
Mungkin semua wanita tidak akan ada yang tahan dengan kelakuannya, maka dari itu aku dan yang lainnya sangat penasaran ketika mendengar hal tersebut terlebih itu keluar langsung dari mulut Reksa.
Tapi dia justru malah diam saja disaat kami semua sudah mendesak dia terus menerus, bahkan kami semua sudah sangat tidak tahan lagi menunggu Reksa untuk menjawabnya.
"Hey....Reksa cepat katakan kenapa kau malah diam saja? Aishhh membuat aku jengkel saja!" Bentakku kepadanya saking merasa penasarannya.
"Ahaha.... Ada saja aku tidak ingin mengatakannya karena aku bahkan belum berani menyapanya" balas Reksa yang cukup mengecewakan.
Aku sudah menunggu jawabannya sejak lama namun ternyata dia malah menjawabnya dengan jawaban yang menyebalkan seperti itu karena pada akhirnya dia tetap saja tidak memberitahu kami siapa sebenarnya wanita yang dia sukai itu.
"Aishh.....dasar kau sialan, aku pikir kau akan memberitahu kami siapa nama wanita itu, aaahhh kau membuang-buang waktuku saja, Dika sudahlah ayo kita pulang saja aku malas disini" ucapku sangat kesal.
Habisnya bagaimana aku tidak kesal dia sudah membuat aku dan yang lainnya sangat penasaran dalam waktu yang lama namun jawabannya itu sangat menyebalkan dan rasanya ingin sekali menghajar dia atau menjambak rambutnya itu dengan sekuat tenaga karena dia sudah membuat aku sangat berharap kepada dirinya.
Sayangnya disaat aku hendak pergi dari tempat itu Dika justru malah menahan tanganku dan dia menyuruhku untuk kembali duduk di meja itu bersama dengan mereka.
"Ehhh ..Elisa sudah ayo duduk kembali kita belum juga membahas sesuatu dan belum memakan apapun disini, kau juga pasti lapar bukan" ucap Dika kepadaku.
Sebenarnya saat itu aku ingin menghempaskan tangannya dan aku ingin langsung pergi saja dari tempat itu namun sayangnya perut sialanku ini justru malah bersuara begitu saja, dan suaranya itu sangatlah keras sehingga membuat aku malah merasa sangat malu di buatnya.
"Tidak aku ingin kreokkk....kreokkk..." Suara perutku yang malah bertemu di waktu yang tidak tepat.
Aku menatap ke arah perutku dan segera memeganginya sedangkan Dika, Ciko dan Reksa menahan tawa mendengar suara perutku itu.
Aku sungguh merasa sangat malu dan rasanya saat itu juga aku ingin membuat lubang, masuk ke dalam dan mengubur diriku hidup-hidup sendiri untuk menutupi rasa malu di wajahku yang sudah merona ini.
"Aaaiiishhh...dasar perut siapan kenapa harus bersuara disaat yang tidak tepat begini sih" gumamku merasa kesal sendiri.
"Sudah ayo duduk, atau kau akan semakin malu" ujar Dika sambil menarik tanganku.
Dan dia kembali menarik kursinya mempersilahkan aku untuk duduk lagi di sampingnya.
Aku benci dan semakin kesal melihat Reksa yang menatapku sambil menahan tawa seperti itu, aku pun langsung membentak dia dan memberikan peringatan kepadanya agar dia cepat berhenti tertawa seperti itu karena itu sangat menggangguku.
"Hey....Reksa berhentilah menertawakan aku atau aku akan menghajarmu sekarang juga!" Ancamku kepadanya sambil menunjukkan tangan yang dikepal kuat.
"Eh...eh ..iya....iya..aku berhenti kok" ucap Reksa sambil menahan tanganku dengan kedua tangannya.
Dika meraih tanganku dan menarik tanganku itu lalu menaruhnya kembali di atas meja dengan pelan sambil menenangkan aku.
"Eishh...sudah....sudah kalian ini selalu saja bertengkar sudah oke, jangan bertengkar lagi di depan umum itu akan memalukan untuk kalian, tahan emosimu juga Elisa, makanannya juga akan segera tiba" ucap Dika kepadaku.
Perkataan dia tadi membuat aku tersinggung lagi karena dia mengatakan bahwa makanannya akan segera tiba padahal kan aku juga tidak meminta terburu-buru untuk mereka menyajikan makanan pesananku dengan segera, seakan dia mengatakan aku harus menahan laparku bukan emosiku, dia memang masih membuat aku sangat kesal.
Bukannya tenang aku malah semakin emosi dan langsung menghempaskan tangannya juga memalingkan pandangan darinya dengan cepat.
