
Aku yang melihat itu langsung sadar bahwa ternyata Devinka yang menahan orang itu dan mengorbankan tangannya aku lihat dia mendorong Keysa dan menjauhkan Keysa yang saat itu hendak menyentuh tangannya yang terkena air panas.
Aku juga melihat tangan Devinka yang mulai memerah, aku tahu itu pasti sangat panas sehingga aku langsung menarik tangan Devinka dan membawanya ke kamar mandi dengan cepat lalu menaruh tangannya di bawah keras dan membasuh tangannya itu di bawah guyuran air dengan menitikan air mata.
Tidak bisa aku pungkiri dan aku tidak bisa membohongi diriku lagi bahwa aku sangat mengkhawatirkan keadaannya saat ini, dan aku sungguh tidak bisa menghentikan hatiku untuk mencintainya meski sudah ada Dika yang selalu berusaha keras melindungi aku juga dan memberikan segalanya kepadaku.
"Devinka kau bodoh! Kenapa kau malah melindungi aku, kanapa kau mengorbankan tanganmu seperti ini!" Bentakku memarahinya sambil menitikan air mata.
Aku menatapnya dengan tajam dan terus membasahi tangannya dengan air di wastafel yang ada di dalam kamar mandi tersebut, sedangkan Devinka dia malah tersenyum kecil memandangku dengan lekat padahal tangannya itu terluka dan memerah seperti itu.
Mungkin jika aku tidak cepat membersihkan dan membawanya hingga membasuh tangannya itu dengan air mungkin tangannya itu akan langsung melepuh, untunglah aku bisa dengan cepat membawa dia kesana.
"Aishh .... Berhenti tersenyum padaku dasar kau ini bodoh! Ayo ikut aku akan mengobati tanganmu ini" ucapku sambil terus saja ku gandeng tangannya keluar dari kamar mandi dan menyuruh dia untuk duduk disana.
"Ayo duduk dan diamlah disini aku akan mengambil obat untuk luka bakar dahulu di tasku" ucapku kepadanya.
Sebenarnya saat itu aku juga tidak memiliki obat luka bakar di tasku namun aku pergi menghampiri Dika dan meminta bantuannya untuk mencarikan obat untuk Devinka, dia memang terlihat agak kesal namun dia tetap pergi untuk mencari obat luka tersebut sedangkan Ciko dan Reksa mereka menangkan Keysa dan menahannya dengan kuat.
"Elisa awas kau aku tidak akan melepaskanmu lain kali, aku akan membalasmunlagi, awas kau!" Teriak Keysa yang terus saja mengancamku tidak jelas,
"Keysa aku peringatkan kepadamu, semakin kau ingin mencelakai aku aku akan melawanmu tanpa rasa takut sedikitpun, karena aku bukan pecundang sepertimu" balasku kepadanya,
Dia yang merasa kesal langsung pergi dari sana dan menghempaskan tangan Ciko dan Reksa yang memegangi tangannya saat itu.
"Aishh... lepaskan aku, eughh aku tidak sudah di sentuh oleh dua orang menyebalkan seperti kalian, ini lihat saja aku akan melaporkan semua perbuatan kalian kepada Tante Merisa kalian semua akan mati!" Bentak dia mengancam Ciko dan Reksa juga,
Setelah itu dia langsung pergi dari sana dengan cepat sedangkan Reksa yang kesal dengan ucapan dari Keysa dia hampir saja hendak menyusulnya dan berteriak merutuki Keysa dengan keras namun aku langsung menahan dia.
"Aishh....dasar wanita iblis itu, aarghhh awas kau Keysa aku tidak takut dengan ancamanmu!" Bentak Reksa sambil hendak mengejarnya,
"Reksa sudah biarkan saja dia pergi, dia bukan lawan yang tepat untuk kita, kau tidak pantas melawan kotoran sepertinya" ucapku yang akhirnya membuat Reksa berhenti.
Walau dia terlihat sangat kesal namun akhirnya dia kembali duduk di kursi itu berdampingan Dengan Devinka yang masih memegangi tangannya hingga tidak lama Dika tiba disana dan dia langsung memberikan obat itu kepadaku.
"Terimakasih Dika" ucapku kepadanya dia hanya tersenyum saja kepadaku,
"Devinka tahan sedikit ini akan sakit, namun aku akan mengoleskannya dengan pelan" ucapku kepadanya.
