Bos Ternyata Musuhku

Bos Ternyata Musuhku
Di terima bekerja


__ADS_3

Aku kaget dan langsung tersadar, tapi aku tidak bisa memberitahu yang sebenarnya kepada mereka sehingga aku langsung menutupinya.


"Ahh, tidak....aku tidak sedang mencari siapapun" ucapku segera tersenyum menjawab mereka.


Setelah selesai menikmati makan siang bersama kak Kris dan kak Anne aku segera pergi dari perusahaan dan masih terus memikirkan mengenai masa depanku selanjutnya di perusahaan tersebut, aku sudah sangat berharap dan bahagia sebelumnya karena bisa sampai di tahap wawancara, tapi setelah mendengar wawancara dua orang pelamar lainnya tadi, aku mulai merasa tidak percaya diri.


Hingga ketika aku tengah duduk di dalam bus menuju kediamanku aku mendapatkan panggilan telpon dari nomor yang tidak aku kenal dan saat aku mengangkatnya, ternyata itu panggilan dari kak Eril, aku baru tahu jika itu nomor ponsel utama kak Eril karena selama ini aku hanya mengetahui nomor panggilan di kantornya.


"Ah ...kak Eril ya rupanya, ada apa kak?" Tanya aku dengan sedikit gugup,


"Begini da yang perlu aku bicarakan kepadamu, jadi bisakah kita bertemu di taman kota sekarang?" Ujarnya membuatku kaget dan merasa sedikit keheranan,


"A..ahhh...iya bisa, bisa kak aku akan kesana sekarang" ucapku langsung menyetujuinya,


"Baiklah aku akan menunggumu" balasnya membuatku merasa senang.


Entah kenapa aku selalu merasa senang ketika mendapatkan kabar dari kak Eril, apapun kabar yang dia berikan kepadaku aku selalu merasa senang karena dia sudah aku anggap sebagai kakakku sendiri, rasanya sangat menyenangkan bisa memiliki teman yang bersahaja dan sefrekuensi sepertinya, makanya aku sangat senang tiap kali bertemu dengannya.


Aku pun langsung turun dari bus dan pergi menuju taman kota, dengan hati senang dan gembira segera aku berjalan terburu-buru sambil tersenyum ceria dengan berlari kecil menuju taman kota, hingga sesampainya disana aku terus melihat ke segala arah mencari keberadaan kak Eril di sekitar sana, sampai tidak jauh dari tempatku berdiri aku mulai melihat kak Eril tengah berdiri di dekat sebuah bangku taman yang ada disana.


Aku langsung berlari bersembunyi di balik pohon yang cukup besar di dekat sana.


"Aaahh ...itu dia, aku harus memastikan penampilanku rapih dan baik" ucapku sambil segera merapihkan rambut serta riasan di wajahku,

__ADS_1


Hingga setelah kurasa rapih dan sudah rapih segera aku kembali berdiri dan menenangkan diriku hingga aku berjalan perlahan menghampirinya dengan menyentuh rambutku dan aku singkapkan ke belakang telinga, hingga aku segera menyapa kak Eril dengan lembut seperti biasanya.


"Ekhmm...hallo kak" ucapku sambil menaruh tanganku ke belakang dan tersenyum ke arahnya,


Kak Eril langsung berbalik menatapku dan dia juga membalas senyumanku sama manisnya seperti sebelumnya, aku sungguh merasa sangat senang melihat senyuman manisnya yang selalu membuatku merasa gembira setiap saat.


"Ayo Elisa, kita duduk dahulu disini" ucap kak Eril mempersilahkan.


Aku pun segera mengangguk dan duduk bersampingan dengannya di bangku taman tersebut, karena kak Eril belum mengatakan apapun sejak kami duduk disana aku pun langsung menanyakannya lebih dulu kepada dia karena aku sudah tidak sabar dan sangat penasaran dengan apa yang akan di sampaikan oleh kak Eril kepadaku.


"Eumm...ada apa kak, tumben sekali kamu mengajakku bertemu di taman begini" ucapku menanyakannya,


"Oh, begini aku hampir saja lupa, aku hanya ingin mengucapkan selamat kepadamu karena sudah bergabung dengan departemen dua lagi" ujar kak Eril membuatku langsung terperangah.


"Tunggu maksudmu apa kak, aku tidak mengerti,"


"Elisa kamu diterima di perusahaan CTN group dan kamu akan menjadi anggota departemen dua lagi," balasnya menjelaskan,


"A...apa benarkah?, Wahh aku tidak menyangka bagaimana aku bisa diterima padahal wawancaraku sangat berantakan tadi, kak kau tidak bercanda kan?" Tanyaku tidak menyangka.


