Bos Ternyata Musuhku

Bos Ternyata Musuhku
Devinka Gelap Mata


__ADS_3

Sementara di sisi lain Ciko dan Reksa juga merasakan kekecewaan yang sama sehingga mereka langsung pergi meninggalkan ruangan itu dengan segera.


Hingga beberapa hari kemudian aku sudah keluar dari rumah sakit dan Devinka sudah resmi menjadi pacarku saat ini, aku juga baru mengetahui jika ternyata Devinka adalah bos besar di kantorku, aku sangat kaget pagi itu dimana mengetahui ternyata aku tidak di pecat dari perusahaan dan kak Anne yang memberitahu aku bahwa tuan muda Devinka yang mempertahankannya.


Saat aku mendengar namanya aku sudah mulai curiga bahwa itu Devinka yang aku kenal juga hingga akhirnya pada pagi itu aku melihat dengan mata kepalaku sendiri dimana Devinka datang memimpin perusahaan secara langsung, aku pun segera pergi ke ruangannya untuk menanyakan semua hal kepada dia.


"Devinka kenapa kau menyembunyikan semua ini dariku?" Tanyaku kepadanya sedikit kesal,


"Maaf Elisa, aku sengaja menyembunyikannya karena saat itu aku memang belum menjadi apapun, dan sekarang aku baru ingin memberitahumu segalanya tentangku" ucapnya sambil tersenyum padaku.


Aku pun tidak terlalu mempermasalahkan mengenai Devinka yang menyembunyikan identitas aslinya padaku selama ini hingga aku pun mengetahui bahwa dialah orang yang memasukkan aku ke dalam perusahaan itu dan membuat aku untuk terus bertahan disana.


"Elisa tolong jangan marah padaku, aku sudah menjelaskan semuanya kepadamu bukan" ucap Devinka setelah menjelaskan semuanya.


Aku mengangguk dan memaafkan dia dengan mudah karena menurutku kebohongan nya itu tidak terlalu mengganggu bagiku, aku juga masih bisa memakluminya karena aku tidak ingin ada perdebatan atau pun pertengkaran diantara aku dan dia sebab kami masih baru saja bertemu selama beberapa hari.


"Eumm... Baiklah aku memaafkanmu, aku tidak menyangka saja jika ternyata selama ini bos adalah musuhku, pria yang paling aku benci ini juga malah mengambil hatiku, aku sangat senang sekarang karena kau menepati janjimu Devinka" ucapku sambil memeluknya.


Kesenangan itu sangat tidak bisa aku bayangkan, aku menjadi jauh lebih bersemangat dan kami juga sering makan siang bersama atau pergi ke restoran mewah bersa anak The Boys lainnya.


Walaupun aku perhatikan selama beberapa hari ini wajah Dika dan Reksa telah sangat berubah semenjak kedatangan Devinka, dan entah kenapa perasaanku selalu berpikir Devinka telah berubah dia sudah tidak seperti Devinka yang dulu, meskipun kali ini dia terlihat jauh lebih perhatian kepadaku.


Namun setelah satu Minggu menjalani hubungan dengan Devinka aku memang merasa senang dan mendapatkan banyak kenangan indah bersama dengannya, mulai pergi ke taman hiburan, bermain di pantai dan berbelanja, itu juga kami tidak pergi berdua saja sebab ada Dika dan Reksa yang selalu mengikuti kami kemanapun.


Sedangkan Ciko hanya datang sesekali karena sejak dulu dia selalu menjadi orang yang paling sibuk diantara yang lainnya.


Hingga kali ini disaat kami memutuskan untuk menginap di sebuah villa yang dekat dengan pantai dan Devinka terlihat begitu was-was juga wajahnya terlihat tidak tenang hingga aku mulai menghampirinya karena mengkhawatirkan keadaan dia.


"Devinka ada apa denganmu kenapa kamu terlihat gelisah sedari tadi?" Tanyaku merasa cemas,

__ADS_1


"Ah... Aku baik-baik saja, kenapa kau belum tidur cepat tidur ini sudah malam chicken" ucapnya sambil mengusap lembut pucuk kepalaku.


Aku tersenyum senang saat mendengar Devinka akhirnya memanggil aku dengan sebutan chicken itu, meski dulu aku sangat membenci sebutan itu namun sekarang aku sungguh merindukannya dan sebutan dari Devinka kala itu yang membuat aku menyukainya.


"Devinka itu adalah pertama kalinya kamu mengatai aku chicken lagi setelah sekian lama kita berpisah, aku sangat senang mendengarnya" ucapku sambil tersenyum senang.


Devinka hanya tersenyum kecut sekilas dan dia langsung mengangkat telponnya lalu pergi meninggalkan aku begitu saja.


"A..ahh..iya iya, aduh Elisa aku harus mengangkat telponnya, kau pergilah tidur segera" ucap Devinka langsung meninggalkan aku.


