
Itulah yang ada di dalam pikiran Devinka saat ini dia perlahan sadar dengan apa yang dia rasakan bahwa dia memang memiliki perasaan lebih terhadap Elisa, sebab baginya Elisa berbeda dari kebanyakan wanita lain yang hanya mengincar hartanya atau hanya mengincar kepopuleran darinya.
Devinka terus saja memperhatikan wajah Elisa sambil tersenyum sendiri sampai akhirnya Elisa tiba-tiba saja membelokkan kepalanya secara tiba-tiba menatap ke arah Devinka dan membuat Devinka kaget sehingga dia langsung memalingkan pandangan dengan cepat ke arah lain.
"Eihh...Devinka kau sudah ketahuan menatapku diam-diam malah memalingkan wajahmu begitu, ada apa di wajahku apa ada sisa kuah mie ya?" Tanyaku padanya karena aku pikir dia melihatku sebab ada yang aneh di wajahku.
Aku meraba raba wajahku mencari di mana lekat yang salahnya namun Devinka malah pergi dan mengajakku untuk pergi ke kamar tamu mengalihkan pembicaraan.
"Tidak ada, sudahlah ini sudah larut ayo aku antar kau ke kamar tamu" ucap Devinka dan aku hanya mengikutinya saja.
Aku bangkit berdiri dan mengikuti dia ke kamar tamu lalu dia juga kembali pergi ke kamarnya setelah mengantarkanku sampai di depan kamar tamu.
"Ini kamarnya, aku akan pergi ke atas karena kamarku ada disana, jika kau butuh sesuatu panggil saja pelayan nanti mereka akan membantumu" ucap Devinka lalu ku balas dengan anggukan.
Dia pun pergi menaiki tangga sedangkan aku segera masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhku ke atas ranjang, rasanya sangat empuk dan begitu nyaman, ini pertama kalinya aku bisa merasakan ranjang seempuk ini, karena biasanya aku hanya tidur di ranjang kecil dan tipis saat di panti asuhan lalu ketika di kamar kosan itu jauh lebih parah lagi.
Karena aku tidur hanya beralaskan tikar murah dan memakai selimut tipis saja, kadang disana juga banyak nyamuk berkeliaran ketika aku lupa tidak menyalakan obat nyamuk saat hendak tidur, sedangkan di rumah Devinka ini sudah ada AC yang nyaman membuatku sejuk juga tidak kepanasan lalu memiliki ranjang besar serta selimut yang tebal aku yakin aku bisa tidur dengan nyaman di kamar tersebut karena semuanya begitu mendukung.
"Aaahhh....seprainya saja begitu lembut dan selebar ini, dia benar-benar orang yang kaya raya diantara orang kaya, dan dia bahkan mengalahkan Lili, kamar Lili tidak sebagus kamar tamunya Devinka, sungguh dia meliyader luar biasa haha ini nyaman sekali" ucapku sambil terus mengusap ranjangnya yang sangat lembut dan halus.
Aku benar-benar bisa tertidur dengan cepat disana dan begitu lelap, hingga ke esokan paginya aku bangun kesiangan saat itu padahal aku sudah ingat telah memasang alarm jam lima pagi tapi aku justru baru bangun ketika sinar matahari menerpa wajahku.
__ADS_1
"Hoaammm.....euhhh...jam berapa ini?" Ucapku bertanya sendiri dan berusaha mencari ponselku.
Betapa kagetnya aku saat melihat waktu di ponselku sudah menunjukkan pukul sembilan lebih tiga puluh menit, dimana aku hanya membutuhkan waktu setengah jam lagi untuk mulai pada pekerjaanku di toko syawalan.
Untungnya aku tidak ada jadwal ngampus hari ini sehingga aku sedikit aman, tapi tetap saja yang namanya kesiangan aku akan terburu buru.
Aku langsung terperanjat dan mengambil tasku lalu berlari keluar dengan terburu-buru lalu melihat Devinka yang duduk di meja makan memanggilku untuk menghampirinya.
"Talita kau sudah bangun, kemari aku sudah membuatkan sarapan untukmu" ucap Devinka sambil melambaikan tangannya padaku.
Aku sedang terburu-buru sehingga aku tidak bisa menghadapinya saat ini.
