
Aku tetap masih percaya bahwa Devinka mencemaskanku karena raut wajahnya mudah sekali untuk di tebak.
"Aku yakin dia pasti tengah berusaha menyembunyikan perasaan cemasnya dariku, hah apa gengsinya sebesar ini dia tidak jauh beda dengan Ciko sialan itu" gumamku dalam hati.
Aku benar benar tidak mengerti mengapa anak anak itu memiliki gengsi yang tinggi, padahal apa salahnya dia mengatakan yang sebenarnya untuk apa menyembunyikan perasaanya sendiri, itu hanya akan membuatnya sulit dan sama saja dengan membohongi diri sendiri.
Jika dia memang mengkhawatirkan ku, aku juga tidak keberatan dengan itu karena bagiku wajar saja itu terjadi karena kami saling mengenal.
Namun rasanya di lihat dari karakter Devinka yang sangat keras kepala dan mementingkan gengsi itu tidak akan pernah terjadi padanya, karena dia akan tetap membenciku entah sampai kapan, aku juga tidak perduli karena mengenal orang sepertinya hanya membuatku kesulitan.
Saat aku sudah berbaring kembali di ranjang Devinka membawakanku segelas air yang tadi hendak aku ambil namun tak sampai, dia juga memberika semangkuk bubur yang masih hangat untukku.
"Heh, ini minumlah dan ini bubur untukmu" ucap Devinka dengan wajah yang acuh dan nada yang dingin.
"Eh... Apa ini darimu?, Kenapa kau memberikannya untukku, tadi kau bilang kau tidak mencemaskanku mana mungkin kau se perduli ini padaku" ujarku merasa bingung dan heran,
"A..apa yang kau katakan, jangan berpikir terlalu jauh ini dari Reksa bukan dariku aku hanya mengantarkannya saja, sudah cepat ambil ini dan habiskan semuanya aku akan melihatmu di sini sampai kau selesai makan" ucap Devinka dengan wajah gugup dan memberikan bubur itu dengan paksa kepadaku.
Aku tidak bisa menolaknya karena itu dari Reksa aku sangat senang dan bisa langsung menyantapnya selagi bubur itu masih panas, dan buburnya enak sekali perutku sudah terselamatkan berkat bubur itu, aku merasa sangat beruntung memiliki orang seperti Reksa di belakangku meski dia sedikit alay dan lebay tapi dia tidak terlalu buruk.
"Eummm ini enak sekali, Reksa memang yang terbaik dia teman yang hebat, aku akan berterimakasih dan membalasnya dengan mentraktirnya makan setelah aku sembuh nanti" ujarku sambil terus menyantap buburnya dengan lahap.
Tiba tiba saja Devinka merampas bubur tersebut dari tanganku dengan cepat dan secara paksa hingga membuatku kaget dan tidak terima dengan kelakuannya.
"E..e..eh...Devinka kembalikan buburnya, kenapa kau merampasnya dariku apa kau juga menginginkannya" bentakku dengan kesal,
__ADS_1
"Kau sudah makan cukup banyak dan aku juga lapar jadi bubur ini untukku" ucap Devinka sambil menyantap bubur sisiku barusan,
"Ehh...jangan sendoknya bekas...." Ucapku tertahan karena Devinka sudah terlanjur memasukkan bubur itu ke dalam mulutnya menggunakan sendok yang sama denganku,
"Sendok apa?" Tanya Devinka yang masih belum sadar,
"Itu bekas bibirku apa kau tidak merasa aneh menggunakan sendok yang sama dengan seorang perempuan di waktu yang bersamaan bahkan sendoknya tidak di cuci itu sama saja dengan ciuman tidak langsung" ucapku menjelaskan.
Devinka langsung tersedak dan dia terbatuk lalu meminum air yang ada di tanganku di mana gelas itu juga bekas minumku jadi secara teknis Devinka melakukan kesalah yang sama sebanyak dua kali.
"Ehh...tunggu gelas itu juga bekas bibirku" ucapku menahannya namun Devinka sudah terlanjur menempelkan bibirnya pada gelas itu dan meneguk airnya hingga habis,
"Ohok....ohokk...heh apa kau ingin membuatku mati tersedak?, Kenapa kau harus memberitahuku hal bodoh semacam itu di saat aku tengah makan dan minum benar benar tidak tahu sopan santun" bentak Devinka sambil mengusap bibirnya.
Sebenarnya aku tidak bermaksud begitu namun saat melihatnya melakukan itu secara tiba tiba aku juga refleks mengatakannya karena yang aku ketahui memang begitu, itulah alasannya mengapa kita tidak boleh minum dan makan dengan barang yang sama dengan lawan jenis.