Devinka hanya mengangguk saja dan aku langsung mengoleskan salep luka bakar di tangannya dan segera aku tiupi lukanya tersebut, hingga semuanya selesai dan aku pun menyuruh Devinka untuk mengobatinya dan memeriksakan lukanya itu ke rumah sakit agar lebih baik, karena mau bagaimanapun luka bakar bukanlah luka yang bisa dia tangani begitu saja.
"Ini sudah selesai sebaiknya kau periksakan lukamu ke rumah sakit, aku akan pergi, sekalian bawa saja sisa obatnya olehmu, terimakasih sudah mau mengorbankan tanganmu untukku" ucapku kepadanya, sambil segera bangkit dari kursi.
Aku segera meraih tangan Dika dan mengajaknya untuk pergi, namun disaat aku hendak pergi bersama Dika Devinka tiba-tiba saja menarik tanganku dan menahanku dengan cepat.
"Dika ayo kita pulang" ajakku kepadanya,
"Elisa tunggu!" Ucap Devinka sambil menahan tanganku dengan erat.
__ADS_1
Aku langsung kembali berbalik menatapnya dan menanyakan apa yang akan dia lakukan kepadaku sampai menahan tanganku seperti itu.
"Ada apa lagi?" Tanyaku kepadanya dengan sinis,
"Apa kau sungguh menyukai Dika? Apa kau sudah tidak perduli lagi kepadaku? Aku akan menentang ibuku sendiri jika kau mau bersamaku lagi" ucap Devinka yang membuat aku kaget dan Dika langsung membentak Devinka dengan keras.
"Devinka jaga ucapanmu, dan lepaskan tanganmu dari Elisa!" Bentak Dika dengan keras sambil segera menarik tanganku yang di genggam oleh Devinka.
Aku pun berusaha menahan Dika dan menenangkan dia agar tidak terbawa emosi dalam sekejap, aku tidak ingin melihat mereka bertengkar di hadapan aku dan memperebutkan hal seperti ini.
"Dika tenangkan dirimu dan pergilah lebih dulu, berikan aku waktu untuk bicara dengan Devinka" ucapku kepadanya,
"Tapi Elisa dia......" Ucap Dika menahanku.
Aku tahu dia mencemaskan aku dan aku tahu sekali bahwa dia sangat menyayangi aku, aku hanya tidak ingin mereka bertengkar lagi kepadanya dan aku hanya ingin berbicara kepada Devinka untuk yang terakhir kalinya dan memberikan penjelasan kepada dia agar dia tidak melakukan hal konyol seperti itu lagi kepadaku.
Sebab aku juga tidak ingin dia terluka hanya untuk membelaku dan aku juga tidak ingin membuat dia selalu menyelamatkan aku sehingga aku merasa memiliki hutang Budi kepadanya.
"Dika, percayalah kepadaku, aku akan berbicara dengan Devinka sebentar saja, Reksa Ciko bisakah kalian bawa Dika dengan kalian" ucapku kepadanya mereka berdua agar mereka bisa membawa Dika segera pergi dari sana.
Dika pun langsung di tarik oleh Reksa dan di rangkul oleh Ciko dengan cepat, mereka pun membawa Dika segera keluar dari restoran tersebut dan aku mengangguk kepada Dika memberikan dia rasa untuk meyakinkannya bahwa aku akan baik-baik saja.
Melihat Dika begitu baik dan perhatian kepadaku aku sungguh merasa bersalah karena tidak bisa menyukai dia seperti yang dia harapkan selama ini, meski aku sudah berusaha namun cinta memang tidak bisa di paksakan begitulah hati dengan ketentuannya.
Meski aku sudah disakiti berkali kali dan di bohongi oleh Devinka dalam waktu yang sangat lama namun aku tidak bisa membohongi diriku sendiri bahwa pada kenyataannya aku memang masih sangat mencintai dia dan menyukainya, walau rasa itu tidak sebanyak dahulu.
Saat Dika dan yang lainnya sudah pergi aku mulai kembali berbalik menghadap pada Devinka dan mulai mengatakan niatku berbicara dengan dia sedari tadi.
Aku hendak pergi tapi Devinka lagi-lagi berteriak dan terus berbicara kepadaku begitu saja.
"Elisa kau berbohong! Aku tahu kau masih menyukaiku, tolong jangan bohongi dirimu sendiri, meskipun kau berbohong pada orang lain aku bisa melihat rasa sayangmu untukku di matamu" ucap Devinka yang membuat aku kembali menatap kepadanya,
"Devinka apa yang kau bicarakan, aku sama sekali sudah tidak menyukaimu, aku sudah akan bertunangan dengan Dika kau tahu itu bukan" ucapku kepadanya dengan tegas,
"Aku tahu tapi aku juga sudah hampir akan menikah dengan Keysa, dan aku tetap tidak mencintai dia sedikitpun, hanya kau yang aku cintai Elisa, kenapa kau melakukan ini? Apa kau rela melepaskan aku begitu saja?" Tanya dia kepadaku dengan tatapan matanya yang begitu dalam.
