Bos Ternyata Musuhku

Bos Ternyata Musuhku
Menabrak


__ADS_3

Aku melemparkan senyum gembira karena tak sabar menunggu traktiran selanjutnya dari kak Kris, sedangkan kak Kris nampak tersenyum malu malu dan dia segera menarik lengannya lalu memalingkan pandangan dariku.


Kak Kris ini memang cukup menyenangkan aku bisa dengan cepat begitu akrab bicara dengannya dia juga satu frekuensi denganku, kami berdua pun menikmati mie instan itu bersama hingga setelah selesai aku dan kak Kris kembali ke kantor polisi sebab tas ku masih berada di ruangan kumuh di sana.


Saat sampai di depan kantor polisi, bahkan kak Kris tidak ingin mengantarku mengambil tas di ruang istirahat wartawan karena dia sudah tahu jika ruangan itu adalah nerakanya bagi seorang wartawan seperti kami.


"Kak apa kau tidak mau menemaniku untuk mengambil tas di sana?" Tanyaku menawarkan,


"Tidak terimakasih, sudah cepat sana pergi dan kembalilah lebih awal agar kita bisa melaporkan berita pertamamu pada ketua tim lebih cepat" katanya yang langsung ku tanggapi dengan anggukan.


Sebelumnya aku juga sudah menduga bahwa kak Kris memang orang yang seperti itu dia tidak mau mengantarku membawa barang barang milikku, belum lagi di sana juga ada satu tas milik kak Eril yang dia tinggalkan karena pergi dengan terburu buru sebelumnya.


Aku berjalan menuju ruangan itu dengan perasaan yang kesal dan saat membukakan pintu ku lihat di sana ada beberapa orang berbaju hitam yang membereskan ruangan itu tak lupa di sana juga ada Devinka yang menunjuk ke sana kemari memerintah beberapa orang tersebut untuk membereskan ruangan.


Saat tas ku diambil oleh anak buah Devinka aku langsung berlari ke dalam dan merebutnya dengan cepat.


"Eh...eh...kemarikan ini tas ku, seenaknya memindahkan barang orang" ucapku sambil merampas tas itu dari genggaman salah satu orang suruhan Devinka.


Aku bisa berpikir mereka adalah orang suruhan Devinka karena sudah sangat jelas mereka dikendalikan oleh Devinka bahkan saat aku merebut tas ku dari tangan salah satu pria itu, mereka semua langsung menatap ke arah Devinka seakan meminta perintah, aku sungguh sangat jengkel dengan kelakuannya.


"Biarkan saja, kalian lanjut bereskan aku tunggu di luar" kata Devinka sambil berjalan meninggalkan ruangan.


"Aishh....dasar manusia itu, aahhh dia memang orang kaya yang bisa melakukan apapun di manapun, mungkin dia juga kebal hukum ahhh beruntung sekali bisa hidup sepertinya" gerutuku sambil membereskan barang barangku di sana.


Selesai membereskan semua barang aku segera memakai ranselku di punggung dan mengangkat satu ransel lainnya di depan dadaku, aku kesulitan melihat jalanan di depan karena tas kak Eril yang cukup besar dan berat sehingga membuatku tak sengaja menabrak Devinka.


"Duk..." Suara tas yang menabrak Devinka,

__ADS_1


"Ehh... Sepertinya tadi aku menabrak sesuatu tapi apa yah?, Aishh kenapa aku tidak bisa berjalan" gerutuku sambil terus memaksa untuk mendorong tas itu.


Aku tidak tau jika di saat yang sama tas tersebut menabrak Devinka dan jelas sekali aku tidak bisa melewatinya begitu saja.


Devinka berteriak sangat keras sambil mendorong tas yang tengah aku angkat sampai membuatku terjatuh begitu pula dengan tas itu.


"ELISAAA!, Minggir kau dari hadapanku..." Teriak Devinka membentak dengan penuh emosi


Aku bahkan sampai kaget ketika mendengar bentakan darinya yang begitu keras dan langsung terjatuh saat dia mendorongku.


