
Aku yang melihat reaksi Devinka seperti itu tentu saja tidak bisa menahan tawa karena wajahnya sungguh memperlihatkan ekspresi yang sangat menggelikan dia bahkan nampak begitu jijik untuk sekedar melihat ke tempat itu dan wajahnya berubah menjadi pucat saat aku memaksa dia untuk melihat tempat itu sedikit saja.
"Ahaha....Devinka kau itu ternyata cemen juga yah, ayo cepat lihat ke sana sebentar saja itu tidak sekotor yang kamu bayangkan, kamarku bersih kok aku sering merawat kebersihannya dengan baik" ucapku sambil berusaha membuat dia agar mau memalingkan pandangannya menatap ke arah kos kosanku.
Sayangnya meski aku sudah berusaha memaksanya dia tetap tidak mau dan tidak tertarik sedikitpun untuk melihat ke arah yang aku tunjukkan.
"Tidak....aku tidak bisa, kau sendiri tahu aku memiliki pobia pada hal hal yang terlalu kotor bahkan terkadang aku risih dengan orang orang terdekatku, bagaimana bisa kau mengajakku dan memaksa aku untuk mendekati sampah itu" bentak Devinka dengan keras.
Dia langsung berbalik arah dan hendak pergi dari sana namun sepertinya dia mendapatkan trouma yang cukup serius dengan jalanan kotor dan gelap di gang sana sehingga ketika dia hendak kembali melalui gang itu dia seketika berhenti dan berteriak memanggilku lagi, padahal saat itu aku baru saja hendak meraih gagang pintu gerbang.
Aku sedikit kesal karena sudah sangat lelah dan ingin segera untuk beristirahat merebahkan badanku di kamar kosanku namun karena panggilan dari Devinka terpaksa aku harus kembali membalikkan badan dan menghadap kepadanya lagi dan lagi.
"ELISA.....!" teriak Devinka sangat keras,
"Aishhh....apa lagi sih, kau kalau mau pergi ya tinggal pergi saja merepotkan sekali sih!" Bentakku menjawabnya dengan kesal,
"Kau harus mengantarku kembali ke mobil, jalanan ini sangat menggangguku aku tidak mau melewatinya lagi apalagi sendirian" ucap Devinka yang membuat aku semakin kesal dibuatnya,
"Hey, Devinka apa kau bercanda?. Jarak antara mobilmu dan panjang gang ini hanya satu meter apa kau bodoh, tidak mungkin aku harus kembali ke jalanan sana hanya untuk mengantarkan pria tua sepertimu kau bukan anak anak lagi" balasku menolaknya,
"Kau kemari, pokoknya kau harus tetap mengantarku atau jika tidak akan ku pastikan kau di tendang keluar dari perusahaan CTN group sebelum masa kontrakmu selesai!" ancam Devinka yang membuatku langsung berubah seratus persen.
"Pers*Tan denganmu Devinka awas saja kau!" gumamku di dalam hati yang kesal,
Aku segera merubah ekspresi di wajahku dalam sekejap untuk menutupi kekesalan di dalam hati dan pikiranku.
"Oh....baiklah mari tuan muda Devinka yang tampan saya antarkan anda ke depan sana" ucapku sambil tersenyum dan mempersilahkan Devinka berjalan lebih dulu.
Tidak lupa aku memapahnya karena dia kembali berjalan dengan men jinjitkan kakinya persis sekali seperti anak kecil yang takut dengan lumpur atau kotoran saat mereka baru saja selesai mandi.
__ADS_1
Meski aku bersikap baik di depannya tetap saja tak dapat aku pungkiri sebenarnya aku sangat membencinya, dan ingin menghajarnya saat itu juga, dia benar benar sudah merepotkanku di tengah malam seperti ini di mana orang lain tengah tertidur dengan nyenyak tanpa gangguan apapun sedangkan aku masih harus berurusan dengan orang paling menjengkelkan di dunia ini seperti Devinka.
Setelah sampai di depan mobilnya aku berniat langsung kembali lagi ke kosan namun lagi lagi Devinka sialan itu menahanku dan dia menyuruh aku untuk melepaskan sepatunya.
"Ehh, tunggu mau ke mana kau?" Tanya Devinka membuatku kembali menghentikan langkah,
"Apa lagi?, Tentu saja aku akan kembali ke tempat sampah yang sangat kau benci itu" balasku dengan wajah yang cemberut dan datar,
"Kau marah denganku hanya karena aku memintamu mengantarku ke mari haha lucu sekali manusia satu ini, begitu saja bisa membuatnya kesal, dasar cewek ayam!" Ucap Devinka yang malah kembali meledekku dengan panggilan yang sangat aku benci.
Saat itu aku sangat emosi dan sudah mengepalkan kedua lenganku dengan kuat namun aku berusaha keras untuk mempertahankan kekesalan di dalam diriku karena aku tidak berani untuk melawan seorang Devinka apalagi setelah hampir mendapatkan sebuah ancaman darinya.
Aku akui aku lemah jika sudah menerima ancaman darinya. Tapi aku mungkin bisa menahan ketika dia terus menghinaku dan mengatai aku seenaknya namun kali ini dia telah benar benar keluar dari kendalinya sendiri dan berani menyuruhku untuk membukakan sepatu yang tengah dia pakai saat itu.
