
Aku pun segera bangkit berdiri dan memperbaiki posisi bangku ku yang menimpa kaki kak Kris.
“A..Ah baiklah, maafkan aku kak, aku sungguh minta maaf karena kejadian barusan” ucapku merasa tidak enak hati kepada kak Kris.
“Aishhh, sudahlah lagi pula itu sudah terjadi, dan kakiku sudah terlanjur lebam olehmu, lihat saja itu” ungkap kak Kris sambil menunjuk pada kakinya yang sungguh lebam cukup parah dan terlihat bekas tekanan menahan bangku barusan.
Aku sungguh kembali merasa kaget saat melihat kaki kak Kris yang bisa sampai lebam sebesar itu.
“Ohh, ya ampun, maafkan aku kak, aku sungguh tak bermaksud membuatmu sampai seperti ini” ujarku yang sangat merasa bersalah padanya.
Saat itu aku tak bisa melakukan apapun dan tak bisa menyalahkan siapapun karena kejadian tersebut memang di luar kendali dan
dugaanku.
Kak Kris hanya menatapku dengan tatapan kurang menyenangkan dan nampak dia meringis kesakitan karena kakinya yang semakin lebam dan bengkak cukup besar, aku sungguh merasa kasihan melihat keadaannya dan aku pun segera
berinisiatif untuk membantu mengobati kakinya tersebut.
“Kak sini biar aku bantu obati lukamu, kamu tunggu di sini ya,aku akan segera kembali” ujarku sambil segera bergegas terburu buru pergi ke dapur mencari kotak P3K.
Aku berlari sekencang yang aku bisa dan mengambil kotak P3K tersebut secepatnya. Lalu aku langsung menghampiri kak Kris untuk mengobati lukanya.
“Kak ayo kemari kan kakimu, aku akan mengoleskan obatnya” kataku berdiri di samping kak Kris.
Dia pun menuruti perkataanku dan mulai menyelonjorkan kaki kanannya ke atas pangkuanku dan aku segera mengoleskan obat pada kakinya itu. Di sisi lain kak Anne juga masih berada di sana dan dia hanya berdiri diam memperhatikan aku yang tengah mengobati kaki Kris dengan serius.
Sampai tiba tiba dia mulai membuka suara dan meminta maaf kepadaku karena sudah membuatku hampir terjungkal ke belakang dari bangku yang sedang aku duduki sebelumnya.
“Elisa maafkan aku, tadi aku pikir kau tidak akan sekaget itu, aku merasa tidak enak karena aku sudah membuatmu hampir celaka” ungkap kak Anne dengan rasa penuh penyesalan,
“tidak masalah kak jangan terlalu mengkhawatirkan hal itu, lagi pula aku kan baik baik saja yang ada bukankah harusnya kakak juga meminta maaf pada kak Kris karena berkat dia yang mengorbankan kakinya aku jadi selamat dari bahaya hehe” balasku diiringi senyum yang ramah.
Kak Anne pun berjalan perlahan dengan perasaan sedikit gugup menghampiri kak Kris, dia tahu betul reaksi seperti apa yang akan dia dapatkan dari kak Kris saat itu, tapi walau begitu dia tetap memberanikan diri untuk meminta maaf karena merasa sangat bersalah.
“Eu…Kris aku minta maaf ya, tadi benar benar tidak sengaja kok, kamu jangan marah denganku oke?, kita kan sudah rekan kerja sejak lama” ucap kak Anne dengan memasang wajah semanis mungkin dan penuh harapan agar kak Kris
tidak memarahinya kali ini.
__ADS_1
Tapi nyatanya mau semanis apapun kak Anne memasang wajahnya dia tetap saja tidak mendapatkan reaksi yang dia harapkan dari kak Kris hari itu.
Kak Kris menatap tajam pada kak Anne dengan kedua alis yang dia kerut kan bersama dan mata yang dia sipit kan. Saat itu aku paham betul bahwa kak Kris tengah menahan amarah dalam dirinya dan aku juga sudah menyiapkan mental dan telinga untuk mendengar amarahnya yang siap meledak kapan saja.
“ARKKKK!, KALIAN KALIAN!...” bentak kak Kris dengan wajah yang dipenuhi amarah,
Aku langsung menarik lengan kak Anne agar dia tidak berdiri terlalu dekat dengan kak Kris sebab kita tidak tahu seberapa besar emosi kak Kris saat ini.
“Kan.. kemari sepertinya ini saatnya kita mengeluarkan jurus andalan sebelum bom waktu yang ada pada tubuh kak Kris benar benar meledak nantinya” berbisik pada kak Anne,
Kak Anne mengangguk paham dan masih bisa kudengar suaranya yang kesulitan menelan salivanya sendiri, jangankan aku kak Anne saja yang sudah lama bekerja di sana bersama kak Kris tetap merasakan ketakutan yang luar biasa apalagi aku, mana ini adalah pertama kalinya aku melihat secara langsung
amarah dari kak Kris.
Kak Anne diam diam kembali membisikan sesuatu kepadaku.
