Bos Ternyata Musuhku

Bos Ternyata Musuhku
Di Perusahaan


__ADS_3

Aku sungguh tidak mengerti dengan Devinka kadang kita bicara baik baik meskipun tengah berdebat dengan menyebut satu sama lain dengan panggilan aku kamu, tapi kini dia bisa terlihat sangat kasar dan begitu menyebalkan, mulai sekarang aku akan putuskan tidak akan memanggilnya dengan sebutan aku kamu lagi, dan panggilan lo gue lebih cocok untuk orang sepertinya.


Devinka terus menarik lenganku dengan kuat dan membawaku keluar dari kampus sampai ketika di parkiran aku berhasil melepaskan tanganku dari genggamannya.


"Aishh...Devinka lepaskan" teriakku dengan keras sambil menghempaskan tangannya,


"Apa hah, Lo sendiri yang buat perjanjian kalo semua anggota tim harus nurutin semua kata ketua tim iya kan" jawab Devinka tak kalah berteriak,


"Iya gue tau itu aturan yang gue buat, tapi gak kaya gini juga caranya Devinka!" Jawabku dengan gemas,


"Kalo gak mau cara kasar kaya tadi makanya Lo nurut kalo gue nyuruh Lo dalam satu kalimat, ngerti!" Jawabnya membuatku sangat kesal.


Saat itu rasanya aku ingin sekali menendang kakinya dan menjambak rambut rapihnya itu, namun untunglah Reksa datang menyusul dan menenangkan ku.


"Eh... Eh... Sudah sudah kalian ini tidak ada akur akurnya, sudah Elisa kau harus sabar tahan emosimu, kau harus ingat dengan tujuanmu kuliah di sini" ucap Reksa mengingatkanku.


Aku berusaha menahan emosiku dan terus mengatur nafasku berkali kali untuk meredakan emosi di dalam diriku yang sudah terlanjur memuncak namun tidak bisa aku lampiaskan.


Alhasil aku hanya bisa mengepalkan kedua lenganku dengan kuat hingga tanganku merah dan Reksa memegang tanganku lalu memintaku untuk santai dan rileks.


"Elisa sudah, berhenti marah dan rileks kan pikiranmu, jika terus begini kau akan melukai tanganmu sendiri" ucap Reksa dan akhirnya aku bisa meredakan emosiku.


"Haaaahh, baiklah aku akan mencoba mengalah dan sabar mulai saat ini, terimakasih Reksa" jawabku dengan wajah yang masih cemberut.


Sedangkan saat itu Devinka sudah masuk ke dalam mobilnya dan berteriak dari jendela mobil menyuruh aku dan Reksa untuk segera masuk ke dalam mobil yang dia kemudikan.


"Heh, apa kalian sudah beres berbincangnya, cepat masuk atau kalian tidak akan bisa diterima bekerja di perusahaan magang itu" ucap Devinka dengan sombong.


Baru saja aku berusaha sabar dan hendak tenang menghadapinya, namun caranya bicara lagi lagi membuat emosiku memuncak seketika, Reksa menatapku dan dia menyuruhku untuk mengatur nafas lagi agar bisa tenang dan kami pun segera masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


"Sudah Elisa tarik nafas... tenang ayo lebih baik kita cepat turuti dia saja" ucap Reksa.


Saat itu Reksa duduk di bangku depan bersama Devinka sedangkan aku di bangku belakang. Selama perjalanan menuju perusahaan CTN group sama sekali tidak ada perbincangan diantara kita bertiga, dan aku terus merasa kesal sambil melipatkan kedua lengan di dada.


Setibanya di depan perusahaan tiba tiba saja Devinka memintaku turun dari mobil lebih dulu, dan aku hanya bisa menuruti ucapannya tanpa bisa melawan sedikitpun karena itu sudah perjanjian diantara kami.


"Heh, ayam turun!" Ucap Devinka begitu saja,


"Aish...iya iya" jawabku dan langsung turun.


Saat itu aku pikir mereka juga akan turun namun ternyata tidak, aku berdiri cukup lama di luar mobil itu dan menunggu mereka yang entah tengah melakukan apa di dalam mobil tanpa diriku.


Sedangkan di waktu yang sama saat itu Devinka tengah bicara serius kepada Reksa dan meminta Reksa agar menjaga rahasia mengenai perusahaan tersebut yang nantinya akan menjadi milik dia.


