Bos Ternyata Musuhku

Bos Ternyata Musuhku
Perpisahan


__ADS_3

Aku pikir saat itu setelah mendengar penjelasanku Lili akan marah karena aku malah mendengarkan ancaman dari ibunya bukan isi hatiku dan persahabatan diantara aku dan dia, namun rupanya dugaanku salah, Lili justru hanya tersenyum padaku.


"Ehh, Lili apa kamu tidak marah denganku kenapa hanya tersenyum saja?" Tanyaku semakin heran dengan sikapnya,


"Tidak, tentu saja aku tidak marah karena aku sudah tau semua itu pasti perbuatan ibuku, Elisa kedatangku ke mari bukan karena itu, tapi....." Ucap Lili tertahan dan wajahnya berubah menjadi murung.


Lili menunduk dan tidak melanjutkan ucapannya.


Melihat perubahan sikap dari Lili saat itu aku langsung merasa heran dan cemas dengan apa yang akan dia katakan, dan aku terdiam menunggu Lili untuk melanjutkan ucapannya namun dia lama sekali terus diam tertunduk, membuatku semakin penasaran dan tidak sabar untuk mendengarnya.


"Lili apa yang ingin kamu katakan sebenarnya?, Tolong jangan buat aku khawatir!" Ucapku tidak sabar dan sedikit cemas,


Lili menarik nafas pelan dan membuangnya perlahan lalu dia mulai mengangkat kepalanya dan menggenggam kedua lenganku cukup erat.


"Elisa...sebelumnya aku minta maaf kepadamu, dan kamu harus berjanji padaku bahwa kita akan terus menjadi sahabat sampai kapanpun" ucap Lili dengan wajah yang sendu.


Melihat itu aku semakin kebingungan dan terus merasa heran, saat itu aku sungguh tidak memahami apa yang tengah dibicarakan Lili padaku, tiba tiba saja dia bersikap sangat serius dan nampak penuh ke sedihan di tambah dia terus saja memintaku untuk membuat janji dengannya.


"Baiklah aku berjanji padamu lagi pula tanpa kamu memintanya kita memang akan menjadi sahabat sampai kapanpun kamu juga tau itu kan" jawabku menyetujui ucapan Lili.


Lili nampak mengangguk sambil tersenyum ke padaku lalu dia mulai melanjutkan lagi ucapannya.


"Begini Elisa mungkin kamu kebingungan karena aku tiba tiba seperti ini namun kamu harus tau aku tidak akan bisa menemui atau menghubungi kamu lagi mulai saat ini, dan mungkin ini terakhir kalinya kita bertemu, aku mohon Elisa tuliskan nomor ponselmu untukku agar aku bisa menghubungimu nanti" jawab Lili membuatku semakin takut dan heran,


"Lili tolong katakan yang sebenarnya, kenapa kamu bicara seperti itu, jangan membuatku takut!, Memangnya kamu mau kemana?" Jawabku dengan penasaran,


Bukannya menjawab ucapanku Lili justru malah memelukku dengan erat dan aku refleks membuka mataku dengan lebar aku bingung dengan sikap Lili yang tiba tiba berubah dramatis seperti ini terlebih dia tidak menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepadaku.


"Lili kenapa kamu memelukku ada apa sebenarnya, tolong cepat katakan Lili!" Ucapku mendesaknya.

__ADS_1


Aku langsung berusaha melepaskan pelukan Lili dari ku dan menatapnya dengan lekat sampai akhirnya Lili mau berbicara kepadaku.


"Aku akan dikirim oleh ibuku ke luar negeri dan aku tidak tau dengan jelas ke negara mana dia akan mengirim ku, yang pasti dia akan membuatku semakin jauh darimu, aku tidak akan bisa menghubungimu dan kini waktuku hanya tinggal beberapa menit lagi, aku hanya ingin meminta nomor ponselmu Elisa untuk yang terakhir kalinya tolong biarkan aku memelukmu sepuasnya" jawab Lili dengan mata yang mulai berkaca kaca.


Susah payah aku menelan salivaku dan menatapnya dengan sendu, Lili memelukku lagi dengan erat dan aku bahkan tidak bisa bergerak sedikitpun aku diam mematung di saat Lili memelukku dengan erat dan mengusap lembut kepalaku, kemudian dia melepaskannya beberapa saat dan menghapus air mata yang mulai jatuh dari pelupuk mataku hingga membasahi pipi.


Aku segera mengambil bolpoin yang ku sematkan di saku pakaianku dan segera aku menuliskan nomor ponselku pada tangan Lili aku tau jika aku menuliskan nomorku pada secarik kertas aku takut ibunya akan mengetahui itu.


"Ini simpan baik baik nomorku dan hubungi aku jika keadaannya sudah aman, aku akan menantunya" ucapku sambil memegang lengan Lili.