"Aishh...lepaskan tanganku, ahh kau ini membuat aku semakin kesal bukannya menanangkan" balasku kepadanya dengan sinis dan langsung memalingkan pandangan.
Disaat aku merajuk sambil menunggu pesanan kami tiba, mereka bertiga mulai mengobrol dan membiarkan aku diam sendiri aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan mengenai kantor dan perusahaan mereka itu, dan ketika aku mendengar nama Devinka juga nyonya Merisa di katakan oleh mereka aku juga tidak perduli sedikitpun hingga makanannya sampai dan aku langsung menikmati makanan di sana seorang diri lebih dulu.
Karena melihat tiga pria itu begitu serius membicarakan pekerjaan mereka ini menjadi kesempatan untukku dan dengan sengaja aku memakan jatah makanan Reksa karena dia sudah menertawakan aku dengan puas sebelumnya.
__ADS_1
Kebetulan juga Reksa duduk di hadapanku sehingga sangat mudah untuk aku mencuri makanannya, yang sudah ada di depan mata.
"Eummmm....ini sangat enak, haha enak sekali bisa makan banyak seperti ini, biarkan saja mereka terus membahas pekerjaan aku tidak akan menyisakan makanan ini untuk so Reksa sialan, huh!" Gerutuku pelan.
Aku terus menikmati makananku dan tiba-tiba saja mereka langsung diam sambil menatap ke arahku bersamaan.
"Elisa apa kau kelaparan, kenapa kau malah makan lebih dulu?" Tanya Dika sedikit menaikkan nada bicaranya.
"Aku lapar kau tidak mendengar jeritan perutku tadi apa? Kalian sibuk sendiri dengan pekerjaan dan mengabaikan aku, jadi aku harus apa? Tidak mungkin aku diam dan bengong saja menatap makanan yang hampir dingin di hadapanku, ya tentu aku akan memakannya, apa masalahmu, kau tinggal makan saja sekarang jika sudah selesai" balasku kepadanya tanpa melirik ke arah dia sedikitpun.
Hingga ketika mereka hendak makan Reksa menatap kesana kemari melihat jatah piringnya tidak ada di dekat mejanya hingga dia melihat ada dua piring di hadapanku dan langsung saja dia merebut salah satunya dariku.
"Heh, Elisa kembalikan milikku aishhh kenapa kau mengembara makananku, aahhh kau menyebalkan!" Bentak Reksa sambil menarik makanannya yang tinggal separuh lagi karena sudah aku makan sedari tadi.
"Reksa aku sangat lapar, anggap saja itu adalah hukuman karena kau sudah menertawakan aku tadi bahkan kau menertawakan aku dengan puas maka aku juga harus menghabiskan makanamu sepuasku, sini kemarikan makananmu, aku belum menghabiskannya" ucapku sambil berusaha merebutnya kembali.
Akhirnya terjadilah taro menarik antara aku dan Reksa, sehingga membuat Dika lagi lagi harus menenagkan kami dia menarik tanganku dan membiarkan Reksa mendapatkan makanannya dan itu membuat aku sangat kesal.
"Elis sudah lepaskan saja biarkan dia memakan makanannya kau kan sudah makan, jika kau masih merasa tidak cukup aku bisa memberikan milikku untukmu jangan mengambil miliknya" ucap Dika yang membuat aku terpaksa merelakan makanan itu,
"CK ...ya sudah kau ambil saja sana, aku juga sudah kenyang, aku juga tidak ingin makananmu kau membelanya bukan membelaku aku kesal denganmu" balasku kepada Dika dengan menatap sinis.
Aku pun hanya bisa diam dan menunggu hingga mereka selesai menikmati makanannya.
Dan tidak sengaja aku lihat Devinka dan Keysa juga masuk ke restoran itu, dan aku langsung sana mengambil buku menu lalu menutupi wajahku karena aku tidak ingin mereka melihat aku duduk disini bersama Ciko, Dika dan Reksa.
Namun aku memang bodoh karena meski aku menutupi diriku si Keysa sialan itu tetap bisa melihat tiga pria yang makan disana dengan santainya dan tidak mengetahui kedatangan iblis jahat itu.
"Diam janga bicara, atau dia akan..." Ucapku sudah terlambat karena si Keysa itu sudah berteriak dan berjalan menghampiri meja kami.
"Ehhh...buka kah itu Dika dan Elisa....sayang ayo kita bergabung dengan mereka" ucap Keysa yang aku dengan sekilas.
Aku pun langsung menaruh buku menu itu dengan keras di meja dan membuat ketika pria yang makan denganku kaget, mereka juga sudah melihat keberadaan Keysa dan Devinka disana karena mereka langsung memilih meja yang tepat berada di samping meja yang aku dan Dika duduki.
