
Lili tersenyum dan menerima hadiah itu dariku, aku pun terus meminta agar Devinka melajukan mobilnya lebih cepat sampai akhirnya kami bisa mengantar Lili tepat waktu, dia langsung keluar dari mobil dan memanjat pagar rumahnya dengan lihai.
Bahkan aku saja kaget saat melihat Lili bisa melewati pagar itu dengan cepat, dia melambaikan tangan padaku dan saat itu aku melihat mobil ibunya Lili datang dari arah lain dan hendak masuk ke gerbang depan rumahnya, aku langsung menarik tubuh Devinka untuk menutupi tubuhku.
"Eh ..eh... Apa apaan kau ini, lepaskan kenapa kau memelukku" bentak Devinka sambil terus berontak hendak melepaskan pegangan tanganku dari pinggangnya,
"Devinka tolong diam sebentar saja, di sana ada ibu Lili dia akan curiga jika melihatku di sini kau berpura pura sedang apa kek, supaya dia gak curiga" ucapku berbisik pada Devinka.
Tiba tiba saja Devinka berbalik menatapku dan dia mendekatkan wajahnya begitu dekat dengan wajahku sampai hidung kami hampir bersentuhan, saat itu aku sangat gugup dan merasa takut, tapi aku tidak bisa berbuat banyak karena ibu Lili masih berada di sana.
"De...Devinka apa yang kau lakukan menjauhlah dariku" ucapku sedikit gugup dan berusaha tidak menatap matanya,
"Apa, bukankah ini yang kau inginkan dengan begini perempuan tua di sana tidak akan menyadari keberadaan mu, jadi kau akan aman" jawab Devinka dengan kurang ajar,
Saat itu aku tidak bisa mengelak dari ucapannya dan aku hanya bisa diam saja sampai beberapa saat aku rasa ibu Lili sudah pergi dari sana aku berusaha melihatnya untuk memastikan namun badan Devinka yang tinggi dan lebih besar dariku membuatku kesulitan untuk melihatnya.
"Devinka bisakah kau periksa apakah ibunya Lili sudah pergi dari sana atau tidak" ucapku meminta bantuannya lagi,
Devinka menoleh ke belakang lalu kembali menatapku.
"Bagaimana?" Tanyaku lagi,
"Dia masih ada di sana dan sedang melihat kesini sepertinya dia mencurigai kita" jawab Devinka yang sengaja menakut nakuti Elisa.
Padahal saat itu ibunya Lili sudah masuk ke dalam rumahnya dan tidak ada siapapun di sana kecuali mereka berdua.
Saat mendengar ucapan Devinka aku sangat takut dan terpaksa aku langsung memeluk Devinka agar ibunya Lili tidak mencurigaiku, aku melakukan itu karena aku pikir ibunya Lili sungguh masih ada di sana sama seperti yang dikatakan oleh Devinka kepadaku.
__ADS_1
Devinka yang tiba tiba menerima pelukan dari Elisa dia langsung membelalakkan matanya dan menatap dengan lekat kepada Elisa.
"A.. apa, bukankah jika begini ibunya Elisa akan cepat pergi dari sana?" Ucapku pada Devinka yang menatapku dengan aneh,
"Ahhh..., Lepaskan dia sudah pergi tidak perlu berpura pura lagi, badanku bisa gatal gatal jika kau memeluknya aishhhh" ucap Devinka sambil mendorongku.
Aku sangat kesal mendengar ucapan darinya yang begitu kasar padahal awalnya dia sendiri yang bersikap seperti itu.
"Aishh....kau pikir aku ini ulat bulu apa?, Jangan berlebihan seperti itu Devinka aku juga tidak akan memelukmu jika bukan karena ibunya Lili!" Bentakku menjawabnya.
Devinka langsung masuk ke dalam mobil setelah berdecak kesal dan aku juga langsung masuk mengikutinya, saat itu aku kembali duduk di bangku depan namun tiba tiba saja Devinka membentakku dan menyuruhku berpindah ke bangku depan tepat di sampingnya.
"Heh, pindah ke depan seenaknya saja duduk di sana, kau pikir aku ini supir pribadimu Hah?, Bentak Devinka dengan wajah dingin yang menyebalkan,
"Eughh...iya aku pindah sekarang, ribet sekali sih padahalkan sama saja toh memang dia yang mengemudi apa salahnya" gerutuku sambil berpindah duduk.
