
Reksa pun cemberut merasa kesal dan dia segera keluar dari mobil lalu pergi memarkirkan nya dengan benar dahulu baru dia pergi berlari untuk membukakan pintu bagi Dika yang kesulitan karena menggendong Elisa.
"Hey..... Cepatlah kau pikir menggendong itu enak?" Ucap Dika yang sudah tidak tahan lagi.
Dia merasa sangat pegal di tangannya karena menyetir sendiri selama perjalanan dan sekarang harus menggendong Elisa, dia memang senang bisa menggendongnya namun tidak bisa di pungkiri tangannya memang sudah sangat pegal sekali.
Reksa dan Dika bahkan sampai ketiduran di sofa ruang depan karena mereka semalam beristirahat di sana sambil menonton televisi dahulu sedangkan aku bangun cukup pagi dan saat keluar dari kamar lalu melihat mereka tidur sembarang seperti itu aku langsung saja tertawa dan segera menutupi mulutku karena takut membangunkan tidur mereka.
Aku pergi kembali ke kamar membawa bantal dan selimut, aku berikan bantal itu untuk Reksa dan ku pakaikan selimutnya pada Dika, setelah itu aku segera pergi ke dapur dan memasak untuk sarapan kami.
Hingga ketika hidangannya baru saja hampir matang Dika dan Reksa mulai terbangun karena mencium bau makanan yang sangat lezat dari dapur.
"Eummm bau apa ini perutku jadi lapar" ucap Reksa sambil segera bangkit terduduk,
"Aahhh... Iya sepertinya makanan lezat" balas Dika yang juga segera bangun.
Mereka sama-sama kaget bersamaan karena melihat ada selimut dan bantal di sana sedangkan badan mereka juga terasa sakit karena tidur di tempat yang minim seperti itu.
"Ehh....kenapa ada selimut, Reksa apa kau menyelimuti aku semalam?" Ucap Dika bertanya dengan heran,
"Tidak aku kan juga tidur denganmu, justru ku pikir kau yang memberikan bantal ini untukku" balas Reksa sama bingungnya.
Mereka lupa kalau di rumah itu juga ada Elisa hingga mereka langsung berlari ke dapur karena mereka pikir pelayan rumah Dika yang memasang dan memberikan mereka selimut juga bantalnya ketika mereka tidur.
"Atau jangan-jangan?....." Ucap Dika sambil menatap mencurigai.
Mereka berdua langsung bangkit dan berlari terburu-buru menuju dapur hingga ketika melihat ternyata itu Elisa yang tengah memasak.
"Aahh.... Elisa? Aishh.. aku lupa kalau Elisa juga ada disini aahhh....Ku pikir siapa" gerutu Dika sambil segera duduk di depan meja makan,
"Dasar kau bagaimana kau bisa lupa jika ada Elisa juga" tambah Reksa memarahi Dika.
Padahal dirinya sendiri juga sama tidak mengingatnya, aku hanya tersenyum kecil melihat dua orang itu yang selalu bertengkar hanya karena hal-hal kecil dan segera aku sajikan nasi goreng dengan telur mata sapi diatasnya kepada mereka karena aku tahu mereka pasti sangat lelah sebab harus pulang malam tadi begitu saja.
Apalagi melihat mereka tidur di luar seperti itu membuat aku merasa tidak tega dan berterima kasih karena berkat mereka berdua aku bisa menjadi lebih baik dan melupakan Devinka sejenak.
"Sudah... Kalian ini pagi-pagi sudah ribut, ini ayo makan" ucapku sambil menyajikan piring berisi nasi goreng kepada mereka berdua,
"Wahh.... Elisa ku pikir kau tidak bisa memasak karena selalu sibuk di perusahaan" ucap Reksa sambil mengambil piring porsinya,
Aku hanya tersenyum saja dan melihat mereka mulai mencicipi makananku dan untungnya mereka menyukai makanan buatanku itu terlebih Reksa yang makan dengan sangat lahap, aku merasa sangat senang jika makanan buatanku bisa di nikmati oleh orang lain, itu menandakan bahwa makananku layak untuk di makan.
"Eummm..... Ini enak sekali, sungguh nasi goreng terenak yang pernah aku rasakan, terimakasih sudah membuatkannya untukku Elisa" ucap Reksa sambil terus memakannya dengan lahap,
"Iya, tapi kau harus memakannya pelan-pelan, tidak ada juga yang akan merebut makananmu" balasku sambil tertawa kecil melihat bagaimana Reksa makan seperti orang yang kerasukan.
