
Aku sungguh kebingungan dan merasa resah sendiri, sedangkan ponselku terus
berdering dengan keras sehingga membuat rekan kerjaku mungkin terganggu dengan
suara dering ponselku itu.
“A….AHH,
iya kak aku akan mengangkatnya dahulu” jawabku sambil pergi menjauh dari sana.
Aku menarik nafas dalam, lalu membuangnya perlahan sampai akhirnya baru bias
mengangkat panggilan dari Reksa tersebut.
“Hallo ada apa?” tanyaku padanya,
“Elisa jangan lupa nanti pulang kerja kita kumpul di depan perusahaan, aku akan
menunggumu” ujar Reksa begitu saja,
“Eh… Re..Reksa maafkan aku sepertinya aku tidak bias karena masih tidak enak
badan, bisakah kita melakukannya besok, lagi pula masih ada besok banyak waktu
untuk kita bias menyelesaikannya “ ujarku terpaksa berbohong padanya.
Sebenarnya aku tidak berniat melakukan itu, aku juga khawatir Reksa tidak
akan mempercayaiku tapi memang tidak ada cara lain yang bias aku lakukan karena
aku juga tidak mungkin pergi ke dua tempat berbeda dalam satu waktu, alhasil
tentu saja aku harus membatalkan salah satu rencana yang sudah mereka tawarkan
untukku.
Dan untuk saat ini aku tidak mungkin menolak tawaran dari rekan kerjaku karena dulu saat aku pertama kali masuk ke dalam departemen ini aku sudah pernah menolak tawaran dari mereka yang berniat untuk mengadakan pesta penyambutan karyawan baru untukku.
Jika sekarang aku kembali menolak tawaran dari merek aku hanya takut mereka menjadi semakin jauh dariku dan bukan tidak mungkin jika selanjutnya mereka akan menjaga jarak
dariku, itu akan membuatku semakin sulit untuk bisa mewujudkan mimpiku sebagai
reporter terkenal disana, setidaknya aku bisa bekerja di sana sebagai karyawan
baru dan mengenakan kalung tanda pengenal yang bisa aku banggakan kepada orang
orang yang telah meremehkan ku di masa lalu maupun yang selalu memandangku
rendah saat di sekolah, hanya karena aku seorang anak yang di besarkan di pati
asuhan kumuh dan sudah terbengkalai untuk waktu yang lama.
Setelah aku menolak Reksa dengan sedikit kebohongan yang aku buat akhirnya Reksa
mengijinkan untuk membatalkan rencana kerja kelompok bersamaku dan Devinka hari
ini.
“Oh, baiklah jika kamu masih merasa belum cukup baik, kita masih bisa menyelesaikan tugasnya besok’ ujar Reksa yang ternyata bisa dengan
__ADS_1
mudah mempercayai ucapanku,
“Terimakasih ya Reksa,kamu memang yang paling mengerti dengan keadaanku”
“Haha.. tentu saja aku inikan pria sejati yang tidak akan mengecewakan apalagi membuat sedih para perempuan di luar sana” balas Reksa yang malah dengan percaya dirinya merasa dia paling baik sebagai laki laki.
Aku hanya bisa menanggapinya dengan sedikit senyum garing untuk menghargai kebaikan yang dia lakukan kepadaku sebelumnya. Jika bukan karena itu aku juga sangat muak mendengar ke narsis san dirinya itu.
“Ahaha… iya iya terserah kau saja, kalau begitu sudah dulunya aku kan masih
perlu beristirahat” ujarku yang sudah tak tahan mendengar suaranya itu,
“Oke jangan lupa tetap jaga kesehatanmu itu jangan terlalu bekerja keras di
sana lagipula kita itu hanya karyawan magang jadi kamu tidak wajib terlalu
mengeluarkan banyak energi untuk departemen tidak berguna itu” ungkap Reksa
nampak mementingkan sekali soal kesehatan ku.
“Tentu saja, terimakasih sudah memberikan perhatian padaku, lain kali kau tidak usah melakukannya karena aku tidak sama seperti temanmu
itu” balasku menjawabnya dengan kuat,
Karena aku tak ingin memperpanjang lagi obrolan dengannya aku pun langsung mematikan panggilan lebih dahulu, sebab jika bukan aku yang melakukannya sudah bisa di pastikan Reksa akan terus memperpanjang obrolan di telpon dan itu hanya akan memperlambat waktuku.
