Bos Ternyata Musuhku

Bos Ternyata Musuhku
Bercanda dengan Devinka


__ADS_3

Sedangkan kini secara tidak sengaja kami minum pada tempat yang sama dan bisa dikatakan itu seperti ci*man tidak langsung, tetapi dia malah memberikan reaksi yang tidak aku duga sama sekali.


"Eihhh....apa kau sungguh tidak marah denganku?" Tanyaku lagi padanya,


"Tidak, sudahlah jangan membahasnya lagi kau tunggu di sana aku akan memeriksa mobil sepertinya mobilku mogok lagi" ujar Devinka sambil membuka bagian depan mobilnya dan mulai memeriksa.


Aku menuruti ucapannya karena memang aku tidak mengerti soal mesin mobil sehingga aku tidak bisa ikut membantunya, aku duduk di pinggir jalan sambil membawa beberapa makanan yang diberikan oleh Devinka sebelumnya dan aku menikmatinya dengan lahap dan leluasa karena di sana aku bebas memakan makananku seperti apapun bahkan jika berserakan ke tanah aku tidak akan mendapatkan bentakan dari Devinka sebab itu tempat umum.


Sudah beberapa lama aku menunggu tapi aku tidak melihat Devinka selesai memperbaiki mesin mobilnya dan aku memutuskan untuk menghampirinya.


"Devinka bagaimana apa yang salah dengan mobilmu?" Tanyaku padanya sambil terus mengunyah makanan di mulutku,


"Heh, sudahlah jangan menggangguku lebih baik kau tetap di sana. Aishh habiskan dulu makanan di mulutmu sebelum bicara padaku menjijikan!" Ujar Devinka dengan wajah yang dikerutkan saking kesalnya melihatku yang makan sambil berdiri.


Aku tidak perduli dengan ucapannya padaku meski itu terdengar cukup kasar yang terpenting masih ada makanan di yang bisa aku makan sehingga aku bisa tetap berada dalam mood yang baik dan perut yang kenyang.


Tapi meski Devinka menyuruhku menjauh aku tetap saja merasa penasaran dengan apa yang sedang Devinka kerjakan karena ini sudah hampir gelap dan dia sudah mengutak ngatik mesin mobilnya sejak lama tapi tidak ada perubahan yang terjadi sedikitpun.


Devinka nampak mulai merasa kesal dan frustasi dia beberapa kali menyeka keringat di dahinya menggunakan tangannya yang kotor sehingga kotoran mengenai wajahnya dan membuat dia cemong.


Melihat wajahnya yang dipenuhi oleh mesin sehingga membuat dia nampak lucu, aku tertawa dengan puas dan menggelegar sampai merasakan sangat bahagia sebab wajah Devinka nampak terlihat sangat lucu.


"Ahaha...Devinka lihat wajahmu haha kau sudah seperti monyet cemong haha lucu sekali, sini biar aku foto untuk kenang kenangan" ucapku sambil segera mengeluarkan ponsel siap memotret wajah Devinka yang cemong.


Devinka mengerutkan kedua alisnya dan dia nampak sangat kesal sampai akhirnya berteriak membentakku dengan sangat kencang sampai membuatku sedikit kaget dan langsung berlari menjauh darinya, karena takut dia akan menghukum ku.

__ADS_1


"Aishh.....Elisa....berhenti di situ kau!" Teriak Devinka dan langsung berlari mengejarku.


Aku sangat takut dan kaget luar biasa sehingga refleks terus berlari mengelilingi mobil saling mengejar bersama Devinka.


Aku yang merasa sudah lelah dan tidak kuat lagi berlari memilih untuk bersembunyi di balik mobil karena saat itu aku kira di sana adalah tempat yang paling aman untuk menghindar dari Devinka yang tengah mengamuk padaku.


"Haha...dia tidak akan bisa menemukanku di sini" gerutuku sambil tertawa senang.


Aku terus mengintip sedikit demi sedikit mencari keberadaan Devinka karena aku takut dia akan menemukanku lebih cepat dari dugaanku sayangnya aku tidak berhasil menemukannya, sampai tiba tiba Devinka mendekap ku dari belakang dan dia mengoleskan oli mesin pada wajahku sampai aku sama cemongnya dengan wajah dia.


"HAAA...ketemu kau, rasakan ini" ucap Devinka sambil memelukku dari belakang dengan kuat.


"Aarkhh...lepaskan, Devinka lepaskan aku..." Teriakku berontak karena tidak mau membuat wajahku cemong dengan oli bekas itu.


Sayangnya kekuatanku jelas sekali tidak sebanding dengan kekuatanku, sekuat apapun aku berontak dan mencoba melepaskan diri darinya, tetap saja dia berhasil mencoret wajahku dengan banyak sekali, hingga ketika aku membalikkan badan tiba tiba dia berhenti dan menatapku dengan lekat.