Begitu juga dengan Dika yang tertawa melihat Reksa seperti itu hingga akhirnya Reksa pergi kembali ke kediamannya dan aku diantarkan oleh Dika ke perusahaan, aku berniat untuk mengundurkan diri hari ini dan sudah memberitahu Reksa juga Dika tentang hal itu.
Namun disaat aku hendak keluar dari mobil, Dika menghentikanku terlebih dahulu, dan dia mencoba bertanya kembali padaku tentang keputusanku itu.
"Elisa tunggu, apa kau yakin akan berhenti dari pekerjaanmu? Bukankah kau sangat menyukainya dan perusahaan itu adalah tempat kerja impianmu sejak dulu" ucap Dika bertanya lagi padaku,
__ADS_1
"Aku yakin Reksa, meski aku sangat menyukainya aku ingin masuk dan bekerja dengan jujur, aku bisa masuk ke perusahaan itu berkat bantuan dari Devinka sebelumnya dan aku tidak mengetahui hal itu, sekarang aku dan Devinka bukan siapapun lagi aku tidak ingin memiliki keterikatan dan balas Budi apapun padanya, jadi keputusan ini sudah menjadi yang terbaik bagiku" ucapku menjelaskannya,
"Jika kau memang sudah yakin aku tidak masalah tapi kalau kamu ingin bekerja bersamaku aku akan merasa senang dengan itu" tambah Dika menawarkan pekerjaan padaku.
Aku hanya tersenyum dan mengangguk padanya, lalu segera keluar dari mobilnya dan dia pergi dari tempat itu, aku segera masuk dan sudah memegangi surat pengunduran diri di tanganku, langsung saja aku pergi ke departemen hubungan dan segera mengajukan surat pengunduran diri itu.
Sampai ketika selesai jam istrinya, tiba-tiba saja Devinka datang ke ruangan kerjaku dia membuka pintu begitu saja dan mencariku hingga membuat kak Anne dan kak Kris menatap heran padaku karena CEO sampai turun tangan langsung untuk menemui aku seperti itu.
"Brakkk... Dimana Elisa?" Ucap Devinka sangat keras.
Aku yang saat itu tengah menyerahkan bekas pada kak Eril langsung berbalik dengan kaget melihat Devinka yang tiba-tiba saja datang ke ruanganku dan dia langsung menarik tanganku dengan kuat dan membawa aku ke ruangannya saat itu juga.
"Euhhh... Devinka lepaskan.... Lepaskan aku, apa yang kau inginkan dariku, lepaskan!" Bentakku berontak hingga dia akhirnya melepaskan genggaman dari tanganku,
"Elisa apa ini? Aku tidak akan menyetujui surat pengunduran dirimu." Ucapnya dengan tegas,
"Aku akan tetap pergi dengan ada atau tidaknya surat itu, aku tidak perlu izin darimu untuk pergi kemanapun kan? Apa kau lupa bahwa kita bukan siapa-siapa lagi sekarang hah?" Balasku membentak dia dengan keras.
Devinka tetap tidak membebaskan aku dengan mudah, disaat aku hendak pergi meninggalkan ruangan itu, dia justru kembali menahan tanganku dan dia tidak membiarkan aku pergi dari sana, dia tetap meminta aku untuk tidak mengundurkan diri.
Sedangkan disisi lain Dika yang saat itu tertahan sedikit kemacetan di jalan dia tidak sengaja berpapasan dengan mobil mewah milik seseorang yang dia ketahui.
"Ehh... Bukankah itu Veli? A...apa Veli.... Kenapa dia ada di negara ini?" Ucap Dika dengan kaget.
Dia pun segera memutar balikkan mobilnya dan segera mengikuti mobil yang dikemudikan oleh Veli tersebut hingga dia melihat mobil itu berhenti di depan perusahaan Devinka, melihat itu Dika langsung mengerti sesuatu.
"Wahh... Gawat kenapa dia malah berhenti di depan perusahaan Devinka, atau jangan-jangan mereka sengaja bertemu untuk menyakiti Elisa? Aaahh ini tidak bisa dibiarkan" ucap Dika sambil segera turun dari mobilnya dan dengan cepat dia mengikuti wanita bernama Veli yang mengenakan pakaian yang glamor tersebut.
Hingga sampai di depan ruangan Devinka dan Veli langsung membuka pintu ruangan itu dengan cepat.