Mereka sangat menjengkelkan dan seakan si Keysa sialan itu terus ingin membuat aku cemburu dengan keromantisannya dia juga terus memamerkan cincin yang dia kenakan dan melambangkan tanda tunangan dia dengan Devinka.
"Eummm...sayang kamu mau pesan apa, aku akan memesankannya untukmu" ucap Keysa dengan suaranya yang dibuat-buat,
"Apa saja aku tidak perduli" balas Devinka.
Mendengar Devinka yang menjawab ucapannya itu dengan sangat cuek aku sungguh ingin tertawa mendengarnya namun Dika langsung menahan tanganku dan dia menatapku dengan tajam sehingga membuat aku langsung mengerti.
"Tenang saja aku akan baik-baik saja Dika, jangan mencemaskan aku berlebihan" ucapku kepadanya.
"Dika kau tidak harus mengkhawatirkan wanita kuat dan bandel sepertinya" tambah Ciko kepadaku,
"Aku tidak bandel aku hanya membela diriku sendiri, apa kau tidak tahu dengan perbedaan itu?" Balasku tidak terima karena Ciko berkata seperti itu,
"Tapi kau itu memang kuat bahkan tidak preman saat di masa kuliah bisa kau kalahkan dan kau mendapatkan bonus pemberitaan saat itu, aishhh aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya jadi preman itu yang habis dihajar babak belur oleh seorang wanita sepertimu, pasti bukan hanya badannya yang sakit namun harga dirinya sebagai laki-laki juga pasti tergores, iya kan" tambah Reksa membuatku sedikit malu,
"Apa itu benar?" Tanya Dika menatapku dengan matanya yang terbuka lebar,
__ADS_1
"I...iya....tapi aku tidak akan menghajarmu kok" balasku sambil tersenyum sekilas pada Dika.
Aku sebenarnya takut Dika menjadi takut kepadaku karena aku memang bukan wanita feminim seperti Keysa atau wanita kebanyakan.
Meski awalnya aku mengira Dika akan takut kepadaku atau dia akan mengira aku seperti wanita tomboi namun ternyata tidak dia justru malah mengusap kepalaku pelan dan memujiku, aku juga merasa senang mendengar dan merasakan hal manis seperti itu darinya.
".....tenang saja aku tidak akan takut kepadamu, aku semakin menyukaimu Elisa dan aku pikir Ciko memang benar aku terlalu mengkhawatirkan gadis kuatku ini" ucap Dika membuatku tersipu malu,
"Ehkmmm....kalian kalau mau menggoda seperti itu tolong jangan dihadapan pria menyedihkan ini, aishh sangat tidak berperasaan" ucap Reksa yang langsung memotong begitu saja.
Aku pun langsung tertawa bersama Dika bahkan karena keberadaan tiga pria itu dan Dika yang selalu menemani aku juga memberikan banyak kekuatan kepadaku aku merasa tidak terganggu sama sekali dengan keberadaan Devinka dan Keysa yang sedari tadi sibuk membuat aku kesal sebab dia yang memegangi tangan Devinka, berusaha menyuapinya dan terus mencari perhatian dari Devinka.
Namun sayangnya ku lihat Devinka hanya diam saja dia sama sekali tidak menanggapi semua perlakuan yang di berikan oleh Keysa kepadanya.
Aku sendiri juga tidak menyadari kalau ternyata Keysa sebenarnya diam-diam terus memperhatikan aku yang saat itu asik tertawa lepas dengan Dika, Ciko juga Reksa.
Kami memang terlihat seperti sahabat baik dan bahagia, Reksa yang selalu terlihat menjadi sad boy dan dia yang selalu menggangguku membuat Ciko yang dingin bahkan bisa tersenyum, Dika juga selalu menenangkan aku disaat aku mulai bertengkar dan di buat kesal.oleh Reksa seperti saat ini.
"CK...menyebalkan sekali awas kau Elisa aku tidak akan melepaskanmu karena sudah membuat Devinka menjadi sulit menurutku!" Gerutu Keysa mendendam.
Karena dia terus saja di abaikan oleh Devinka dia pun segera pergi mengatakan untuk ke kamar mandi kepada Devinka dan Devinka terus saja membiarkan Keysa pergi bahkan tanpa melihat ke arah Keysa sedikitpun, sejak pertama kali masuk ke restoran itu wajah Devinka dan tatapannya terus saja tertuju pada Elisa dia tersenyum ketika melihat Elisa tersenyum dia merasa senang meski Elisa tidak bahagia karenanya.
