Bos Ternyata Musuhku

Bos Ternyata Musuhku
Tidak mendapatkan pekerjaan


__ADS_3

Itu membuatku sangat malu, karena dia tertawa manis seperti itu dan aku langsung merona di buatnya, aku sungguh mempermalukan diriku di hadapan pria yang menyukaiku aku bahkan tidak habis pikir kenapa Dika bisa menyukai wanita sepertiku dengan sangat lama dan tidak pernah menyerah.


"Aihhh.... Maafkan aku, aaahhh ini sangat memalukan" ucapku pelan.


"Haha... Elisa kau sangat lucu, kenapa kau malah malu seperti itu aku bisa berpura-pura tidak mendengarnya jika kau ingin" ujar Dika yang justru membuat aku semakin malu,


"Jangan menyebutkannya terlalu jelas aku akan mati kutu" balasku sambil menutupi wajahku yang sudah merah padam seperti udang rebus saking rasa malunya yang mendarah daging.


Ini adalah pengalaman pertama yang sangat memalukan dan aku tidak bisa menahan diriku sendiri tadi, rasanya aku ingin menggali dan masuk ke dalam lubang saja, atau jika aku bisa menghilang, aku akan memilih untuk menghilang saja.


Dika justru malah terus melihatku seperti itu dan aku segera menyuruh dia untuk memalingkan pandangannya dariku karena aku tidak bisa menahan rasa malu ini lagi terlalu lama.


Hingga setelah kami selesai makan malam, Dika terus saja menatap ke arahku membuat aku merasa sangat tidak nyaman dan aku tidak bisa berada dalam situasi yang sangat canggung dan menegangkan seperti ini.


"Ekhmm.... Elisa bagaimana dengan wawancara mu? Apakah lancar?" Tanya Dika kepadaku.


Aku sudah tahu dia bertanya memulai obrolan seperti itu kepadaku untuk menghilangkan suasana canggung diantara kita namun rasanya aku sangat sebal dan kesal karena dia malah membahas mengenai hal menyebalkan seperti itu.


"Aish.... Kenapa kau malah menanyakan hal itu sih, merusak moodku saja!" Balasku dengan kesal kepadanya.


Dika menatap heran kepadaku dengan wajahnya yang terlihat keheranan seperti itu, aku tahu dia tidak memiliki masalah apapun dan tidak tahu apapun mengenai wawancara itu dan aku justru malah membentak dia tanpa alasan padahal dia jelas hanya bertanya saja kepadaku.


"Ma..maafkan aku maksudku tidak seperti itu, tadi aku hanya bertanya saja, jika kau tersinggung aku minta maaf oke" balas Dika yang merasa sedikit bersalah.


Sekarang justru malah aku yang tidak enak dan merasa bersalah kepadanya karena sudah membentak dia sekeras tadi.


"A..ahh...tidak bukan kau yang salah, harusnya aku yang meminta maaf kepadaku tadi aku hanya terbawa emosi saja, habisnya kau malah menanyakan hal yang tidak ingin aku bahas" balasku kepadanya,


"Ya sudah, lupakan saja masalah wawancara itu jika kau tidak mau membahasnya" balas dia kepadaku.


Aku menghembuskan nafas panjang dan segera menatap Dika dengan tajam dan lurus aku langsung mengatakan semua kejadian yang aku hadapi ketika di wawancara perusahaan webtoon sialan itu.


Karena sekarang aku sudah terlanjur kesal dan emosi kepadanya sehingga aku tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak menceritakannya dan langsung saja aku keluarkan unek-unek di dalam diriku sekaligus.


"Aaarkhhh....sudah, aku sudah terlanjur kesal dan emosi, kau harus mendengarkan ceritaku sekarang karena kau yang membuat aku emosi sejak awal!" Ucapku kepadanya dengan tajam.


Aku langsung menggebrak meja cukup keras saking emosinya dengan dia, bahkan suara gebrakan meja itu membuat Dika tersentak ke belakang dan ku lihat dia mulai memegangi dadanya kaget.


"Brakk...." Suara meja yang aku p*kul dengan kuat hingga piring dan gelas bekas makanan disana bergetar sebab gebrakan dariku yang cukup kuat.


"Astaga.... Apa kau tidak bisa bercerita dengan pelan sedikit saja, aku bisa jantungan jika kau bercerita dengan cara seperti itu" balas Dika kepadaku,


"Tidak bisa! Aku sedang emosi dan aku harus melupakannya jika tidak aku yang akan menghajarmu!" Balasku kepadanya dengan keras.


Dika yang melihat Elisa marah secara langsung di hadapan matanya sendiri untuk pertama kalinya, dia pun tidak dapat berkutik lagi dan hanya bisa mengangguk patuh lalu membiarkan, Elisa untuk meneruskan apa yang akan dia bicarakan saja.


