
Meski sang resepsionis terus menolak Lili, tapi Lili tidak menyerah dia berusaha menerobos dan hendak masuk ke dalam lift bersama para karyawan lainnya namun sayang seorang penjaga berhasil menarik lengan dia dan menahannya dengan kuat.
"Heii...berhenti mau ke mana kau, jika kau terus membuat kerusuhan di sini saya tidak akan segan untuk mengusirmu dan melemparkan kamu ke luar dengan kasar!" Ucap penjaga tadi.
Lili tidak perduli dengan peringatan penjaga tadi dan dia terus berontak berusaha melepaskan tangannya dari genggaman penjaga tersebut.
"Eughh...lepas...lepaskan aku..." Teriak Lili samb terus berontak.
Penjaga itu sudah jengkel dan dia menari Lili sampai mengeluarkannya dari kantor dengan kasar, Lili bahkan sempat jatuh ke lantai tepat di depan Devinka dan Reksa yang saat itu baru mau masuk ke dalam perusahaan.
"Eh apa apaan ini?" Bentak Reksa sambil berjongkok dan membantu Lili untuk berdiri.
"Hey...apa kau baik baik saja?" Tanya Reksa pada Lili.
Bodohnya Lili dia justru malah diam mematung dan berubah menjadi gugup saat melihat wajah Reksa ditambah ketika mendapatkan bantuan darinya dengan lembut. Reksa membantunya berdiri barulah dia bertanya lagi pada Lili.
"Hey, kenapa kau diam saja dan siapa kau kenapa ada di perusahaan sampai membuat keributan pagi pagi sekali?" Tanya Reksa yang tidak mengenali wajah Lili.
Lili langsung tersadar dan dia mulai merasa sedikit kesal.karema Reksa tidak mengenali wajahnya padahal saat di kampus dan berada di jurusan yang sama Lili adalah yang paling sering meminta tandatangan kepada The Boys walaupun tandatangan itu nantinya untuk di jual dan memberikan uang hasilnya pada Elisa.
Meski dia sedikit kesal dia pun mulai menjawab ucapan Reksa sekaligus meminta bantuan padanya untuk membawanya menemui Elisa.
"Reksa tolong bantu aku, aku ke sini hanya ingin menemui Elisa karena ada kabar mendesak yang harus aku sampaikan padanya, tapi resepsionis itu tidak mengijinkanku menemuinya bahkan dia tidak mau memberikan informasi apapun padaku mengenai Elisa" jawab Lili dengan lantang dan berani.
Resepsionis itu mulai kaget ketika melihat Lili yang mengenal Reksa bahkan berani memanggilnya dengan sebutan nama secara langsung, dia langsung bergetar ketakutan.
Reksa menatap tajam pada wajah resepsionis itu sampai membuat sang resepsionis langsung tertunduk dan Devinka menyuruh penjaga tadi untuk kembali pada tempatnya dan Lili di bawa oleh mereka masuk ke dalam lift untuk menemui Elisa.
"Hanya itu?, ayo ikut aku nanti kau akan bertemu dengan Elisa" ucap Reksa sambil mempersilahkan Lili berjalan masuk ke dalam lift,
"Heh, apa lagi yang kalian tunggu, kembali pada tempat kalian!" Bentak Devinka dan membuat semua penjaga langsung kembali segera.
__ADS_1
Di dalam lift susananya begitu canggung dan hening tidak ada yang berani memulai pembicaraan lebih dulu, sedangkan Lili hanya terus merasa cemas dan tidak sabar untuk segera menemui Elisa.
"Siapa wanita ini kenapa dia ingin menemui si cewek ayam sampai melawan penjaga?" Gumam Devinka dengan penuh penasaran.
Mereka pun sampai di lantai departemen pemberitaan luar, di mana di sana berjajar rapih empat departemen yang bertugas mencari pemberitaan terbaru untuk di program pada acara tv mereka.
Pertama kali melangkahkan kaki saat keluar dari Lift, Lili begitu terpukau dengan tempat tersebut yang bahkan lebih besar dari kantor milik ayahnya.
Sampai Lili tidak sadar kalau saat ini dia sudah berada dekat dengan Elisa, Devinka berteriak memanggil Elisa tepat di depan pintu departemen dua dengan menyebut Elisa cewek ayam di mana teriakannya itu membuat semua orang yang ada di ruangan langsung berbalik menatap ke arah Devinka dan beralih pada Elisa.
"Heh.... CEWEK AYAM!" Teriak Devinka memanggil Elisa dengan sebutan cewek ayam,
"Ahh...apa kenapa?, Aishh...Devinka sialan itu dia membuatku malu saja" gerutuku pelan sambil tersenyum malu menatap pada rekan kerjaku yang lain.
Aku langsung bangkit berdiri dan segera menghampiri Devinka, lalu saat aku keluar aku langsung melihat Lili yang berdiri di samping Reksa, ketika pertama kali melihatnya aku langsung teringat dengan ancaman dari ibunya saat itu.