"Heh, Reksa dengarkan aku baik baik" ucap Devinka menatap dengan serius,


"Sudah dengar saja, jangan sampai dia tau bahwa perusahaan ini milik keluargaku, tadi saja kau hampir membocorkannya, hah untung aku berhasil menahan mulut lemes mu itu" ucap Devinka,


"Lah, memangnya kenapa kau harus merahasiakan ini dari Elisa?" Tanya Reksa merasa bingung,


"Pokoknya kau tutup mulut saja dan itu akan aman untukmu" jawab Devinka memperingati,


"Baiklah apapun itu aku juga tidak peduli, ayo turun jangan sampai Elisa curiga" jawab Reksa sambil segera turun lebih dulu.


"Jika dia mengetahuinya yang ada dia hanya akan mengejekku dan mengataiku menggunakan kekuasaan orang tua, ahh aku bukan pecundang seperti itu" gumam Devinka dalam hatinya.


Devinka segera memarkirkan mobil dan dia bergabung bersama Reksa juga Elisa, kami bertiga masuk ke dalam gedung perusahaan yang besar itu bersamaan.


Saat pertama kali masuk dan menginjakkan kaki di lantai perusahaan yang mengkilap dan begitu mewah aku langsung terpukau apalagi saat melihat hirup pikuk para karyawan yang berlalu lalang dengan kesibukan mereka masing masing.

__ADS_1


Aku bahkan tidak bisa menahan diriku untuk terkagum dengan suasana dan bangunan di sana.


"Wahhh....ini luar biasa, aku tidak menyangka bisa bekerja di perusahaan ternama seperti ini" ucapku sambil menutup mulut yang tercengang,


Aku terus berjalan masuk dan saat itu tak sengaja melihat sebuah layar lebar yang besar terpampang di dinding dan memperlihatkan sebuah poster foto seorang perempuan yang tidak asing bagiku.


"Ahhh...OMG, apakah itu sungguh Merisa?, Reporter terkenal sepanjang masa dan lulusan universitas luar negeri, yang memiliki suami milyader dunia, wah... Wah.... Ini sungguh luar biasa" ucapku yang lagi lagi terkagum dan berdiri tepat di depan layar tersebut.


Devinka dan Reksa juga mengikutiku mereka berdiri tepat di sampingku.


"Iya dan putranya ada di sampingmu Elisa....aishh bagaimana jika nanti dia tau kalau Devinka adalah putra nyonya Merisa" gumam Reksa sambil menatap ke arah Devinka yang tersenyum bangga menatap foto ibunya.


Saat itu aku tidak tau apapun dan aku hanya bisa terus tersenyum gembira dan berjalan dengan penuh semangat, aku terus masuk bersama Devinka dan Reksa menuju ruang rekrutmen pegawai dan di sana aku mulai merasa ada yang aneh.


Di saat kami bertiga datang ke sana beberapa karyawan menundukkan pandangan dan beberapa membungkuk memberi hormat, aku heran dan menatap clingukan kesana kemari.


"Hah, ada apa ini apa karyawan di perusahaan ini seramah itu saat menyambut mahasiswa Calok karyawan magang nya?" Gumamku dalam hati merasa heran.


Karena sampai aku masuk ke dalam ruangan semua pegawai bersikap begitu ramah dan sopan aku pun memutuskan untuk bertanya kepada Reksa karena ku pikir dia akan mengetahuinya.


"Syutt...Rek... Reksa apa kau tidak merasa jika karyawan di sini terlalu ramah dan sopan kepada kita?" Ucapku bertanya sambil berbisik pelan kepadanya,


Reksa nampak gelagapan namun dia tetap menjawabku.


"Aa..ahh...itu pasti karena ada aku dan Devinka, kamu pernah dengarkan kalau kita berdua ini putra pembisnis kaya raya jadi tentu saja mereka mengenal kami dan menghormati aku juga Devinka" jawab Reksa beralasan sambil tersenyum canggung.


Di sisi lain Devinka sudah menatap sinis dan tajam kepada Reksa untuk memperingatinya agar tidak membuat Elisa semakin penasaran dan mencurigai semuanya.


Reksa yang terhimpit di posisi seperti itu dia sungguh merasa tegang dan gugup untunglah anak anak di kampus tidak mengetahui detail identitas mereka namun kebanyakan mereka hanya mengetahui bahwa The Boys adalah para putra pewaris perusahaan ternama di negara itu, mereka tidak tahu persis nama perusahaan dan identitas detail nya sebab Devinka merahasiakan semua itu dengan baik.

__ADS_1


__ADS_2