Entah kenapa saat itu aku merasa dia seperti mengabaikan aku dan hatiku merasa sedikit sakit, jangankan untuk tidur aku justru malah semakin tidak bisa tertidur dan mataku sama sekali tidak mengantuk, aku pergi keluar dari villa dan pergi ke pantai untuk sedikit berjalan-jalan dan menenangkan diriku.


Disisi lain Dika yang saat itu hendak membuang sampah ke luar dia tidak sengaja melihat Elisa yang berjalan keluar sendirian sehingga dia mengikutinya secara diam-diam karena dia merasa khawatir dengan Elisa.


"Kemana dia keluar sendiri malam-malam begini?" Ucap Dika mencemaskannya sambil terus mengikuti Elisa dari belakang secara diam-diam.


"Apa dia menangis?" Gerutu Dika menduganya.


Dika pun segera berjalan menghampiri Elisa dan duduk di sampingnya, aku yang menyadari keberadaan seseorang di sampingku segera aku mengangkatnya kepala dan ternyata itu adalah Dika.


"Dika sedang apa kau berada di luar malam-malam seperti ini?" Tanyaku dengan heran,


"Bukankah seharusnya aku yang bertanya seperti itu kepadamu?" Balas Dika balik bertanya.


Aku hanya tersenyum dan langsung memalingkan pandangan ke depan dengan cepat.


"Aahhh... Aku hanya berjalan-jalan saja untuk mencari udara segar karena tidak bisa tertidur" ucapku kepadanya.


Dika hanya mengangguk dan dia mengaku bahwa dia juga melakukan yang sama dengan apanyang aku lakukan sehingga ekspresi wajahnya itu membuat aku sedikit tertawa.

__ADS_1


"Aku juga sama sepertimu" balasnya sambil mengangguk dan melipat bibirnya,


"Aishh .. wajahmu itu lucu sekali haha" balasku sambil tertawa lepas dengannya.


Aku tidak sadar jika saat itu dari belakang ada Devinka yang juga menyusulku karena dia tidak menemukan aku di kamar tempatku menginap.


Tapi dia tiba-tiba saja datang dengan emosi dan mengira aku dan Dika memiliki hubungan di belakangnya dia tidak berpikir panjang dan langsung mengangkat keras pakaian Dika lalu melemparkan tonjolkan ke wajahnya cukup keras hingga membuat Dika tersungkur ke tanah.


"Dika kau.... Beraninya pergi berasa pacarku di belakangku.... Rasakan ini bugh" ucap Devinka yang dikuasai emosi lalu langsung melemparkan tinjauannya.


Dia tidak mendengarkan penjelasan yang baru saja ingin aku katakan kepadanya.


"Devinka apa yang kau lakukan, ohh... Dika apa kamu baik-baik saja, ayo aku bantu" ucapku langsung membantu Dika untuk berdiri dan mengalengkan tangannya pada pundakku.


Aku melakukan itu karena melihat Dika yang terluka dan dia terlihat lemas tidak bersama sedangkan Devinka malah menduga yang tidak-tidak kepadaku dan Dika dia juga malah semakin berpikiran ngawur dan tidak jelas.


"Oh.... Kau membelanya yah, bagus Elisa bagus sekali, ternyata kau memang sama saja, kau adalah wanita murahan yang mau di pakai oleh lelaki manapun aku tidak sudi berpacaran dengan wanita sepertimu lagi" ucap Devinka membuat aku sakit hati ketika mendengarnya,


"Devinka apa yang kau bicarakan, tega sekali kau memfitnahku seperti itu, aku sama sekali tidak ada hubungan apapun dengan Dika dan kau sudah salah paham" balasku berusaha menjelaskannya.


Seakan sudah terbakar api emosi dan cemburu Devinka tetap tidak mendengarkan aku dia kembali menghina aku dan mengatai aku sebagai perempuan yang tidak baik dan untuk kedua kalinya itu melukai hatiku lagi.


"Aarrtrgjhh.. aku tidak percaya dengan ucapanku aku sudah meninggalkanmu sangat lama tidak mungkin kaut setia padaku bukan, sekarang aku melihatnya dengan jelas kau bersa dia di saat aku meninggalkan mu sebentar saja, kau memang j*Lang!" Bentak Devinka sambil menunjuk wajahku.


Aku tertegun dan air mata mulai keluar dari pelupuk mataku, aku tidak sanggup untuk menahannya lagi karena terlalu menyakitkan bagiku, dan Dika segera bangkit dengan sisa-sisa energi yang dia miliki lalu dia membalas Devinka dengan satu tinjuan yang mengenai wajahnya juga.


"Beraninya kau mengatai pacarmu sendiri seperti itu, rasakan ini bughh.... Itu untuk penghinaan yang kau lontarkan pada Elisa.... Bughhh... Dan ini untuk fitnah yang kau berikan padaku" ucap Dika memberikan dua tinjuan sekali Gus pada Devinka.


Lalu dia langsung menarik tanganku dan membawa aku pergi dari sana dengan cepat.

__ADS_1


__ADS_2