
Devinka terus saja uring-uringan tidak jelas sambil bersandar di samping mobilnya dengan kunci mobil yang dia mainkan di tangannya hingga tidak lama ketika Reksa muncul keluar dari pintu perusahaan dia langsung melemparkan kunci di tangannya itu ke arah Reksa dan menyuruh Reksa untuk menangkapnya dengan segera.
"Nahh....itu dia, hey Reksa tangkap ini kau yang menyetir sekarang" teriak Devinka sambil melemparkan kunci di tangannya ke arah Reksa,
"Eh....eh...Devinka aishh sialan kau aku hampir saja jatuh untuk berhasil menangkapnya" gerutu Reksa merasa sangat kesal dan jengkel.
Walau Reksa jengkel dengan kelakuan Devinka tetapi dia tetap saja menuruti apa yang dikatakan oleh Devinka, dia membawa box itu ke bagasi mobil dan segera menaruhnya dengan benar lalu mulai masuk ke dalam jok kemudi dan segera mengemudikan mobil dengan kecepatan normal menuju kediaman Devinka.
Saat di perjalanan Reksa mulai bertanya kembali kepada Devinka mengenai keputusannya untuk pindah ke kota A.
"Eummm Dev, kapan kau akan memberitahu Ciko dan Dika mengenai kepergian mu ini?" Tanya Dika kepadanya,
"Tidak tahu, lagi pula masih ada waktu sekitar lima hari untukku membereskan semua hal disini, jadi sepertinya aku tidak akan memberitahu mereka lebih awal" balas Devinka dengan wajah yang terlihat santai.
Reksa hanya bisa menghembuskan nafas lesu dia tau meski Devinka terlihat menjawab pertanyaan darinya dengan sikap yang begitu santai tapi itu tidak berarti perasaannya sesantai wajah yang dia perlihatkan kepadanya saat ini.
"Devinka aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu dan ini tentang Elisa" ucap Reksa yang tiba-tiba saja teringat dengan sosok Elisa.
Devinka langsung menoleh ke arah Reksa dengan menaikkan kedua alisnya secara bersamaan dan tatapannya terlihat begitu kebingungan.
"Ada apa?" Balas Devinka yang sangat penasaran,
"Kau yakin tidak menyukainya, aku rasa perlakuanmu padanya berbeda dengan apa yang keluar dari mulutmu itu" tambah Reksa mengutarakan pertanyaan yang mengganjal dihatinya sejak lama,
__ADS_1
"Jika aku menyukainya memang kau pikir aku bisa memiliki dia seutuhnya?, Tentu saja tidak kan, hah aku hanya bisa melihat dia bahagia dengan pria lain dan mungkin pria itu Dika" balas Devinka sambil menunjukkan senyum yang miris.
Reksa benci ketika melihat Devinka menyerah lebih awal seperti ini apalagi untuk seorang wanita yang jelas-jelas dia cintai, maka dari itu ketika melihat Devinka menjawabnya begitu Reksa langsung marah dan membentak Devinka cukup keras tanpa dia sadari sebelumnya karena itu keluar begitu saja dari dalam mulutnya.
"Devinka sejak kapan kau menjadi pecundang seperti ini?, Jika kau memang menyukainya kau harus memperjuangkan dia apapun resikonya dan apapun rintangannya, kau tidak bisa membiarkan dia dengan pria lain termasuk Dika. Apa kau mengerti?" Bentak Reksa begitu serius,
"Haha....Reksa ada apa denganmu kenapa kau selalu membela si chicken itu, apa kau juga menyukainya?, Aku akan lebih senang jika dia bersamamu mungkin kita bisa berbagi nanti" balas Devinka yang semakin membuat Reksa naik darah dan sangat kesal.
Reksa yang terlanjur emosi dan sudah tidak bisa memaklumi kelakuan Devinka dia langsung menginjak pedal rem mobil tersebut dan menolah ke arah Devinka dengan mengatakan perkataan yang begitu tegas terhadapnya.
"Devinka kau benar-benar pecundang yang tidak tahu diri, aku menyesal membiarkan Elisa dekat dengan orang sepertimu, kau memang tidak pantas untuk wanita manapun.....brakkkk" ucap Reksa sambil langsung keluar dari mobil dengan membanting pintu mobil sangat keras.
