Bos Ternyata Musuhku

Bos Ternyata Musuhku
Ending


__ADS_3

Meski aku sudah mendesak dia dan tetap berusaha untuk mengantarkannya tapi dia tetap tidak mau aku ikut dan malah menyuruhku untuk diam saja menjaga Dika disana sehingga aku pun menuruti ucapannya itu.


Karena begitu aku pun mengalah dan menuruti Tante Michael untuk duduk disana menunggui Dika dan aku membantu dia menyuapinya makan, dan memberikan obat kepadanya, seharian itu aku terus mengobati Dika dan Ciko juga Reksa datang menjenguknya kesana sehingga ketika dia sahabatnya itu sudah tiba aku pun pergi untuk berbelanja bahan makanan yang sudah habis.


Disaat aku hendak pergi seorang diri Dika tidak menginginkan itu dan menyuruh Reksa untuk mengantarkanku, padahal saat itu Reksa baru saja ingin duduk di kursi untuk beristirahat.


"Tidak... Kau harus pergi dengan Reksa, sudah Reksa cepat aku antarkan Elisa, dia tidak boleh pergi sendirian" ucap Dika memberi perintah,


"Aishhh...dia kan punya kaki sendiri kenapa harus aku sih yang mengantarkannya" gerutu Reksa merasa kesal.


Tapi walaupun dia kesal dan uring-uringan dia tetap saja bangkit dan mau mengantarkan aku, dia tetap baik kepadaku meskipun wajahnya kesal dan sepanjang perjalanan terus saja menggerutu tiada habisnya membuat telingaku gatal karena harus mendengarkan ucapannya itu.


"Dasar Dika sialan dia hanya sakit seperti itu sudah mau memerintah aku seperti anak buahnya, aarrgghhh aku sangat kesal dengannya, aishhh aku tidak bisa melakukan semua ini" gerutu Reksa terlihat frustasi.


Sebenarnya aku juga cukup kesal melihat Reksa yang seperti tidak ikhlas dalam mengantarku hari ini sehingga aku pun langsung membentak dia dengan keras.


"Reksa kalau kau tidak mau mengantarku ya sudah, cepat ke pinggirkan saja mobilnya aku akan pergi menaiki taxi aku juga bisa pergi berbelanja sendiri kok" ucapku kepadanya sambil cemberut kesal,


"E....eh ..awas saja jangan coba-coba kau pergi atau turun dari mobilku seperti itu, aishh apa kau tidak tahu apa itu bahaya yah, sudah aku akan mengantarmu, diam saja yang baik oke" ucap Reksa yang pada kenyataannya dia juga tidak tega membiarkan aku pergi sendirian.


Dia memang selalu terlihat keras di luar namun aku tahu bahwa hatinya baik, buktinya dia tetap tidak bisa menurunkan aku di pinggir jalan dan tetap mengantarkan aku bahkan dia membantu aku memilih buah-buahan yang aku beli saat itu dan juga membantuku mendorongkan troli belanjaan, sebenarnya Reksa adalah pria yang baik dia yang paling peduli dan yang pertama menganggap aku sebagai teman saat aku pertama kali bergabung dengan anak The Boys.


Dia juga yang paling akrab denganku selama ini, hingga aku juga dekat dengan Devinka karena dia yang selalu berada tidak jauh dari Devinka namun sekarang melihat Reksa yang tadinya sangat dekat dengan Devinka harus berjauhan karena permasalahan keluarga membuat aku merasa bersalah kepadanya.


"Reksa aku minta maaf karena merepotkanmu terus ya" ucapku yang tiba-tiba saja ingin minta maaf disaat dia tengah memasukkan semua belanjaan ke dalam mobil.


Dia pun langsung menatap ke arahku dengan heran dan dia langsung menutup bagasi mobil lalu tertawa keras kepadaku.


"Apa?..... Ahahah apa kau tidak salah dengar, kau barusan meminta maaf kepadaku Elisa?" Tanya dia kepadaku sambil tertawa puas.


Aku sudah merasa kasihan kepadanya tapi dia malah balik menertawakan aku, dia memang orang yang sangat menyebalkan aku pun langsung menepuk pundaknya dengan keras untuk memberi dia pelajaran agar berhenti menertawakan aku terus.


