Bos Ternyata Musuhku

Bos Ternyata Musuhku
Menemui Devinka


__ADS_3

Ketenangan mereka membuatku semakin gelisah dan merasa tidak enak hati, aku pun langsung berjalan menghampiri meja kak Kris dan bertanya kepadanya.


"Kak...maaf aku terlambat, bagaimana dengan laporannya?" Ucapku padanya dengan mata terbelalak karena sangat penasaran,


"Sudah aku bereskan dan Eril sangat mendukung berita yang kau hasilkan itu akan jadi berita utama malam ini melawan berita dari Kiki di departemen satu" jawab kak Kris membuatku semakin kaget.


"APA?" Teriakku sangat kencang dan kak Kris langsung menutup mulutku dengan cepat.


Dia langsung menyeretku ke samping bangkunya tanpa melepaskan bekapan lengan dia dari mulutku sehingga aku terus berusaha berontak dengan menepuk tangan kak Kris yang dengan kuat membekap mulutku sampai aku hampir kehabisan nafas dibuatnya.


"Eumm..MMM, ahh.. hah hah hah. Kak apa kau mau membunuhku yah aku hampir kehabisan nafas tahu!" Bentakku sambil berusaha menenangkan diri mengontrol nafasku,


"Diam, habisnya kau sendiri kenapa berteriak sangat kencang kalau sampai Eril terganggu riwayatmu sendiri yang akan habis, kau bisa saja di keluarkan dari departemen ini saat itu juga" ucap kak Kris dengan tatapan yang serius padaku.


Dia mengatakan itu dengan suara kecil dan berbisik pelan telat di samping telingaku, aku yang mendengarnya mulai merasa merinding dan takut karena di lihat dari tampangnya kak Eril memang sedingin es dan tidak heran jika dia akan sangat kejam pada anak buahnya.


"Baiklah aku akan lebih berhati hati lain kali, terimakasih sudah memberitahuku" jawabku dan akhirnya kak Kris bisa melepaskanmu lagi.


Aku mengusap dadaku perlahan dan berusaha menormalkan nafasku sambil berjalan perlahan dengan tertunduk lesu.


Karena aku berjalan sambil menundukkan kepala aku tidak terlalu fokus menatap ke depan sampai akhirnya malah menabrak kak Eril.


"Dukkk" suaraku menabrak dada bidangnya,


"Ehh, maaf maafkan aku kak aku tidak sengaja" ucapku langsung meminta maaf dengan perasaan takut yang menyelimuti ku.

__ADS_1


Kak Eril tidak membalas ucapanku sedikitpun dia hanya menatapku sangat tajam lalu berjalan melewati ku begitu saja, aku baru bisa mengeluarkan nafas lega ketika dia sudah benar benar keluar dari ruangan itu.


"Aahhh.... syukurlah dia tidak tidak memarahiku, aishh kenapa aku bo"oh sekali sih bisa bisanya menabrak dia" gerutuku dengan kesal.


Aku menoleh ke arah kak Anne dan kak Kris dimana mereka juga sudah memperhatikanku dengan tatapan cemas sedari tadi, aku pun tersenyum kepada mereka dan menganggukkan kepala memberikan kode bahwa aku baik baik saja.


Aku duduk di kursiku dan mulai menetralkan nafasku sampai tak lama waktu pulang tiba dan aku segera pulang lebih dulu karena masih harus mengurus masalah penyelesaian formulir data pertama kerja di perusahaan tersebut bersama Devinka dan Reksa.


Kini karena sebelumnya Devinka sudah memberitahuku di mana ruangannya aku pun tidak sulit untuk menemukan dia dan aku pergi masuk ke dalam ruangan itu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu sampai aku malah menemukan pemandangan canggung di mana Reksa tengah mengoleskan salep pada punggung Devinka yang tidak mengenakan pakaian.


"Aa...ohh...aku tidak melihatnya, cepat kau berpakaian" ucapku berteriak agak keras agar mereka berhenti menatap canggung ke arahku,


"Ckk...siapa yang mengijinkanmu masuk ke dalam ruanganku seenaknya?" Tanya Devinka dengan berdecak kesal.


Saat Devinka sudah mulai bicara denganku aku pun membalikkan badan karena aku pikir dia sudah selesai mengenakan kemejanya namun rupanya dugaanku salah karena saat aku berbalik justru aku malah melihat bagian tubuh depannya dengan sangat jelas.


