Bos Ternyata Musuhku

Bos Ternyata Musuhku
Merasa Kasihan


__ADS_3

"Ehehe...ma... Maafkan aku, itu tadi aku belum cuci tangan setelah mengobati lukamu hehe" ucapku sambil tersenyum merasa malu.


Devinka langsung terbelalak dan dia semakin mengelap bibirnya lebih kuat berkali-kali, melihat dia sibuk dengan bibirnya, itu adalah kesempatan untukku makanya aku langsung kabur dari sana dan berlari dengan secepat yang aku bisa.


"Ini kesempatanku" ucapku pelan lalu langsung berlari kabur,


"Ehh..... chicken sialan kau....aishh....awas kau chicken!" Teriak Devinka yang murka.


Aku tetap terus berlari kencang dan mengabaikan teriakan Devinka yang keras itu, hingga akhirnya aku berhasil keluar dari pagar rumahnya yang tinggi menjulang dan langsung berjalan sambil ngosngosan menuju halte bus yang lumayan jauh dari sana.


"HOS...HOS...HOS... Aduh untung saja aku bisa kabur, jika tidak dia pasti tidak akan membiarkan aku lolos begitu saja, hah hampir saja" ucapku sambil duduk di halte bus menunggu bus giliranku lewat.


Satu per satu orang sudah mulai pergi dari sekitar sana namun anehnya bus yang menuju ke tempatku tidak lewat juga sedangkan ini masih jam delapan malam, aku sangat heran karena tidak biasanya hal seperti ini terjadi hingga tidak lama muncul Devinka disana dan hampir membuatku jatuh karena kaget dengan kedatangannya.


"Aahkkk...astaga...Devinka kau?, Sedang apa kau disini?" Tanyaku dengan heran,


"Tentu saja aku ingin naik bus, habisnya apa lagi ha?" Bentak Devinka dengan jutek.


Padahal aku hanya bertanya dan cara bertanyaku dengan cara yang baik-baik tetapi dia justru malah menjawabku dengan cara yang sewot seperti itu, sungguh membuatku sangat kesal dan dia menyebalkan seperti biasanya, tapi ada satu hal yang membuatku aneh.


"Hah?, Seorang Devinka yang memiliki mobil mewah tidak terhitung di garasinya kemari mau menunggu bus?, Apa aku tidak salah dengar?" Bentakku merasa tidak percaya,


Aku langsung diam ketika melihat ekspresi wajah Devinka yang langsung berubah sangat serius, wajahnya datar dan tatapannya begitu dingin padaku.


"Aduhh...kenapa lagi, apa kau mau marah lagi hanya karena ucapanku barusan?" Ucapku yang sudah jengkel menghadapinya.


Ku pikir Devinka memang akan marah kepadaku namun ternyata dia justru malah memelukku tanpa aba-aba terlebih dahulu hingga membuatku terperangah dan kaget dibuatnya.


"Eh..Devinka apa yang kau lakukan?, Lepaskan aku ini tempat umum heyyy!" Ucapku berontak dan berusaha mendorong tubuhnya.


Dia memelukku sangat erat dan aku tidak bisa mendorong tubuhnya yang besar dan kuat itu sehingga aku hanya bisa pasrah terlebih saat Devinka memintaku untuk tetap seperti itu.


"Biarkan aku memelukmu hanya lima menit saja" ucap Devinka kepadaku.


Aku langsung diam dan tidak mengeluarkan suara apapun, hanya satu yang bisa aku rasakan suara detak jantung Devinka yang berdetak cukup kencang, aku mulai berpikiran kemana-mana karena hari ini sikap Devinka begitu berbeda dari biasanya, hingga aku berkali-kali dikagetkan dengan tingkah random nya tersebut.


"Sebenarnya ada apa sih dengan bocah tengik ini?" Gumamku dalam hati yang masih merasa heran dan kebingungan sendiri.


Hingga akhirnya lima menit sudah berlalu dan Devinka benar-benar menepati ucapannya dia akhirnya melepaskan pelukannya padaku dan aku bisa menjadi jauh lebih tenang sekarang.


Tapi ketika melihat wajahnya yang masih lesu dan menatap ke atas langit dengan tatapan kosong seperti orang yang tengah banyak pikiran membuat aku merasa kasihan kepadanya.


"Devinka apa terjadi sesuatu di keluargamu?" Tanyaku menduga-duga.