"Aahhh....Devinka aku sudah kesiangan aku harus pergi sekarang juga..." Ucapku berteriak sambil terus memakai sepatuku dengan asal-asalan dan terburu buru.
Sedangka Devinka langsung memasukkan beberapa roti sandwich yang sudah dia buat ke dalam sebuah kotak makanan lalu berlari mengambil kunci mobilnya dan menyusul Elisa keluar, untungnya saat itu Elisa masih berlari menuju gerbang sehingga Devinka masih sempat untuk mengambil mobilnya ke garasi dan menyusul Elisa saat dia berlari menuju halte bus.
"Elisa....ayo masuk ke dalam mobil aku akan mengantarmu" teriak Devinka dengan menjalankan mobilnya pelan tepat disamping Elisa yang tengah berlari.
"Aahhh?, Iya iya" ucapku menyetujuinya.
Devinka dengan cepat menghentikan mobilnya lalu membukakan pintu mobilnya untukku, aku pun segera masuk dengan nafas yang masih menderu karena kelelahan berlari dari rumah Devinka sampai ke sana.
__ADS_1
"Hah...hah....Devinka kenapa kau tidak menawarkan tumpangan kepadaku sedari tadi sih, tau begini kan aku tidak perlu berlari sampai seperti ini" ucapku sambil terus mengusap keringat di dahiku.
"Kau tadi terburu-buru sekali, jadi aku tidak sempat mengatakannya" ucap Devinka dengan ramah.
Nada bicaranya nampak berbeda dia menjadi lebih ramah dari sebelumnya dan aku juga sempat sedikit merasa aneh karena dia mau menawarkan tumpangan padaku, tapi karena aku juga sedang terburu-buru dan membutuhkan tumpangannya jadi tentu saja dengan senang hati aku menerimanya.
Tapi ada satu yang membuatku merasa takut dan tidak enak terhadapnya, saat ini aku baru bangun tidur dan langsung bergegas sehingga tentu saja aku belum membersihkan badanku, aku belum mandi karena tidak sempat dan aku juga hanya mencuci wajahku saja, apalagi dengan pakaianku aku masih memakai pakaian yang kemarin dan rasanya itu sudah lepek, bahkan saat aku menciumnya sudah tercium bau tidak enak, aku pun menatap kepada Devinka yang tengah fokus menyetir menatap ke depan, aku merasa tidak enak dengan dia karena dia selalu menomor satu kan kebersihan tapi aku sama sekali tidak bersih.
"Aduh bagaimana ini apa dia akan mengusirku di jalanan jika dia nanti sadar bahwa aku bau dan tidak mandi" gerutuku di dalam hati memikirkan.
Aku sungguh merasa cemas dan karena aku tidak bisa tenang aku memutuskan untuk mengakui hal tersebut lebih dulu kepadanya.
"Eum...Devinka apa kau tidak keberatan aku duduk di mobilmu, dan aku belum mandi, badanku pasti bau mungkin bau badanku akan menempel di mobilmu apa kau tidak keberatan dengan itu?" Ucapku bertanya dengan wajah yang sedikit cemas,
"Ahahaha .... chicken sejak dulu kau memang sudah bau, itu tidak masalah bagiku selagi itu kau aku bisa menahannya" ucap Devinka dengan santai.
Aku kaget bukan main dan membelalakan mataku dengan lebar saat itu juga, aku sungguh tidak menyangka dia tidak keberatan dengan semua itu padahal sebelumnya dia selalu mempermasalahkan hal tersebut bahkan sebelumnya dia tidak pernah bicara sesantai ini terhadapku, aku sungguh merasa heran di buatnya.
"Devinka apa kau sungguh tidak masalah?, Kau masih Devinka yang aku kenal kan?" Ucapku saking merasa heran dan tidak percaya terhadap ucapannya.
"Heh, chicken kalau aku keberatan dan bermasalah dengan hal itu sudah dari tadi kau aku tendang keluar dari mobilku, mengerti!" Ucap Devinka dengan mendominasi dan menatapku dengan sedikit senyum terukir di wajahnya.
__ADS_1
Aku hanya bisa menatapnya dengan wajah terperangah dan susah payah menelan salivaku sendiri karena masih merasa heran tidak karuan juga merasa dia sangat aneh hari ini.
"Aneh....aneh...dia benar-benar aneh" gumamku dalam hati.