Bos Ternyata Musuhku

Bos Ternyata Musuhku
Berkemas


__ADS_3

Setelah memberikan nasehat dan sedikit pencerahan kepada Dika, Ciko pun segera pergi meninggalkan tempat itu dan dia sengaja memberikan sedikit waktu luang kepada Dika agar dia bisa menenangkan dirinya dan berpikir dengan jernih setelah dia tenang.


"Ya sudah kalau begitu kau tenangkan saja dirimu dahulu disini, aku akan kembali jika kau sudah tenang" ucap Ciko sambil menepuk sebelah pundak Dika dan segera pergi keluar dengan segera.


Dika terus saja duduk sambil menunduk dengan kedua tangan yang dia tangkup kan dan menahan jidatnya yang mungkin saat itu terasa pusing olehnya, Ciko hanya memperhatikan untuk terakhir kali sebelum dia langsung menutup pintu tersebut dan pergi segera menuju kediamannya.


Sedangkan disisi lain Devinka merasa heran karena Reksa mengikutinya sampai di perusahaan, padahal dia hanya ingin memeriksa beberapa berkas untuk persiapannya pindah ke negara A sebab dia sudah menandatangani perjanjian dengan ibunya ketika dia pulang ke negara A sebelumnya.


"Devinka tunggu, aishh kenapa kau pergi dengan terburu-buru, aku hampir tidak bisa menyusulku hah....hah....hah" ucap Reksa sambil mengatur nafasnya yang terengah-engah,


"Ehh, kau mengikutiku kupikir kau tetap disana menemani Ciko, kenapa kau malah kemari ada urusan apa?" Tanya Devinka dengan heran dan sedikit bingung,


"Heh, kau pikir harus ada alasan kenapa aku mengikutimu, kau meninggalkan aku bersama dua orang manusia kalem itu jelas aku tidak bisa beradaptasi dengan mereka, yang satu sedang merajuk dan yang satunya lagi manusia kutub utara aihhh aku hanya akan menjadi patung ketika duduk diantara mereka makanya aku menyusul mu kemari" balas Reksa dengan serius,


"Ya sudah ayo ikut aku jika kau ingin, sekalian bantu aku untuk berkemas" ucap Devinka melanjutkan jalannya.


Reksa membelalakkan matanya lebar dia masih tidak paham dengan yang dikatakan oleh Devinka sebab mengajaknya untuk membantu dia berkemas.


"Apa yang mau kau kemas Dev?" Tanya Reksa heran,


"Tentu saja semua barang-barangku dan beberapa berkas perusahaan yang harus aku pelajari, memangnya apa lagi" jawab Devinka sambil terus berjalan keluar dari lift dan masuk ke dalam ruangannya.

__ADS_1


Dia terlihat begitu sibuk dan terus mengambil beberapa berkas dan semua barang miliknya, Devinka membereskan semuanya dan memasukkan semua benda penting miliknya ke dalam box, sedangkan Reksa hanya berjalan mondar mandir mengikuti langkah Devinka dengan penuh keheranan dan terus mengajukan pertanyaan kepada Devinka.


"Ehh....tunggu, tunggu. Devinka kenapa kau memasukkan semuanya ke dalam box kau mau pindah kemana?" Tanya Reksa yang penuh dengan pertanyaan.


Karena Reksa yang banyak bertanya Devinka menjadi sangat kesal dan dia langsung menaruh box berisi semua berkas dan barang-barang penting miliknya itu ke atas meja terlebih dahulu lalu dia mulai menjelaskan semuanya secara detail kepada Reksa.


"Aku akan pindah ke negara A untuk beberapa tahun" ucap Devinka mengungkapkan.


Reksa yang baru mendengar satu kalimat saja sudah langsung syok dan kaget dia langsung membentak tidak percaya dan berjalan menghampiri Devinka yang berbicara sambil berdiri menatap ke luar jendela ruangan kantor tersebut.


"APA?, kau mau pindah?, Devinka jangan bercanda keterlaluan begini kau membuatku kaget" ucap Reksa yang mengira itu hanya candaan,


Reksa hanya tertegun mendengar semua penuturan dari Devinka, dia tidak menyangka Devinka akan mengambil keputusan sebesar ini tanpa memberitahu sahabatnya sendiri bahkan kini Reksa merasa cukup kesal karena Devinka mau pergi secara tiba-tiba.


