
Sudah hampir dua puluh menit berlalu dan aku baru saja menyelesaikan semua tugasku namun rasa kantuk di mataku juga sudah tidak tertahankan lagi sehingga aku berpikir untuk mencoba tidur mengistirahatkan diriku sejenak di sana.
"Hoaaamm ahh aku mengantuk sekali lebih baik aku tidur dulu sejenak di sini" ucapku sambil langsung menjatuhkan kepalaku ke atas meja dan langsung tertidur dengan lelap.
Sebelumnya aku sudah memasang alarm di ponselku sangat banyak dan hanya selang lima menit saja diantara satu alarm dengan yang lainnya.
Aku melakukan itu karena tidak mau kebablasan atau terlewatkan karena satpam akan selalu menutup dan mengunci kantor ketika pukul satu malam sehingga aku terus memasang alarm hingga pukul dua belas malam, hingga tak lama alarm yang aku pasang sudah berbunyi satu persatu aku juga sudah sedikit terbangun namun rasa kantukku masih belum hilang juga.
Bukannya hilang aku justru malah semakin mengantuk dan aku segera mematikan alarm di ponselku lalu segera bangkit dengan badan yang sempoyongan dan mata yang sudah sulit untuk aku buka, walau sangat lemas dan tidak tahan dengan kantuk aku tetap berusaha berjalan untuk keluar dari kantor karena aku tidak mau terkunci lagi di dalam kantor seperti sebelumnya.
Aku terus menguap berkali kali selama perjalanan bahkan ketika sudah keluar dari kantor satpam sempat menawarkan bantuan untuk mengantarku pulang namun aku menolaknya karena tidak mau merepotkan orang lain yang tidak aku kenal.
"Eh...eh...apa kamu baik baik saja mau bapak antarkan pulang?, Kenapa lembur sampai selarut ini?" Ucap pak satpam menawarkan,
"Hehehe...tidak usah...hoammm aku bisa sendiri kok hehe" balasku sambil mengusap beberapa kali.
Pak satpam pun mengangguk dan dia masuk ke dalam kantor untuk memeriksa takutnya masih ada karyawan yang lembur juga di dalam.
Aku berniat untuk menunggu taxi yang datang namun tiba tiba saja mataku terasa begitu silau dan aku tidak bisa melihat apapun hingga tiba tiba saja tangan seseorang menarik lenganku hingga aku jatuh ke pelukan seseorang yang aku tidak tahu dia siapa karena aku sangat mengantuk sekali saat itu.
"ELISA..AWAS!" teriak Devinka yang refleks langsung menarik lengan Elisa dan menyelamatkan Elisa dari sebuah mobil yang hampir menyerempetnya.
Saat itu Devinka baru saja keluar dari kantor dan dia melihat Elisa yang berdiri dengan gontai lalu sebuah mobil melaju dengan sangat cepat hampir menyerempetnya sehingga Devinka langsung berlari dan menolong Elisa, dia sangat khawatir dengan keadaan Elisa dan sangat kaget ketika terjadi kejadian barusan.
Namun aku justru langsung tertidur karena merasa sangat nyaman dan hangat berada di dalam pelukan seseorang yang menarikku sebelumnya, saat itu karena aku sangat lelah dan begitu mengantuk aku tidak sadar bahwa orang yang memelukku dan menyelamatkan aku adalah Devinka.
__ADS_1
Devinka yang melihat Elisa tidak sadar seperti itu dia pun berdecak kesal sambil menggerutu sendiri lalu langsung menggendong Elisa yang bisa bisanya terus tertidur meski dia menggendongnya saat itu dan memasukkan Elisa ke dalam mobilnya.
"Huh, cewek ayam sialan bisa bisanya dia tetap tertidur selelap ini padahal hampir terserempet seperti tadi, benar benar cewek konyol" gerutu Devinka dengan kesal.
Setelah sudah masuk ke dalam mobil kini Devinka bingung harus membawa Elis ini kemana, jika dia membawa kerumahnya kali ini tengah ada ibunya di rumah sehingga dia tidak mungkin melakukan itu, sedangkan jika Devinka membiarkan Elisa di mobilnya dia juga tetap takut ketahuan oleh ibunya dan jika membiarkan Elisa tidur di kantor Devinka takut akan ada orang yang berbuat jahat nantinya.
"Aishh... Kalau begini kemana aku harus membawa cewek sialan ini, mana di rumah masih ada mamih lagi" gerutu Devinka lagi dengan frustasi dan menggaruk belakang kepalanya cukup keras.
Tak lama dia pun memiliki ide untuk membawa Elisa ke basecamp tempat dia dan teman teman The Boys nya itu.
"Ahh...iya aku biarkan saja dia tidur di basecamp lagipula anak anak juga jarang menginap di sana, iya itu adalah tempat paling aman untuknya sekaligus tidak akan ada orang yang mencurigai apapun padaku nantinya" tambah Devinka sambil tersenyum senang.
Dia pun segera menyalakan mobilnya dan melaju dengan cepat menuju basecamp tersebut, hingga sesampainya di sana Devinka langsung saja memindahkan Elisa ke kamar yang tersedia di sana dan menyelimutinya hingga menutupi seluruh tubuh Elisa.
Di basecamp itu memang tersedia sebuah kamar untuk tempat beristirahat dan untunglah saat itu tidak ada siapapun di basecamp sehingga Devinka bisa membiarkan Elisa tinggal di sana dengan tenang dan aman.
