Bos Ternyata Musuhku

Bos Ternyata Musuhku
Menyadari


__ADS_3

Tiba-tiba saja kak Kris terlihat senyum-senyum sendiri sambil menatap ke arah seorang pelayan yang tengah mengajukan hidangan pesanan kami di meja dia terlihat begitu lekat menatap pelayan tersebut dan yang tidak disangka pelayan wanita yang usianya mungkin tidak jauh denganku dia juga mengedipkan mata kepada kak Kris, sontak hal itu membuat aku kak Anne juga kak Eril yang ada disana langsung tersentak kaget.


"Ohok....ohok...." Suara kak Anne yang terbatuk karena saat itu dia tengah meneguk air mineral.


"Ya ampun kak Anne, kau tidak hati-hati ya" ucapku membantu dia mengusap pakaiannya yang basah,


"Wahhh.....Kris apa kau ini gila yah? Kau membawa kami makan disini pasti karena pelayannya yang cantik dan seksi itu kan?" Bentak kak Anne sambil menjewer telinga kak Kris dengan keras,


"Adududuh....hey Anne lepaskan tanganmu dari telingaku! Aishh...kau ini menyebalkan sekali" ucap kak Kris meringis kesakitan sambil menepuk tangan kak Anne hingga melepaskan tangannya.


Meski sudah menjewer dan memarahi kak Kris, kak Anne tetap saja memasang wajah yang kesal dan cemberut, dia seperti sangat benci dengan kak Kris begitu juga tatapannya pada pelayan seksi itu yang terlihat menggoda semua pengunjung restoran.


"CK....menyebalkan kenapa kau tidak sekalian saja membawa kami ke bar, disana ada banyak wanita cantik dan seksi dan bisa kau beli!" Bentak kak Anne sambil menatapnya sinis.


Aku dan kak Eril tidak bisa melakukan apapun dan kami berpura-pura untuk menikmati makanan disana tanpa melihat ke arah kak Anne ataupun kak Kris, karena kami tidak ingin ikut campur dengan urusan mereka berdua.


Kak Kris segera meminta maaf pada kak Anne dan mulai memuji dia hingga akhirnya kak Anne kembali memaafkan mata jelalatannya itu.


"Anne...ayolah dia hanya aku pandang tapi yang ada di sampingku tetaplah Anne seorang, jangan marah lagi oke" ucapnya sambil menggenggam kedua tangan kak Anne dengan lembut.


"Anne apa kau cemburu padaku yah, apa kau sudah menyukaiku?" Tanya kak Kris semakin menggoda kak Anne,

__ADS_1


Mereka terus saja berbicara bersama sampai akhirnya kak Anne luluh dan mereka segera berbaikan kak Eril yang melihat kondisi itu dia langsung mengajak aku untuk pergi dari sana, agar tidak mengganggu kedua pasangan baru itu.


"Elisa ayo kita pergi saja dari sini" ajaknya sambil menarik tanganku.


Aku tidak bisa menolak karena aku juga tahu bahwa kak Eril melakukan itu agar tidak mengganggu kak Kris dan kak Anne, aku mengangguk dan mengikuti dia keluar dari restoran tersebut.


Kak Kris dan kak Anne memang sudah menjadi pasangan kekasih sejak satu Minggu yang lalu, aku dan kak Eril bahkan baru menyadarinya beberapa hari lalu saja dan sejujurnya aku tidak menyangka mereka bisa menjadi pasangan kekasih, padahal selalu bertengkar dan memiliki karakter yang bertolak belakang satu sama lain.


Kak Eril membawaku masuk ke dalam mobilnya dan dia mengajak aku untuk pergi ke cafe yang tIdak jauh dari restoran itu, kebetulan sekali cafe yang aku datangi bersama kak Eril adalah cafe milik Dika yang baru dia buka satu bulan yang lalu, aku sedikit gugup untuk masuk ke sana bersama kak Eril karena aku takut Dika tengah berada di dalam sana dan menemukan aku bersama pria lain.


"Aduhh ...gawat kenapa kak Eril malah membawaku kemari, bagaimana jika kalau ada Dika aaahh ini bahaya" gerutuku di dalam hati merasa sangat cemas.


Aku gugup dan bingung tapi kak Eril mendesakku untuk segera masuk, untungnya tepat ketika kita baru duduk di depan meja kak Eril mendapatkan panggilan mendesak sehingga dia harus pergi saat itu juga dan tidak bisa mengantarku pulang sehingga aku lebih memilih untuk diam sejenak di sana.