"A..ahhh...iya...iya ya sudah, ayo kau mulai ceritanya saja aku akan mendengarkan ceritamu dengan baik" balas Dika kepadaku.


Aku pun langsung segera menjelaskan semua yang aku hadapi di acara wawancara sialan yang sangat menguras kesabaran itu.

__ADS_1


"Kau tahu tidak ternyata perusahaan webtoon itu adalah tempat kerja milik si sialan wanita j*Lang murahan itu! Si Keysa sialan yang sangat menjengkelkan ada disana dan dia menjadi panitia wawancaraku, itu sangat membuat aku jengkel dan kesal, bahkan saat pertama kali melihat wajahnya yang duduk di meja pewawancara aku sudah tahu bahwa aku tidak akan lolos, aaarrgghhh....ini bahkan menyebalkan untuk di ingat" ucapku mulai mengatakan kekesalanku sedikit kepadanya.


Dika yang mendengar itu dia terbelalak membuka matanya lebar saking kagetnya mendengar hal tersebut sebab dia tidak menduga jika ternyata perusahaan komik yang di lamar oleh Elisa ternyata adalah perusahaan yang berada di bawah naungan kedua orangtuanya Keysa, pasalnya Dika juga baru mengetahui hal itu saat ini.


"Apa? Jadi perusahaan yang kau datangi tadi itu adalah perusahaannya Keysa? Wahhh bagaimana bisa kebetulan sekali seperti itu?" Tanya Dika sedikit meninggikan suaranya.


"Sudah diam! Aku belum selesai bercerita, beraninya kau menahanku dan memotong ucapanku seperti itu!" Bentakku yang justru malah menjadi emosi kepada Dika karena dia memotong ceritaku.


Pantas saja aku emosi dia memotong aku di saat aku tengah bercerita, padahal


dirinya sendiri yang meminta aku untuk menceritakan masalah hal tersebut, di tambah hal yang tengah aku bicarakan ini adalah hal yang membuat aku sangat emosi dan bergejolak karena kekesalan sehingga aku dengan mudah akan terpancing emosi ketika Dika memotong ucapanku di tengah-tengah cerita seperti itu.


Aku berhasil membuat Dika seketika diam dan dia menutup mulut dengan kedua tangannya dengan segera ketika aku membentak dia saat itu, hingga aku kembali melanjutkan ucapanku yang sempat tertahan dan terpotong olehnya tadi.


"Dan kau tahu Dika? Dia menyerangku, kau lihat ini lihat rambutku yang rontok ini, ini semua adalah ulahnya si Kesya sialan itu, dia menyerang aku dari belakang secara tiba-tiba, mentang-mentang dia adalah bos disana dia berani sekali menjambak rambutku dan mencakar tanganku dengan kuku jarinya yang tajam itu hingga tanganku seperti ini, ayo lihat ini, ini sangat sakit dan perih sebelumnya bahkan aku belum mengobati semua ini karena tidak sempat, tapi ketika aku mau membalaskan perbuatannya aku malah mengampuni orang seperti itu, huuuhh..... Bukankah aku ini bodoh? Seharusnya aku membuat pelajaran berharga padanya atau meninggalkan bekas luka juga pada fisiknya agar kita setimpal, tapi aku malah lemah dan tidak bisa melakukan itu, sekalipun pada orang jahat sepertinya" tambahku sambil kembali duduk dengan lesu dan tidak semangat lagi.


Dika justru malah tersenyum menanggapi ucapanku yang terakhir dan dia berjalan mendekatiku lalu dia berkata dengan sangat lembut sambil duduk di sampingku dan mengelus bagian atas kepalaku sama lembutnya dengan perkataan yang dia lontarkan.


"Elisa kau tidak bodoh justru kau sangat kuat dan karena kau mengalah juga tidak mengikuti emosimu, dengan itulah kamu menang, dan kamu akan selalu menang di hatiku" balas dia sambil tersenyum lembut padaku,


"Benarkah? Apa aku memang seperti itu?" Balasku masih merasa bahwa aku yang kalah,


"Aku sungguhan Elisa, kenapa kau harus murung seperti ini hanya karena wanita tidak berguna sepertinya, meski kamu tidak sekaya dia tapi kamu adalah wanita yang mandiri dan bisa hidup hanya menggandalkan dirimu sendiri, kau adalah wanita paling keren dan kaut yang pernah aku temui dan karena itulah banyak orang yang menyukaimu" balas Dika memujiku.