Aku langsung tertunduk lesu dan berusaha menahan air mata agar tidak jauh dari pelupuk mataku, aku tidak ingin terlihat lemah di hadapannya dan aku juga tidak ingin dia mengetahui perasaanku yang sebenarnya kepada dia, aku tidak bisa memperlihatkan perasaanku yang sesungguhnya di hadapan dia seperti itu.
Ku tarik nafas yang dalam dan membuangnya perlahan lalu aku mulai mencoba berbicara lagi kepada Devinka dan mengakui semuanya secara langsung kepada dia.
"Devinka asal kau tahu, ucapanmu barusan memang benar, aku masih menyukaimu, tapi rasa itu sudah tidak sebesar dulu lagi, dan aku sudah memutuskan untuk bersama Dika, kau juga akan menikah dengan Keysa, meski kita saling mencintai, tapi kita tetap tidak di takdirkan untuk bersama, seharusnya kau mengerti itu" ucapku kepadanya.
Aku segera pergi meninggalkan restoran itu dengan berlari cepat keluar dari sana sambil memegangi dadaku yang terasa sangat sesak dan sakit, aku ingin menangis dan menjerit namun aku tidak bisa, aku harus selalu memendam semua perasaan dan rasa kecewa di dalam diriku seorang diri, tanpa ada yang mengetahuinya seberapa sakit hatiku ini.
Sejak kejadian itu Devinka tidak lagi muncul di hadapanku dan aku juga sudah merayakan acara pertunanganku dengan Dika, hari ini adalah pesta pertunanganku dengan Dika dan aku sama sekali belum melihat kedatangan Devinka ataupun Keysa di sekitar sana, terakhir kali aku mendengar bahwa perusahaan yang di pimpin oleh nyonya Merisa mengalami sebuah kolep dimana menyebabkan semua karyawannya berdemo meminta bayaran mereka yang telat di berikan oleh pihak perusahaan.
Bahkan banyak sekali karyawan yang dulunya bekerja di perusahaan CTN Group kini berpindah ke perusahaan yang di pimpin oleh Ciko dan Dika, bahkan Reksa juga sudah tidak bergantung lagi pada nyonya Merisa sebab dia sudah memutuskan hubungan kerja sama diantara mereka sejak kejadian kedatangan nona Merisa di kota itu untuk pertama kalinya saat itu.
__ADS_1
Dan semua rencana Ciko juga Dika berjalan sangat lancar mereka mampu menyaingi perusahaan nyonya Merisa bahkan Dika membuatkan pesta pertunangan yang sangat megah untukku, lebih megah dari pesta pertunangan Devinka sebelumnya.
Padahal sejak awal aku sudah mengatakan kepadanya untuk tidak melakukan pesta pertunangan semegah itu sebab aku sungguh merasa tidak enak kepada Dika, karena sejak lama aku terus menyusahkan dia dan selalu memakai uangnya sedangkan aku masih belum mendapatkan pekerjaan juga sampai detik ini.
Hingga kami sampai di puncak acara hari ini dimana setelah acara penukaran cincin selesai, barulah acara pesta dansa di mulai, semua itu di mulai ketika kami mempelai wanita dan pria yang bertunangan mulai berdansa bersama, Dika langsung menunduk kepadaku dan mengajak aku untuk berdansa bak di negeri dongeng.
Aku sungguh tersanjung dengannya dan langsung mengangguk dan menerima uluran tangan darinya, saat itu aku masih belum menyadari jika ternyata Devinka sudah ada di dalam gedung itu dan dia juga ikut berdansa dengan Keysa di pesta pertunangan aku dan Dika, sedangkan acara pernikahan Devinka dan Keysa akan di laksanakan beberapa hari lagi setelah acar pesta pertunanganku.
Meski seharusnya acara itu di adakan di tanggal yang sama namun entah kenapa Devinka mengundur tanggalnya dengan alasan dia ingin memakai gedung yang sama, yakni gedung yang saat ini aku gunakan untuk pesta pertunangan aku dan Dika.