Kini Devinka segera pulang ke rumahnya karena dia sudah mendapatkan banyak sekali panggilan dari nyonya Merisa yang tak lain adalah ibunya.
"Ada apa sih mamih ini, terus saja menelponku membuatku risih saja" gerutu Devinka sambil langsung mematikan ponselnya karena berisik.
Dia melajukan mobil dengan kecepatan tinggi menuju kediamannya dan dia segera masuk ke dalam rumah hendak menaiki tangga menuju kamarnya namun baru saja dia melangkahi satu anak tangga suara menggelegar dan tegas dari ibunya sudah terdengar begitu jelas hingga membuat dia berhenti melangkah dan langsung membalikkan badan untuk menghadap ibunya.
"DEVINKA KEMARI!" teriak nyonya Merisa yang begitu tegas terdengar.
Devinka menghembuskan nafas dengan beran dan segera menghampiri ibunya dengan wajah yang begitu tak bersemangat sedikitpun.
__ADS_1
"Ada apa lagi Bu?" tanya Devinka dengan lesu,
"Sudah mamih bilang jangan panggil ibu jika kita tengah di rumah, kau itu anakku kau harus memanggilku mamih, ingat itu Devinka. Dan kau tahu bagaimana kondisi ayahmu sekarang?, Apa kau masih mau berleha meja seperti itu sampai ayahmu benar benar meninggal iya?" Bentak nyonya Merisa dengan sangat keras dan wajah yang menakutkan.
Devinka hanya menaikkan salah satu sudut bibirnya tengah menyepelekan.
"Hah, untuk apa kau mengaturku dan bicara sekasar ini pada anakmu sendiri, jika kau menganggap aku benar benar putramu seharusnya kau tidak lebih mementingkan kedudukan dan harta dari pada kehidupan putramu sendiri" balas Devinka dengan sinis lalu dia pergi meninggalkan ibunya begitu saja.
Nyonya Merisa sangat kesal ketika dia mendengar bantahan dari Devinka dia juga berteriak lagi untuk menghentikan putranya namun Devinka telah mengabaikan panggilannya dan dia masuk ke dalam kamarnya dengan cepat.
"Devinka....tunggu mamih belum selesai bicara Devinka!" Teriak nyonya Merisa menggelegar.
Nyonya Merisa yang sama kesal dan di penuhi dengan emosi dia pun juga pergi ke kamarnya dengan membanting pintu sangat keras untuk meluapkan emosinya.
Sedangkan Devinka hanya duduk di tepi ranjang dengan perasaan campur aduk tidak menentu, sikap lemah lembut ibunya kini sudah benar benar hilang dan karakter ibunya yang dulu sudah berubah seratus persen, dulu dia senang memanggil nyonya Merisa dengan sebutan ibu dan dia begitu menyayangi nyonya Merisa karena memiliki banyak waktu untuk bersamanya.
Namun semua kelembutan dan kebahagiaan itu tidak berselang lama, semenjak dia menginjak usia tujuh tahun tepat ketika dia masuk ke tingkat sekolah dasar, dan ayahnya mulai di vonis beberapa penyakit akut di tubuhnya yang mengharuskan sang ayah menjalani serangkaian kemoterapi dan terus berobat dalam setiap bulannya tanpa henti.
Meski dengan keadaan ayahnya yang telah rentan dan mudah sakit dia masih menjadi pimpinan perusahaan CTN group dengan menjalani perubahan sangat baik dan luar biasa hingga ketika Devinka masuk ke tingkat SMA ayahnya sudah tidak mampu lagi bekerja seperti biasanya bahkan sejak saat itu hingga kini keadaan ayahnya bukan membaik justru semakin memburuk dari waktu ke waktu.
Devinka mulai kehilangan sosok ayah yang selalu mendukung dan mendidiknya dengan baik dan karena ibunya mulai menggantikan posisi sang ayah dia juga kehilangan sosok ibunya yang dulu menemani dia kemanapun.
Sang ayah tuan besar Bramasta sudah tidak bisa berkomunikasi dengan baik lagi dan ibunya nyonya Merisa tumbuh menjadi wanita karir yang sangat ditakuti dengan kekejamannya dalam dunia bisnis, dia memimpin perusahaan jauh lebih buruk di banding ayahnya tuan Bramasta, meski perusahaan terus meningkat pesat hingga mampu menjadi perusahaan nomor satu dengan pimpinan seorang perempuan namun semua itu bukanlah hal yang di inginkan oleh Devinka.
Ibunya yang terlalu sibuk membuat Devinka mereka dirinya tidak memiliki keluarga lagi selain bi Eli yang selalu berada di rumah untuk menyiapkan makanan untuknya setiap hari.
__ADS_1
Devinka tumbuh dan tinggal seorang diri di rumah yang begitu mewah bak sebuah mansion, dia selalu merasa kesepian karena tidak ada siapapun yang bisa dia ajak untuk bercerita, meski dia telah tumbuh bersama teman temannya yang lain seperti Ciko, Duka dan Reksa namun mereka hanyalah teman di sekolah kala itu meski seiring berjalannya waktu hubungan mereka semakin dekat dan sudah seperti saudara terlebih keluarga mereka yang saling bekerjasama dengan bisnis bersama ibunya.
Namun yang di inginkan oleh Devinka bukanlah seorang teman, dia hanya menginginkan kasih sayang dan perhatian dari ibunya dan dia sangat muak ketika ibunya selalu menuntut dia untuk menjadi anak yang pintar dan jenius, serta terus menekan Devinka untuk menjadi pewaris perusahaan lebih dulu di bandingkan teman temannya yang lain.