"Tapi tetap saja orang sepertiku akan kalah dengan orang-orang seperti Keysa yang memiliki kedudukan tinggi dalam hidupnya, mereka juga akan selalu bisa dengan mudah menyingkirkan aku bukan?" Balasku lagi.


Dika tiba-tiba saja memelukku dengan erat dan aku merasa pelukan itu begitu hangat dan memberikan sebuah kekuatan kepadaku sehingga aku bisa merasa sedikit lebih baik setelah dia memelukku meski masih ada rasa jengkel ketika mengingat bagaimana wajah wanita sialan itu saat menjambak rambutku di perusahaannya saat itu.


"Tenang saja aku akan membuatmu menjadi wanita yang sukses, jika kau mau kau bisa bekerja di perusahaanku atau mengelola salah satu cafeku, aku juga bisa membangunkan cafe baru untukmu" ucap Dika berbicara dengan begitu mudahnya.


Aku terperangah kaget mendengar perkataan yang dia katakan kepadaku, pasalnya dia berkata seperti itu dengan sangat mudahnya dan wajahnya itu terlihat santai sekali tidak menunjukkan apapun.


"Hey, Dika apa kau sehat, memangnya kau pikir membuat cafe itu semudah yang kau bayangkan hah? Aishh.... Kau ini ada-ada saja" balasku kepadanya sambil sedikit bergeser menjauh darinya.


Bukannya sadar Dika justru malah tertawa kepadaku dan itu membuat aku semakin merasa aneh dan heran kepadanya.


"Ahaha ... Elisa apa kau lupa aku ini kaya aku bisa membuat apapun untukmu, aku juga bisa mewujudkan semua mimpimu asalkan kau mau menikah denganku, aku bisa memberikan semuanya bahkan jika kita hanya sebagai pacar" ucapnya lagi membuat aku yang saat itu tengah meneguk air langsung tersedak.


"Ohok....ohok...ohok...a..apa? Aishh...kau benar-benar gila, sudah lah aku mau pergi tidur saja kau sudah tidak waras" ucapku salah tingkah sambil segera pergi ke kamar menjauhi Dika.


Sedangkan dia hanya menatapku terus sambil tersenyum yang bagiku itu adalah senyuman yang cukup menyeramkan, aku pun segera masuk ke dalam kamar dan dengan cepat menutup pintunya, tidak tahu lagi apa yang akan dia katakan dengan mudahnya untuk menjadikan aku istrinya sampai mau memberikan segalanya untukku.


Mendengar itu saja aku sudah ngeri dan merinding di buatnya, bukan karena aku tidak percaya dengan kekayaannya tapi justru karena aku takut dia akan benar-benar melakukan hal itu kepadaku sedangkan aku tidak ingin sukses karena bantuan orang lain, aku ingin mencobanya dari bawah sendirian, barulah aku bisa menikmati hasilnya dengan tenang nanti.


Aku duduk di samping ranjang dan masih merasa tidak percaya seorang Dika bisa berkata seperti itu kepadaku.


"Wah....wah...apa dia benar-benar sudah gila yah? Atau kepalanya sudah terbentur sehingga menjadikan otaknya bergeser? Mana ada orang yang mau melakukan apapun bahkan aku sendiri tidak akan melakukan semua itu untuk Devinka meski sebelumnya aku sangat mencintai dia, aaaahhh.... Dia benar-benar, si bucin tingkat dewa" gerutuku terus bicara sendiri di dalam kamar.


Aku segera merebahkan tubuhku dan segera tidur untuk menghapus semua pemikiran yang membingungkan itu.

__ADS_1


Beberapa hari kemudian aku sudah memasukkan banyak lamaran ke semua perusahaan dan semuanya menolakku hanya dengan melihat wajahku sekali, mungkin semua ini adalah ancaman yang terjadi secara nyata yang dikatakan oleh wanita sialan Keysa itu.


Dan tepat hari ini dan hari dimana aku mendapatkan penolakkan lagi.dari peruiyang bahkan rantingnya saja cukup jelek, aku benar-benar sangat jengkel dan berteriak di jalanan untuk melepaskan emosiku.


"Aarrlkhhh....si Keysa sialan! Kau wanita iblis menjengkelkan! Aaaartkkkkk" teriakku sangat emosi.


Aku bahkan langsung merobek surat lamaran yang ada di dalam amplop coklat yang sejak kemari selalu aku bawa-bawa kemanapun, sekarang aku merobek semuanya dan membuang surat lamaran itu ke tong sampah dengan penuh emosi hingga di saat aku hendak menyebrang sebuah mobil tiba-tiba saja berhenti dan menekan klaksonnya membuat aku kaget.


"Tid.....tid....." Suara klakson mobil itu yang sangat keras dan memekikkan telingaku,


"Aishhh... Siapa sih, kenapa dia selalu menentang klakson menjengkelkan itu di saat aku hendak berjalan" gerutuku sangat kesal.


