Bos Ternyata Musuhku

Bos Ternyata Musuhku
Bertengkar


__ADS_3

Aku mulai mengerjakan mataku perlahan dan saat aku sudah membuka mataku dengan sempurna aku tidak melihat siapapun di hadapanku da pandanganku langsung beralih ke tempat lain di mana saat aku aku mendengar teriakan dua orang manusia yang sangat mengganggu sekali.


Saat aku lihat dugaanku ternyata memang benar itu adalah teriakkan Devinka dan Reksa yang tengah asik bermain game berdua sambil duduk di sofa dengan berbagai macam gaya.


"Aaahhh...sudah ku duga itu memang mereka, dasar kekanak kanakan!" Gerutuku sambil segera bangkit berdiri.


Aku menghampiri mereka dan hendak menanyakan pada Devinka mengenai tugas yang kami kerjakan sebelumnya.


"Heh, Devinka bagaimana apa tugasnya sudah selesai aku mau pulang" ucapku menanyakannya.


Devinka tidak membalas ucapanku karena dia malah terus asik bermain game bersama Reksa, jangankan menjawab ucapanku dia bahkan tidak menengok atau sekedar melirik ke arahku, aku mencoba menanyakannya lagi untuk yang ke dua kalinya dan berharap dia akan menjawab pertanyaan dariku kali ini.


"Devinka apa aku sudah boleh pulang sekarang?" Tanyaku lebih keras dari sebelumnya,


Dia masih tetap asik bermain game dan masih mengabaikan aku, ingin rasanya saat itu aku membenturkan kepalanya ke tembok dengan keras agar otaknya itu bisa sedikit berpungsi dan bisa mendengarkan ucapanku sebentar saja.


Kesabaranku sudah hampir habis dibuatnya, aku langsung berteriak membentak dia dengan keras sambil menarik stik game yang ada di tangannya dengan paksa.


"Heh, DEVINKAAAAA!, aishh...dasar kau sialan eughhh...berikan stik gamenya padaku" teriakku sambil langsung menarik stik game itu dari tangannya,


Devinka tidak memberikan aku untuk merebut stik game dari tangannya dan dia terus saja mempertahankan stik game itu dengan menariknya lebih keras dan berteriak kepadaku untuk melepaskannya namun aku tetap pada pendiriannya dengan tidak membiarkan dia mendapatkannya, sampai saat itu terjadilah tarik menarik diantara aku dan dia.


"Heh, apa apaan kau ini lepaskan!, Apa yang kau lakukan heyyy..." Teriak Devinka sambil menarik stik game nya dariku,


"Tidak....aku tidak akan melepaskannya eughhh" balasku yang tak kalah kuat menarik stik game itu.

__ADS_1


Aku sungguh emosi dan terus menarik stik game itu sekuat tenaga untuk merebutnya dari Devinka, namun tiba tiba saja Devinka melepaskan stik game itu dari genggamannya sehingga aku kaget dan terjatuh ke belakang cukup keras sampai membuat pinggulku sangat sakit karena terpentok ke lantai.


"Aaaa....brukk...." Suaraku yang jatuh ke lantai.


"Ahahaha.....rasakan itu, siapa suruh kau berani melawanku" ucap Devinka yang tertawa dengan puas melihat aku jatuh dengan posisi duduk di lantai dan meringis memegangi b*kongku.


Aku sangat kesal dan rasa benciku seakan meningkat pesat saat melihat dia tertawa seperti itu, aku langsung bangkit berdiri dan melemparkan stik game itu pada Devinka dengan keras, dan dia berhasil menangkap stik game itu dengan tepat.


"Aku membencimu, dan semakin membencimu!" Ucapku padanya lalu langsung mengambil tas slempang milikku dan langsung pergi dari tempat itu dengan perasaan kesal, emosi bercampur menjadi satu.


Reksa yang melihat pertengkaran ku dengan Devinka dia hanya melihat ke arah aku dan Devinka hingga saat aku baru saja ingin meraih gagang pintu keluar Reksa berlari ke arahku dan dia menahan lenganku agar tidak pergi dengan perasaan kesal seperti ini.


"Elisa tunggu kamu boleh pergi dari sini tapi tidak sekarang, aku tahu kamu sangat kesal pada Devinka tapi coba tenangkan dirimu dulu aku khawatir jika kamu pergi seorang diri" ucap Reksa sambil menahan lenganku.


"Lepaskan aku akan tetap pergi dan kau tidak berhak menahanku" ucapku sambil membanting pintu dengan keras dan pergi dari sana secepat yang aku bisa.