Meski aku tidak memiliki keluarga tapi aku bisa tahu mana orang yang tengah memiliki masalah keluarga atau yang hanya masalah biasa di lingkungannya sebab Lili sering berperilaku yang sama seperti yang dilakukan oleh Devinka kepadaku barusan.


Dulu saat Lili sering bertengkar dengan ibunya dia selalu datang ke tempatku dan meminta agar diperbolehkan menginap bersamaku lalu dia selalu memintaku untuk memeluknya hingga tertidur dan barulah ke esokan paginya dia mau menceritakan masalahnya padaku hingga dia mulai merasa lega dan bisa berperilaku seperti biasanya lagi.


Mungkin ada sedikit perbedaan dari cara Devinka memintaku agar terus berada di sampingnya dengan cara Lili, tapi saat itu entah kenapa aku sangat yakin bahwa Devinka tengah menghadapi suatu masalah yang tidak mudah, aku belum pernah melihat Devinka sepertinya ini sebelumnya.


Bahkan disaat aku menanyakan mengenai hal itu dia hanya menatapku dengan lekat dan tersenyum beberapa saat aku menggelengkan kepalanya pelan dan kembali memalingkan pandangannya melihat ke langit.


Melihat reaksi darinya yang hanya seperti itu saja, aku bingung harus bersikap seperti apa lagi padanya, hingga tidak lama kemudian bus menuju tempatku tiba dan aku langsung naik ke sana setelah berpamitan pada Devinka.

__ADS_1


"Ahh...itu bus ku sudah tiba, Devinka aku pergi yah" ucapku padanya lalu masuk ke dalam bus.


Bus pun mulai melaju dengan perlahan dan aku melihat Devinka yang langsung menunduk lesu di halte bus seorang diri, dia nampak begitu menyedihkan saat di lihat dari atas bus, aku tidak tega melihatnya seperti itu sehingga langsung memaksa supir bus untuk berhenti secepatnya.


"Aishh....dia terlihat begitu menyedihkan, kenapa aku jahat sekali meninggalkannya seorang diri di saat seperti itu" ucapku merasa kasihan.


"Pak...hentikan busnya aku tidak jadi naik, hey....pak hentikan sekarang juga!" Bentakku sangat keras.


Sampai akhirnya bus berhenti dan aku kena marah oleh supir bus sekaligus para penumpang lainnya, aku tidak perduli dan langsung turun dari sana lalu berlari kembali menuju halte bus yang tidak jauh dari tempat aku turun namun saat itu aku lihat Devinka berjalan menjauhi halte.


Aku tidak bisa menyusulnya jadi aku segera berteriak dengan keras memanggil namanya sambil berlari dengan secepat yang aku bisa.


"Devinka....tunggu! HOS...HOS..HOS..." Teriakku sangat kencang.


Devinka berhenti dan dia langsung membalikkan badannya ke belakang lalu menatap heran dengan kedua alis yang dinaikkan bersamaan menatap ke arahku.


Aku sulit menghentikan kakiku sendiri di saat sedang berlari sangat kencang sebelumnya karena takut tidak bisa mengejar Devinka, sampai ketika sudah dekat aku mulai panik sendiri dan kembali berteriak meminta Devinka agar menjauh dari jalanku.


"Aishh....sial aku berlari terlalu kencang, aaaa...Devinka minggir kau aku tidak bisa berhenti..." Teriakku sangat kencang karena saat itu aku berlari di jalanan yang agak menurun.


Sehingga sulit bagiku untuk berhenti secara tiba-tiba, sialnya Devinka itu bukannya menghindar atau menjauh dari jalanku dia justru malah tetap berdiri disana lalu merentangkan tangannya membuatku semakin panik tak karuan.


Aku takut dia tidak akan bisa menahan tubuhku karena aku sadar diri aku tidak seringan itu.


"Aaaa...brukkk" suaraku yang akhirnya berhenti dan memeluk Devinka dengan erat serta mata yang tertutup rapat.


"Ahhh...kenapa tidak sakit?" Tanyaku bicara sendiri.


Tiba-tiba saja Devinka mendorong tubuhku pelan dan membuatku berdiri dengan tegak lagi tapi dia malah menyentil dahiku cukup kuat sehingga aku meringis kesakitan di buatnya.