"Devinka bagaimana bisa kau mengambil keputusan sebesar ini tanpa meminta pendapat dan masukan dariku dahulu, aku tahu kau tidak menginginkan ini kan?" Ucap Reksa membentaknya,


"Aku memang tidak ingin, tapi tidak ada pilihan untukku meski aku menolak cepat atau lambat ibuku akan tetap membawaku ke negara A, dan tidak tahu kapan aku akan kembali kemari. Perusahaan pusat juga sudah di alihkan ke sana dan perusahaan ini hanya akan menjadi cabang di negara ini" ucap Devinka menambahkan.


Reksa hanya bisa menghembuskan nafas kecewa sebab apa yang dikatakan oleh Devinka memang benar, lagi pula meski Devinka berontak kepada ibunya tetap saja tidak ada yang mampu melawan dengannya hingga akhirnya dia adalah wanita yang tangguh dan tidak mudah untuk mengubah keputusannya terlebih ini bersangkutan dengan masalah bisnis keluarganya sendiri yang sangat besar.


Meski Reksa merasa sedih dan kecewa tapi dia juga merasa bersalah sebab tidak bisa membantu apapun untuk sahabatnya sendiri dan dia hanya bisa diam menerima semuanya dengan pasrah bahkan tanpa perlawanan sedikitpun.

__ADS_1


"Devinka maafkan aku karena tidak bisa membantumu, seandainya keluargaku sehebat keluargamu, mungkin aku sudah membantumu sejak lama" ucap Reksa merasa sedikit tidak enak dengan Devinka karena tidak bisa membantunya,


"Ayolah Reksa ada apa denganmu, kau sudah banyak membantuku selama ini, dengan menjadi sahabat terbaikku kau sudah luar biasa" balas Devinka sambil menepuk pundak Reksa dan mereka berpelukkan saling menguatkan satu sama lain untuk beberapa saat.


Reksa pun membantu Devinka untuk berkemas lagi dan mereka membereskan semuanya dengan cepat karena menggunakan dua tenaga, hingga setelah selesai mereka segera pergi berniat untuk mencari udara segar sekaligus membawa barang-barang itu ke rumah Devinka, namun saat di perjalanan hendak masuk ke dalam lift Devinka tidak sengaja bertabrakan dengan kak Eril yang saat itu hendak keluar dari lift sedangkan Devinka hendak masuk dengan membawa box besar di tangannya.


Karena box berisi barang-barang itu terlalu besar sehingga Devinka tidak bisa melihat jalan dengan benar alhasil dia malah menabrak kak Eril secara tidak sengaja dan dia langsung meminta maaf begitu pula dengan kak Eril yang langsung menunduk kepada Devinka karena dia tahu bahwa Devinka pewaris tunggal perusahaan ini.


"Reksa ayo cepat sebelum lift nya tertutup" ucap Devinka berjalan terburu buru,


"Aahh...brukkk....oh ya ampun maafkan aku, aku membawa box ini dan tidak bisa melihat ke depan dengan jelas, siapapun itu maaf ya" ucap Devinka sambil terus berjalan masuk ke dalam lift.


Sedangkan kak Eril hanya membungkuk dan menatap sekilas wajah Devinka lalu segera melanjutkan jalannya.


Reksa yang saat itu juga membawa sebuah box besar yang tak kalah berat dari milik Devinka dia justru tidak sempat masuk ke dalam lift dan alhasil Reksa malah tertinggal oleh Devinka.


"E....eh, Devinka tunggu aku, aishhh dia selalu saja meninggalkanku seperti ini aaah mana ini berat sekali sih" gerutu Reksa sambil menurunkan dahulu barang bawaannya kebawah sembari menunggu lift kembali terbuka.


Devinka tahu dia meninggalkan Reksa namun dia tidak terlalu memperhatikan dan terus saja berjalan lebih dulu karena dia tahu bahwa Reksa pasti akan mengikutinya dari belakang.


"Dasar si lelet Reksa dia malah tertinggal lagi, padahal aku sudah berteriak menyuruhnya lebih cepat sekarang aku jadi yang harus menunggunya seperti ini, lama sekali sih bocah itu" gerutu Devinka menunggu kemunculan Reksa di depan perusahaan tepatnya di samping mobil mewah miliknya yang sudah dia parkirkan di depan sana.

__ADS_1


__ADS_2