Meskipun saat itu Reksa masi sempat mengejarku dan menarik lenganku, aku tetap menghempaskan lengannya berkali kali karena apa yang dilakukan oleh Devinka kepadaku barusan sudah sangat keterlaluan dan aku tidak bisa mentoleri perbuatannya lagi kali ini.


"Elisa ayolah jangan seperti ini kamu harus bisa mengelak Devinka memang keras kepala harusnya kamu mengalah darinya kita ini masih satu tim" ucap Reksa kepadaku,


"Reksa bagaimana kamu bisa membela dia yang sudah jelas kamu melihatnya secara langsung bahwa dia dengan sengaja membuatku jatuh, kamu pikir aku harus terus mengalah dan mentoleri semua sikapnya hanya karena dia memang terlahir dengan karakter seperti itu, iya?, Lalu bagaimana dengan aku, aku juga terlahir seperti ini kenapa harus aku yang terus memahaminya dan mengalah darinya?" Ucapku dengan keras dan wajah yang sudah aku tahan agar tak terlihat menyedihkan di hadapan Reksa.


Aku sudah berusaha keras menahan air mata agar tidak jatuh dan kini aku sudah berada di titik paling sulit bagiku sehingga aku menghempaskan lengan Reksa yang menahanku dengan kuat lalu segera berlari menghentikan taxi yang lewat dan segera masuk ke dalamnya lalu pergi meninggalkan tempat itu secepatnya.


Reksa berteriak memanggilku namun taxi yang aku tumpangi sudah melajut dengan cepat meninggalkan tempat itu, aku menumpahkan semua air mata dan kekesalan yang sudah aku tahan sedari tadi.

__ADS_1


"Hiks...hiks...hiks...keterlaluan, Reksa dan Devinka sama saja, mereka benar benar keterlaluan kali ini hiks...hiks...aku membencinya...." Ucap ku sambil mengucek pakaianku dengan kuat dan melampiaskan semua emosiku di dalam taxi.


Selama perjalanan aku terus menggerutu kesal bahkan sampai terus memukul kursi mobil itu berkali kali untuk melampiaskan kekesalan ku pada Devinka dan Reksa.


Sedangkan di sisi lain Reksa berdecak kesal sambil menggaruk belakang kepalanya merasa frustasi karena tidak berhasil menahan Sesilia, dia pun kembali ke basecamp menemui Devinka yang masih terduduk diam di sofa dengan wajah tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Reksa menghampirinya dan langsung menegur Devinka dengan keras.


"Devinka kenapa kau berbuat seperti itu pada Elisa, bagaimana mana jika terjadi sesuatu pada Elisa?" Ucap Reksa dengan kedua alis yang dia kerut kan hingga hampir menyatu.


Devinka hanya balik menatap Reksa tanpa perduli sedikitpun dan dia malah mengabaikan teguran dari Reksa dengan bangkit berdiri pergi mengambil air dingin di lemari es lalu meneguknya dengan santai.


Reksa rasanya sudah sangat frustasi dan tidak tahu lagi harus dengan cara apa dia memberi tahu Devinka bahwa apa yang dia lakukan pada Elisa barusan adalah sebuah kesalahan besar bahkan sampai membuat Elisa marah besar.


"Dev, apa kamu tidak merasa bersalah sedikitpun sudah membuat Elisa jatuh dengan sengaja seperti itu?" Bentak Reksa kembali bertanya,


"Tidak, untuk apa juga aku merasakan itu, lagian salah dia sendiri kenapa tiba tiba menggangguku di saat bermain game, wajar saja jika aku merasa kesal padanya dia juga marah menarik stik game ku tiba tiba, itu kan tidak sopan" balas Devinka yang masih keras kepala.


"Arghhhhh....kau memang pantas di benci oleh Elisa karena sikapmu itu, aku sudah turun tangan dan tidak bisa membantumu lagi kali ini, aaahhh kau benar benar keterlaluan Devinka!" Ucap Reksa yang sudah sangat kesal dan menyerah pada Devinka.


Reksa langsung pergi meninggalkan tempat itu dengan perasaan yang tak kalah kesal bahkan dia juga membanting pintu sama kerasnya dengan Elisa sebelumnya.


Sedangkan Devinka masih saja tidak mengerti dan tetap bersikap tenang meskipun Reksa sudah ikut merajuk kepadanya.


"Ehh ..kenapa sih dengan orang orang hari ini sensi sekali, padahalkan aku hanya bercanda biasa saja" gerutu Devinka sambil menaruh botol minumnya di atas meja.

__ADS_1


__ADS_2