Teriakkannya itu membuat Devinka dan Elisa yang ada di dalam ruangan sangat kaget tidak menentu, namun saat itu untungnya Devinka dan Elisa tidak tengah berpegangan tangan atau melakukan kontak fisik lainnya.
Devinka sangat kaget ketika melihat Veli yang tiba-tiba saja datang ke kantornya dengan pakaian yang glamor dan cukup seksi di tambah dia langsung datang memeluk Devinka begitu saja di hadapan Elisa.
"Aaahh.... Aku sangat merindukanmu sayang, apa kamu juga merindukanku?" Ucap Veli sambil melingkarkan kedua tangannya pada leher Devinka dan dia bersikap sangat manja.
Sedangkan Devinka juga tidak bergerak sama sekali dan hanya diam mematung saja, aku sudah tidak tahan lagi melihat pemandangan yang sangat menyebalkan ini sehingga aku langsung saja pergi berpamitan kepada mereka saat itu juga.
"Maaf tuan, saya parmisi agar tidak mengganggu kalian dan tolong tandatangani surat pengunduran diri saya secepatnya" ucapku sambil membungkuk dan segera keluar dari ruangan tersebut.
Aku berusaha menarik nafas dalam untuk mengontrol emosi di dalam diriku, namun sayangnya aku tetap gagal untuk menahan diriku agar tidak menangisi orang seperti dia, aku keluar dengan menangis dan segera pergi ke kamar mandi karena tidak ingin ada orang yang mengetahui kesedihanku ini, namun disaat aku baru saja keluar dari ruangan itu tiba-tiba saja aku lihat Dika sudah berdiri di hadapanku.
"Elisa.... Kau ada di dalam barusan?" Ucap Dika kaget melihat Elisa keluar dari sana dengan menangis,
Aku tidak bisa menahan tangisku lagi saat melihat Dika dan dia langsung memelukku sambil menepuk punggungku pelan.
Sedangkan di sisi lain Devinka langsung mendorong Veli untuk menjauh dari dirinya dan dia segera berlari mengejar Elisa dan Veli mengejar dia di belakang, saat melihat di depan pintu ruangannya ternyata Elisa tengah berada dalam pelukan Dika dan itu membuat Devinka semakin kecewa dan kesal.
"Oh... Bagus, pada awalnya aku pikir aku salah namun melihat kalian berpelukan di depan ruanganku itu sudah cukup menjadi bukti yang kuat untukku" ucap Devinka membuat aku segera berbalik menatapnya.
Hingga tidak lama kemudian seorang wanita yang tadi memeluk Devinka juga datang dari belakangnya dan dia memotong ucapanku yang berusaha menjelaskan tentang aku dan Dika pada Devinka saat itu.
__ADS_1
"Devinka ini tidak benar, aku dan Dika tidak...." Ucapku terpotong,
"Sayang kenapa kau meninggalkanku? Ehh... Dika sudah lama kita tidak bertemu, sayang jadi kau keluar untuk menemui Dika aku pikir kau mengejar gadis itu" ucap wanita tersebut sambil bergelayutan di tangan Devinka dengan manja,
"Iya aku keluar untuk melihat sahabatku Dika, dan wanita itu adalah kekasihnya, mereka akan bertunangan di hari pernikahan kita, hingga kita bisa merayakan kebahagiaan bersama" ucap Devinka sambil menatapku dengan tajam.
Sedangkan wanita centil di sebelahnya terlihat begitu bahagia mendengar kabar tersebut, dan dia nampak sangat antusias sendiri.
"Wah... Benarkah itu Dika, oh aku sangat senang sekali mendengarnya, kalau begitu aku harus pergi membawa kesayanganku kembali ke dalam semoga hubungan kalian juga seromantis hubunganku dengan Devinka, byee... Ayo sayang" ucap wanita itu pergi menarik Devinka kembali masuk ke dalam ruangannya.
Aku hanya bisa mengusap air mataku dengan kasar dan Dika langsung membawa aku pergi dari sana tanpa berkata-kata lagi, aku juga hanya mengikutinya hingga kami berdua berada di dalam mobil dan Dika langsung memukul stir mobilnya cukup keras.
"Brukk.... Dasar Devinka sialan itu, dia tetap tidak mendengarkan penjelasan dari kita dan si Veli sialan itu aarghh.... Mereka sama saja!" Bentak Dika sangat kesal.
Aku hanya bisa diam membisu dengan wajah yang datar dan aku memberanikan diri untuk membuat keputusan pada Dika.
