
Aku tidak ingin terlalu banyak berharap kepada orang yang sebenarnya jauh dari jangkauanku, aku sadar diri dan tahu dimana posisiku tidak mungkin juga seorang Devinka yang terlahir dari keluarga kaya raya dan memiliki banyak penggemar perempuan mau dengan gadis lusuh dan miskin sepertiku lagi pula aku juga tidak sebanding dengan dirinya meski dilihat dari aspek dan sudut manapun.
Aku hanya diam tidak tahu harus berkata apa selain mengangguk hanya itu yang bisa aku lakukan hingga akhirnya Devinka mulai memperhatikanku lalu dia pergi mengambil air ke dalam gelas dan tiba-tiba saja memberikannya padaku.
"Ini, minum dulu maaf aku sudah membentak mu" ujar Devinka sambil memberikan minum kepadaku.
Aku menaikkan kedua alisku keatas bersamaan, aku bingung dan heran dengan apa yang baru saja Devinka ucapkan, ini adalah pertama kalinya dia meminta maaf kepadaku tanpa aku tahu kesalahan mana darinya yang dia ingin aku menerima maafnya, kesalahannya padaku terlalu banyak jika hanya dibalas dengan satu kalimat permintaan maaf saja.
"Ehh....Devinka apa yang salah denganmu hari ini?" Tanyaku balik dengan heran,
"Aishhh....kau ini bukannya merasa senang karena aku sudah berani meminta maaf dengan baik baik padamu kau justru malah menatapku dengan seperti itu, menyebalkan" ujar Devika dengan kesal,
"Ehh?, Kau kesal hanya karena aku bertanya begitu?, Wajar saja kan aku merasa bingung karena ini adalah pertama kalinya aku mendengar seorang Devinka meminta maaf terlebih itu kepadaku dan aku juga bingung kesalahan mana yang kau maksud untuk meminta maaf padaku?" Ungkapku menjelaskannya.
Aku tahu saat itu Devinka tengah menahan kekesalan di dalam hatinya apalagi saat melihat bagaimana reaksi yang dia perlihatkan dengan wajahnya yang merah padam dan lengan yang dia kepalkan sangat kuat hingga membuat urat urat di tangannya hampir keluar menonjol.
Jujur saja melihatnya marah seperti itu kali ini aku bukan takut kepadanya justru aku ingin tertawa melihat dia dalam keadaan seperti itu, aku ingin sekali segera melepaskan tawaku sepuasnya namun sayangnya aku tidak bisa melakukan itu karena jika aku sampai keceplosan bisa bisa Devinka akan membunuhku saat itu juga.
"Ftt...ffftttt...haha...Devinka kau lucu sekali saat menahan emosi begitu, sudah...sudah berhentilah menahan emosi jika kau mau marah padaku lepaskan saja aku tidak masalah" ucapku yang sudah tidak tahan melihatnya begitu.
Aku sudah siap jika Devinka akan membentak atau merutuki aku habis habisan namun aku sudah menunggunya untuk meluapkan semua amarahnya kepadaku hingga aku rela memejamkan mata karena takut dengan amarahnya yang akan dia lupakan, tapi beberapa saat aku sudah menunggu tidak ada apapun yang terjadi hingga tiba-tiba saja Devinka malah menarik lenganku dan menyeretku masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Aaa....Devinka ada apa denganmu kau mau memarahiku di ruangan ini yah?" Tanyaku dengan nada sedikit membentak,
"Bukan, aku tidak akan marah sama sekali aku hanya ingin mengajakmu menemaniku bermain game" ucap Devinka sambil melemparkan stik game ke arahku.
Saat itu juga tanganku refleks berusaha menangkap lemparannya dan untunglah aku berhasil menangkapnya, jika tidak mungkin stik game itu akan jatuh ke lantai dan mungkin akan rusak, jantungku rasanya hampir copot saat Devinka melemparkan stik game itu.
"Huuuh, untung aku berhasil menangkapnya" ucapku pelan sambil mengelus dadaku.
Devinka langsung menyalakan layar besar di depan dan dia segera duduk di sofa tepat bersampingan denganku, dia juga sudah memulai permainan namun aku justru kebingungan karena jujur saja selama ini aku tidak pernah menyentuh game apapun selama hidupku bahkan game offline yang biasa tersedia di play store pun aku tidak pernah memainkannya.