"Aishh....kau ini aku meminta maaf dengan sangat tulis dan serius kau malah menertawakan aku seperti itu, hah rasakan ini bukkk" ucapku sambil melemparkan tinjuan padanya,


"Aduhh ....aishh...Elisa apa kau pikir tanganku ini samsak tinju, kau selalu saja melemparkan tinjuanmu padaku, aaahhh badanku sakit semua selalu kau p*kuli" ucap dia sambil memegangi tangannya yang aku p*kul tadi,


"Rasakan saja, siapa suruh kau selalu menertawakan aku, aku sungguh meminta maaf kepadamua Reksa, karena aku merasa bersalah sebab aku kau dan Devinka menjadi berjauhan seperti orang asing, padahal dulu kalian sangat dekat sekali bahkan hampir seperti adik kakak yang tidak terpisahkan" ucapku kepadanya,


Reksa langsung terlihat menghembuskan nafas kasar dan dia membukakan pintu mobil untukku.


"Sudah jangan di pikirkan lagi, semua itu tidak ada sangkut pautnya denganmu, ayo masuk saja, ini hampir gelap" jawab Reksa membuat aku semakin merasa tidak enak dengannya.


Aku pun langsung masuk dan dia juga begitu, dia langsung mengemudikan mobil dengan cepat menuju kediaman Dika.


Hari sudah hampir malam saat itu hingga ketika aku sampai di rumah hari benar-benar sudah berganti menjadi malam dan aku lihat saat masuk ke dalam rumah Ciko dan Dika justru tengah bermain video game bersama sedangkan aku dan Reksa habis berbelanja banyak bahan makanan bahkan Reksa terlihat sangat kelelahan.


Dia juga menggerutu sangat keras saat melihat kedua temannya itu malah enak-enakan memainkan video game tanpa dia sedangkan dia malah harus mengangkut semua barang-barang yang berat itu.


"Aishh....kalian berdua memang tidak tahu diri, kau juga katanya sakit kenapa kau sanggup bermain game aahhh kalian semua membohongiku lagi yah?" Bentak Reksa sambil menaruh barang belanjaan di lantai begitu saja.


Aku tahu Reksa sedang mengamuk disana karena dia tidak bisa bermain game seperti teman-temannya yang lain sedangkan Dika dan Ciko malah terus asik saja bermain game tanpa mementingkan Reksa dan dia juga tidak melirik sedikitpun kepada Reksa yang sedari tadi menggerutu keras kepada mereka berdua.


"Ciko....Dika aishh....apa kau ini tuli hah? Hey..... Kenapa kau menyebalkan sekali" bentak Reksa terus uring-uringan tidak jelas.


Aku merasa kasihan dengannya sehingga aku langsung mengambil barang belanjaan yang di bawah oleh Reksa saat itu dan aku segera menyajikan minuman hanya untuk Reksa secara khusus.


Aku sengaja membuat jus buah yang sangat segar dan mulai memasak makanan untuk makan malam.


Aku berjalan mendekati Reksa dan memberikan dia jus buah yang segar itu.


"Reksa sudah jangan marah-marah seperti itu, kau membuang energimu secara cuma-cuma jika terus menggerutu begitu, ini aku buatkan jus buah yang segar khusus untukmu dan berberapa cemilan enak disana, dan ini khusus untukmu jangan mbaginya pada siapapun" ucapku sengaja berbicara cukup keras agar terdengar oleh Reksa dan Ciko yang tengah asik bermain game disana.


Dika yang mendengar itu dia langsung melempar stik game nya dan langsung berbalik menatap ke arah aku yang menyuapi Reksa dengan cemilan yang aku beli sebelumnya dan Reksa yang meminum jus buah buatanku dengan segar.

__ADS_1


"Syuutttyy....aaahhh...jus nya segar sekali, buatan Elisa memang beda" ucap Reksa sengaja membuat mereka berdua iri saat melihatnya.


Terutama Dika yang langsung berlari ke arahku dan dia memakan makanan yang hendak aku suapi ke mulut Reksa.


"Aaamm....ini enak sekali" ucap Dika yang merebut makanan Reksa.


Dan Ciko juga langsung merebut minuman jus buah yang di pegang oleh Reksa lalu langsung meminumnya dengan cepat hingga tersisa setengah gelas lagi.


"Aahhhh... Minumannya juga sangat segar" timpal Ciko.