Sampai ketika aku berdansa dengan Dika tiba-tiba saja kami malah berganti pasangan dimana aku menjadi berdansa dengan Devinka dan Dika dengan Keysa, sehingga itu membuat para tamu undangan menjadi sedikit panik melihatnya namun aku terus saja berdansa meski diriku sendiri sangat kaget melihat Devinka berdansa denganku.
"Devinka lepaskan aku, apa yang kau lakukan?" Ucapku kepadanya.
Aku sudah berusaha keras untuk menghentikan dansaku dengan Devinka namun dia tidak mau melepaskan aku juga hingga Dika datang menghampiriku karena dia sudah menghentikan dansanya sejak aku berganti dengan Keysa saat itu.
"Devinka hentikan ini, Elisa adalah pasanganku dan jangan mengganggunya diacara yang bahagia ini" ucap Dika sambil langsung menarik tanganku dan menghentikan dansa ku dengan Devinka,
Aku langsung berdiri di samping Dika dan Devinka menatap tajam ke arah Dika terlihat sekali permusuhan diantara mereka hingga Devinka langsung keluar meninggalkan kami di tengah-tengah pesta yang berlangsung.
Suasana juga langsung berubah menjadi tegang saat itu, namun untungnya Reksa segera mencairkan lagi suasananya sehingga para tamu undangan tidak terlalu memperhatikan kecelakaan kecil tadi, hanya saja ibu Dika langsung menghampiriku dan bertanya kepadaku mengenai Devinka yang tiba-tiba saja melakukan hal tadi kepadaku.
"Sayang ada apa barusan kenapa Devinka terlihat marah dan kesal seperti itu?" Tanya Tante Michael kepadaku dan Dika yang berdiri disana,
"Aku hanya memperingati dia, karena aku tidak suka dia dekat-dekat dengan calon pengantinku" ucap Dika membuat Tante Michael langsung membelalakkan matanya lebar,
"Aishh....ibu pikir ada apa, kau ini jangan terlalu mengekang Elisa, lagi pula Devinka itu kan sahabatmu, dia tidak mungkin mengambil kekasih sahabatnya sendiri, iya kan Elisa" ucap Tante Michael yang memang tidak mengetahui hal sebenarnya.
Keysa datang menghampiri kami dan dia justru malah mengatakan hal yang lain-lain kepada tante Michael saat itu.
"CK.... Tante kau tidak salah berkata yah? Justru putramu inilah yang merebut pacar sahabatnya sendiri, Elisa aku sudah berbaik hati untuk memberikan Devinka padamu tapi kau malah menyia-nyiakan dia, dasar tidak tahu diri" ucap Keysa kepadaku dengan sinis dan dia langsung pergi begitu saja.
Tante Michael yang mendengar itu dia segera berlari menahan Keysa karena sangat penasaran dan tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Keysa saat itu sebab dia membalikkan ucapannya tadi.
"Tunggu! Siapa kau dan kenapa kau berkata seperti itu kepadaku juga pada putra dan menantuku?" Tanya Tante Michael.
Aku menatapnya sangat tegang, aku takut Keysa akan mengatakan semuanya dan itu akan membuat tante Michael membenciku, aku tidak ingin semua itu terjadi terlebih aku juga tahu bahwa Michael adalah wanita yang sangat licik tidak mungkin dia akan mengatakan fakta yang sebenarnya.
Untungnya sebelum Keysa menjawab pertanyaan tante Michael, Dika langsung menarik Tante Michael dan dia langsung mengusir Keysa dengan cepat dari sana.
"Tidak ibu jangan dengarkan dia, dia adalah wanita jahat dan licik, aku akan menjelaskan semuanya kepadamu nanti" ucap Dika sambil memegangi tante Michael,
"Dan aku, pergi kau sana, pesta ini tidak mengundang wanita jahat dan licik sepertimu!" Bentak Dika sambil mendorong Keysa sedikit menjauh dari ibunya.
Kesya langsung menarik gaunnya dan dia pergi dengan cepat dari sana sedangkan aku hanya bisa diam termenung memikirkan ucapan dari Keysa yang baru saja aku dengar di telingaku sebelumnya.
"Kenapa dia mengatakan bahwa dia merelakan Devinka untukku? Bukankah dia selama ini selalu dengan Devinka? Dan bukankah dia selama ini menyukai Devinka?" Gumamku terus memikirkan.
__ADS_1
Sampai akhirnya Dika datang menghampiriku dan dia mengajak aku untuk menyambut tamu undangan yang hadir di acara itu untuk mengucapkan selamat kepadaku dan dirinya.
Aku pun mengesampingkan pikiranku sebelumnya dan segera melanjutkan acara pertunanganku dengan Dika saat itu.