Reksa langsung berjalan ke depan dan menghentikan taxi yang lewat lalu dia pergi meninggalkan Devinka di jalanan sana seorang diri, Reksa sengaja melakukan itu berharap Devinka bisa berpikir bahwa apa yang barusan dia katakan sudah sangat keterlaluan, bahkan saking kesalnya Reksa menggerutu terus selama perjalanan.
"Dugh...aishh.... Reksa kau bahkan membela gadis ayam itu" gerutu Devinka sangat kesal.
"Maafkan aku Reksa tapi menjauhi Elisa lebih awal akan lebih baik daripada menyakitinya di akhir" tambah Devinka dengan menghembuskan nafas lesu dan dia segera pergi dari tempat itu.
Devinka melajukan mobilnya sangat cepat hingga akhirnya sampai di kediaman dia dan segera mengurus barang-barang yang akan dia kirimkan ke negara A lebih dulu, meski sebenarnya Devinka sendiri merasa berat untuk meninggalkan negara ini dengan semua kenangan yang dia miliki bersama teman-temannya termasuk dengan Elisa, tetapi apalagi yang bisa dia lakukan, ibunya sudah berkehendak dan dia tidak bisa berontak sebab ayahnya yang menjadi ancaman.
"Seandainya ibu tidak menjadikan ayah sebagai ancaman untukku, aku juga tidak akan Sudi menurutinya seperti boneka begini" gerutu Devinka dengan memasukkan pakaiannya ke dalam koper.
Di sisi lain Reksa pergi menemui Ciko di kediamannya dan dia datang dalam keadaan yang di penuhi emosi sehingga membuat Ciko yang saat itu tengah bermain piano langsung berhenti sebab terganggunya melihat wajah Reksa yang di tekut serta murung sejak awal dia masuk ke dalam ruangan itu.
__ADS_1
"Cih....Heh bocah ada apa denganmu? Apa kau di marahi ibumu lagi karena menjadi anak pembangkangan?" Tanya Ciko sambil berjalan mengambil minuman dingin ke dekat lemari es,
"Kau teruskan saja permainanmu itu aku hanya ingin mencari ketenangan" balas Reksa yang masih tidak mau bicara kepada Ciko.
Ciko hanya tersenyum singkat lalu dia segera menghampiri Reksa dan memberikannya sebotol minuman dingin.
"Ini cepat ambil, kau butuh cairan agar lebih tenang" tambah Ciko sambil mengulurkan tangannya ke arah Reksa.
Reksa hanya melihat dengan tatapan sinis ke arah Ciko lalu dia tetap mengambil minuman yang diberikan oleh Ciko, dia juga langsung membuka minuman itu dan meneguknya dengan kasar seperti orang yang tidak minum selama berabad-abad.
"Wah...wah...ternyata kau memang membutuhkan cairan yah" ucap Ciko menggodanya,
"Cih....sialan kau" balas Reksa yang akhirnya bisa sedikit tersenyum.
Setelah melihat raut wajah Reksa yang jauh lebih baik dari sebelumnya, Ciko pun mulai merangkul pundaknya dan berbicara kepada Reksa untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi hingga dia tangan ke sini dan menemui dirinya.
"Oke, karena sekarang kau sudah bisa tersenyum cepat katakan apa yang membawamu kesini?" Tanya Ciko dengan menaikkan kedua alisnya bersamaan disaat Reksa menatapnya.
Reksa menghembuskan nafas kasar dan dia mulai menceritakan mengenai kepergian Devinka yang akan pindah dalam waktu lima hari lagi ke kota A, serta ucapan Devinka yang akan mengikhlaskan Elisa untuk Dika.
Mendengar itu tentu saja Ciko juga sangat kaget dan dia refleks merekatkan giginya dengan kuat dan tidak sadar telah memegang botol minuman di tangannya hingga botol yang terbuat dari alumunium itu menjadi penyokong hanya dalam beberapa saat. Reksa juga sempat kaget karena melihat Ciko yang untuk pertama kalinya memperlihatkan emosi di dalam dirinya seperti itu, padahal sebelumnya Ciko hampir tidak pernah terlihat marah sedikitpun.
Dan dia adalah orang yang paling tenang serta paling dewasa diantara yang lainnya, namun kini ketika mendengar berita tentang Devinka dia bisa menjadi sangat sensitif seperti itu sampai membuat Reksa yang melihatnya terheran-heran.
__ADS_1