"Oh, tidak masalah kak. Aku juga mau tinggal disini sejenak, kakak pergi saja" ucapku mengijinkannya.


Kak Eril pun pergi dan aku segera memesan minuman, namun yang datang bukanlah pelayan cafe itu melainkan Dika dengan membawa buku menu di tangannya dan menyapaku dengan tersenyum lebar.


"Hai....Elisa apa yang mau kau pesan?" Ucapnya membuatku kaget dan refleks menatap ke arah kak Eril yang saat itu hampir keluar dari cafe.


Dika langsung menangkup wajahku dan dia membalikkan wajahku untuk menatap ke arahnya dalam sekejap.

__ADS_1


"Elisa...apa yang kau lihat, kau menyukai pria lain selain Devinka yah?" Katanya membuatku membelalakkan mata.


Aku sudah berusaha menghindari hal dan kesalahan pahaman seperti ini, tapi justru malah terjadi di waktu yang aku tidak duga.


"E..ehhh, apa maksudmu? Tentu saja tidak aku hanya menyukai Devinka bahkan.....disaat dia tidak pernah memberiku kabar lagi" ucapku pelan sambil menghembuskan nafas lesu.


Dika langsung duduk di hadapanku dan dia mulai menyilangkan kakinya dan mengatakan sesuatu mengenai Devinka kepadaku.


"Elisa jangan menunggunya lagi atau mengharapkan kedatangannya, dia tidak akan kembali" ucap Dika dengan wajah yang berubah serius,


Aku tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Dika sudah dua kali dia selalu mengatakan agar aku tidak mengharapkan Devinka lagi, meski aku tahu dia menyukaiku lebih dulu di bandingkan Devinka tetapi aku tahu dia tidak akan melakukan hal semacam ini untuk mendapatkan aku.


"Dika apa yang kamu maksud sebenarnya, ini sudah yang kedua kalinya kamu memperingati aku seperti itu, apa Devinka sungguh tidak akan kembali lagi ke sini?" Tanyaku kepadanya.


Aku sangat ragu untuk mendengar jawaban dari Dika dan degup jantungku terasa begitu kencang, antara gugup dan takut. Aku merasakannya bersamaan dan aku sungguh tidak ingin kehilangan sosok Devinka dalam hidupku, cintaku padanya belum sempat tersampaikan apalagi berkembang tetapi aku sudah dia tinggalkan seperti ini, tentu saja itu membuat aku merasa sakit dan tidak adil.


Dika juga lama tidak membalas pertanyaanku dan dia malah menatapku dengan lekat hingga aku mendesaknya untuk menjawab, barulah dia mengatakannya.


"Dika kenapa kau diam saja, jika kau tidak ingin memberitahuku aku tidak akan pernah mupakan Devinka dan akan tetap menunggunya bahkan jika sampai satu atau dua tahun lagi" balasku dengan tegas,


"Elisa apa kau bodoh! Dia bukan pacarmu, bukan juga tunanganmu, dia tidak akan menikahiku sekalipun dia kembali ke negera ini, di kemudian hari! Kau harus tetap melanjutkan hidupmu, kau harus memiliki pendamping hidup sebelum usiamu semakin bertambah, jangan menunggu pengkhianat seperti Devinka, dia tidak pantas menerima cinta yang tulus darimu!" Bentak Dika dengan sosor mata yang tajam.

__ADS_1


Seketika aku langsung merasa lemas dan mataku mulai berkaca-kaca, aku tidak bisa mempercayai ucapan Dika dengan mudah tapi hatiku mengatakan lain, aku baru di tinggalkan tanpa kabar selama satu bulan oleh Devinka tapi Dika sudah mengatakan bahwa Devinka seorang pengkhianat bagaimana aku bisa merasa tenang jika sahabatnya sendiri mengatakan hal itu padaku.


Yang sudah pasti Dika lebih mengetahui semua hal tentang Devinka di bandingkan aku yang memang bukan siapa-siapa baginya, aku tidak mengenali siapa keluarganya, ke negara mana sebenarnya dia pergi dan apa yang dia lakukan disana. Aku baru menyadari semua kebenaran itu ketika Dika memberitahu aku bahwa aku memang tidak memiliki hubungan apapun dengannya.


__ADS_2