"Bodoh!, Tentu saja kau tidak sakit karena aku menahanmu, sekarang untuk apa kau kembali kesini?" Ucap Devinka meledekku dan bertanya lagi padaku.


Aku sempat bingung harus menjawabnya seperti apa karena aku kembali ke sana sebab merasa kasihan melihatnya begitu menyedihkan duduk seorang diri di halte bus dengan kepala yang menunduk lesu.


"AA..anu itu aku mau...menginap di rumahmu" ucapku keceplosan.


Aku kaget dengan ucapan yang keluar dengan sendirinya dari mulutku itu, mataku terbuka lebar dan aku langsung menutup mulut lemes mu ini dengan kedua tangan.


"Ehh, kenapa aku bicara begitu, sial....ini mulut ada masalah apa sih denganku" gumamku merasa panik sekarang.


Devinka hanya tersenyum lalu dia berkacak pinggang dan mulai sombong dengan dirinya sendiri.


"Hah, tadi saja kau sok sok an menolak sekarang malam berlari mengejarku kembali, ya sudah karena itu kau sendiri yang mau ayo kita kembali ke rumahku" ucap Devinka sambil menggandeng lenganku dan menarikku berjalan bersamanya.


"Ehh...tidak...tidak Devinka aku salah bicara" ucapku berteriak dan berusaha pergi dari sana.


Sayangnya Devinka sudah menggandengan lenganku dengan kuat dan sepertinya aku memang tidak bisa kabur dari genggaman dia kali ini, rasanya aku ingin menangis kejang karena keceplosan bicara seperti itu padahal aku sama sekali tidak berniat hingga ke sana aku hanya merasa kasihan kepada dia tapi kenapa malah aku menginap lagi di rumahnya.


Devinka membawaku kembali ke rumahnya dan dia terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya, yang membuatku heran kini wajah Devinka terlihat lebih ceria dan berseri daripada sebelumnya dia seperti telah kembali pada Devinka yang biasanya dan rasa cemas di dalam diriku akhirnya hilang setelah bisa melihat dia jauh lebih baik sekarang.


"Chicken apa yang ingin kau makan untuk makan malam?" Tanya Devinka kepadaku,


"Ahh... apapun itu aku bisa memakan semuanya hehe" balasku dengan senyum yang garing,

__ADS_1


"Heh, apa kau itu manusia kambing ya?, Semuanya bisa kau makan jangan-jangan kursi dan selimut kau makan juga yah ahahaha" ucap Devinka yang meledek aku lagi seperti biasanya.


Meski aku sangat kesal karena dia kembali menghinaku, tapi setidaknya jika itu bisa membuat dia melupakan masalah dia sebelumnya aku tidak keberatan meski harus menerima hinaan darinya itu, lagi pula aku sudah terbiasa menerimanya.


"Sudah cukup tertawanya, sekarang aku sangat lapar aku ingin makan mie instan saja" ucapku yang mulai emosi karena Devinka tidak berhenti tertawa.


Tidak biasanya dia langsung menuruti ucapan dariku bahkan Devinka langsung pergi memasak mie instan sendiri untukku, aku heran dan masih tidak percaya melihat Devinka yang menuruti ucapanku, dan aku pun bangkit dari kursi lalu berjalan menghampiri Devinka yang tengah merebus mie di dapurnya.


"Ehh...Devinka apa kau sungguh memakan makanan yang salah siang ini?" Tanyaku saking merasa herannya dengan tingkah Devinka,


"Tidak tadi siang aku hanya memakan makan siang seperti biasanya" balas Devinka sambil terus sibuk dengan masakannya,


"Tapi Devinka kau menghinaku barusan lalu tiba-tiba saja menuruti ucapanku dengan cepat tanpa berdebat denganku?, Kau langsung pergi ke dapur dan merebus mie nya apa kau sehat?" Ungkapku menjelaskan dan masih merasa heran,


"Ahahaha....jadi kau kira aku menyeduh mie ini untukmu?, Ahaha....konyol" ucap Devinka malah tertawa,


"Ehh, lalu untuk siapa lagi, tadikan aku yang berkata ingin makan mie?" Ucapku keheranan dan mulai jengkel,


"Tentu saja ini untuk diriku sendiri, jika kau mau ya kau harus memasaknya sendiri, lagian untuk apa aku memasakkan mie untukmu memangnya kau itu istriku?, Ahahaha...kau lucu sekali Chicken" ungkap Devinka membuatku langsung cemberut dan segera kembali ke meja makan dengan menghentakkan kakiku keras.