"Brukkk...." Suaraku yang jatuh beserta semua tas yang kubawa,


"Aahhh....Devinka kenapa kau mendorongku?" Tanyaku padanya dengan heran,


"Kau masih berani bertanya kenapa?, Apa kau tidak sadar kalau tas besarmu itu menabrakku berkali kali sampai aku hampir tersungkur sepertimu barusan, untung saja aku kuat tidak lemah sepertimu" jawabnya sambil merapihkan pakaian yang dia kenakan.


"Awas, minggir kau dari jalanku jika kau tidak ingin aku tabrak lagi!" Ujarku dengan tatapan sinis.


Devinka menyingkir dengan kesal bahkan aku tahu jika dia masih sempat untuk meledekku di belakang, namun aku tidak memperdulikannya karena ingat bahwa di luar masih ada kak Kris yang menunggu kedatanganku.


Seandainya tidak ada kak Kris yang menungguku aku sudah pasti akan memukul Devinka saat itu juga dan tidak akan membuatnya mudah seperti sekarang, tapi kali ini tidak ada yang bisa kulakukan aku harus bersikap sedikit lebih sabar dalam menghadapinya.


Aku segera memasukkan kedua tas besar itu ke dalam mobil dan kak Kris bukannya membantuku yang kesulitan dalam membawanya dia justru malah menertawakan ku dan mengatai aku saat sudah duduk di sampingnya.


"Haha...Elisa kenapa bawaanmu banyak sekali?, Apa kau berniat menginap di tempat kumuh itu dalam waktu yang lama?" Tanya kak Kris sambil menertawai ku,


"Ini karena perintah kak Eril, awalnya aku memang akan tidur di sana tapi untunglah bisa mendapatkan berita lebih cepat dari dugaanku" jawabku padanya,

__ADS_1


Kak Kris masih tetap menertawakan ku dan itu membuatku sangat kesal, rasanya aku ingin menyobek mulut kak Kris saat itu juga tapi aku sadar saat ini meski sudah akrab aku dan dia masih kenakan baru dan kami hanya rekan kerja biasa saja, dia mungkin tidak akan menerima jika aku bicara kasar padanya.


Hingga aku hanya bisa menyuruhnya diam dengan sedikit ucapan saja.


"Kak bisakah kau berhenti menertawakan ku itu juga bukan semua barang milikku" ujarku tanpa menatapnya sedikitpun.


"Aahh...iya baiklah lagi pula aku juga sudah tahu jika itu barang milik Eril kan" jawab kak Kris yang membuatku menaikkan kedua alis dan membelalakkan mata sempurna.


Padahal aku tidak memberitahunya tapi kak Kris sudah mengetahui itu dengan sendirinya tentu saja aku merasa kaget dan heran.


"Eh... Darimana kakak tahu, aku kan belum menyebutnya?" Ungkapan heran,


"Aku pernah menjadi anak baru sepertimu dan kita bernasib sama dalam waktu yang berbeda, jadi tentu saja aku tahu semuanya" balas kak Eril di iringi senyuman,


"Huuh pantas saja tadi kau terus tertawa ternyata pernah merasakannya juga, tapi kak kau pasti tidak pernah merasakan memiliki rekan satu tim yang menjengkelkan seperti rekanku, karena ku lihat di departemen dua semuanya orang baik juga sangat ramah" ungkap ku mulai mengobrol dengannya,


Kak Kris nampak tersenyum kecil sebelum dia menjawab ucapanku.


"Apa kau sekarang sedang membicarakan anak laki laki yang ada di departemen satu itu yah?" Balas kak Kris yang baik bertanya,


"Ehh...ti...tidak kok aku membicarakan yang lain" jawabku menutupinya.


Kak Kris lagi lagi hanya tersenyum lebar dan aku memutuskan untuk tidak melanjutkan pembicaraan itu lagi, kak Kris juga menyetir dengan fokus menuju perusahaan.


Jarak dari kantor polisi tempat ku mencari berita memang cukup jauh dengan perusahaan untukku melaporkan berita hasil penemuanku, sehingga saat di perjalanan aku tak sengaja malah tertidur saking lelahnya.


Apalagi ketika merasakan tubuh yang sakit karena sempat berkelahi dengan dua orang pria yang menjengkelkan sebelumnya, sudahlah mengorbankan diri bertarung, dua perampok itu malah berhasil kabur dan niat untuk menjadikan kejadian itu pemberitaan utama juga gagal karena aku lupa menanyakan nama ibu yang menjadi korban perampokan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2