"Sudahlah jangan banyak basa basi lagi, ada apa kau memanggilku lagi?" Tanyaku padanya tanpa banyak bicara,
Lagi dan lagi aku menghembuskan nafas dengan kasar dan mau tidak mau aku harus melakukan semua ini meski aku tahu itu sudah termasuk pada sebuah penghinaan dan dia telah melukai harga diriku, namun apalah daya aku hanya orang miskin yang tidak memiliki hak apapun di dunia ini bahkan tidak akan ada yang membelaku sekalipun aku berada di dalam posisi yang benar.
Aku berusaha menahan emosi dan rasa kesal di dalam hatiku dan dengan perlahan aku meraih sepatunya lalu melepaskan sepatu yang dia kenakan dan aku melemparkan sepatu itu ke sembarang arah dengan sangat jauh.
"Hey, apa yang kau lakukan kau benar benar berani membuang sepatu mahal milikku?, itu hanya di jual lima buah di dunia, apa kau tidak tahu ha?" Bentak Devinka dengan mata yang membelalak sempurna.
Sementara aku tetap berusaha tenang meski hatiku sebenarnya telah bergemuruh sejak lama dan rasanya emosi yang berada di dalam tubuhku sudah hampir meledak, namun aku tetap berusaha menahannya karena aku tidak ingin memperlihatkan sisi lemah ku di hadapan Devinka aku tahu jelas saat ini aku bahkan hampir menangis karena telah mendapatkan banyak penghinaan dari Devinka namun aku tidak bisa membela diriku sendiri.
Aku merasa saat itu aku lebih mirip seorang pecundang apalagi di saat Devinka membentakku sangat keras ketika aku melemparkan sepatunya ke sembarangan arah.
"Apa yang salah denganku?, Kau sendiri yang menyuruh aku untuk membuang sepatu tersebut setelah aku melepaskannya dari kakimu, mengapa sekarang kau malah membentakku?" Ucapku melawannya dengan tangan yang mengepal dan mulai gemetar.
"Kau berani membantah ucapanku?" bentak Devinka lagi padaku.
__ADS_1
Aku sudah tak bisa menahannya lagi rasa sakit di hatiku kini sudah menyeruak ke segala arah dan aku langsung pergi meninggalkan Devinka saat itu juga, aku langsung berlari kembali ke tempat kamar kos ku dan langsung masuk ke dalam lalu mengunci pintu dan menangis sejadi jadinya.
Aku tidak perduli lagi jika tetangga kos ku akan mendengar tangisanku yang sangat keras malam itu, semuanya aku curahkan dan aku terus merutuki Devinka yang telah membuatku seperti ini.
"Devinka kau orang paling sialan, kau orang yang paling aku benci untuk seumur hidupku, aku sangat membencimu hiks hiks...hiks..." Ucapku di sela sela tangisan.
"Heu...heu...heu...hiks...hiks..kenapa dia bisa Setega itu padaku bukankah dia memiliki sedikit rasa kemanusiaan terhadapku atau aku mungkin bukan seorang manusia di matanya?, Dia benar benar sangat keterlaluan saat ini hiks...hiks..." Ucapku merasakan kesedihan yang mendalam.
Dadaku sangat terasa sesak hingga aku merasa sulit sekali untuk mengendalikan nafasku sendiri aku bahkan terus menangis tanpa henti hingga lama kelamaan aku merasa lelah dan tidur dengan sendirinya karena kelelahan terus menangis tanpa henti sepanjang malam.
Hingga ke esokan paginya aku terbangun ke siangan dan harus terburu buru pergi ke kantor bahkan saking terburu burunya aku tidak sempat untuk menyisir rambutku dan hanya membiarkannya teriak tinggi agar sedikit terlihat rapih meski aku tidak melakukannya dengan benar.
Saat sampai di kantor aku bertemu dengan kak Eril dan tiba tiba saja dia menyapaku. Ini menjadi yang pertama kalinya dia menyapa aku di depan banyak orang sehingga beberapa orang yang melihat itu saling bergunjing membicarakan aku dan kak Eril.
"Elisa...Haiii....apa tidurmu nyenyak semalam?, Kenapa matamu terlihat sembab seperti itu?" Ucap kak Eril menyapa dan bertanya.
Aku sangat gugup dan hanya bisa melihat dengan mata kebingungan sendiri sambil menunjuk didirku sendiri karena saat itu aku masih merasa heran dan tidak percaya jika seorang kak Eril menyapaku pagi ini apalagi di depan banyak orang, mungkin jika dia menyapaku di ruang kerja atau di dalam lift itu masih masuk akan namun ini dia menyapa dan bertanya kabarku di depan umum tepat di lobi depan kantor jelas sekali banyak orang yang bisa menyaksikan kejadian itu dengan jelas.
"AA.aaahh...kau bicara padaku yah?" Ucapku memastikan sambil menunjuk wajahku sendiri seperti orang bodoh.
Dan mirisnya kak Eril malah tersenyum lebar sampai memperlihatkan giginya yang putih dan tertata dengan rapih.
"Tentu saja padamu memang pada siapa lagi aku jelas menatapmu bukan orang lain" balas kak Eril dengan mendekatkan wajahnya ke wajahku.
Aku refleks tertegun dan melangkah ke belakang sedikit untuk menjaga jarak dengannya dan dia menarik lenganku secara tiba tiba sampai membawaku masuk ke dalam lift bersamanya. Aku masih sangat kebingungan dan merasa heran sambil terus menatap tak percaya pada kak Eril.
"Kak apa ini benar benar kau?, Apa kau sakit atau salah makan pagi ini?" Tanyaku memastikan.
Lagi lagi dia hanya tersenyum manis dan tidak memberiku jawaban yang jelas atas sikap anehnya yang sangat berbeda pagi ini kepadaku.
__ADS_1