"Eughh ... benar-benar Devinka sialan itu, huuh dia sangat menjengkelkan dan membuatku ingin memukulnya aarghhh....huh" gerutuku terus merutuki dia dengan kesal.


Setelah aku pikirkan lagi untuk apa aku berdiam diri di depan meja makannya jika hanya untuk menyaksikan si Devinka sialan itu menikmati makanannya sendiri, aku juga benar-benar konyol mengapa aku bisa berpikiran bahwa dia memasakkan mie itu untukku padahal dari karakternyaa sudah jelas itu sesuatu yang tidak mungkin terjadi, aku menjadi kesal sendiri dengan dugaanku yang salah.


Sampai tidak lama Devinka datang membawa mie yang sudah matang dengan banyak lauk lain di dalamnya, baunya terasa menyengat dan sangat nikmat, perutku langsung bersuara saat mencium bau makanan yang dimasak oleh Devinka barusan.


"Kreokkk... Kreokkk... Kreokkk" suara perutku yang memberontak meminta asupan makanan kepada pemiliknya.


Aku menghembuskan nafas lesu dan wajah yang ditekuk karena kesal melihat Devinka meniupi mie buatannya sendiri di hadapanku secara langsung, dia benar-benar tidak menganggap ku meski aku ada depannya, padahal aku kemari juga dipaksa olehnya tadinya aku juga mau pergi lagi dia saja yang menyeretku terlalu kuat.


Disaat aku merutuki Devinka di dalam hatiku terus menerus sepuasku, Devinka langsung menggeser mangkuk mie nya itu ke hadapanku tanpa mengatakan apapun dan disaat aku menatapnya dengan heran dia hanya mengangguk seakan membiarkanku untuk menikmatinya.


"Ehh, kau sungguhan mau memberikan ini padaku?" Ucapku masih merasa ambigu,


"Benar, ayo makanlah dengan kenyang dan dugaanmu memang benar, aku sengaja membuatkannya untukmu sebelumnya aku hanya menjahili mu" balas Devinka sambil tersenyum kecil.


Aku sangat senang dan langsung saja berniat untuk menyantap mie yang sangat menggoda lidahku tersebut, namun saat baru saja hendak menyendoknya aku merasa tidak enak pada Devinka, karena hanya aku yang makan disana saat itu sedangkan Devinka orang yang membuatkannya hanya duduk menganggah dagunya dengan tangan sambil melihatku hendak makan.


Aku pun berinisiatif untuk mengajaknya makan di mangkuk yang sama denganku, lagi pula mie itu terlalu banyak untukku aku juga tidak akan bisa menghabiskannya seorang diri.


"Kenapa kau tidak makan juga?" Tanya Devinka kepadaku,


"Ahhh ..tidak. Devinka ayo makan bersama" ajak ku kepadanya sambil menggeser kan mangkuk berisi mie itu ke tengah-tengah,


"Kau mau berbagi denganku?" Tanya Devinka dengan ekspresi wajahnya yang seperti heran dan kaget ketika mendengar ajakan dariku,


"Iya tentu saja, ayo" ucapku sambil mengangguk.


Devinka langsung berpindah duduk ke sampingku lalu kami mulai menikmati memakan mie instan itu bersama hingga habis dan perutku sudah kenyang, begitu pula dengan Devinka.


Aku menyandarkan badanku ke belakang dan mengusap perutku yang terasa begitu penuh dengan mie sekarang.


"Aaahhh... Mie buatanmu enak sekali aku sangat menyukainya haha aku juga kenyang....ahhh menyenangkan sekali" ucapku sambil menatap langit langit ruang makan itu.

__ADS_1


Aku tidak sadar bahwa saat itu diam-diam Devinka menatapku dan memperhatikan wajahku dengan lekat serta senyuman yang melengkung di wajahnya.


"Dia orang pertama yang mau berbagi miliknya denganku, aku tidak ingin kehilangan orang sepertinya, dia juga tidak pernah benar-benar membenciku dan marah kepadaku disaat aku terus mengerjai dia dan membuatnya jengkel setiap saat, dia bahkan tetap merawatku disaat dia tahu aku musuhnya, kenapa kau sebaik itu Elisa" gumam Devinka sambil menatap Elisa secara diam-diam.


__ADS_2