Dalam beberapa menit barulah kami berdua sadar dan saling menjauh satu sama lain, sialnya Devinka mendorongku terlalu kuat sampai aku tersungkur ke belakang cukup keras.


"Arkhh......AA..awww sakit sekali, Devinka apa kau gila yah kenapa kau mendorongku sekuat itu?, Apa salahku" bentakku sambil berusaha bangkit dan membersihkan pakaianku yang kotor karena terjatuh,


"A..aku...itu ka..karena kau yang berada terlalu dekat denganku, aishh dasar kau pasti mencari kesempatan dariku kan" bentak Devinka yang malam menyalahkanku tanpa alasan yang jelas,


Aku sungguh sangat kesal saat itu, bukannya membantuku berdiri dia malah menyalahkanku dan membentakku sangat keras dan aku membalas membentaknya karena tidak terima dengan urusannya.


"Heh, dasar kau tidak tahu diri, apa maksudmu malah menyalahkanku, sudah jelas kau sendiri yang lebih dulu memelukku dari belakang, apa kau tidak sadar hah!" Bentakku sangat kencang sambil berkacak pinggang dan menatapnya dengan sinis.

__ADS_1


Aku sudah tidak sanggup lagi melayani Devinka yang tidak bisa menerima kenyataan padahal jelas sekali dia yang lebih dulu mendekapku malah dengan seenaknya menyalahkanku begitu saja.


Karena sangat kesal aku kembali duduk di pinggiran jalan tepat di tempat sebelumnya aku duduk dan di sana masih tersisa beberapa makanan ringan. Aku masih bisa sedikit bersyukur setidaknya di saat moodku hancur masih ada makanan yang bisa menghiburku dan memperbaiki mood diriku.


Aku langsung membuka salah satu anak kripik pedas dan memakannya dengan lahap tanpa melihat dahulu level kepedasan kripik tersebut sampai tak lama aku mulai merasakan lidahku seakan terbakar sangat panas.


"Arkhhhh.....pedas...pedas sekali....huaa...pedas" teriakku sambil berlari dan membuka mulutku yang seakan mengeluarkan api dari dalamnya.


"Devinka pedas sekali...huaaa" teriakku sangat kencang,


Devinka hanya membelalakkan matanya dan dia segera memasukkan sebuah apel ke dalam mulutku, entahlah dari mana dia bisa mendapatkan sebuah apel saat itu yang pasti aku langsung merebutnya dan mengunyah apel itu secepat yang aku bisa untuk meredakan rasa pedas di lidahku.


Saat rasa pedas di lidahku sedikit membaik karena sudah memakan apel tadi aku baru bisa memeriksa dengan jelas yang ternyata level kepedasannya adalah dua puluh cabai, aku semakin kaget dan membelalakkan mataku lebih lebar lagi.


"APA?, dua puluh cabai, aishh pantas saja pedas sekali haaahhh hampir saja lidahku akan terbakar" bentakku kaget dan sangat kesal.


Meski sudah memakan apel dari Devinka tetap saja mulutku terasa sangat pedas sedangkan di sana sudah tidak ada air lagi yang tersedia. Kita juga tengah berada di tempat yang cukup jauh dari pemukiman sehingga sulit untuk menemukan warung terdekat dari sana.


Samping kiri dan kanan jalanan itu hanyalah ladang kosong yang terbengkalai dan sangat sedikit kendaraan yang melewati jalanan itu apalagi kini sudah hampir gelap dan aku semakin merasa cemas sebab masih belum bisa menyalakan mobil Devinka.


"Devinka bagaimana ini, apa mobilmu benar benar tidak bisa menyala lagi?" Ucapku dengan cemas,


"Tenang saja aku akan memperbaikinya lagi tadi juga jika kau tidak menggangguku pasti sekarang sudah selesai. Kau tunggu saja di dalam ini hampir gelap bahaya jika kau duduk di luar seorang diri" ujarnya dengan tegas,


Aku pun menurutinya dan segara masuk ke dalam mobil sementara Devinka kembali berkutik dengan mesin mobilnya sampai beberapa menit kemudian akhirnya mobil itu bisa menyala lagi dan aku sangat senang sampai tak sadar tersenyum begitu ceria pada Devinka.

__ADS_1


"Aahh akhirnya menyala juga" ujar Devinka merasa puas atas pekerjaannya,


"Wah...hebat Devinka kamu sungguh bisa memperbaikinya yeeayy akhirnya kita bisa pergi dari tempat menyeramkan ini" tambahku sangat gembira sambil tak sadar memegangi lengan Devinka dan bersorak kegirangan satu sama lain.


__ADS_2