"Eeehhh ...aishh...kalian berdua ini sangat menyebalkan sekali sih, aku yang menemani Elisa tapi kalian yang menikmati semua pemberiannya dasar kalian berdua menyebalkan!" Bentak Reksa cemberut kesal,


"Iya kalian berdua itu kepada sih, kau juga Dika, bukankah kau ini sedang sakit kenapa kau malah bersikap kekanak-kanakan seperti itu!" Ucapku membentak Dika dan memarahinya.


Dika terlihat menatapku dengan tersenyum kecil memperlihatkan giginya dan dia mulai beralasan kepadaku.


"AA...ahhh...maafkan aku Elisa tadi aku hanya bosan dan itu salah Ciko dia yang memaksaku untuk bermain game denganku" ucap Dika beralasan.


Aku tidak ingin mendengarkan alasan apapun lagi darinya karena aku juga sudah tahu bahwa itu bukan Ciko yang memaksa tetapi dia saja yang sama-sama ingin bermain game juga.


"Ckk...aku tidak percaya denganmu, sekalipun Ciko yang memaksamu kenapa juga kau harus memaksakan diri, bukankah kau sangat lemas sebelumnya, kenapa sekarang terlihat baik-baik saja seperti itu hah?" Ucapku membentak dia lagi dan memarahinya.


Hingga akhirnya dia pun mengakui kesalahannya dan dia langsung meminta maaf kepadaku saat itu juga.


"Ya..ya...sudah iya aku minta maaf Elisa aku tahu ini salah, aku minta maaf oke kau jangan marah lagi denganku seperti itu" ucap Dika dengan wajahnya yang membuat aku tidak bisa melawannya lagi,


"Ya sudah ....iya ...aku akan memaafkanmu kali ini, tapi awas saja jika kau mengulanginya lagi" ucapku kepadanya.


Setelah itu aku pun segera membuat jus yang sama untuk Ciko dan Dika lalu memberikan mereka berdua jus itu termasuk untuk Reksa juga karena jus miliknya juga sudah habis di minum oleh Ciko sebelumnya.


Di saat aku memarahi Dika, Ciko justru malah sibuk memakan cemilan dan jus milik Reksa dan mereka terus berebut makanan seperti anak kecil, membuatku sedikit geram di buatnya.


"Brak...." Suara meja yang aku gembrak dengan kuat karena aku sudah tidak tahan melihat Reksa yang berebut makanan itu dengan Ciko.


"Aishh....kalian berdua...berhenti berebut makanan, dan itu aku sudah membuatkan minuman yang baru jadi jangan berebut lagi, aaargghhkkkm...kalian membuat aku emosi saja!" Bentakku kepada mereka berdua.


Dengan cepat Ciko dan Reksa langsung mengambil minuman mereka masing masing dan mereka juga memakan cemilannya dengan berbagai sehingga aku bisa bernafas lega melihatnya.


Setelah melihat mereka sudah tidak berebutan makanan lagi barulah aku tenang dan bisa merasakan sedikit kedamaian lagi di rumah ini, aku pun pergi ke dapur dan mulai memasak makanan untuk makan malam dan setelah itu aku tidak tahu apa yang tiga pria itu lakukan di ruangan tengah, mungkin mereka akan bermain game seperti sebelumnya dan aku tidak perduli lagi.


Sampai ketika makanan sudah matang mereka langsung datang menghampiriku terutama Ciko dan Reksa yang terlihat jelalatan sekali dengan makanan.


"Eummm.... Baunya enak sekali, menu apa yang kau masak kali ini?" Tanya Ciko kepadaku,


"Diam kau menjauh dari sini, ini panas nanti tanganmu akan terbakar jika mengenainya sedikit saja" ucapku memperingati Ciko agar dia tidak menghalangiku,


"Ya sudah aku akan menunggu makanannya di meja, jangan lupa buatkan rendang ayam kesukaanku ya Elisa aku sangat suka sekali dengan masakanmu yang itu" ucap Ciko yang aku balas dengan anggukan secepatnya.


"Iya...iya...tanpa kau meminta aku sudah tahu kau selalu meminta itu kepadaku, sudah sana pergi jangan menggangguku saat memasak! Kau menghalangi aku saja" ucapku sambil segera mengusirnya dengan cepat dia pun segera pergi meninggalkanku.


Baru saja aku merasa damai dan tenang tidak lama muncul lagi Reksa menghampiriku dan dia langsung menanyakan lagi apa yang tengah aku masak sama dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh Ciko sebelumnya.


