bersama dengan kedua departemen yang hadir serta di pimpin langsung pimpinan pemberitaan kantor pusat, jujur saja saat ini aku sedikit gugup dan terus saja berusaha menenangkan diriku, aku menarik nafasku dalam dan membuang nafasku perlahan.

__ADS_1


Hingga kak Anne menghampiriku dan mengelus pundakku pelan beberapa saat.


"Elisa...semangat! Kau tidak perlu risau ini hanya rapat biasa kok, bukan CEO yang menghadirinya jadi santai saja" ucap kak Anne menenangkan aku dan memberikan semangat padaku.


Berkat ucapan kak Anne aku menjadi jauh lebih percaya diri dan mengesampingkan rasa cemas yang terus menghantui aku sebelumnya.


Kak Anne menggandeng tanganku dan dia langsung mengajakku untuk segera masuk ke dalam ruang rafat karena jam nya sudah segera dimulai.


Saat aku masuk ku lihat teman-teman departemen satu sudah duduk disana begitu juga dengan kak Kris dan kak Eril sampai ketika aku baru duduk dan kak Anne, munculah pimpinan rafat kita kali ini dan rafat segera di mulai.


Beberapa saat setelah selesai aku merasa sangat plong dan lega karena rafat di menangkan oleh departemen dua dan proyek berita kali ini akan di kelola oleh departemenku kami pun kembali ke ruangan dengan perasaan puas dan bahagia bahkan kak Eril yang terlihat jarang tersenyum kini justru terus memperlihatkan senyum manisnya tersebut.


"Aahh...aku senang sekali, kita bisa meyakinkan meneger untuk menggarap liputan berita kali ini, kita akan naik menjadi departemen satu jika terus seperti ini" ucap kak Anne begitu senang dan sangat antusias,


Aku hanya bisa tersenyum dan menerima pelukannya tersebut dengan gembira walaupun aku tidak merasa diriku memberikan hal besar di tim ini, justru malah sebaliknya aku merasa menjadi beban bagi mereka bertiga, tapi mereka selalu mengajariku dalam segala hal dan bidang.


"Elisa ayo kita rayakan di restoran mewah" ajak kak Kris yang tidak kalah antusias,


"Ehh...tidak perlu kak sebaiknya kita beristirahat dan menjaga kesehatan kita bukankah tinggal beberapa hari lagi untuk mencari data ke lapangan?" Balasku menahannya.


Mereka terdiam sejenak dan saling tatap satu sama lain, aku tahu mungkin mereka akan mengira aku terlalu kolot dan susah untuk diajak bermain-main namun ucapanku memang benar, menjaga kesehatan di saat penting begini adalah yang paling utama.


"Elisa ayolah...ini hanya makan malam saja, kau selalu menolak setiap kali ada acara bagaimana sih" tambah kak Kris mulai memaksaku.

__ADS_1


"Maaf kak tapi aku sungguh tidak bisa" balasku meminta maaf.


Alhasil karena aku tidak ikut mereka membatalkan acaranya dan aku merasa sangat tidak enak dengan hal itu.


"Ya sudah jika salah satu tidak ikut, kita tidak akan pergi" ucap kak Eril lalu langsung kembali ke meja kerjanya.


Nampak wajah kak Kris begitu lesu dan dia seperti kecewa karena sebelumnya terlihat sangat antusias untuk merayakan hal itu, aku jadi tidak tega ketika melihat raut wajahnya yang terlihat mengkhawatirkan, sehingga aku pun memutuskan untuk ikut dan meminta kepada kak Eril untuk menjadikan acara tersebut.


"Eumm...kak... Setelah aku pikirkan lagi, aku mau merayakannya. Kak Eril apa kita masih bisa merayakannya malam ini?" Tanyaku kepada kak Eril meminta persetujuan,


"Tentu saja jika kau berubah pikiran" balas kak Eril membuat aku sangat senang.


Ku lihat kak Kris dan kak Anne juga nampak begitu senang bahkan mereka menjadi jauh lebih bersemangat dengan pekerjaannya, aku hanya bisa tersenyum melihat sifat mereka yang begitu mudah untuk di tebak.


Hingga malamnya kami sudah berada di salah satu restoran yang direkomendasikan oleh kak Kris sendiri karena sejak awal memang kak Kris yang paling bersemangat dalam hal makan-makan seperti ini. Namun ada sedikit yang berbeda kali ini karena restoran yang direkomendasikan oleh kak Kris terlihat biasa saja juga tidak terlalu banyak pengunjung yang datang kesana.


Berbeda sekali dengan restoran lain yang biasa dia rekomendasi kepada kami sebelumnya, bukan hanya aku yang menyadari keanehan itu tetapi kak Anne juga merasakannya.


"Hah? Apa ini benar restorannya?" Tanya kak Anne sambil menatap ke sekeliling ruangan restoran yang tidak terlalu luas itu,


"Tentu saja, ini adalah restoran paling baik di kota ini dan restoran paling ramah kantong haha...bagaimana apa kalian menyukai tempatnya?" Balas kak Kris ditambah bertanya.


Karena menghargai usahanya dan tidak ingin menyakiti hati kak Kris aku langsung mengangguk meng iyakan ucapannya tersebut tapi Kaka Anne tidak sepertiku dia tetap bicara jujur dengan pendapatnya sendiri yang terlalu benar.

__ADS_1


"Tidak! Aku tidak menyukai tempatnya, ini terlalu apa ya.....aneh? Dan lihatlah hanya ada beberapa pengunjung disini bukankah itu seharusnya membuat kau ragu untuk membawa kami masuk ke restoran kumuh ini?" Balas kak Anne sangat apa adanya.


__ADS_2