Aku membelalakkan mataku kebingungan dan melihat stik game yang terdapat banyak tombol di sana, Devinka sudah memulai gamenya sedangkan aku sama sekali tidak bisa bergerak karena tidak tahu tombol mana yang harus aku tekan.
Devinka sudah berteriak kepadaku beberapa kali, dia menyuruhku untuk mengikutinya di dalam game namun aku tidak bisa melakukan apapun.
__ADS_1
"Heh, cewek ayam apa yang sedang kau lakukan cepat bergerak dan ikuti aku!" Bentak Devinka,
"A..anu...Devinka...aku...aku tidak tahu bagaimana cara memainkannya" balasku yang akhirnya berkata jujur.
Devinka masih tidak percaya dengan apa yang aku ucapkan dia justru malah tertawa kecil dan mengira aku hanya bercanda, padahal saat itu aku berkata yang sebenarnya.
"Ahaha... Ayolah chicken jangan bercanda game nya sudah dimulai sejak tadi kapan kau akan bergerak cepat tekan tombolnya!" Ucap Devinka mendesakku,
"Aishh....Devinka aku serius, aku tidak tahu tombol mana yang harus aku telat dan apa yang harus kulakukan, aku tidak tahu, aku tidak mengerti tentang game seperti ini..." Teriakku sangat keras.
Akhirnya Devinka menghentikan sejenak game nya lalu dia menaruh stik game miliknya lalu menatap ke arahku dan dia mendekatiku dengan perlahan sampai membuatku sedikit gugup.
"De.. Devinka apa yang mau kau lakukan?" Tanyaku dengan gemetar,
"Ahahaha...kau takut yah, haha tenang saja chicken aku hanya menyakitimu haha wajahmu benar benar mirip chicken" kata Devinka sambil tertawa dengan puas.
Sekarang aku benar benar kesal dan tidak bisa membiarkan dia mempermainkan aku lagi dan lagi, aku langsung mendorong tubuhnya untuk menjauh dari hadapanku lalu aku menatap ke depan dengan perasaan kesal dan wajah yang kusut, aku benar benar marah kali ini dan sangat kesal dengan kelakuan Devinka.
"Eh?, Kau marah lagi ya...ayolah chicken aku kan hanya bercanda jangan dibawa perasaan begini lah" tambah Devinka sambil mendekatiku lagi,
Setelah ucapanku yang membentak cukup keras terakhir kalinya suasana disana pun seketika berubah menjadi hening tidak ada siapapun diantara aku dan Devinka yang mengeluarkan suara, Devinka hanya dia membisu dan menatapku terus menerus.
Aku mulai merasa tidak nyaman dengan tatapan yang Devinka lakukan kepadaku, dan dia juga tidak bergerak sama sekali sampai akhirnya karena aku sudah merasa tidak kuat lagi aku membalikkan badanku ke arahnya dan berniat untuk membentaknya karena terus menatapku dengan tatapan aneh seperti itu.
Namun belum juga aku sempat menyelesaikan ucapanku tiba tiba saja Devinka langsung memelukku dengan erat begitu saja, aku kaget dan langsung terperangah.
"Aishhh, Devinka kau..." Ucapku tak sampai.
Dia memelukku dengan erat dan menyuruhku untuk membiarkan posisi itu sejenak.
"De...Devinka apa yang kamu lakukan lepaskan aku" ucapku padanya sambil berusaha mendorong tubuhnya.
"Tolong biarkan seperti ini untuk beberapa saat, aku belum pernah merasa setenang ini sebelumnya" ujar Devinka yang membuat jantungku merasa tidak nyaman.
Aku tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya aku rasakan kala itu, namun hanya satu yang membuatku pasti aku nyaman dan sama sekali tidak merasa risih disaat Devinka memelukku, padahal biasanya aku selalu kesal dan merasa sangat risih ketika ada seorang pria yang berada terlalu dekat denganku apalagi melakukan kontak fisik denganku, bahkan jika itu Reksa yang cukup dekat denganku namun ini aneh ketika aku justru malah merasa nyaman saat Devinka memelukku.
__ADS_1
Devinka menyandarkan dagunya ke pundakku dan aku merasa berat sehingga aku memintanya untuk segera menyudahi pelukan itu aku juga takut akan ada orang lain yang melihatnya.
