
Devinka keluar dari kantor dan segera melajukan mobilnya ke sembarangan tempat sampai dia berhenti di pinggir jalan, lalu dia mulai membuka kembali ponsel Elisa dan menyalakan ponsel tersebut, hal pertama yang membuat Devinka kaget adalah ponsel Elisa itu tidak dikunci dan dia bisa membuka semua fitur di dalamnya dengan leluasa.
"Hah... Apa dia seceroboh ini?, Bahkan ponselnya pun tidak di kunci benar benar cewek bo*oh" gerutu Devinka memakai Elisa.
Devinka mulai membuka aplikasi chating di dalam ponsel Elisa dan dengan penasarannya dia hanya melihat apakah Elisa menyimpan nomor ponselnya atau tidak, dan ternyata setelah mencari tahu Elisa memang tidak menyimpan nomor ponsel Devinka dan hanya ada nomor Reksa di dalam ponselnya itu.
Devinka merasa sangat kesal dan dia lagi lagi menggerutu merutuki Elisa habis habisan.
"Aishh...dasar cewek ayam, kenapa dia tidak menyimpan nomorku benar benar keterlaluan padahal semua wanita tergila gila denganku, bagaimana bisa hanya dia yang terlihat acuh padaku, benar benar aneh!" Gerutu Devinka penuh kekesalan.
Devinka terus saja menggerutu tiada habisnya hanya karena nomornya tidak di simpan oleh Elisa, alhasil dia sendiri segera memasukkan nomornya pada ponsel Elisa dan dia mengubah wallpaper ponsel tersebut dengan wajahnya.
Devinka benar benar mengutak ngatik ponsel Elisa dan dia melihat banyak foto Elisa ketika dia masih kecil bersama anak anak panti lainnya, melihat semua itu Devinka mulai berpikir jika Elisa mungkin akan merasa sangat sedih jika ponselnya tidak dia kembalikan.
"Pantas saja tadi dia sangat panik dan terus mencari ponselnya mungkin karena kenangan ini yang cukup berharga untuknya" ujar Devinka sambil terus menggeser foto di dalam ponsel tersebut.
Meski Devinka sudah berniat untuk mengembalikan ponsel itu segera kepada Elisa namun dia masih cukup penasaran mengenai chat yang ada di dalam ponsel tersebut, dia pun membukanya satu persatu meskipun dia tahu perbuatannya itu tidak baik.
"Jika aku membukanya ini kan privasi dia, tapi aku sangat penasaran....aaahhh sudahlah lagian aku hanya membacanya sedikit saja, hanya untuk memastikan apa dia memiliki pasangan atau tidak iya hanya itu saja, dia juga tidak akan mengetahuinya" ungkap Devinka bicara sendiri.
Dia mulai membaca dan melihat pengirim pesan di dalam ponsel Elisa dan tidak menemukan apapun hanya ada tiga nomor pria di dalam ponsel tersebut yakni Reksa, kak Kris dan kak Eril, Devinka yang sudah mengetahui siapa ketiga pria itu untuk Elisa dia merasa lega setelah mengetahui bahwa Elisa tidak memiliki pasangan.
Tapi saat dia selesai memeriksa ponsel Elisa dan merasa lega dengan semua kepenasaranan yang ada di dalam hatinya sedari tadi, kini justru dia mulai sadar bahwa dia sudah terlalu jauh untuk menuruti kepenasaranan dirinya pada Elisa.
"Eihhh....kalo di pikir pikir untuk apa aku merasa penasaran apa dia memiliki pasangan atau tidak, itu kan tidak ada urusannya denganku hah....aku pasti sudah tidak waras karena penasaran dengan hal tidak penting seperti itu" ucap Devinka yang baru sadar dengan dirinya sendiri.
Dia pun langsung menaruh ponsel Elisa ke dalam laci mobilnya dan kembali melajukan mobilnya menuju ke perusahaan lagi.
__ADS_1
Sedangkan di sisi lain Elisa yang akhirnya berhasil menyelesaikan semua tugasnnya dengan cepat dia langsung berdiri sampai berteriak keras hingga mengagetkan kak Kris juga kak Anne yang berada di sampingnya.
"Yeahhh .....akhirnya selesai juga hah" teriak Elisa cukup keras dan tanpa aba aba,
"Astaga...Elisa apa kau baru saja kesurupan ha?" Tanya kak Kris merasa heran dan syok,
"Ehh...maaf kak aku terlalu bersemangat" balasku sambil tersenyum canggung dan sedikit tersipu malu.
Kak Anne hanya menggelengkan kepala dengan tingkahku itu lalu dia kembali melanjutkan pekerjaannya begitu pula dengan kak Kris sedangkan aku segera menghampiri Kak Eril untuk meminta izin kepadanya agar bisa pulang lebih awal hari ini.