“Elisa dalam hitungan tiga kita akan bersiap kabur apa kau mengerti?” bisik kak Anne padaku,
Aku pun kembali mengangguk paham dan kak Anne mulai menghitung mulai dari satu.
Di waktu bersamaan saat hitungan selesai kak Anne dan aku berlari kabur keluar dari ruangan kerja kami untuk menghindari amukan dari kak Kris.
Di saat itu juga amukan kak Kris meledak, dia berteriak sangat kencang sampai teriakannya itu bisa terdengar oleh departemen satu yang
berada di sebelah ruangan kami.
“ELISA…ANNE…AWAS SAJA KALIAN!” teriak kak Kris membuatku sangat kaget.
Namun untunglah di asat kak Kris marah dan meledakan emosinya aku dan kak Anne sudah berhasil meloloskan diri dan kami saat itu sudah berada di dalam lift dengan nafas menderu dan ngos ngosan merasakan kelelahan.
Aku berdiri sambil memegangi pegangan di dinding lift dengan lemas sedangkan kak Anne berjongkok memegangi kedua kakinya yang sama lemas nya denganku, saat lift sudah sampai di lantai bawah aku dan kak Anne justru kembali tertawa satu sama lain ketika mengingat kejadian barusan yang terjadi kepadaku dan dirinya.
“Ahaha Elisa jika di pikir pikir tadi itu lucu juga ya, haha kamu lihat kan tadi bagaimana wajah merah Kris yang menahan amarah pada kita,
aku yakin tadi dia sangat kesal haha lucu sekali wajahnya saat marah” ucap kak Anne di sela sela tawanya yang menggelegar.
Aku juga ikut tertawa karena apa yang dikatakan oleh kak Anne memang sesuai dengan apa yang terjadi pada kenyataannya.
__ADS_1
“Ahaha… iya ya kak aku saja tidak pernah mengira jika wajah kak Kris akan selucu itu ketika menahan amarah” balasku menanggapi ucapan dari kak Anne,
“iya tentu saja tadi itu sangat lucu, ehh tapi Elisa bagaimana dengan acara makan bersama kita, dia kan akan bersama kita juga” ucap kak Anne mengingatkanku.
Aku terperangah dan kaget karena baru ingat bahwa kita masih memiliki rencana makan bersama setelah pulang bekerja dan saat itu aku memeriksa jam di tanganku sudah menunjukan pukul empat tiga sore yang artinya jam kerja kantor sudah selesai. Aku dan kak Anne saling tatap satu sama lain
dengan mata terbelalak dan kaget.
“Astaga, kak sepertinya kita sudah terlambat untuk meminta maaf dan mendapatkan belas kasihan dari kak Kris” kataku pada kak Anne dengan wajah yang mulai panik,
“Aduhhh, bagaimana dong, dia pasti akan membalas perbuatan kita tadi, Elisa aku harus bagaimana sekarang?” ucap kak Anne yang sama paniknya denganku,
“Aisshhh, kak aku juga sama tidak tahu, yang pasti kita juga tidak bisa menghindarinya lagi kali ini” ungkap ku membalas ucapan kak Anne.
Kita berdua pun hanya bisa menggerutu kesal dan kebingungan karena memang tidak ada lagi yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan diri dari amukan kak Kris yang di mana sudah pasti kali ini amarah di dalam diri kak Kris akan menjadi lebih besar dan mungkin sulit untuk dipadamkan hanya dengan mengandalkan rasa belas kasihan saja.
Dugaan kami berdua sungguh tak bertahan lama hanya beberapa menit kak Kris dan kak Eril tiba, mereka keluar dari lift tepat berhadapan dengan kami berdua dan saat itu juga suasana langsung berubah canggung dan mengerikan.
Melihat kedua laki laki itu keluar dari dalam lift dengan wajah keduanya yang datar tak menunjukan ekspresi apapun aku dan kak anne sungguh merasa merinding melihatnya dan seakan saat itu tubuhku terasa menciut
dan mengecil, aku pun langsung menunduk karena takut dengan tatapan tajam dari
kak Kris.
Di saat suasana begitu tegang untunglah di sana juga ada kak Eril yang dengan cepat mengeluarkan suara sehingga memecahkan ketegangan diantara kita bertiga.
“Heh, ada apa dengan kalian? Kenapa saling menatap dengan tajam seperti itu?, apa kalian ingin mengikuti karakterku yah?” ujar kak Eril
dengan mengangkat sebelah alisnya dan merasa heran,
Saat itu bahkan idak ada yang berani mengeluarkan pembicaraan bahkan hanya sekedar untuk membalas perkataan kak Eril.
Sampai tiba tiba kak Kris sendiri yang mengeluarkan pembicaraan lebih dulu.
“Sudahlah ayo ketua tim kita pergi ke restoran yang sudah aku siapkan, di sana banyak sekali tersedia makanan laut yang lezat dan nikmat” kata kak Kris seperti dengan sengaja memperkeras suaranya membicarakan
banyaknya makanan lezat di sana.
__ADS_1