Aku sangat kaget dan senang bercampur menjadi satu, tapi setelah melihat anggukan dari kak Eril aku semakin percaya bahwa apa yang dikatakannya memang sebuah kebenaran, aku tidak tahu lagi bagaimana caraku menggambarkan rasa syukur dan kebahagiaan di dalam diriku saat ini, ditambah kak Eril yang langsung memberikan sebuah kalung tanda pengenal yang sebelumnya pernah aku miliki.


"Tada.... ini akan kembali ke pemiliknya, ambilah Elisa dan selamat bergabung kembali" ucap kak Eril dengan memberika kalung tanda pengenal itu padaku.

__ADS_1


Aku langsung mengambilnya dan memeluk kartu tanda pengeydi kali tersebut dengan perasaan bahagia, kami pun berpisah setelah dia memberikan kalung itu dan memberitahuku untuk mulai bekerja ke esokan paginya.


Aku terus berjalan dengan senang dan berjingkrak kegirangan sambil mencium kartu itu yang sudah aku sayangi sejak lama, dengan bekerja di perusahaan yang menggaji karyawannya tinggi tentu saja aku pasti bisa pindah dari kosan kumuh itu dan bisa mencari apartemen sewaan yang jauh lebih baik serta lebih layak untuk ku tinggali, setidaknya aku bisa tidur di tempat yang lebih nyaman kemudian, tidak seperti saat ini yang setiap malam hanya bisa tidur beralaskan tikar sampai membuat tulang-tulang di tubuhku terasa patah setiap kali bangun di pagi hari.


Sedangkan disisi lain Devinka yang tengah berada dikediamannya dia terus mendapatkan desakkan dari ibunya untuk segera kembali ke negara A secepatnya namun Devinka terus saja beralasan bahwa dia belum bisa menguasai bisnis dengan sepenuhnya dan terus meminta ibunya untuk memberikan lebih banyak waktu lagi terhadapnya.


Tetapi sepertinya nyonya Merisa sudah mengetahui yang sebenarnya sehingga dia tetap tidak bisa memberikan tambahan waktu lagi bagi Devinka dan Devinka hanya memiliki waktu satu hari lagi untuk mempersiapkan dirinya sebelum benar-benar pergi ke negara A untuk waktu yang lama dan tidak tahu kapan akan kembali.


Setelah menutup telpon dari ibunya Devinka hanya bisa menghembuskan nafas dengan lesu dan dia segera menghubungi Reksa, berniat mengajaknya pergi keluar untuk menenangkan dirinya.


"Reksa datang ke cafe Dika denganku aku ingin meminum anggur untuk menenangkan diri" ucap Devinka yang membuat Reksa sangat kaget.


Sebelumnya Devinka sama sekali tidak pernah mengonsumsi minuman seperti itu tetapi mendanger Devinka menginginkannya untuk pertama kali itu membuat Reksa semakin yakin bahwa Devinka tengah berada dalam titik terendahnya, Reksa pun mulai panik dan dia segera bergegas pergi menuju kediaman Devinka.


"Brakkk.....Devinka...apa kau baik-baik saja,.....hey Devinka!" Teriak Reksa mendobrak pintu rumah Devinka.


Saat itu Devinka baru menuruni tangganya dan dia melihat Reksa dengan kemeja yang berantakan serta keringat bercucuran di wajahnya membuat Devinka mengerutkan keningnya merasa heran.


"Heh, ada apa denganmu apa kau berlari untuk sampai kemari kenapa berantakan seperti itu?" Tanya Devinka dengan santai setelah membuat Reksa begitu cemas dan panik.


Reksa membuka matanya lebar dan dia merasa sedikit kecewa ketika melihat Devinka masih baik-baik saja, bukan dia jahat atau mengharapkan sesuatu yang buruk terjadi kepadanya, hanya saja Reksa sudah mengorbankan pekerjaannya sendiri untuk sampai ke rumah tersebut bahkan dia lupa untuk memakai sepatunya, dan berlari sekencang yang dia bisa ketika baru sampai di kediaman Devinka bahkan dia sampai menabrak tanaman hias di samping rumah Devinka sebelumnya.


"Aishhh....kenapa kau baik-baik saja?" Tanya Reksa dengan kesal.

__ADS_1


__ADS_2