Awalnya aku sedikit canggung dan ragu untuk meminta izin kepada kak Eril soalnya saat itu kak Eril nampak tengah serius dengan pekerjaannya di depan laptop bahkan matanya hampir tidak berkedip dalam waktu yang lama, tapi mengingat betapa penting ponsel tersebut untukku aku terus berusaha memberanikan diri untuk menghampirinya dengan perlahan.
Aku dekati dia selangkah demi selangkah dan memperhatikan dia diam diam sambil menunggu waktu yang tepat untuk memulai pembicaraan kepadanya.
"Aduhh ...bagaimana aku berkata kepada kak Eril dia terlihat begitu dingin aku takut dia akan memarahiku karena terlalu banyak izin padahal baru juga aku menjadi karyawan magang, aduhh bagaimana jika dia memberikan nilai yang buruk di laporanku nanti...." Gumamku yang terus merasa cemas dan sudah berpikiran sangat jauh.
Aku berdiri dengan perasaan gundah gulana dan meremas kedua lenganku sampai dikagetkan dengan ucapan kak Eril yang tiba tiba saja berbicara kepadaku.
"E..eh?, Kak dari mana kau tahu aku ada di sini?, Padahal aku kan tidak berbicara apapun apa aku sudah mengganggumu yah?" Balasku merasa cemas,
"Tidak kau tidak menggangguku dan lain kali jika ingin berbicara denganku langsung sampaikan jangan malah berdiri mematung di situ karena kau merusak pemandangan ku untuk memantau dua karyawanku di sana" balas kak Eril sambil menunjuk ke arah meja kak Anne dan kak Kris,
"O..ohh..iya kak, maafkan aku" jawabku dengan gugup.
Aku tidak mengerti dengan apa yang dimaksudkan oleh kak Eril tapi yang penting saat ini aku sudah bisa memulai pembicaraan dengannya walaupun awalannya sangat tidak menyenangkan seperti ini.
"Kemari kau berdiri terlalu jauh dan katakan apa yang ingin kau bicarakan denganku" ujar kak Eril yang seperti memiliki mata batin.
__ADS_1
"Hah dia benar benar hebat bisa menebak seperti itu" gumamku dalam hati.
Aku pun segera mengatakan niatku menemuinya ke sana dengan sangat hati hati karena takut menyinggung perasaannya.
"Eumm...begini kak aku kehilangan ponselku sebelumnya jadi aku ingin mencarinya sekarang dan aku ingin izin agar bisa pulang lebih awal karena aku juga sudah menyelesaikan semua pekerjaan dan tugas yang kakak berikan padaku sebelumnya" ucapku mengatakannya dengan jujur.
Kak Eril terdiam dan menatapku cukup lama selama beberapa saat hingga membuatku merasa heran dan sedikit cemas.
"Kenapa dia malah diam saja, apa dia akan marah denganku?" Gumamku merasa bingung dan cemas sendiri.
Karena aku orangnya tidak sabaran jadi aku memutuskan untuk menanyakan kepastiannya sekali lagi, meski aku sendiri cukup takut saat mengatakannya.
"Kak...jadi bagaimana?, Apa aku sudah boleh pulang sekarang, jika aku tidak pergi mungkin ponselku tidak bisa aku temukan lagi, itu sangat berharga untukku jadi aku tidak rela jika kehilangan ponsel itu begitu saja" ucapku padanya penuh harapan.
Kak Eril nampak menghirup udara cukup panjang dan membuatnya perlahan lalu mulai menjawab ucapanku.
"Ya, baiklah kau boleh pergi sekarang tapi ingat kau harus pastikan pekerjaanmu sudah benar benar kamu selesaikan" balas kak Eril yang akhirnya mengijinkanku untuk pulang lebih awal.
Aku sangat senang dan senyum lebar langsung terpancar dari wajahku.
"Aahhh...benarkah, haaa terimakasih banyak kak Eril kau memang yang terbaik, dan tenang saja semua pekerjaanku sudah benar benar aku selesaikan, terimakasih kak kalo begitu aku pergi dulu, permisi kak hehe" ucapku kegirangan sambil segera pergi dengan terburu buru dari sana.
Kak Anne dan kak Kris yang melihat aku pergi dengan terburu buru dan wajah yang happy merasa hanya menatapku keheranan sambil mengerutkan kedua alisnya bersamaan.
"Ketua tim apa yang sudah kalian bicarakan sampai anak itu kelihatan bahagia sekali?" Tanya kak Kris penasaran,
Kak Eril yang malah membahasnya dia hanya menaikkan kedua alisnya berpura pura tidak tahu apapun dan malah menyuruh kak Kris untuk kembali fokus menyelesaikan tugasnya.
__ADS_1
".....Cepat selesaikan saja tugasmu itu" ujar kak Eril yang membuat kak Kris sedikit kesal karena dia tidak di beri tahu alasan mengapa Elisa pergi dengan sebahagia barusan,
"Huuh, kau ini benar benar manusia berhati es batu kali yah, nanya begitu saja kau tidak mau menjawabku menyebalkan" jawab kak Kris kesal dan kembali pada laptopnya.