"Elisaaa....apa yang sedang kau masak, apa kau memasak steak daging yang enak itu?" Tanya Reksa kepadaku,


"Aishh....kau malah datang kemari, jangan bertanya aku masak apa kau sudah tahu kan aku akan menyajikan makanan yang kau suka, sudah sana pergi!" Bentakku langsung memarahinya,


"Ehh....kenapa kau sensi sekali kepadaku, iya....iya aku pergi, jangan lupa steak nya yah hehe" ucap Reksa yang semakin membuat aku sangat kesal.


Rasanya saat itu aku ingin berteriak dan memukul kepala mereka berdua dengan centong yang aku pakai saat memasak saat ini, untung saja aku masih memiliki sisa kesabaran di dalam diriku sehingga aku masih bisa mengendalikan diri untuk tidak membentak mereka lebih parah lagi ataupun menghajar mereka sekaligus saat itu juga.


Aku pun melanjutkan pekerjaanku dan mulai memasak dengan santai, aman dan damai lagi seperti sebelumnya, sampai tidak lama kini Dika juga datang kepadaku dan membuat aku sangat kesal hingga langsung memarahi dia bahkan disaat dia belum sempat mengatakan sesuatu kepadaku.


Aku membentaknya saat itu karena aku pikir dia.datang menghampiriku ke dapur karena akan bertanya pertanyaan yang sama seperti kedua temannya itu makanya aku langsung memarahinya dengan keras serta meluapkan emosiku kepadanya.

__ADS_1


"Apa...kau mau bertanya aku masak apa sekarang hah? Aishhh sudah pergi sana jangan ada yang menggangguku lagi ketika aku memasak jika tidak aku akan memukul kalian bertiga dengan panci panas ini!" Bentakku kepada Dika,


Dia malah menatapku dengan tatapan yang heran dan kedua alisnya yang dinaikkan bersamaan lalu dia mulai menjawab ucapanku dengan lemah lembut dan ternyata dia datang ke dapur bukan untuk menanyakan hal tersebut atau mengenai menu makanan apa yang sedang aku buat.


"Ehhh ..kenapa kau marah padaku, aku ke sini untuk membantumu apa ada yang sulit untukmu biar aku membantumu memasak" ucap Dika membuat aku kaget dan langsung membuka mataku lebar.


"KA...kau.... Kau sungguh ke sini hanya untuk membantu aku memasak saja?" Tanyaku memastikan sakit tidak percayanya.


"Benar aku ingin membantumu memasak atau menyajikan makanan untuk mereka juga tidak papa, aku tidak tega selalu melihatmu memasak sendirian, karena seharusnya akulah yang memasak untukmu" ucap Dika kepadaku.


Aku merasa sedikit tidak enak hati dan merasa bersalah karena sudah berperasangka buruk kepadanya.


"Aahhh....maafkan aku tadi aku sudah berperasangka buruk kepadamu, aku pikir kau akan menanyakan hal yang sama dengan kedua temanmu itu, makanya aku langsung membentakmu saat melihatmu datang kesini" balasku meminta maaf dengan segera kepadanya.


Kami pun makan malam bersama dan membicarakan mengenai hari pernikahan Devinka yang akan di adakan esok hari.


******


Sampai ke esokan paginya ini adalah hari pernikahan Devinka dan aku juga yang lainnya di undang ke acara pernikahannya tersebut, saat aku mulai masuk ke dalam gedung pernikahannya aku sangat kaget melihat semua dekorasi pernikahan disana sangat sama persis dengan apa yang aku lihat di mimpiku saat itu dan aku sudah mulai memiliki perasaan yang tidak enak di dalam hatiku.


Namun karena Dika bersama denganku aku mengesampingkan perasaan itu dan segera masuk ke dalam hingga menyaksikan proses pernikahan yang akan berlangsung, dimana saat itu ku lihat Devika dan Keysa keluar dari sebuah ruangan dan mereka berjalan di atas karpet merah yang tergelar disana sampai tiba-tiba saja sebuah lampu yang menggantung di atas kepalaku mulai putus talinya satu per satu dan aku tidak menyadari hal itu hingga tiba-tiba saja Dika dan Ciko berteriak sangat keras.