"Aishh yang benar saja siapa juga yang ingin memakai bekas bibirmu, aku menggunakannya karena tidak ada yang lain di sini" balas Devinka dengan serius dan kedua alis yang dikerutkan.
Aku yakin dia sangat kesal saat itu dan dia duduk di Sofa sambil menatapku dengan tajam beberapa saat.
Aku merasa heran karena dia masih belum pergi juga dari ruanganku padahal ku pikir tugasnya hanya mengantarkan bubur tadi saja untuk aku makan, lagi pula ini sudah hampir larut malam dan ketiga temannya juga belum kembali aku takut orang orang akan salah paham dengan keberadaannya di ruanganku.
"Aishh kenapa manusia menjengkelkan itu belum pulang juga sudah berapa jam dia duduk di sana dan bermain game?" Gerutuku sambil memperhatikan dia diam diam.
"Heh, jangan melihatku aku tahu aku memang tampan tapi aku menolak untuk disukai oleh wanita ayam dan miskin sepertimu jadi tolong jaga pandanganmu padaku" kata Devinka dengan sombongnya,
__ADS_1
"Hah siapa juga yang menyukaimu aku bahkan membencimu apa kau lupa ha?" Jawabku dengan nada tak kalah tinggi.
Sifat sombongnya sungguh membuatku sangat muak terlebih dia sangat narsis dan aku benci melihat dia membanggakan dan memuji dirinya sendiri padahal bagiku dia sama sekali tak jauh lebih baik dari orang biasa yang masih memiliki hati di luar sana.
Dia hanya memiliki lebih banyak uang dari orang biasa dan jika bukan karena kekayaannya mungkin dia tidak akan ada di posisi setinggi saat ini dan belum tentu orang orang akan membela serta mendengarkan ucapannya dengan patuh.
Meski aku sudah mengelak dan mengatakan apa yang sebenarnya Devinka masih saja narsis dan dia terus memuji dirinya sendiri sampai rasanya telingaku sudah gatal dan sangat muak terus mendengar ke narsis san dirinya.
"Haha...Elisa Elisa bilang saja jika kau memang menyukaiku secara diam diam, aku tahu aku ini memang tampan dan mempesona, tidak ada satu wanitapun yang dapat menolak pesonaku ini" ucap Devinka sambil bangkit dan berjalan ke arahku,
"Hisss Devinka apa kau tidak merasa malu memuji dirimu sendiri di hadapanku sudah jelas aku adalah satu satunya wanita yang normal dan cerdas karena aku tidak menyukaimu dan aku tidak pernah melihat semua pesona yang kau sebutkan tadi" jawabku dengan menatapnya sinis.
Aku ingin istirahat karena masih cukup lemah tapi dia terus saja mengoceh dan sangat narsis sehingga aku sulit untuk beristirahat.
"Tidak mungkin. Aku tahu kau hanya berusaha menahan diri kan haha wajahmu jelas memperlihatkan kau menyukaiku iya kan jujur saja" balas Devinka yang semakin menyebalkan,
Aku menarik nafas dalam dan membuangnya sekaligus lalu aku membentaknya dengan keras berharap dia akan berhenti bermimpi dan sadar dengan ucapan yang aku tujukan padanya.
"Aishh DEVINKA!, harus berapa kali aku katakan aku tidak menyukaimu kau bahkan lebih baik dari Reksa jika harus memilih diantara kau dan ke tiga temanmu aku bahkan akan lebih memilih Reksa orang yang paling tidak populer dan yang paling buruk diantara kalian semua, apa kau mengerti ha?" Bentakku dengan penuh emosi kepadanya.
Setelah itu aku langsung menarik selimutku dan menutupi semua wajahku dengan selimut aku benci mendengar ocehannya dan memilih untuk berpura pura tidur saat itu juga.
"Hah?, Apa kau buta bagaimana kau bisa membandingkan ku dengan Reksa. Lihat saja nanti aku akan membuatmu berkata jujur bahwa kau menyukaiku sejak lama" gerutu Devinka yang masih bisa aku dengar.
Saat itu aku menggenggam ranjang dengan sangat kuat untuk menahan emosi agar tidak meledak di sana, sebab aku ingat bahwa aku masih harus menahan energiku agar bisa secepatnya keluar dari rumah sakit dan pergi menjauh dari manusia narsis itu.
__ADS_1
"Aishh dia benar benar gila" gerutuku kecil.
Aku berusaha menutup mataku hingga tak terasa lama kelamaan aku bisa tertidur dan aku sudah bisa tidur dengan lelap entah mulai dari kapan.