Aku pikir Devinka tidak akan mendengar gerutuanku karena aku merasa perkataan yang aku ucapkan sangat pelan, tapi rupanya telinga dia masih cukup sehat dia bisa mendengar gerutuanku dengan jelas.
"Hah, aku pikir kau tuli" jawabku dengan kesal.
Devinka langsung melirikku dan melemparkan tatapan tajamnya kepadaku namun aku sama sekali tidak takut dengan tatapan ancaman darinya.
"Apa?, Kau mau mengancamku dengan tatapan tajam itu?, Haha aku sama sekali tidak takut" balasku padanya sambil balik menatapnya dengan tajam.
Dia pun langsung memalingkan pandangannya dan kembali fokus menyetir, sejak saat itu tidak ada pembicaraan diantara aku dan Devinka sampai kami sampai di kantor aku langsung pergi lebih dulu meninggalkannya.
Aku tidak perduli dengannya dan langsung pergi lebih dulu masuk ke dalam lift menuju departemen dua dan sesampainya di sana rekan kerjaku nampaknya sudah menunggu kedatanganku mereka langsung berdiri dari bangkunya saat aku baru datang ke sana.
__ADS_1
"Eh, Elisa akhirnya kamu kembali kita sudah lama menunggumu" ucap kak Anne padaku,
Sedangkan aku hanya bisa menatap mereka satu persatu dengan tatapan heran dan kebingungan karena aku baru saja tiba di sana dan tidak mengetahui apapun.
"Ada apa ini?, Kenapa kalian menungguku?" Tanyaku sambil berjalan menghampiri kak Anne dan kak Kris,
"Elisa maaf kemarin aku lupa memberitahumu kalau hari ini kita akan tugas lapangan namun wakil presdir bilang mereka mau melihat kinerja anak baru jadi hari ini akan menjadi tugas pertamamu berburu berita" jawab kak Kris menjelaskan,
"Hah?, Be..berburu berita maksudnya apa itu?" Tanyaku masih merasa bingung,
Tiba tiba saja kak Eril berbicara dan menjelaskannya kepadaku lalu menyuruh kak Anne dan kak Kris untuk kembali pada pekerjaan mereka.
"Kau akan mencari berita denganku hari ini dan kita akan pergi ke kantor polisi untuk mencari kabar terbaru, selebihnya aku akan menjelaskan padamu nanti, Kris... Anne siapkan file dan berita cadangan juga lanjutkan pekerjaan kalian, aku akan pergi sekarang sebelum departemen satu mendahului kita" ucap kak Eril sambil bergegas pergi dari ruangan itu.
Sedangkan aku masih berdiri kebingungan karena masih belum mengerti aku harus melakukan apa sampai suara kak Eril yang memanggilku mulai menyadarkanku.
"Elisa apa yang kau lakukan, cepat ikut denganku!" Ucap kak Eril dan aku segera bergegas pergi dari sana.
Aku berlari menyusul kak Eril dan kami masuk ke dalam lift bersamaan.
Saat lift baru saja hampir tertutup sempurna tiba tiba sebuah lengan menahannya hingga lift kembali terbuka dan aku sangat kaget saat melihat ternyata itu adalah Devinka dan seorang perempuan yang lumayan cantik juga berpakaian cukup terbuka bagiku.
"Hah, Devinka mau kemana dia?" Gumamku kaget,
Mereka ikut masuk ke dalam lift namun selama di dalam lift setelah aku perhatikan rasanya suasana di sana begitu tegang dan nampak sekali sebuah persaingan diantara kak Eril dengan wanita yang berada di depan Devinka itu, mereka berdua sama sekali tidak saling sapa dan sesekali saling tatap dengan tatapan tajam satu sama lain lalu memalingkan pandangan mereka ke sisi berlawanan secara bersamaan.
Aku yang melihat itu hanya bisa menyaksikannya dengan heran dan aku mencoba menanyakannya pada Devinka karena aku pikir siapa tau dia tau mengenai hal itu.
__ADS_1
"Syutt ..Devinka apa yang sedang terjadi?" Tanyaku pelan,
Devinka hanya menatapku sekilas dan mengabaikan pertanyaanku sampai saat aku berbalik kak Eril dan wanita itu sudah menatap ke arahku dengan tatapan dingin yang membuatku sesak.