Lili mengangguk dan dia melihat jam di lenganku yang menunjukkan waktunya hanya tinggal beberapa menit lagi, dia pun segera berpamitan dan hendak bergegas pergi dari sana, dan aku hanya bisa melihat kepergiannya.


"Astaga Elisa waktuku sudah tidak banyak akan bahaya jika ibu tau aku menemuimu, maafkan aku, jaga dirimu baik baik Elisa aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa" ucap Lili sambil terburu buru dan berlari dengan cepat keluar dari ruangan itu.


Sampai Lili keluar dari sana Devinka dan Reksa langsung masuk ke dalam dan menghampiriku yang berjongkok sambil menangis tersedu sedu.


Sulit bagiku untuk tidak merasa sedih dan menahan tangisanku di saat tahu jika aku akan kehilangan sosok sahabat terbaik yang selama ini menemaniku setiap saat.


"Hiks..hiks...Lili, maafkan aku" ucapku disela sela tangisan,


Reksa menghampiriku dan berjongkok sambil memegangi lenganku dan mulai bertanya kepadaku.


"Ya ampun Elisa ada apa denganmu?, Apa yang kalian bicarakan sampai kau menangis seperti ini?" Tanya Reksa,


"Tidak...aku baik baik saja, tapi Reksa bisakah kamu membantuku sekali ini saja aku mohon" ucapku memohon pada Reksa untuk pertama kalinya,


Saat itu aku tidak perduli dengan gengsi maupun harga diriku meski.di hadapanku ada Devinka aku sungguh tidak memperdulikannya aku harus memberikan sebuah kenang kenangan kepada Lili agar jika sesuatu terjadi dia tidak akan melupakanku.


Aku berniat untuk menyusul Lili dan mengantarnya pulang karena aku tau ini akan menjadi pertemuan terakhir antara aku dan Lili, dan aku melihat sebuah gantungan kunci yang selalu aku pakai dan aku bawa ke mana mana, sebelumnya Lili juga sangat menyukai gantungan boneka babi kecil itu.

__ADS_1


Aku berniat memberikannya pada Lili sebagai sebuah kenang kenangan dariku untuknya.


"Bantuan apa?" Tanya Reksa dengan kedua alis yang dinaikkan bersamaan,


"Tolong antarkan aku bersama Lili, aku mohon dia harus tiba di sana dengan tepat waktu kalau tidak ibunya pasti akan sangat marah" jawabku kembali memohon.


Reksa tidak menjawab ucapanku dan dia malah melihat ke arah Devinka seakan tengah menunggu jawab darinya, aku tau Reksa hanya akan membantuku jika Devinka mengijinkannya dan aku langsung bangkit berdiri saat itu juga.


Aku meraih tangan Devinka dan kembali memohon meminta bantuan darinya, sebab hanya itulah satu satunya cara agar aku bisa mengejar Lili yang sudah pergi.


"Devinka aku mohon, tolong bantu aku kali ini saja, ini juga tidak akan merugikanmu, aku janji akan menurutimu aku mohon Devinka" ucapku dengan wajah memelas.


Akhirnya Devinka mau membantuku dan dia menyuruh Reksa untuk mengurus izin aku dan dia di perusahaan sedangkan Devinka langsung menarik lenganku dan kami berlari mengejar Lili.


"Baiklah, Reksa urus izin untukku dan cewek ayam ini, kau ayo ikut aku.." ucap Devinka tanpa basa basi.


Saat aku mengejar Lili untunglah masih sempat dan saat itu Lili tengah berdiri di samping jalan menunggu sebuah taxi lewat sudah ku duga dia akan seperti itu makanya aku meminta bantuan Devinka agar Lili bisa pulang dengan cepat.


Aku berteriak memanggil Lili dan membawanya masuk ke dalam mobil Devinka, lalu Devinka langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju alamat yang sudah aku beritahu pada dia sebelumnya.


"Lili...ayo ikut aku.." teriakku sambil langsung menarik lengannya dan membawanya masuk ke dalam mobil.


Lili nampak kebingungan dan langsung bertanya tanya kepadaku.


"Elisa apa yang kamu lakukan?, Kenapa kamu akan membawaku waktunya tidak lama lagi ibuku pasti sudah hampir sampai sekarang" ucap Lili kepadaku dengan panik,


"Tenang Lili aku akan mengantarmu tepat waktu, percayalah padaku, dan ini ambil gantungan ini sebagai kenang kenangan dariku bukankah kamu sangat menyukainya kini aku memberikannya untukmu dia akan memberikan keberuntunganku padamu" ucapku pada Lili sambil memberikan gantungan kunci berbentuk bonek babi kecil.


Lili tersenyum dan menerima hadiah itu dariku, aku pun terus meminta agar Devinka melajukan mobilnya lebih cepat sampai akhirnya kami bisa mengantar Lili tepat waktu, dia langsung keluar dari mobil dan memanjat pagar rumahnya dengan lihai.

__ADS_1


__ADS_2