"Elisa aku senang melihatmu bahagia, aku juga bersyukur memiliki sahabat seperti mereka bertiga yang mau menjaga orang yang paling aku sayangi disaat aku tidak bisa melindungi dia sedikitpun, aku akan turut bahagia selama kamu bahagia Elisa meskipun bukan aku yang menjadi alasan dari kebahagiaanmu" gumam Devinka sambil menatap Elisa dari samping.
Dia tidak pernah bisa memalingkan pandangannya dari wanita yang sangat dia sayangi sejak dulu, setidaknya Devinka sudah pernah merasakan bisa memiliki hubungan dengan Elisa walaupun itu hanya berlangsung selama beberapa hari saja, tapi semua kenangan itu akan selalu menjadi kenangan paling indah bagi Devinka karena dia bahkan masih menyimpan semua kenangannya bersa Elisa dari sejak awal dia melihat Elis di kampus, bahkan sampai saat ini Devinka masih memakai gelang ikat rambut milik Elisa di tangannya.
"Aku tidak akan pernah melepaskanmu Elisa meski aku tidak bisa berada di sampingmu" gumam Devinka lagi.
Disisi lain Keysa yang sangat kesal karena dia bisa melihat betapa besarnya cinta Devinka kepada Elisa, dia sangat kesal dan tidak bisa membiarkan itu terus terjadi, sehingga dia mulai memiliki rencana jahat di dalam otaknya dia langsung pergi ke dapur dan meminta air panas yang masih memiliki asap dan cukup mendidih kepada salah satu pelayan disana dengan paksa juga sengaja menyuap pelayan itu untuk memberikan air mendidih itu kepadanya.
Dia pergi dengan memakai masker dan sengaja memakai celemek untuk menyamar sebagai pelayan restoran tersebut lalu dia mulai berjalan membawa sebuah panci kecil yang berisi air panas itu ke dekat Elis dimana saat itu Elisa hendak pergi ke kamar mandi, dia sengaja berniat menyenggol Elisa namun untungnya Devinka sudah melihat itu dari kejauhan.
Dan bukan hanya Devinka yang melihat itu tetap Dika juga melihatnya dan merasa curiga sehingga ketika Keysa berpura-pura tersandung Devinka langsung bangkit dan mengorbankan tangannya sendiri untuk menjadi tameng agar air itu tidak mengenai wajah Elisa sedangkan Dika langsung memeluk Elisa dan menyembunyikan wajah Elisa dengan jasnya.
Sehingga dalam pandanganku saat itu aku pikir Dika yang menyelamatkan aku pada awalnya. Hingga ketika Keysa yang menampakkan dirinya sendiri dan berteriak pada Devinka juga melihat dengan langsung tangan Devinka yang terkena air itu, aku pun mengetahui yang sebenarnya, meski aku sendiri juga tahu Dika sama berniat untuk melindungi aku juga namun Devinka yang berkorban dengan tangannya hingga air itu tidak mengenai Dika.
"Aaahhh....Elisa awas!" Teriak Dika langsung melindungiku,
"Byurrrr...brukkk...." Suara air panas itu yang mengenai tangan Devinka dan itu langsung membuat dia kepanasan.
Keysa yang melihat ternyata dia salah sasaran dan justru malah Devinka yang terkena air panas itu dia tidak ingat bahwa dirinya tengah menyamar dia malah membuka masker di wajahnya sendiri lalu langsung mengkhawatirkan Devinka dan memeriksa tangannya yang terkena air panas olehnya.
"Ohh ..astaga Devinka tanganmu, ayo cepat obati itu, kau akan melepuh" ucap Keysa kepada Devinka.
Aku yang melihat itu langsung sadar bahwa ternyata Devinka yang menahan orang itu dan mengorbankan tangannya aku lihat dia mendorong Keysa dan menjauhkan Keysa yang saat itu hendak menyentuh tangannya yang terkena air panas.
Aku juga melihat tangan Devinka yang mulai memerah, aku tahu itu pasti sangat panas sehingga aku langsung menarik tangan Devinka dan membawanya ke kamar mandi dengan cepat lalu menaruh tangannya di bawah keras dan membasuh tangannya itu di bawah guyuran air dengan menitikan air mata.
Tidak bisa aku pungkiri dan aku tidak bisa membohongi diriku lagi bahwa aku sangat mengkhawatirkan keadaannya saat ini, dan aku sungguh tidak bisa menghentikan hatiku untuk mencintainya meski sudah ada Dika yang selalu berusaha keras melindungi aku juga dan memberikan segalanya kepadaku.
"Devinka kau bodoh! Kenapa kau malah melindungi aku, kanapa kau mengorbankan tanganmu seperti ini!" Bentakku memarahinya sambil menitikan air mata.
__ADS_1