"ELISA AWAS!!" Teriak Ciko dan Dika sangat keras,


Saat itu Ciko dan Dika berada cukup jauh dariku sehingga mereka langsung berlari ke arahku yang ada di dekat Reksa, sampai tiba-tiba saja Devinka berlari juga ke arahku dimana jarak dia denganku lebih dekat dan dia langsung mendorong tubuhku ke samping sampai akhirnya lampu hias itu justru malah menimpa mengenainya.


"Aaaahkkk....brukkk...." Suara lampu itu yang jatuh menimpa Devinka.


Aku langsung terbelalak kaget melihat Devinka yang tertimpa lampu kaca tersebut, darah mengalir sangat banyak di lantai itu dan pakaian pernikahan Devinka yang tadinya putih langsung berubah menjadi merah, aku sangat syuk dan langsung berlari ke arahnya.


Sedangkan Ciko melihat ke arah lain dimana dia menemukan bahwa ada orang yang dengan sengaja memotong lampu itu dari lantai atas gedung tersebut, Ciko dan Reksa langsung berlari mengejar orang tersebut, sedangkan aku dan Dika langsung membantu Devinka kami dibantu banyak orang lainnya untuk mengangkat lampu tersebut dari tubuh Devinka dan aku memegangi kepalanya.


"Devinka...bangun aku mohon bangunlah, tolong bertahan Devinka....maafkan aku...kenapa kau malah menyelamatkan aku!" Bentakku sangat keras dan aku menangis histeris saat itu juga.


Devinka malah tersenyum kepadaku dan dia berusaha menyentuh wajahku sedangkan Dika sudah menelpon ambulan dan mencari benda untuk mengangkat Devinka.


"Elisa...dengarkan aku....jika aku mati...aku senang karena kau menangisi kematianku, aku mencintaimu Elisa dan tolong jawab aku, apakah kau mencintaiku atau tidak?" Tanya Devinka kepadaku,


"Devinka berhenti jangan bicara lagi, aku mohon kau bertahanlah, aku tidak ingin kehilanganmu....hiks...hiks..." Ucapku sambil terus menangis terisak,


"Elisa tolong katakan saja, kau mencintaiku atau tidak, aku sudah tidak ayah lagi" balasnya kepadaku.


"Iya...aku mencintaimu...aku sangat mencintaimu jadi aku mohon tolong bertahanlah Devinka...hiks...hiks..." Ucapku sambil memegangi tangannya dengan erat dan dia berusaha menciumku.


Aku membiarkan dia mencium tanganku dan tiba-tiba saja dia langsung terkapar lemas dan tangannya sudah terlepas dari tanganku.


"Tidak....Devinka...." Teriakku sangat keras.


Sedangkan disisi lain Ciko sudah berhasil menangkap pelakunya dan pelakunya adalah anak buah nyonya Merisa, Ciko langsung menarik pria itu dan membawanya ke kantor polisi yang ternyata dia buka di perintah oleh nyonya Merisa melainkan di perintahkan oleh Keysa dan saat ini Keysa justru tengah dalam pemburuan polisi.


Meski Keysa kabur tidak butuh waktu lama untuk Ciko menangkapnya, tepat sebelum dia melarikan diri ke bandara polisi sudah berhasil meringkus dia dan dia langsung di jebloskan ke penjara sedangkan Devinka sudah di larikan ke rumah sakit, di saat detik-detik terakhir Devinka meminta Elisa dan Dika untuk datang menemuinya dia meminta aku dan Dika untuk menjaga ibunya nyonya Merisa dan Devinka juga menggenggam tanganku juga tangan Dika dia menyatukan tangan kami berdua di hadapan ibunya nyonya Merisa.


"Elisa....Dika....aku mohon kalian harus tetap bersama, Dika aku titip ibuku dan Elisa, aku tahu dia hanya menyukaiku tapi aku percaya dia bisa bahagia jika bersamamu" ucapan terakhir dari Devinka dan dia langsung tidak sadarkan diri saat itu juga.


Aku dan Dika langsung menangis histeris begitu pula dengan nyonya Merisa.


"Devinka....tolong jangan tinggalkan aku....Devinka....hiks...hiks..." Teriakku sangat keras.


Tamat.


Kalo suka sama ceritanya bisa komen ya, biar Author bisa bikin season 2 nya.


Terimakasih untuk yang sudah baca dari awal hingga akhir, happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2