Dan aku refleks langsung berlari namun Lili berteriak memanggilku dan Devinka menahan tanganku dengan kuat.
"Elisa.. tunggu!" Teriak Lili cucup keras.
"Eishh...lepaskan tanganku, kau...eughh!" Ucapku pada Devinka dengan jengkel.
Aku melihat ke arah Lili yang menatapku dengan berkaca kaca aku tidak tega dengannya namun aku tidak bisa menemuinya saat ini.
"Heh, kenapa kau diam saja dan kenapa kau malah mau kabur di saat temanmu mau menemuimu, apa kau tidak tau dia bahkan rela di seret oleh penjaga di bawah sana hanya untuk menemuimu, apa kau sekarang ajar itu hah!" Bentak Devinka yang membuatku kaget dan terperangah seketika.
Aku tidak menyangka Lili rela mengorbankan dirinya seperti itu hanya untuk menemui aku, padahal aku selalu menghindari dia beberapa hari ke belakang, aku juga mengabaikan semua tentang dia.
"Ya Tuhan apa aku sejahat itu pada Lili selama ini" gumamku dala hati.
Aku menunduk dan merasa bersalah aku tidak tau lagi harus bersikap bagaimana kepada Lili sedangkan Lili menghampiriku dengan perlahan dan dia memegang tanganku dengan lembut, sampai membuatku menaikkan kepalaku dan menatapnya dengan sendu.
__ADS_1
"Elisa mari kita bicara, aku sangat merindukanmu" ucap Lili sambil tersenyum padaku.
"I..iya, tapi aku tidak tau kita harus bicara di mana, saat ini aku juga tengah bekerja, aku tidak enak dengan rekan kerjaku jika harus pergi ke luar" jawabku gugup, dan bingung.
Tiba tiba saja Devinka menarik lenganku dan membawaku ke sebuah ruangan yang aku tidak tau itu ruangan siapa namun rasanya ruangan itu cukup aman karena berada jauh dari semua departemen dan tidak terjangkau orang orang sembarangan.
"Ikut aku..." Ucap Devinka,
"Hey...kau mau membawaku ke mana, Devinka lepaskan!" Ucapku berontak,
"Bicara di sini aku beri kau waktu lima belas menit setelah itu aku dan Reksa akan masuk dan kau kembali bekerja serta temanmu itu harus keluar dari perusahaan ini" ucap Devinka yang berlaga seperti bos di depanku dan Lili,
"Heh, Devinka memangnya kau itu siapa?, Seenaknya memerintah padaku lagian ini juga bukan ruangan mu kan?" Jawabku dengan kesal,
"Siapa bilang?, Ini memang ruanganku apa kau tidak lihat di depan pintu tadi tertulis namaku Devinka dan di sana adalah meja tempat Reksa bekerja persis di depanku, jadi jangan mencoba mengacaukan tempat kerjaku, apa kau paham!" Jawab Devinka dengan sombong dan mereka berdua keluar dari ruangan itu meninggalkanku dengan Lili.
Aku sangat kesal padanya yang selalu bersikap sombong seperti itu dia semua tempat dan keadaan.
"Eughh...Devinka kau itu benar benar menyebalkan!" Gerutuku kesal.
Lili menahanku dan dia mulai menyadarkanku bahwa saat ini ada hal yang jauh lebih penting daripada sekedar meladeni Devinka.
"Elisa sudah, tahan amarahmu aku ingin berbicara serius denganmu sebelum lima belas menit itu habis" ucap Lili dengan tatapan yang sangat serius padaku.
Aku langsung merasa tidak enak hati dan aku membalas tatapan Lili dengan kebingungan.
"Lili apa yang terjadi denganmu, jika kamu seperti ini karena aku yang menjauhimu beberapa hari ke belakang sampai saat tadi, aku sungguh tidak bermaksud begitu aku hanya tidak mau kamu dimarahi ibumu lagi karena dekat denganku aku juga tidak ingin kamu di kirim keluar negeri karena terus berada di dekatku" jawabku menjelaskan semuanya karena aku takut Lili salah paham.
Aku pikir saat itu setelah mendengar penjelasanku Lili akan marah karena aku malah mendengarkan ancaman dari ibunya bukan isi hatiku dan persahabatan diantara aku dan dia, namun rupanya dugaanku salah, Lili justru hanya tersenyum padaku.
"Ehh, Lili apa kamu tidak marah denganku kenapa hanya tersenyum saja?" Tanyaku semakin heran dengan sikapnya,
__ADS_1
"Tidak, tentu saja aku tidak marah karena aku sudah tau semua itu pasti perbuatan ibuku, Elisa kedatanganku ke mari bukan karena itu, tapi....." Ucap Lili tertahan dan wajahnya berubah menjadi murung.
Lili menunduk dan tidak melanjutkan ucapannya.