"Devinka sampai kapan kau akan terus begini, aku lelah kau terlalu berat" ucapku padanya.
Dia pun langsung melepaskan pelukannya terhadapku dan duduk sedikit lebih jauh dariku, wajahnya nampak gugup dan tidak seperti biasanya.
"Devinka aku masih bingung kenapa tadi kau tiba tiba saja memelukku apa kau baik baik saja?" Tanyaku karena sangat penasaran,
"Tidak ada sudahlah aku mau main game lagi dan kau jangan coba coba mengacaukannya, dan jangan berlagak tidak bisa aku tahu kau bisa bermain game, mana mungkin siswa cerdas sepertimu tidak mengenal teknologi seperti ini" ungkap Devinka yang masih menuntutku untuk bermain game.
Padahal suasananya tadi sudah sangat damai dan tentram tapi dia bukannya menjawab pertanyaanku malah terus memintaku menemaninya bermain game terlebih dia masih tidak mempercayai ucapanku itu sungguh membuatku sangat kesal.
"Aaarkhhh....Devinka kau ini bodoh atau tuli sih?, Aku kan sudah bilang sedari tadi kalau aku tidak bisa bermain game, asal kau tahu yah seumur hidup aku tidak pernah menyentuh game apalagi memainkannya, heuhhh kau tidak mengerti juga!" Bentakku sambil berteriak sangat keras.
Devinka hanya menatapku dengan tatapan heran dan dia bahkan tidak mengedipkan matanya dia menatapku lagi dengan wajah yang serius dan tegang lalu tiba-tiba saja tertawa sangat lepas sambil memegangi perutnya.
"Ahahaha...Apa jadi kau bicara jujur yah hahaha... Pantas saja kau sangat marah denganku sebelumnya... Haha chicken kau benar benar membuatku terhibur hahaha ada ada saja kau ini apa kau sungguh tidak pernah menyentuh game seumur hidup?" Ucapnya kembali bertanya sambil terus tertawa lepas mengejekku,
"Ckk....dia sangat senang sekali mengejekku begitu, benar benar brandal ini!" Gumamku di dalam hati sambil menatapnya sinis.
Devinka mendekatiku lalu dia memberikan stik game miliknya ke tanganku.
"Ini, aku akan mengajarkanmu bagaimana cara memainkannya" ujarnya yang membuat amarahku langsung hilang seketika.
Awalnya aku pikir dia hanya akan terus mengolok ngolok aku dan tertawa dengan puas kepadaku namun ternyata dia justru mau mengajarkanku, aku sangat senang karena ini yang pertama kalinya apalagi saat melihat orang orang begitu menyukai game aku juga ingin merasakannya sesekali.
"Devinka ini sungguhan kau mau mengajariku?" Tanyaku yang masih merasa tidak percaya.
Dia hanya mengangguk dan aku tersenyum menanggapinya, dia mulai menerangkan fungsi dari tombol-tombol yang terdapat pada stik game miliknya lalu dia menunjuk ke arah layar dimana hero yang akan aku pilih dalam game telah berada di dalam permainan dan dia mulai membantuku menekan beberapa tombol sampai menunjukkan keahlian yang bisa di buat oleh hero yang aku kemudikan di dalam game tersebut.
Sayangnya game itu memerlukan ketangkasan tangan dan kecepatan menekan tombol agar bisa berkelahi dan menghabisi musuh dengan cepat pula hingga menjadi pemenang, aku masih sangat lambat dan Devinka terus membantuku mempelajarinya.
Aku sangat serius ketika belajar bagaimana bisa memukul, meloncat dan bergelimding di tanah, sesekali aku dan Devinka juga tertawa bersama karena aku sering sekali melakukan kesalahan seperti dimana harusnya melompat aku justru malah menekan tombol untuk berlari bahkan aku sering sekali kebingungan di mana orang milikku di game tersebut.
Suasana terasa lebih hidup dan aku sangat senang, saat bermain diajarkan oleh Devinka rasanya aku bisa melupakan semua masalah yang baru saja aku hadapi hingga aku terhanyut bersamanya, meski aku belum selancar dan sehebat Devinka dalam bermain game namun setidaknya sekarang aku mengetahui sedikit demi sedikit peraturan di dalamnya.
__ADS_1