"Dika ayo kita pacaran" ajakku sambil menatapnya dengan serius.
Mendengar itu Dika sangat kaget dan dia tersentak ke belakang dengan matanya yang terbuka lebar, dia tidak menduga bahwa Elisa akan mengajaknya berpacaran seperti itu dan sangat gamblang.
"A... A...apa? Kau yakin apa kau gila yah?" Ucap Dika sedikit gugup dan dia tidak tahu harus menjawab apa,
"Aku serius Dika, bukankah kau menyukaiku? Dan ibumu juga baik padaku, lalu kenapa aku tidak menjadi pacarku saja, ayo kita bertunangan sama seperti yang Devinka katakan" ucapku pada Dika dan wajah gugup Dika langsung berubah menjadi serius dengan kedua alis yang dikerutkan.
"Jadi kau mengajakku berpacaran hanya karena Devinka yang mengatakannya? Iya?" Ucap Dika terlihat agak kecewa,
"Tidak.... Bukan karena dia, tapi aku ingin memberikanmu kesempatan, jika kamu bisa membuat aku menyukaimu maka aku akan memilihmu dari pada siapapun di dunia ini" balasku sudah memutuskan.
Meskipun sebenarnya aku melakukan itu karena Devinka dan tidak terima melihat dia menyelingkuhi aku selama ini, tapi disisi lain aku memang ingin memberikan kesempatan pada Dika, karena aku tahu dia menyukaiku.
"Tapi... Elisa aku... Aku..." Ucap Dika dengan gugup,
Aku tidak ingin mendengar penolakkan atau alasan lain dari Dika hingga saat itu juga aku langsung mengecup bibirnya sekilas.
"Much.... Terima saja aku tidak ingin penolakkan" ucapku setelah memberikan ciuman pertamaku padanya.
Aku langsung kembali duduk dengan tegak dan merasakan jantungku berdetak dengan kencang, mungkin itu juga yang di rasakan oleh Dika dengan mata yang terbuka lebar dan tangan yang bergetar, dia perlahan memegangi bibirnya dan tidak menduga bahwa barusan dia sudah merasakan ciuman singkat dari seorang Elisa, wanita cinta pertamanya dan yang selama ini dia sukai secara diam-diam.
Dika bahkan hingga merasakan sulitnya menelan saliva sendiri karena masih kaget dengan kejadian itu, bahkan pipinya itu juga merona, aku yang melihat Dika tetap diam membuat aku merasa sedikit canggung dan suasana di dalam mobil terasa panas seketika.
"Ekmm... Dika sampai kapan kau akan terus menatapku begitu dan memegangi bibirmu, aku tahu itu mungkin ciuman pertama bagimu tapi itu juga ciuman pertamaku jadi kita tidak sama-sama rugi bukan?" Ucapku padanya,
"Elisa aku akan membuatmu mencintaiku bagaimana pun caranya" ucap Dika yang langsung bertekad dan dia tiba-tiba saja mengecup pipiku.
Lalu dia langsung menyalakan mobilnya danulai mengendarai mobil itu, sedangkan aku berbalik menatapnya dengan perasaan yang kaget tidak karuan.
"Aahhh.... Jantungku hampir saja copot, aishh... Dika kau membalasku kan?" Ucapku dengan sebal menatapnya,
"Itu bukan balasan tapi hukuman yang setimpal, siapa suruh kau mengambil ciuman pertamaku lebih dulu, setidaknya jika kau ingin melakukan itu, biar aku yang melakukannya lebih dulu. Aku ingin melamarmu dengan resmi aku ingin aku yang mencium kau lebih dulu, dan aku ingin menjadi orang pertama dalam hidupmu yang mengetahui semuanya tentangmu" ucap Dika membuat aku tertegun.
Jujur saja aku sedikit gugup dan merasa tersentuh dengan ucapan yang Dika katakan kepadaku, aku juga menyesal kenapa tidak sejak dulu aku memberikan kesempatan kepadanya, padahal sudah jelas dari semua yang dia lakukan kepadaku selama ini.
__ADS_1
Dia selalu membuat aku tertawa disaat aku merasa sedih, selalu melindungiku dalam setiap keadaan dan dia selalu memberikan aku minuman gratis setiap saat, dia sempurna untuk menjadi seorang pasangan namun hatiku sudah lebih dulu di curi oleh Devinka.
"Dika jangan bicara seperti itu, kau membuatku mati kutu" ucapku dengan menatap lurus dan menghindari kontak mata dengannya.