Awalnya aku memang sedikit kesal pada Reksa namun ketika mendengar seberapa perhatiannya dia ke padaku barusan, bahkan jika bisa dikatakan dia adalah orang kedua setelah ketua panti yang pernah berkata bahwa aku harus menjaga kesehatanku dengan baik.
Selain dari mereka tidak ada lagi yang memperdulikan ku,
walau biasanya ada Lili yang senantiasa berada di sampingku ketika aku tengah
sakit, sedih, bahkan saat aku terpuruk sekalipun. Namun sekarang dia telah
Lebih menyakitkannya lagi aku sadar dia pergi karena aku,
seandainya dia tidak berteman denganku mungkin sejak lama dia tidak akan
mendapatkan kesulitan seperti ini dalam hidupnya, atas kepergiannya aku sungguh
merasa bersalah padanya.
Memikirkan Seli aku menjadi sangat sedih dan tertunduk lesu
dalam waktu bersamaan, saat aku berjalan lesu menuju kursi kerjaku, tiba tiba
kak Anne dating menghampiriku dan ucapannya berhasil membuatku kaget tak karuan
sampai aku hampir jatuh terjungkal ke belakang.
“ELISAAA!” teriak kak Anne sambil mencondongkan tubuhnya ke
atas mejaku,
Karena itulah aku sangat kaget dan terperangah sampai
kehilangan keseimbangan tubuhku sendiri.
“ARKKKKKKK! Teriakku kaget dan reflex menutup mataku”
__ADS_1
Saat itu aku sudah sangat pasrah pada nasibku, apapun yang
terjadi padaku mungkin itu adalah karma atas perbuatanku yang sudah membohongi
Reksa dengan berpura pura sakit sebelumnya. Tapi rupanya tuhan masih memberikan
sebuah keberuntungan untukku karena di saat aku hampir terjungkal ke belakang
kak Kris yang duduk tepat di sebelahku dengan sigap berhasil menahan kursi yang
aku duduki dengan kakinya, sehingga aku tidak sampai benar benar terjungkal ke
belakang.
Tidak tahu apa yang akan terjadi ke padaku jika sampai
kak Kris tak sempat menyelamatkan aku dan kuris sialan itu.
Saat kejadian itu aku masih tetap menutup mataku dan tidak
berani membukanya karena mendengar teriakan dari kak Anne yang begitu keras sampai
hampir membuat telingaku sakit sekali.
“AARKKK” teriak kak Anne memekikkan telinga semua orang yang
ada di ruangan tersebut.
Namun beberapa saat setelah suara kak Anne aku tidak mendengar apapun dan anehnya tubuhku tidak merasakan sakit sama sekali padahal saat itu aku pikir aku sudah terjatuh, bahkan saking takutnya, aku malah
bergumam dan berpikir kalau mungkin sja aku sudah mati.
“Eh..kenapa aku tidak merasakan sakit sama sekali ditubuhku?” gumamku dalam hati merasa sangat heran.
Sampai suara bentakkan dari kak Kris menyadarkanku.
“ELISAAAA… sampai kapan kau akan terus membuat bangku
sialan mu itu berada di atas kakiku, aishhhh ini sakit sekali dasar kau!” bentak
kak Kris dengan suara yang sangat kencang,
“Eh?, ternyata aku selamat?” ucapku baru sadar dan baru membuka mataku,
“Cepat minggir Elisa kakiku akan hancur jika kau terus menindihnya dengan berat badanmu yang sangat boros itu!” teriak kak Kris dengan sorot mata tajam dan merah menatap ke arahku menahan amarah di dalam hatinya.
Aku pun segera bangkit berdiri dan memperbaiki posisi bangku
ku yang menimpa kaki kak Kris.
“A..Ah baiklah, maafkan aku kak, aku sungguh minta maaf karena kejadian barusan” ucapku merasa tidak enak hati kepada kak Kris.
“Aishhh, sudahlah lagi pula itu sudah terjadi, dan kakiku sudah terlanjur lebam olehmu, lihat saja itu” ungkap kak Kris sambil menunjuk pada kakinya yang sungguh lebam cukup parah dan terlihat bekas tekanan menahan bangku barusan.
Aku sungguh kembali merasa kaget saat melihat kaki kak Kris
yang bisa sampai lebam sebesar itu.
“Ohh, ya ampun, maafkan aku kak, aku sungguh tak bermaksud membuatmu sampai seperti ini” ujarku yang sangat merasa bersalah padanya.
__ADS_1
Saat itu aku tak bisa melakukan apapun dan tak bisa menyalahkan siapapun karena kejadian tersebut memang di luar kendali dan
dugaanku.