Aku tadinya berjalan mendekati mobil itu dan berniat untuk melabrak sang pengendara mobil dan memarahinya namun saat melihat ternyata itu Dika Dan Ciko aku langsung membuang nafas kasar, mereka juga menyuruhku untuk segera masuk ke dalam.


"Aish ternya kalian, pantas saja sangat menjengkelkan" gerutuku kepadanya,


"Sudah jangan marah-marah terus seperti itu, ayo masuk Reksa ada di belakang" ujar Dika mengajakku masuk.


Aku pun segera menurutinya dan duduk di kursi belakang bersampingan dengan Reksa, ku lihat Reksa tengah tertidur disana dan aku langsung menyenggolnya sedikit karena dia menghalangi tempat dudukku namun sialnya aku sepertinya menyenggol pundak dia terlalu keras hingga dia terpentok ke samping lain dan membuat Reksa langsung terbangun sambil meringis merasakan sakit di kepalanya itu.


"Dukk.... aduhhhh" ringis reksa yang terpentok ke kaca mobil,


"Eh ..maafkan aku Reksa aku tidak sengaja, maaf yah sini biar aku lihat apa kepalamu tidak terluka?" Ucapku bersikap baik karena takut dia akan mengamuk.


Reksa menatap aku dengan tajam dan perlahan menunduk ke arahku hingga aku memeriksa kepalanya dan untung saja kepalanya itu tidak terjadi apapun hanya sedikit merah saja.


"Ahhh ..untunglah tidak papa" ujarku sambil kembali duduk ke posisi awal.


Spai tiba-tiba saja mobil berhenti karena Dika menghentikan mobil yang tengah di kemudikan oleh Ciko dengan keras dan wajahnya terlihatemosi tidak menentu hingga dia masuk ke jok belakang dan menarik Reksa dengan kasar menyuruh Reksa untuk pindah ke tempat duduk yang ada di depan, bertukar dengan tempat duduknya.


"Eh...eh...eh...Dika ada apa denganmu, aishh lepaskan aku kau ini kenapa sih" bentak Reksa merasa heran.


Bukan hanya dia yang heran aku dan Ciko juga merasa heran melihat Dika yang tiba-tiba saja marah tidak jelas seperti itu sampai menyuruh Reksa dan menyeret ya hingga berpindah duduk dengannya.


"Sudah kau duduk di depan dan biar aku yang duduk di samping Elisa, kau duduk di dekatnya malah mencari perhatian dasar kau" ucap Dika memarahi Reksa.


Kini kami semua tahu kenapa dia tiba-tiba saja marah seperti itu hingga dia duduk di sampingku dan Ciko kembali melajukan mobil sambil menahan tawa melihat Reksa yang sudah habis berantakan karena di seret oleh Devinka dengan paksa sebelumnya.


"CK...kau cemburu kepadaku padahal sudah tahu sejak dulu aku sudah dekat dengan Elisa, aku hanya berteman dengan dia, aku juga memiliki orang yang ku sukai, kau tidak perlu khawatir begitu" balas Reksa yang membuat kami semua kaget mendengarnya.


Selama ini Reksa hanya menguntit Dika dan Ciko karena dia sudah memutuskan hubungan dengan Devinka atau terkadang dia selalu bermain denganku saja dia juga sering mengantar aku untuk melamar pekerjaan disaat dia santai dan punya banyak waktu luang.


Sehingga aku sedikit kaget dan bingung ketika mendengar Reksa memiliki seseorang yang dia sukai, padahal selama ini aku tidak pernah melihat dia dekat dengan wanita manapun atau tengah mendekati wanita manapun juga.


"Hah? Kau menyukai seseorang? Siapa itu?" Tanyaku dengan penasaran.


Habisnya wajahnya itu sangat membuat aku penasaran dan aku ingin tahu wanita mana yang berhasil merebut hati seorangReksa yang pecicilannya minta ampun dan memiliki karakter seperti bocah atau bahkan bayi.


Mungkin semua wanita tidak akan ada yang tahan dengan kelakuannya, maka dari itu aku dan yang lainnya sangat penasaran ketika mendengar hal tersebut terlebih itu keluar langsung dari mulut Reksa.

__ADS_1


Tapi dia justru malah diam saja disaat kami semua sudah mendesak dia terus menerus, bahkan kami semua sudah sangat tidak tahan lagi menunggu Reksa untuk menjawabnya.


"Hey....Reksa cepat katakan kenapa kau malah diam saja? Aishhh membuat aku jengkel saja!" Bentakku kepadanya saking merasa penasarannya.


__ADS_2