"Kau sudah melihatnya Elisa berhentilah berteriak!" Ujar Devinka dengan santai,


"Sudah Devinka cepat pakai saja pakaimu bagaimanapun Elisa ini perempuan apa kau tidak merasa malu ha?" Ucap Reksa yang membuat Devinka langsung memakai kembali pakaiannya.


Setelah selesai barulah Reksa memberitahu aku untuk membalikkan badan dan aku menurutinya aku merasa sangat lega ketika melihat Devinka sudah benar benar memakai kemejanya dengan rapih dan tertutup, tapi mata suciku sudah terlanjur ternodai olehnya dan aku tidak bisa merubah itu saat ini.


"Aahhh...mata suci ini yang sudah aku jaga bertahun tahun sejak kecil.kini.sudah ternodai karena kau" ujarku sambil berjalan lemas dan duduk di sofa tanpa semangat.


Mendengar celetukan dari Elisa tentu saja amarah Devinka terpancing apalagi ketika Elisa yang bicara seakan bahwa tubuh indahnya itu sudah menjadi mata Elisa yang tidak berharga sama sekali baginya.

__ADS_1


Devinka berjalan menghampiri Elisa dan dia duduk tepat di depannya mereka kini saling berhadapan dengan melemparkan tatapan sinis dan tajam satu sama lain.


Bisa dilihat dari cara mereka menatap satu sama lain di mana seakan terpancar sebuah kekuatan yang kuat diantara kedua mata mereka, persaingan serta kebencian diantara keduanya sangat terpancar jelas.


Reksa yang duduk di samping Elisa dia sudah tidak sanggup lagi menahan adegan yang membuatnya merinding itu, akhirnya Reksa mulai menengahkan mereka dan berusaha meleraikan amarah Devinka juga kekesalan Elisa.


"Sudahlah kalian ini seperti kucing dan tikus saja dimana pun dan kapan pun selalu saja tidak akur, ingat jangan terlalu membenci satu sama lain anti kalian bisa saling mencintai" ujar Reksa berniat menengahkan mereka.


Bukannya kedamaian yang di dapatkan justru Devinka dan Elisa malah membentak Reksa secara bersamaan dengan kalimat yang sama.


"TIDAK MUNGKIN" bentak keduanya bersamaan sambil menatap Reksa dengan mata yang disulitkan dan tatapan tajam penuh kekesalan dari keduanya.


"Eh...eh...eh, kenapa kalian malah menyerangku bersamaan seperti ini, niatku kan baik aku hanya ingin kalian berdamai setidaknya untuk menyelesaikan proses magang ini" kata Reksa dengan perasaan yang serba salah.


Devinka pun memalingkan pandangannya dan dia langsung meneguk segelas air mineral yang ada dimeja lalu menaruh gelas kosong itu dengan cukup keras sampai membuatku dan Reksa terperanjat karena kaget.


"Heh apa tujuanmu menemuiku cepat katakan sebelum aku mengusirmu dari sini?" Tanya Devinka sinis,


"Kau pikir aku mau menemuimu cuma cuma haha jangan bercanda aku kemari hanya ingin membahas mengenai pengisian data untuk tugas kelompok, apa kau lupa siapa yang menunda pekerjaan ini sebelumnya?" Ucapku mengingatkan nya dan sekaligus menyindir dia dengan halus.


Devinka mulai sadar bahwa memang tim mereka belum menyelesaikan satu tugas apapun yang diberikan oleh dosen saat itu sehingga mereka harus segera memulainya saat ini sebelum masa kontrak selesai.


Meski sudah sadar Devinka masih tetap merasa gengsi untuk mengakui hal itu sehingga dia lebih memilih untuk berpura pura tidak perduli dengan tugasnya.


"Hah, untuk apa menyelesaikan tahapan awal kita bisa membuatnya secara langsung sampai jadi dan memberikannya pada dosen nanti kau tidak perlu datang kemari dan melakukannya denganku, karena aku tidak akan pernah mengijinkanmu berada dekat denganku lagi!" Bentak Devinka begitu sinis,

__ADS_1


"Siapa yang kau pikir ingin menemuimu, bahkan aku benci hanya dengan melihat bayangan ataupun suara langkah kakimu!" Jawabku tak kalah sinis darinya.


Lagi lagi aku dan Devinka beradu tatapan mata satu sama lain dengan cukup kuat dan membuat Reksa kembali harus menepuk keningnya dan memijitnya beberapa saat karena dia sudah sangat jengkel dengan Devinka juga Elisa yang tidak pernah akur satu sama lain.


__ADS_2